Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part122


__ADS_3

Pintu ruangan bersalin terbuka dan munculah Allan dengan senyum bahagianya.


"Mama.." Allan memeluk Lili dengan wajah bahagia bercampur haru.


Allan keluar setelah meng_azani putranya, dan kini Indira harus melakukan serangkai perawatan untuk dibersihkan.


"Selamat sayang, kamu sudah menjadi seorang ayah." Lili memeluk putranya erat, dirinya juga menjatuhkan air mata haru.


"Iya Mah, cucu Mama laki-laki." Beri tahu Allan yang memang mereka semua belum tahu jenis kelamin nya.


"Alhamdullilah, selamat Nak." Harna juga menitikan air mata.


"Terima kasih Tante." Allan juga memeluk Harna.


"Dimana cucu pertamaku.!" Harlan yang baru tiba langsung berucap ketika melihat Allan di luar ruangan.


"Ck. kamu mengagetkan saja Mas." Harna memukul lengan suaminya.


"Masih di dalam Om." Ucap Allan.


"Apa bayi dan ibu nya baik-baik saja?" Tanya Harlan yang ikut khawatir. Dirinya masih mengadakan rapat ketika mendapat kabar soal Indira yang akan melahirkan, karena Riko sedang pergi keluar kota untuk bisnis.


"Sehat Om."


"Syukur Alhamdulillah."


Mereka semua sudah nampak berkumpul di ruangan khusus yang Allan pilih untuk kenyamanan istri dan putranya, sejak tadi Allan tak pindah dari samping istrinya.


Sedangkan si Beby di gendong bergantian oleh para Oma dan opa nya.

__ADS_1


"Masih kecil aja cakep begini, apalagi kalau udah besar." Rania menoel pipi kemerahan yang membuatnya gemas.


"Mirip Al, waktu bayi." Lili terus mengembangkan senyum melihat wajah cucu pertama dari Allan.


"Duh, kapan aku juga bisa gendong cucu sendiri." Ucap Harna memelas. "Sini mbak gantian aku yang gendong." Pintanya pada Lili.


"Ya Mama tinggal suruh kakak nikah, nantikan juga punya cucu." Ucap Rania.


"Kenapa gak kamu aja Ran, yang udah jelas bertunangan." Ucap Allan menyela.


"Kalo aku masih mau selesaikan kuliah dulu, Kak Riko aja dulu yang lebih tua." Ucap Rania.


"Sudah, ini juga cucu kita sama-sama." Harlan mencium pipi bayi yang masih terlelap itu.


"Oya..Al namanya siapa?" Tanya Lili yang melihat kearah Allan.


"Aldrick Nathan Aditama.." Ucap Indira tersenyum.


"Nama yang bagus, Beby Al kedua ya.." Ucap Lili.


.


.


"Sayang kamu butuh sesuatu." Tanya Allan yang melihat gelisah.


"Emm..pengen pipis Abang." Indira nyengir menampilkan jejeran gigi putihnya.


"Kenapa harus ditahan, kan bisa ngomong." Allan yang gemas menarik hidung Indira.

__ADS_1


"Takutnya Abang risih." Ucap Indira.


Allan membopong tubuh Indira ke kamar mandi, membantu istrinya untuk buang air kecil. Allan dengan telaten membantu sang istri bahkan dirinya tidak risih sama sekali ketika membantu menggantikan pembalut.


"Tidurlah sudah malam, mumpung Beby Al, belum bangun minta susu." Allan menarik selimut untuk Indira.


"Terima kasih Abang, sudah mau menemani aku melewati proses bersalin."


"Justru Abang yang berterima kasih, sudah berjuang demi melahirkan Beby tampan seperti Al, terimakasih sayang." Allan mengecup kening Indira.


Allan berbaring di samping istrinya, meskipun sudah menjadi seorang ayah namun Allan tetap tidak bisa jauh dari sang istri.


Tengah malam Beby Al merengek, Allan yang peka pun segera bangun dan menghampiri box bayi yang ada di samping ranjang Indira.


"Mungkin dia lapar Al." Ucap Lili yang ikut terbangun karena mendengar rengekan bayi.


"Iya Mah."


"Bangunkan Indira suruh kasih asi, kasian kalau sampai menangis." Lili pun kembali merebahkan dirinya setelah Allan mendekati Indira.


"Sayang.." Allam menyentuh wajah Indra untuk membangunkan, sedangkan tangan satunya untuk menggendong Beby Al, meskipun masih kaku tapi Allan tidak takut untuk mencoba.


"Emh.." Indira membuka mata, ketika merasakan elusan di wajahnya.


"Beby Al sepertinya Laper, kamu susu-in gih."


Indira sedikit bergeser agar Beby Al bisa berbaring disampingnya.


"Sini Bang." Allan menaruh Beby Al di dekat Indira.

__ADS_1


Indira mengeluarkan satu buah dadanya, di depan mulut Beby Al, dan bayi yang belum genap satu hari itu dengan pintar mencari sumber makanannya.


"Emm.. Kenapa begitu kuat sekali nyesapnya." Allan bergumam dengan menelan ludah kasar. Kemarin benda kenyal nan padat itu masih menjadi miliknya, kini sumber nutrisi itu sudah menjadi milik anaknya.


__ADS_2