
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, kediaman Aditama nampak ramai dengan acara syukuran yang digelar dihalaman depan rumah yang luas, nampak sebuah tenda besar berdiri kokoh dengan nuansa biru putih, kursi berjejer untuk para tamu yang hadir yaitu para anak yatim.
Allan sengaja mengundang kurang lebih seribu anak panti asuhan untuk di berikan santunan.
Acara akan di langsungkan pukul sepuluh pagi dan sebentar lagi akan dimulai, para sahabat dan kerabat juga hadir turut mendoakan janin yang masih berusia empat bulan dalam kandungan Indira.
Keluarga besar Allan nampak berkumpul di tambah Keluarga besar dari Indira juga, sahabat Indira juga turut hadir untuk memberikan doa terbaik bagi buah hati dan juga si ibu.
Indira dan Allan menggunakan pakaian berwarna putih dengan kerudung yang menghiasi kepala Indira membuat ibu hamil itu terlihat sangat cantik.
Pengisi acara yaitu seorang ustaz yang cukup familiar sedang mengumandangkan doa untuk bayi dalam kandungan Indira beserta ibunya, semua mendengarkan secara khusyuk dan hikmat.
Acara cukup lama berlangsung hingga pukul empat sore, karena banyak santunan yang Allan berikan, dibantu para keluarga dan sahabat membuat acara itu berlangsung sukses.
"Sayang kamu tidak lelah." Allan menghampiri Indira yang sedang berdiri bersama kedua sahabatnya.
"Abang.." Indira mengulurkan tangan nya, Allan segera menyambut dan melingkarkan tangan nya di pinggang Indira.
"Duh, yang pamer keromantisan jadi ngiri gue pengen cepet-cepet di halalin." Ucap Kiki yang melihat betapa posesifnya Allan.
"Ehh.. gue bilangin sama Jingga ya ntar, kalo loe pengen cepet di halalin." Arum meledek Kiki.
"Ye.. loe mah sukanya Ngadu sama Jing-jing, tar gue aduin sama robot aja nanges." Kiki balik mencibir Arum yang sudah memasang wajah jutek.
"Kalian ini dari dulu gak berubah, berantem mulu perasaan." Indira hanya geleng kepala melihat sahabatnya yang ternyata masih sama.
"Mana ada kita berubah, ntar ya berubahnya kaya loe gini." Kiki mengelus perut buncit Indira. "Bunting karena sering di cocok tanam." Kiki terkikik setelah berucap, merasa geli sendiri.
"Yee..dasar Oneng." Arum menoyor kepala Kiki. "Loe itu punya otak mesum, gue curiga jangan-jangan si Jingga udah dp duluan." Arum memincingkan mata menatap Kiki penuh selidik.
Allan hanya tersenyum mendengar ucapan sahabat istrinya yang absur, masih polos tapi banyak pengetahuan. Sebagai pria dewasa dan berpengalaman Allan rasanya ingin tertawa mendengar kata-kata perumpamaan mereka.
"Apa-in sih dp-dp Dewi persik maksud loe." Kumat deh mood Lola Kiki.
__ADS_1
"Dih, si dodol mulai lemot." Indira hanya tertawa mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu.
"Sayang ajak teman kamu duduk, Abang ingin kesana sebentar, jangan berdiri terus." Allan menyela pembicaraan mereka yang menurutnya absur tapi juga lucu.
Indira menurut mengajak kedua sahabatnya duduk di kursi yang berada di dekat kolam renang.
Mereka bertiga melanjutkan pembicaraan absur dengan tertawa senang.
"Ra, loe makin cantik dan bohai tau gak sih pas hamil gini." Arum yang biasanya suka jutek sekarang sedikit lebih humble. Bertemu dengan banyak orang dan berinteraksi dengan berbagai sifat orang membuat Arum harus bisa merubah sifat jutek dan judesnya ketika berhadapan dengan pasien, karena Arum sekarang bekerja sebagai dokter. Arum yang sudah menikah dengan Resa sekitar dua bulan lalu membuat kehidupan keduanya berubah drastis, Arum yang terkesan cuek dan tidak perduli kini bisa berubah setelah menikah dengan Resa. Jika Arum bisa merubah sifatnya lain dengan Resa yang masih tetap seperti robot berjalan, akan berbicara dan ramah ketika bersama orang yang akrab.
"Gue sih biasa aja, tapi sepertinya emang begitu karena Abang susah untuk dihindari." Ucap Indira ambigu, namun Arum yang sudah mempunyai pengalaman meskipun baru dua bulan dirinya paham. Lain dengan Kiki yang masih tahap belum mau menikah.
"Memangnya Abang kenapa? kok susah di hindari?" Tanya Kiki yang tidak mengerti.
"Loe bakalan gak ngerti meskipun di kasih tau." Arum tersenyum menyeringai, jika mendapat jawaban seperti ini maka seperti biasa Kiki akan mudah di jahili.
"Makanya kasih tau biar gue ngerti."
"Beneran Kiki Mariki ingin tau?" Tanya Arum sok polos.
"Loe tanya aja sama Jingga, kalau loe pengen di DP-in biar bisa kaya Indira." Arum berkata dengan pelan seolah-olah hanya mereka berdua yang tahu. Padahal sejak tadi Indira sudah tidak tahan menahan tawa.
"Yakin Jing-Jing tau jawabannya?" Tanya Kiki sedikit ragu, jika salah tanya maka dirinya yang akan kena amuk Jingga.
"Jelas tahu, bila perlu loe minta DP-in sekarang." Arum masih terus menyakinkan Kiki.
Kiki hanya manggut-manggut memikirkan ucapan Arum yang membuatnya penasaran.
Indira sudah tidak tahan ingin tertawa namun sebisa mungkin dirinya tahan.
"Buruan gih, samperin Jingga." Arum melihat ke arah Jingga yang sedang asik berkumpul dengan para sahabatnya juga yaitu lima sekawan.
"Oke.. awas aja kalo loe ngerjain gue." Arum hanya mengacungkan kedua jempol nya tanda dirinya tidak berbohong.
__ADS_1
Kiki berdiri dan berjalan menghampiri Jingga, sedangkan Indira yang akhirnya bisa meledakkan tawanya.
"Loe gila Rum sumpah." Indira berbicara disela-sela tawanya, sedangkan Arum sudah memegangi perutnya yang terasa kram akibat tertawa.
"Gue gak nyangka Kiki lemotnya gak ilang-ilang." Indira masih bicara di sisa tawanya.
"Sahabat loe ampun dah gue Ra." Arum masih tertawa, keduanya tertawa hingga ujung matanya basah karena terlalu keras tertawa.
Tak berselang lama setelah Kiki sampai, terdengar suara sorakan dan tawa keras diantara kerumunan para pria di seberang sana, dan ternyata menertawakan ulah Kiki, yang membuat Jingga malu sendiri.
Kiki kembali ketempat Indira dan Arum dengan wajah masam namun juga merona, entah apa yang sedang Kiki rasakan.
"Huwaaa kalian berdua ngerjain gue." Kiki berteriak histeris, sedang kan kedua sahabatnya sudah tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan konyol Kiki yang disebabkan oleh mereka berdua.
Hari ini semua nampak bahagia, bukan hanya Allan dan Indira yang sedang menikmati momen kehamilan yang menginjak usia empat bulan, tapi juga bahagia ketika semua berkumpul dalam keadaan sehat dan bahagia.
Meskipun acara sudah selesai tapi para sahabat Indira masih betah berkumpul di rumah Allan karena memang mereka sudah jarang berkumpul karena kesibukkan masing-masing.
.
.
.
Waktu sudah menunjukan tengah malam, semua orang sudah kembali ke tempatnya masing-masing.
Jika semua orang beristirahat karena lelah tidak bagi penganten baru selalu berkelahi di atas ranjang.
Resa dengan semangat menggebu karena gak*rahnya yang sudah ingin meledak, memompa dengan cepat bagian bawahnya yang ingin meledak ketika merasakan cengkraman dan denyutan di dalam sana. Arum sejak tadi menikmati hujaman demi hujaman yang Resa lakukan yang mampu membuatnya merasa terbang melayang setiap Resa menyentuh dirinya.
Tak berapa lama suara erangan panjang menggema di kamar kedap suara milik Resa. Arum dengan napas tersengal memeluk tubuh Resa yang berada diatas nya.
"Honey kenapa disini semakin besar dan padat." resa menyentuh buah dada Arum yang menurutnya bertambah besar dan padat.
__ADS_1
"Besok aku kasih surprise buat kamu." Arum tersenyum menatap wajah tampan suaminya yang masih basah oleh peluh hasil olahraga malam ini.