
Di rumah Rere nampak suana ramai oleh kerabat dan keluarga yang di undang oleh Hilman. Bahkan Indira dan Allan pun juga ikut menyaksikan acara lamaran asisten istrinya di butik.
Indira menemani Rere yang sedang berada di kamar sebelum keluar menemui calon suaminya, Ini adalah acara lamaran sekaligus menentukan tanggal pernikahannya, Rere tidak bisa berbuat apa-apa ataupun menolak keinginan ayahnya. Karena memang kesempatan Rere untuk memilih pendamping hidup sendiri telah usai.
Indira merangkul sahabat sekaligus Asistenya itu, dirinya merasakan kesedihan yang Rere rasakan. Dijodohkan dengan pria yang tidak kita kenal sama sekali adalah pilihan sulit untuk membina rumah tangga. Tidak di pungkiri dirinya juga menyalahkan kakak sepupunya yang terlalu egois.
Indira selama dua hari mencoba menghubungi Riko namun ponsel pria itu tidak aktif, begitupun orang rumah yang tidak tahu dimana Riko karena juga tidak pulang dan tidak ke kantor selama dua hari ini.
Rere hanya diam dengan air mata yang menetes, dirinya sangat mencintai Riko, tapi pria itu sudah memutuskan hubungan mereka. Rere berharap Riko akan datang dan menggagalkan Acra ini, dirinya yang sebenarnya tidak mau di jodohkan tapi juga tidak bisa melawan ayah nya sendiri.
"Sabar Re, semoga dia adalah kebahagiaan kamu." Indira mengelus punggung Rere, menguatkan gadis itu agar menerima dengan lapang dada.
Rere hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.
"Maaf, acara akan segera di mulai, mbak Rere di suruh keluar." Ucap seseorang kerabat Rere yang tiba-tiba masuk.
"Baik mbak, saya akan menemani Rere." Ucap Indira.
"Ayo, senyum ini baru lamaran belum menikah, siapa tahu kak Riko berubah pikiran." Indira membesarkan hati Rere agar tidak terlalu sedih.
.
.
.
Setelah dua hari menyendiri di apartemen malam ini Riko pulang ke rumah, sudah cukup dirinya untuk merenungi keputusannya, dan mungkin ini sudah takdir nya.
"Kamu ingat rumah." Harlan yang berada di meja makan menatap Riko dingin, kabar tentang Riko yang membatalkan lamaran membuat Harlan ingin marah dan menghajar putra nya itu, dan sialanya selama dua hari Riko malah tidak pulang.
Riko menatap ketiga orang yang sedang duduk di meja makan dengan datar, mereka seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Riko bilang sama mama kenapa kamu membatalkan lamaran kamu pada Rere, apa yang terjadi." Harna yang penasaran tidak bisa lagi menahan untuk bertanya.
Dirinya sangat ingin memiliki menantu dari Riko, mendapati Riko membawa gadis pulang kerumah membuat Harna sangat senang apalagi Rere adalah wanita baik-baik.
"Kami tidak cocok mah." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Riko.
__ADS_1
"Ck. kakak itu pemilih sekali, apanya yang tidak cocok coba, kak Rere itu baik, cantik, apalagi setelah Vidio nya viral di sosmed beeeuhh super women banget." Rania dengan lancar berceloteh dengan wajah mengagumi sosok calon kakak iparnya yang tidak jadi.
"Maksud kamu apalagi Rania? Vidio viral apa?" Harna semakin bingung.
"Mama nih kudet ketinggalan Vidio viralnya calon mantu yang ngak jadi." Rania mencari Vidio yang viral beberapa hari lalu tentang butik dan Rere.
"Nih mah, untung masih ada Vidio kak Rania yang berani sama emak-emak modus." Rania memberikan ponselnya kepada Harna.
Harna menerima ponselnya berdekatan dengan Harlan agar bisa melihat bersama.
Di Vidio tersebut mereka bisa melihat aksi Rere yang sedang membongkar kebohongan seorang ibu-ibu penipu di butik.
"Ya ampun Rere emang berani dan cerdas." Harna sampai tertawa melihat Vidio itu, bahkan melupakan akan amarahnya kepada Riko.
Riko yang melihat kedua orang tuanya nampak tertawa menjadi penasaran apa yang sedang Rere lakukan di Vidio itu.
"Coba kamu cari di ponsel kakak." Riko menyodorkan ponselnya pada Rania.
Rania pun dengan senang hati mencari hastag Vidio Rere yang viral.
"Nih."
Riko melihat hari dan jam pada Vidio yang di unggah tersebut dan ingatannya kembali dihari dan jam yang sama ketika mereka ingin membeli cincin pertunangan.
"Si*al." Riko segera bangkit dari kursinya setelah menyadari sesuatu hal yang membuat Rere tidak datang.
"Lah kenapa tuh orang." Rania heran melihat kakaknya yang langsung berlari keluar rumah.
"Belum sempat memberi pelajaran malah udah kabur lagi." Ucap Harna dengan geleng kepala.
.
.
Riko mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, sepanjang jalan dirinya mengumpat dengan kebodohannya.
"Argh..bugh." Riko memukul setir kemudi ketika lampu merah menyala.
__ADS_1
"Re maafin gue." Riko berkali-kali bergumam dalam hati.
Riko kembali menginjak pedal gas nya ketika lampu berubah warna hijau, dirinya ingin segera sampai di rumah Rere dan meminta maaf, memperbaiki hubungan mereka. Dengan kecepatan tinggi Riko mengendarai mobilnya, tidak perduli dengan keselamatan nya sendiri.
Empat puluh menit Riko sampai di depan rumah Rere, karena terjebak lampu merah dan sedikit macet ketika hampir sampai di kediaman Rere.
Riko segera turun dan berjalan tergesa menuju pintu rumah Rere. Diambang pintu tubuh Riko melemas dadanya merasa sesak, dengan telinga nya sendiri Riko mendengar seseorang mengucapkan ijab kabul dengan menyebut nama kekasihnya.
"Saya terima nikah dan kawin nya Renjana Renita Bin Hilma Efendi dengan maskawin tersebut tunai."
Terdengar suara sah secara serentak membuat hati Riko kian sakit. Apa ini apa yang dia dengar.
Riko manju dengan menyeret langkah kakinya, bisa dirinya lihat didepan sana Rere sedang bertukar cincin dengan seorang, Rere mencium punggung tangan pria itu begitu pun si pria mencium kening Rere.
Siapa sangka jika acara lamaran Rere berubah menjadi acara ijab kabul, Rere sendiri sempat syok dan menolak namun lagi-lagi ucapan ayahnya membuatnya tak bisa melawan. Air mata Rere mengalir ketika suara 'sah' terdengar itu tandanya dirinya sudah menjadi milik orang lain.
Rere menangis dengan diam, hatinya terasa nyeri ketika harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak di cintai nya, bahkan di saat hatinya sangat menginginkan pria lain yang menikahinya.
Riko menahan gejolak rasa yang membakar dadanya, kenapa seperti ini, dirinya datang ingin meminta maaf dan memperbaiki hubungan nya namun kenyataan pahit yang dirinya dapatkan.
Di depan sana dirinya bisa melihat raut bahagia di wajah kedua orang tua Rere dan suami Rere, namun melihat wajah Rere yang nampak sedih dan sembab membuat dada Riko seperti tertusuk banyak ribuan jarum.
Ini semua salahnya yang tidak mendengarkan penjelasan Rere, salahnya yang tidak mencari Rere ke butik ketika kekasihnya tidak bisa datang. Riko menatap pemandangan di depan sana yang sedang melakukan foto bersama membuat matanya berkaca-kaca dengan tangan mengepal kuat.
"Maaf Re." Matanya terpejam membuat air matanya jatuh, bersama rasa sesak didadanya kian membuat nya sulit bernapas.
Rere tak sengaja menatap pintu utama ketika dirinya merasakan seseorang memperhatikan dirinya dari jauh, dan kedua matanya melihat Riko yang berdiri dengan tangan mengusap air matanya.
Tak sengaja tatapan kedua bertemu dalam jarak beberapa meter, Riko tersenyum di balik rasa sakit di hatinya, memberi selamat lewat bahasa bibirnya.
Air mata Rere kian mengalir deras melihat pria yang dicintainya tersenyum dengan tatapan penuh luka, apalagi melihat gerakan bibir Riko yang memberinya selamat.
Rere ingin beranjak menemui Riko, namun langkahnya terhenti ketika ayahnya memanggilnya.
"Re, ayo kita sapa tamu dari keluarga suamimu dulu."
Rere ingin menolak dan melihat kebelakang namun Riko sudah tidak ada disana.
__ADS_1
Penyesalan memang datang di akhir, seperti Riko yang menyesal tidak mendengarkan ucapan Rere bahkan dirinya sangat egois ketika tidak mengangkat telpon dari Rere dan lebih memilih bersama sahabat wanita nya. Mungkin ini takdir yang harus Riko jalani, di tinggal nikah pas lagi cinta-cinta nya.