
🌹
🌹
🌹
Undangan sudah tersebar berkat bantuan Jimmy. Kerabat, kolega dan para sahabat Allan maupun Indira. Ini adalah pesta pernikahan putra Aditama pewaris Aditama Grub.
Allan masih berkutat dengan pekerjaan, hampir seharian ini dirinya tidak berhenti menggerutu kesal karena ulah Mama dan kakak nya, karena harus dipisahkan oleh Indira, dan tidak boleh bertemu sebelum mereka sah.
"Mana bisa begitu ma, kak. Ini jaman modern kenapa ada pingitan begitu." Allan lagi-lagi sudah mengomel dan menggerutu kesal, karena biasanya semua kebutuhan nya sebelum ke kantor Indira yang menyiapkan. Dan ketika dirinya di meja makan pun tidak melihat gadis itu. Seketika moodnya menjadi ambyar.
Mama Lili hanya tersenyum melihat putranya yang tiga hari lagi akan melangsungkan pernikahan, dirinya tidak menyangka masih bisa melihat putranya bahagia menemukan calon istri yang lantas untuknya.
Leina dengan sengaja menggoda dan meledek Allan karena tidak terima jika mereka di larang bertemu ataupun Vidio call dalam waktu tiga hari kedepan, jadi yang boleh mereka lakukan hanya kirim pesan dan telpon saja.
.
.
.
.
.
Suara ketukan pintu ruangan nya membuat Allan bernapas kasar. "Masuk."
Orang yang diluar pun membuka pintu, ternyata Jimmy.
"Tuan, ada yang ingin bertemu." Ucap Jimmy.
"Siapa Jim?"
"Tuan Harlan Kusuma, ingin bertemu anda." Harlan Kusuma adalah kakak dari Hardi Kusuma ayah kandung Indira.
"Suruh masuk saja." Allan sudah menduga ini, ketika undangan yang ia kirim lewat Jimmy sudah sampai maka otomatis mereka akan melihat nama kedua orang tua Indira yang sudah almarhum.
"Selamat siang tuan Harlan." Allan menjabat tangan pria paruh baya bernama Harlan.
"Selamat siang tuan." Harlan menyambut dengan hangat.
"Silahkan duduk, dan ada kepentingan apa tiba-tiba anda menemui saya?" Tanya Allan yang langsung pada intinya, meskipun dirinya tahu maksud kedatangan pria bernama Harlan itu.
Harlan duduk disofa nampak sedikit gusar, apakah yang ia lihat nama di undangan itu benar.
"Maksud kedatangan saya kemari ingin menanyakan sesuatu hal penting." Harlan yang biasanya tegas kini terlihat wajah sendunya.
"Silahkan, jika saya tahu, maka akan saya beri tahu." Ucap Allan santai.
"Apa benar calon istri anda adalah anak dari Hardi Kusuma dan Nilam Cahya?" Harlan nampak sedih mengucapkan nama itu.
__ADS_1
"Ya, benar. Dan kedua orang tua calon istri saya sudah meninggal." Allan menatap wajah sendu dengan raut kesedihan Harlan.
"Jadi Indira Cahaya Putri, adalah anak Hardi Kusuma, yang diusir oleh Mama." Harlan bergumam namun Allan masih mendengarnya.
Tak terasa setitik air mata Harlan menetes, dirinya merasa tak berguna sebagai kakak karena tega membiarkan adik kandungnya diusir dan pergi dari rumah Kusuma tanpa membawa apapun.
"Jika anda ingin menemui Indira, saya akan kasih alamatnya, dan saya mohon agar anda bersedia menjadi wali bagi Indira, karena gadis itu tidak memiliki keluarga siapapun lagi." Ucap Allan dengan menatap wajah Harlan yang basah air mata.
"Saya janji, saya akan menjadi wali keponakan saya." Harlan tersenyum namun juga air matanya tidak bisa di tahan. Ia bahagia akhirnya bisa bertemu dengan keponakannya anak dari adik kandung nya yang kini sudah tiada.
"Terimakasih, tuan mau membantu kami." Allan mengulurkan tangan nya, dan Harlan pun menyambut dengan merangkul tubuh Allan kepelukanya.
"Terimakasih kamu sudah menjaga keponakan saya dengan baik, dan selamat atas pernikahan kalian." Allan menepuk punggung Allan tiga kali.
"Sama-sama tuan Harlan."
.
.
.
.
.
.
"Indira selama lima tahun ini hidup sendiri, ketiga masih sekolah tingkat akhir mamanya jatuh sakit dan harus dirawat dan di operasi. Indira yang masih sekolah harus berpikir untuk mencari biaya rumah sakit, dan akhirnya dirinya meminjam uang kepada rentenir untuk biaya ibunya. Karena dia masih sekolah dia memutuskan untuk mencari pekerjaan, dan bertemu dengan mama saya, jadi Indira bekerja di rumah saya sebagai pelayan bahkan Indira juga mengambil karjaan part time supaya cepat menghasilkan uang. Suatu hari ketika gadis itu memaksa untuk berhenti bekerja dari rumah saya, selama dua bulan dirinya tidak membayar cicilan hutang dan Indira pun dipaksa oleh rentenir itu untuk menjadi pela*ur dirumah bordirnya."
Punggung Harlan bergetar mengingat ucapan Allan tentang kehidupan Indira yang sangat menyedihkan, jauh dari kedua anaknya yang sangat berkecukupan tanpa harus bekerja demi memenuhi kebutuhannya.
"Maafkan aku Hardi, maaf sebagai kakak aku tidak berguna." Harlan menangis pilu, dengan wajah tertelungkup di atas setir kemudi. dirinya menyesali semua yang terjadi kepada adik nya selama 24tahun silam.
Harlan menarik napas dalam, dirinya sudah cukup tenang dan keluar dari mobil menuju rumah Indira, ia butuh kesiapan ketika harus berhadapan dengan keponakan yang tidak pernah ia tahu, dan ini kali pertama mereka bertemu.
Harlan mengetuk pintu, terdengar seseorang menyahut dari dalam dengan teriakan.
Ceklek
Pintu terbuka, nampak gadis cantik dengan wajah yang mirip dengan putrinya Rania Kusuma. Harlan tidak kuasa ingin menangis dan memeluk gadis yang berdiri didepan nya, namun ia tahan karena mendengar suara gadis itu.
"Maaf anda mencari siapa?" Tanya Indira yang melihat pria paruh baya yang tidak dirinya kenal, namun wajah pria itu nampak tidak asing pikirnya.
"Maaf, saya mencari Indira. apa benar ini rumahnya." Suara Harlan sedikit bergetar menahan gejolak didada yang campur aduk, antara bahagia, sedih dan kecewa menjadi satu. Dirinya yang terlalu bodoh hingga tidak tahu kehidupan keponakan nya sendiri.
"Iya benar tuan, mari silahkan masuk." Indira mempersilahkan Harlan masuk, dan ia ke dapur untuk membuatkan minum ketika sudah menyuruh Harlan duduk.
Harlan menatap kesekeliling ruang tamu Indira dengan wajah sendu, dirinya melihat foto keluarga kecil adiknya.
Harlan mengambil foto itu, dengan tangan bergetar dirinya mengusap wajah adiknya di foto itu. "Maafkan kakak Har." Harlan kembali terisak, tak kuasa dirinya menahan rasa sedih dan kecewanya yang telah gagal menjadi seorang kakak yang harus melindungi adiknya.
__ADS_1
Dan kini hanya ada rasa penyesalan yang bersarang dalam dadanya, karena keegoisan kedua orang tuanya, mereka tega menelantarkan anak serta istri dan sekarang cucu mereka juga.
"Loh Om, kenapa menangis." Indira yang baru tiba membawa secangkir teh, nampak terkejut melihat Harlan menangis dengan memegang foto kedua orang tuanya.
"Om kenal dengan kedua orang tua saya." Tidak mendapat jawaban Indira kembali bertanya. karena melihat orang itu menangis melihat foto kedua orang tuanya.
Harlan menarik napas dalam, dengan wajah sedihnya Harlan mendekati Indira dan memeluk gadis itu. "Kenal om sangat kenal." Harlan mendekap erat tubuh keponakannya itu meluapkan rasa bahagianya bisa dipertemukan Dengan keponakannya.
Indira nampak mematung, dirinya hanya diam mendapat pelukan tiba-tiba itu. Dirinya merasakan hangat nya kembali ketika dipeluk oleh ayahnya dahulu.
"Om adalah paman kamu Nak, kakak dari ayah kamu Hardi." Suara Harlan bergetar seiring air mata yang kian mengalir membasahi pipinya.
Indira yang mendengar itu merasa tidak percaya. Benarkan orang yang memeluknya adalah keluarga nya dari mendiang ayahnya? Air mata Indira pun ikut menetes merasakan sesuatu yang membuat dadanya berdebar karena bahagia bisa bertemu keluarganya. Indira membalas pelukan Harlan dengan Isak tangis. "Paman...benar paman adalah paman Indira?" Berkata seraya membalas pelukan erat, keduanya larut dalam kesedihan bercampur kebahagiaan.
Harlan merasa lega, karena Indira mau menerimanya dan tidak membencinya. sungguh hati gadis itu sangat baik.
Kini kedua nya bercerita tentang masa lalu yang keduanya, kebersamaan Harlan dan Hardi hingga terjadinya pertengkaran Hardi dengan orang tuanya ketika memutuskan memilih Nilam ketimbang kedua orang tuanya.
"Sebenarnya nenek kamu juga merasa kehilangan, Sampai sekarang pun nenek kamu masih sering menatap foto ayah kamu dan menangis sendiri." Harlan bercerita ketika dirinya sering melihat ibunya menangis dikamar pada malam hari, sambil menatap foto Hardi yang telah ia usir.
"Pakah nenek juga akan membenciku Paman?" tanya Indira dengan wajah sedih, dirinya ingin sekali berada diantara keluarga ayahnya, karena ibunya dulu adalah anak yatim piatu, jadi sudah pasti tidak memiliki keluarga.
"Nenek tidak akan membencimu, pasti nenek akan senang melihat cucunya yang cantik ini." Harlan berucap dengan senyum, bermaksud membesarkan hati keponakannya itu agar tidak sedih jika ditolak oleh nenek nya. Harlan sendiri tidak tahu, apakah ibunya akan menerima Indira atau tidak, yang jelas Harlan akan melindungi dan membela keponakanya itu.
Indira nampak sedikit tersenyum mendengar ucapan Harlan. "Benarkah yang katakan."
Harlan mengangguk yakin. "Tentu saja, apalagi cucunya ini sangat cantik dan pintar, dan sebentar lagi akan menikah." Harlan mengusap rambut Indira lembut.
"Boleh Indira menemui nenek?" Tanya Indira berharap, neneknya mau menemuinya.
"Boleh sayang, boleh. apalagi besok lusa paman yang akan menikahkan mu, jadi sangat baik sebelum menikah kalian bertemu." Ucap Harlan dengan senyum hangat.
"Paman mau menjadi wali Indira?" Indira bahkan nampak terkejut ketika paman nya sudah banyak tahu tentang dirinya.
"Tentu saja, karena paman sudah bertemu dengan calon suami mu itu. Paman sangat berterima kasih kepadanya karena sudah menjaga kamu selama ini." Harlan menatap Indira sendu, mengingat ucapan Allan tentang kehidupan Indira.
Indira langsung memeluk Harlan. "Terimakasih paman." Hanya itu yang mampu Indira ucapkan.
"Sama-sama sayang." Harlan memeluk Indira hangat.
Keduanya larut dalam kebahagiaan yang baru saja terjadi, sesuatu yang membuat keduanya menjadi keluarga yang sesungguhnya, sejatinya darah lebih kental dari pada air. namun terkadang hubungan darah juga bisa membuat renggang dan permusuhan.
.
.
.
.
Ayo tembusin 1000Like kalian, maka author akan semangat doubel up buat kalian🥰🥰🥰 jangan lupa jejak kalian tinggalkan.. sukur-sukur Kopi+vote kalian meluncur tanpa hambatan😜😜
__ADS_1