
Indira ketakutan wajahnya pucat dan pias, jantungnya berdetak tak karuan, ia melihat seorang pria berpakaian jas rapi sedang berdiri menghadap keluar lewat jendela kaca.
Deg
Jantungnya serasa terlepas begitu saja ketika melihat pria itu berbalik dan menatapnya.
"Selamat datang gadis cantik." Pria itu tersenyum menyeringai. "Apa kau merindukanku." Pria itu berjalan mendekati Indira yang hanya berdiri diam dengan air mata mengalir deras.
"Kenapa kau diam saja? apa tidak merindukanku?" Pria itu mengulangi pertanyaan nya dan menghapus air mata yang mengalir dipipi gadis itu.
Indira diam dengan tubuh kaku, dirinya tidak menyangka akan bertemu dengan pria ini lagi, tanpa menunggu lama dirinya langsung memeluk tubuh pria itu erat.
"Abang..." Indira menangis terisak didalam pelukan Allan.
Ya Ia adalah Allanaro, tamu pria istimewa malam ini yang menyewa Indira.
Allan memeluk erat tubuh gadis yang sangat ia rindukan ia mencium kepala gadis itu berulang kali.
"Kamu baik-baik saja?" Allan bertanya dengan masih memeluk Indira.
"Dira takut Abang." tangisan Indira semakin pecah ketika mengingat dirinya akan menjadi seorang pela*ur.
"Sstt..sudah jangan menangis." Allan meraup wajah Indira dan menghapus air mata dengan kedua ibu jarinya. "Ada Abang, tidak usah takut." Allan membenamkan ciuman dikening mata dan pipi gadis itu. "Abang tidak akan biarkan terjadi sesuatu kepadamu."
"Maafin aku bang." Indira menatap wajah tampan Allan, dirinya menangkap kelegaan Dimata Allan.
"Abang yang seharusnya minta maaf, maaf jika Abang punya salah kepadamu, dan tolong jangan diamkan Abang seperti kemarin, Abang tidak bisa berpikir dengan benar jika kamu mendiamkan abang lagi, Abang mencintaimu sayang."
Sedetik kemudian Allan membenamkan ciuman dibibir tipis yang selalu membuatnya candu. Kerinduan yang tidak terbendung kini bisa ia luapkan dengan perasaan membuncah, rindu akan bertemu gadis pujaan hatinya menyalurkan rasa yang menyesakkan dada menahan tidak bertemu.
Allan Melu*at dan mencecap benda kenyal yang manis dan candu baginya, ia melakukan dengan perasaan menggebu-gebu.
Indira mengalungkan kedua tangan nya dileher Allan, ketika pria itu memeluk pinggang rampingnya. Dirinya juga merindukan pria mesum yang sudah membuat hatinya galau.
Ciuman Allan turun hingga leher jenjang putih Indira, menyesap dan menggigit kecil agar meninggalkan tanda kepemilikan nya. Tangannya bergerak mengusap punggung yang masih berbalut gaun merah yang Indira kenakan.
"Egh.." Indira meleguh ketika bibir Allan menyesap kuat kulit tulang selangkanya.
__ADS_1
Allan mengangkat tubuh gadis itu kedalam gendongan nya, dan dengan reflek kedua kaki Indira bertaut dipinggang kokoh Allan.
"Abang merindukan mu." Napas Allan memburu dadanya berdebar hebat. Dirinya kembali membenamkan ciuman kebibir ranum Indira dengan sedikit kasar. Indira sedikit kuwalahan membalas ciuman panas yang Allan berikan, tetapi sebisa mungkin dirinya mengimbangi keganasan Allan.
Allan membawa Indira duduk disofa tanpa melepas tautan bibir mereka, kini Indira berada di atas pangkuan Allan, bahkan Indira sadar bahwa sesuatu dibawah sana sudah sangat mengeras.
Allan mengerang pelan ketika tangan Indira meremas rambut nya dengan kuat, tangan nya merayap ke pundak Indira dan menurunkan tali kecil yang berada dikedua bahu gadis itu, kilatan amarah dan rahang mengeras nampak terlihat Dimata nya.
Melihat baju yang dikenakan Indira sangat seksi apalagi dengan belahan dada rendah dan gadis itu tanpa menggunakan bra, maka sudah pasti jika pria yang melihatnya akan menjadi tergoda.
"Jangan lagi memakai pakaian kurang bahan seperti ini jika tidak bersama ku." Tatapan tajam Allan mampu membuat kulit Indira meremang, napasnya yang masih memburu karena Allan menciumnya tanpa memberi kesempatan untuk berhenti barang sejenak.
Tali yang masih tersangkut dikedua lengan Indira kini tangan Allan kembali menurunkan tali itu hingga terlepas dari tangan gadis itu, tatapan tajam tadi berubah menjadi tatapan penuh kabut gairah, melihat buah dada yang sudah pernah dirinya rasakan, kini ia kembali merajamnya.
"Ehghh shh.." Indira Mende*ah lirih ketika bibir hangat nan basah menyentuh dan menghisap biji kecil yang masih ranum itu.
Akal sehatnya sudah berhamburan entah kemana berganti dengan rasa nikmat yang baru kedua kali ia rasakan, kali ini rasanya berbeda dengan yang pernah mereka lakukan sebelumnya, karena sekarang dirinya menerima dan menikmati apa yang dilakukan Allan pada tubuh bagian atasnya.
Allan dengan semangat menggebu, dadanya berdebar kencang dengan perasaan membuncah, tangan kanan meremat dengan lembut namun penuh tenaga buah dada yang sangat pas bagi tangan nya, ibu jarinya memainkan biji kecil yang ranum, bersamaan dengan lidah nya yang bermain di sebelah kiri dada Indira.
Pinggulnya bergerak tak karuan ketika bibir Allan semakin lincah bermain didadanya, tangannya mengelus paha hingga selakangan Indira membuat gadis itu merasakan sensasi yang luar biasa. pergerakan Indira sangat membuat Allan prustasi, sehingga membuat juniornya dibawah sana semakin tersiksa.
Mendengar Geraman rendah Allan disela mulut yang masih memainkan, menyesap kuat nippelnya bersamaan dengan dirinya yang mengerang keras sambil mendongakkan wajahnya keatas.
"Arrghh..!"
Napas Indira memburu, mata nya terpejam merasakan sesuatu yang hangat meledak begitu saja dari dalam tubuhnya. Dadanya naik turun keringat membasahi wajahnya.
Ketika membuka mata dirinya melihat wajah Allan yang tersenyum manis didepan wajahnya, dirinya merasa malu dan wajahnya merah padam mengingat kejadian yang ia alami barusan, sesuatu yang asing dan batu kali ini ia merasakan nya.
"Menikmati heh." Allan berucap dengan senyum masih ditampilkan.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Indira tersenyum malu dan langsung membenamkan wajah nya diceruk leher Allan.
"Abang.." Ia memukul dada Allan dengan satu tangan kanannya.
Allah hanya terkekeh lucu, dirinya merasa seperti pria Baji*gan yang memuaskan partnernya.
__ADS_1
"Kamu senang?" Entah pertanyaan macam apa yang Allan tanyakan.
Indira tidak menjawab melainkan menikmati aroma parfum yang menguat dari area leher Allan.
"Abang akan menyelesaikan masalahmu dulu." Meskipun dirinya menahan mati-matian hasrat yang belum tersalurkan, karena dirinya tidak mau menghancurkan masa depan gadis yang sangat ia cintai.
Indira menarik kepalanya hingga kini wajah mereka saling berhadapan.
"Jangan pernah pakai baju seperti ini lagi kalau tidak bersama Abang." Allan kembali membenarkan baju Indira.
Indira hanya diam menatap wajah tampan yang sekarang terlihat kesal karena marah melihat baju yang ia pakai.
"Kamu bukan wanita penggoda, cukup Abang saja yang tergoda." Ehh ehh kok begitu sih bang🤣.
"Isss... itu juga sama saja Abang." Indira mencebikka bibir nya didepan Allan, sehingga dengan cepat Allan menyambar bibir manyun itu untuk dirinya sesap.
"Begitu lagi Abang makan bibir kamu."
"Dih, emang bibirku makanan." Indira mencoba berdiri namun tangan Allan mencegahnya.
"Mau kemana?" tanya Allan dengan mengusap pipi nya lembut.
"Kalo begini terus Abang tidak akan membantuku keluar dari sini." Protesnya kesal karena Allan melarangnya untuk bangun, padahal dirinya tidak nyaman karena sesuatu yang ia duduki terasa mengganjal sejak tadi.
"Apa kamu tidak ingin melayani tamu istimewa mu dulu." Allan manampilkan wajah mesum seperti pria hidung belang.
"Abang...!!" Indira mendelik kesal dan memukul dada Allan.
Dan Allan hanya tertawa keras karena gemas melihat wajah menggemaskan gadis itu.
.
.
.
Sangu bobok buat kalian pecinta Abang mesum😂😂
__ADS_1