
Setelah acara syukuran kehamilan Indira yang ke tujuh, Allan dan Indira pun sepakat untuk mengetahui jenis kelamin calon anaknya yang kedua, karena Indira yang merengek dan meminta suaminya untuk melihat jenis kelamin sang anak.
Hari ini Allan mengantarkan Indira ke dokter kandungan untuk periksa rutin dan sekalian ingin melihat jenis kelamin bayi mereka, tidak dipungkiri jika pria yang berumur tiga puluh tiga tahun itu sangat bahagian ketika umur pernikahannya yang hampir tiga tahun sudah akan dikarunia dua anak. Allan begitu bersyukur untuk hal itu.
"Sayang ayo." Allan membantu Indira keluar dari mobil, karena perut Indira sudah besar dirinya sedikit kesusahan.
"Abang sudah membuat janji dengan dokter kamu, jadi kita tidak perlu mengantri." Ucap Allan yang menggandeng tangan istrinya masuk kedalam rumah sakit.
"Padahal aku ingin seperti ibu-ibu lainya, yang duduk di kursi tunggu bersama suami mengantri namanya di panggil." Protes Indira dengan mengerucut bibirnya.
"Abang tidak mau kamu kecapekan lama menunggu sayang, ingat terakhir kali kamu periksa..!"
Terakhir bulan lalu Indira yang ngotot ikut mengantri dan tidak mau membuat janji dengan dokter agar mempercepat cek up nya, Indira lebih memilih ikut mengantri bersama ibu hamil lainya, alhasil karena hampir satu jam menunggu Indira mengeluh sakit dipinggang dan pegal-pegal. Allan yang sudah menyediakan stok kesabaran untuk sang istri hanya bisa menghela napas pasrah, entah mengapa di kehamilan Indira yang kedua membuat Indira manja dan menyebalkan.
"Hm.." Indira hanya bergumam.
"Duduk disini dulu, Abang akan tanya kesana dulu." Allan membantu Indira untuk duduk di kursi tunggu, sedangkan Allan menayangkan kapan nama istrinya mendapat giliran.
Setelah bertanya Allan kembali menghampiri istrinya yang duduk dengan bermain ponsel.
__ADS_1
"Dua orang lagi nama kamu di panggil sayang." Ucap Allan yang duduk disamping Indira.
"Al.." Seorang dokter wanita menyapa Allan ketika berjalan di depan mereka.
"Kamu Allanaro kan?" Tanya dokter itu menatap Allan tak percaya.
"Oh..hai Widya?" Sapa balik Allan yang ternyata teman kampusnya dahulu.
"Wahh..kamu masih mengingatku." Wanita bernama Widya itu tersenyum senang.
"Hm...wajah kamu tidak berubah Wid." Ucap Allan dibalas dengan senyum.
"Apa kabar, sedang apa kamu disini?" Tanya Widya yang melihat wanita hamil masih duduk asik dengan ponselnya.
"Aku baik, sedang mengantar istri cek up rutin, sayang.. kenalin teman kuliah Abang dulu." Allan meraih tangan Indira agar berdiri.
"Indira, istri bang Allan." Ucap Indira dengan mengulurkan tangannya.
Widya menyambutnya dengan senyum. "Widya..Sudah berapa bulan Al, pasti anak pertama ya." Tanya Widya setelah Indira kembali duduk.
__ADS_1
"Tujuh bulan, bukan yang pertama tapi yang kedua." Ucap Allan melebarkan senyumnya.
"Waoow ternyata milikmu topcer Al, pasti masih gagah seperti tujuh tahun lalu." Ucap Widya yang menggoda Allan.
Indira yang mendengar ucapan Widya sontak melihat ke arah keduanya.
"Kau itu, asal bicara Wid, sok tahu." Allan masih tertawa dirinya belum melihat istrinya yang sudah pasang telinga di belakangnya.
"Kalau aku bicara asal, mana mungkin kamu baru menikah sudah mau memiliki dua anak." Widya lagi-lagi membuat Indira panas.
Karena pernikahan mereka di gelar meriah bahkan diliput stasiun tv secara live semua orang mengetahui nya.
"Ck. kamu tidak berubah Wid masih sama kaya dulu." Allan terkekeh.
"Jangan bahas yang dulu Al, nanti aku gak bisa move on."
Setelah berbincang beberapa waktu, akhirnya nama Indira dipanggil dan keduanya menyudahi percakapan mereka yang membuat kuping dan hati ibu hamil itu panas.
"Sayang..loh aku kok ditinggalin." Allan mengejar langkah istrinya yang lebih dulu masuk keruangan dokter tanpa mengajaknya.
__ADS_1
Widya hanya cekikikan dan geleng kepala, ternyata istri sahabatnya itu sangat labil dan masih muda.