
🌹
🌹
🌹
Mereka berada di dalam apartemen Indira, setelah melepas rindu yang membuat keduanya bahagia, kini waktu sudah menjelang malam dan mereka sedang duduk dimeja makan.
"Kamu tau, Abang sangat merindukan masakan mu." Allan berbicara di sela-sela kunyahannya.
"Bukan kah Abang, punya calon istri? terus kenapa merindukan masakan ku?" Tanya indira dengan dada berdenyut ketikan mengatakan calon istri.
"Calon istriku yang mana, bukankah calon istriku sekarang ada didepanku?" Allan menaik turunkan kedua alis nya.
Indira melengos menahan rasa yang berdebar-debar ketika mendengan katan 'Istriku'.
'Gombal aja terus'
"Siska kan calon istri Abang." Indira kembali menetralkan detak jantungnya.
Allan selesai makan dan menegak air putih di gelas hingga tinggal setengah, dirinya menatap Indira dengan menghela napas dalam. "Tidak ada yang Abang inginkan selain kamu." Allan menatap wajah Indira yang sekarang semakin cantik dan lebih dewasa. "Siska sudah mendapatkan balasan apa yang sudah ia perbuat."
"Maksud Abang?"
*Flasback*
Setelah Mendapat bukti dalang dibalik kecelakaan empat tahun silam hingga membuat tunangannya meninggal dunia, Allan yang paginya akan datang ke kantor polisi karena kasus Siska sudah ia serahkan ke pengacaranya berserta barang bukti,Namum baru keluar apartemen dirinya sudah mendapat kabar yang tambah membuatnya terkejut.
"Apa? kenapa bisa?" Allan berbicara dengan anak buahnya melalui sambungan telfon. Dirinya terkejut ketika mendapat kabar itu.
"....."
"Baiklah, saya akan segera kesana." Allan menutup panggilan telfonnya, dirinya bergegas masuk lift dan keluar lift sudah ada Jimmy yang menunggu di loby.
"kamu sudah tau berita itu?" Allan segera masuk setelah Jimmy membuka pintu mobil.
"Ya barusan anak buah saya baru menghubungi."
Allan menghembuskan nafas kasar. "kita akan segera melakukan konferensi pers." Jimmy hanya mengangguk mendengar ucapan Allan.
Allan akan mengklarifikasi berita yang mungkin akan beredar karena dirinya yang masih mempunyai status bertunangan dengan Siska dan parahnya perempuan itu meninggal dunia bersamaan berita kasus yang akan menyebar di jagat raya.
"Mungkin inilah balasan yang setimpal untuk pembunuh sepertimu."
*Flashback of*
"Sayang ayo." Allan meraih tangan Indira ketika mereka berdua sampai ditempat yang Allan ingin tunjukan kepada gadis itu.
Mata Indira berbinar melihat keindahan sungai Siene di malam hari.
"Kamu suka." Allan merapatkan tubuhnya merangkul pundak Indira. "Kamu sudah pernah kesini?" Tanya Allan yang bisa melihat raut wajah bahagia gadis itu.
Indira hanya mengangguk, dirinya pernah kesini bersama Riko, tetapi disiang hari ketika tidak ada jam kuliah.
__ADS_1
"Pernah?" Allan menatap wajah yang masih tersenyum senang itu.
"He'um..pernah." Indira menoleh ketika melihat wajah Allan yang berada tepat di wajah nya.
"Sama siapa?" Nada tak suka terdengar.
"Riko." Jawabnya Indira santai.
Allan mendengus kesal, membuang pandangan nya kedepan. "Lagi-lagi pria penguntit itu." Gumamnya yang didengar oleh Indira.
Indira hanya mengulas senyum mendengar ucapan Allan. "Tapi siang hari, dan ternyata sungai Siene lebih indah dimalam hari." Indira tersenyum lebar menatap indahnya pemandangan sungai Siene di malam hari.
Allan pindah dibelakang tubuh gadis itu, lalu memeluk tubuh Indira dari belakang. "Abang akan tunjukan keindahan lainnya sama kamu." Ia mencium pucuk kepala Indira.
"Lepas..bang!" Indira meronta melepas tautan tangan Allan yang melingkar di perutnya.
"Why?" Allan menurut.
"Aku bukan pacar Abang? kenapa harus peluk-peluk." Indira menatap Allan tajam.
Allan hanya tersenyum mendengar ucapan gadis itu. "Kalau begitu jadilah pacar Abang." Allan menarik pinggang ramping Indira membuat tubuh gadis itu merapat. "Dan tidak ada penolakan."
Belum sempat bibirnya berucap, bibirnya sudah dibungkam dengan bibir Allan.
Angin berhembus menerpa wajah mereka, kedua saling menikmati perasaan yang membuncah, ciuman lembut yang terasa hangat membuat kedua nya terlena.
"Jangan menolak Abang lagi." jarinya mengelus wajah putih mulus Indira.
Tatapan hangat penuh cinta bisa Indira lihat lewat tatapan mata Allan. "Dengar, tidak ada yang bisa memilikimu kecuali Abang."
"Emmph.." Indira memukul dada Allan ketika merasa dirinya kehabisan napas.
"Abang mau membunuhku." Semburat merah diwajah Indira membuat Allan tersenyum. 'Sangat cantik'
"Tidak akan, Abang malah ingin membawamu ke KUA."
Indira membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan Allan.
"Kenapa begitu wajahmu." Allan mencuri ciuman dipipi gadis itu.
"Abangg...!!" Mereka tertawa bersama, menikmati keindahan pemandangan sungai Siene dimalam hari sangatlah menakjubkan.
Hati keduanya merasa senang dan menghangat, Allan memeluk gadis yang dicintai nya dari belakang, sang banyak mengucapkan kata cinta, dengan tulus.
Menunggu selama bertahun-tahun tidak lah sebentar, tetapi mereka memiliki cinta yang sama membuat keduanya bersama.
"Abang akan nikahin kamu ketika pulang ke Indonesia." Allan berucap masih dengan melingkarkan tangan diperut Indira.
"Aku aja belum terima cinta Abang? kenapa berbicara soal menikah?" Indira yang sebenarnya sudah berdebar-debar mendengar kata 'menikah'.
"Tidak ada pilihan selain kaya, Mau, bersedia dan ya." Ucap Allan tegas.
"Dih..kenapa jadi pemaksa." Indira mengulum senyum.
__ADS_1
"Karena kamu hanya untuk Abang, kamu pembantu Abang sudah pasti Abang yang hanya bisa maksa kamu." Ucap Allan santai dengan menciumi pipi Indira dengan ujung hidungnya yang mancung.
"Pembantu kan dulu, sekarang tidak." Indira mengelak.
"Dulu, sekarang dan nanti kamu tetap Pembantu Abang." Allan menggigit telinga Indira gemas. "Kamu..Pembantuku Canduku, Jadi hanya milikku." Allan menyusuri ceruk leher Indira yang rambut nya ia sibakkan ke samping.
Indira memejamkan mata, merasakan hawa panas merayapi tubuhnya, angin berhembus tidak menjadikan dirinya dingin, namun malah sebaliknya.
Napas Allan memburu dadanya berdebar kencang. "Shitt!__kita pulang keapartemen." Allan yang merasakan bagian bawahnya mulai sesak pun mencoba mengontrol degub jantungnya.
Indira tersenyum malu, wajahnya merona ketika menyadari sesuatu yang pernah tiga tahun lalu dirinya masih ingat.
.................................
Disebuah Mall terbesar di Jakarta gadis cantik dan seorang pria sedang menemani kekasihnya berbelanja.
"Rum-rum itu tidak baik jika makan banyak-banyak." Resa kembali mengambil bungkusan makanan ringan itu dan mengembalikan nya.
Arum mendelik dengan kesal, sudah satu jam mereka disini dan Resa selalu membuatnya darah tinggi.
"Ya ampun yank, aku cuma ngambil dua kamu bilang banyak." Arum mendengus kesal dengan melipat tangan didada.
"Kamu boleh ambil apa aja asal jangan banyak-banyak." Kekeh pria itu dengan santai.
"Apa aja, tapi kamu selalu melarang." Arum menghentakkan kaki nya kesal dan meninggalkan Resa yang memanggil dirinya.
"Mending gue liburan ke Paris lagi biar gak di larang melulu." Gerutu Arum kesal.
Brug
"Awwss.." Arum merintih ketika pantatnya mencium lantai.
"Maaf saya tidak sengaja." Pria itu mengulurkan tangan kepada Arum.
Arum mengulurkan tangan nya, namun belum sempat meraih tangan pria itu, tangan nya sudah lebih dulu ditarik oleh Resa.
"Kamu gak papa?" Resa membantu Arum agar berdiri. Arum menampilkan wajah yang masih kesal.
"Maaf, tadi saya tidak sengaja." Ucap pria itu lagi.
Resa yang mendengar ucapan pria itu, langsung menatap pria itu tajam, dan menarik Arum dibelakang tubuhnya.
"Sudah lebih baik anda pergi." Usir Resa dengan tatapan dingin, menunjukan bahwa Arum adalah miliknya.
Pria itu hanya menatap heran. "Ok.. maaf nona." Dan sengaja pria itu mengedipkan satu matanya kearah Arum untuk menggoda.
"Sialan..!!" Resa mengumpat geram.
Pria itu hanya tersenyum dan geleng kepala. "Posesif"
"Sa..apa an sih." Arum melepaskan tangan nya yang di pegang erat Resa.
"Jangan dekat-dekat lawan jenis, dan jangan tatap mata lawan jenis. kalo tidak hukuman menunggumu." Resa menatap tajam Arum, yang ditatap hanya memutar bola matanya malas.
__ADS_1
begitulah Resa cowok kulkas bak robot, akan bucin jika menemukan pawangnya yang tepat.