
Acara berlangsung dengan lancar tanpa hambatan, meskipun tidak bagi Rere. Semua tamu sudah pulang sejak satu jam yang lalu dan kini kediaman Hilman sudah sepi kembali.
Rere langsung di boyong oleh suaminya, karena Zidan yang memiliki usaha di luar kota, membuat pria yang baru saja statusnya berubah menjadi suami, meminta ijin untuk membawa Rere bersamanya.
Kedua orang tua Rere memberi ijin karena memang sekarang Rere adalah tanggung jawab suaminya.
Sepanjang perjalanan menuju kota B, Rere hanya diam dengan wajah menatap kaca mobil, dirinya sama sekali enggan untuk membuka suara. Masih teringat dimana Riko datang dengan penuh kesedihan, Alena bisa melihat dari tatapan mata Riko yang begitu terluka. Mengingat hal itu tak terasa air matanya kembali jatuh, dirinya merindukan pria egois dan mesum itu.
Zidan yang fokus menyetir hanya diam tanpa suara, dirinya tidak perduli, yang jelas menikahi Rere hanya untuk sesuatu hal.
"Mas, aku lapar apa bisa berhenti di supermarket sebentar." Rere berbicara dengan suara biasa saja, meskipun enggan untuk menyapa namun hatinya tidak sejahat itu kepada suami barunya. Rere juga mengerti bagaimana cara bersikap dan menghormati suami.
Tanpa menjawab setelah sepuluh menit Zidan membelokkan mobilnya di supermarket yang buka dua puluh empat jam karena memang waktu sudah larut malam.
Rere turun, malam ini udaranya terasa dingin, beruntung Rere pergi menggunakan celana jeans panjang dan hodie yang kebesaran untuk tubuh kecilnya. Bau aroma hodie yang akan selalu mengingatkan nya pada seseorang.
Setelah lima belas menit Rere keluar dengan membawa kantung kresek yang berisikan roti dan minuman.
"Iya sayang..sebentar lagi aku sampai rumah."
Zidan langsung mematikan ponselnya ketika Rere sudah duduk di dalam mobil, tidak perduli jika Rere mendengarnya.
"Siapa yang dia panggil sayang itu?"
.
.
Sehabis menghadiri lamaran yang berubah menjadi ijab kabul, Indira mengajak suaminya untuk datang kerumah Harlan.
Disini mereka berada, berkumpul di ruang keluarga. Indira sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya yang membuat sepasang kekasih itu bisa bertengkar dan berakhir putus.
__ADS_1
"Pah, kasian Riko pasti sekarang dirinya sangat sedih." Ucap Harna yang memikirkan nasib putra nya.
Sewaktu acara Indra sempat melihat Riko datang, karena melihat Rere yang terus menatap luar dan meneteskan air mata, Indira pun mengikuti arah pandang Rere. Dan benar saja Riko datang disaat Rere sudah Sah menjadi istri pria lain.
"Mungkin mereka bukan jodoh mah, dan jalan takdir mereka sudah seperti itu." Harlan menenangkan istrinya yang sedang menangis.
Tidak di sangka nasib percintaan putranya bernasib tragis.
"Yasudah, paman kami pulang dulu, sudah malam." Ucap Allan yang melihat jam tangan nya.
"Iya, lain kali Dira akan sering main kesini sebelum perut Dira bertambah besar." Indira tertawa.
"Iya sayang, Tante akan menunggu kedatangan kalian lagi." Harna memeluk dan mencium keponakan nya itu.
"Rania akan sering deh main kerumah kakak." Rania ikut memeluk Indira.
"Haha.. baik-baik akan kakak tunggu kedatangan mu."
.
.
"Nanti akan Abang Carikan orang yang bisa dipercaya untuk mengurus butik." Allan mengelus kepala istrinya.
Mereka kini sedang berada di dalam mobil menuju kediaman Aditama.
"Kenapa juga Rere harus pergi keluar kota, dan sepertinya aku melihat suaminya juga tidak senang dengan pernikahan tadi." Indira bercerita dengan apa yang sempat dirinya lihat tadi.
"Kamu terlalu berlebihan memikirkan mereka sayang, doakan saja semoga Rere bahagia dengan pernikahannya." Ucap Allan dengan menyentuh pipi Indira.
Mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Rere, jika pun rumah tangga mereka tidak baik maka Tuhan memiliki cara lain.
__ADS_1
.
.
Di sebuah kamar yang nampak gelap dan hanya ada cahaya malam yang masuk lewat celah jendela yang terbuka, Riko duduk dengan bersandar pada pinggiran ranjang nampak beberapa botol minuman telah berserakan. Dirinya merasa bodoh karena telah membuat kekasihnya dinikahi oleh pria lain. Jika saja dirinya tidak egois dan mau mendengar ucapan Rere kejadian seperti ini tidak akan terjadi.
Renita Renjana mungkin bukan wanita pertama baginya, bahkan Riko sudah menjajahi para wanita ketika masih tinggal di Paris. Pulang ke tanah air karena harus menggantikan usaha orang tuanya, tanpa di sangka dirinya bertemu dengan wanita yang mampu membuat dirinya jatuh cinta sedalam ini. Rere tidak mempunyai tipe tubuh ideal untuknya, namun Rere mempunyai kelebihan sendiri untuk Ia jadikan pendamping hidup dan ibu dari anak-anaknya.
Riko kembali menenggak minuman dari botol yang sudah untuk kesekian kali, dirinya hanya ingin menghilangkan bayangan Rere yang menatap dirinya sedih dan penuh kecewa, bayangan itu selalu berputar-putat di otaknya.
Dirinya memang bukan pria baik, bahkan Riko adalah pria Casanova di luaran sana. Meskipun buka pria baik-baik, sebagai laki-laki dirinya juga menginginkan wanita yang baik-baik untuk di jadikan istri dan ibu dari anak-anaknya.
Wajah sendu dan Rere yang sedang menangis selalu berputar-putar di otaknya, membuat kepalanya ingin meledak.
Sesak didadanya kian ngilu, Apalagi Rere sempat mengirim pesan padanya sebelum acara pernikahan mereka di laksanakan.
Kerena nomor Rere Ia blokir dan baru saja dia buka kembali.
"By maaf jika aku salah, maaf jika membuatmu marah, mungkin ini terakhir aku mengirim pesan padamu, karena besok aku akan di lamar oleh pria yang sudah ayah jodohkan, aku hanya berharap semoga kamu mendapat wanita yang kamu cintai dan bisa menghargai hubungan. By maaf kan Rere yang tidak bisa menghargai hubungan kita, semoga kita selalu bahagia dengan siapa pun kita hidup...
^^^Salam sayang dari aku yang sangat Mencintaimu...^^^
"Arrgghh..!!"
Prank..
Riko melempar botol minuman yang ada di tangan nya. "Kenapa kamu lakukan ini Re, kenapa?" Riko menarik rambutnya kasar, air matanya menetes demi merasakan penyesalan yang membuat dadanya sesakit ini. "Kenapa kamu tidak menungguku Re, kenapa kamu terima perjodohan itu, kalau kamu mencintaiku." Riko mengusap wajah nya kasar. menenggelamkan wajahnya diantara kakinya.
Ada rasa ingin merebut Rere kembali dirinya sangat mencintai gadis itu, tidak ada yang membuat hatinya sedih di saat Rere mendiamkannya, tertawa ketika Rere yang tersipu malu oleh rayuan nya. Rere adalah wanita yang dirinya mau, hanya Rere yang dirinya mau.
Riko tersenyum miris, bagaimana bisa dirinya menginginkan Rere yang sudah menjadi istri pria lain, bagaiman jika Rere sudah di sentuh di malam pertama nya, membayangkan malam pertama membuat dadanya kian panas. "Tidak, Rere hanya mencintaiku tidak mungkin dirinya mau di sentuh pria yang tidak dicintai." Riko merancau sendiri otak nya memikirkan bagaimana jika itu terjadi sedangkan hatinya begitu sakit mendapati kenyataan jika mereka sepasang suami istri yang sah saja bila melakukan hubungan Inttim.
__ADS_1