
Rasa yang pantas untuk menggambarkan kebahagiaan adalah rasa syukur.
Sudah seharusnya sebagai manusia kita selalu bersyukur dengan nikmat yang Tuhan berikan. Nikmat yang diberikan Tuhan bukan hanya dalam bentuk materi, tapi juga fisik yang sempurna, kesehatan, dan banyak lainnya.
Dan sekarang mereka sedang bersyukur atas orang yang mereka sayangi bisa kembali berkumpul di antara mereka.
Indira sejak tadi tidak beranjak dari samping suaminya, bahkan ketika keluarga mereka datang menjenguk Indira menempel saja dengan Allan.
Keadaan Allan sudah berangsur membaik namun masih pada masa pemulihan.
"Sayang apa kamu tidak lelah duduk disini terus." Allan mengelus kepala Indira.
Indira bersandar pada bahu Allan yang setengah duduk. Bukan risih atau pun tidak nyaman, malah Indira yang dia khawatirkan dengan kandungannya.
"kenapa? Abang gak suka aku deketin?" Ucapnya dengan wajah mendongak ke atas. Tatapan mereka bertemu karena Allan juga sedang menunduk.
"Bukan begitu, justru Abang senang istri Abang manja begini, tapi apa kamu nyaman, bagaimana dengan dia?" Allan mengelus perut istrinya.
"Tentu saja nyaman, apalagi Deket sama papanya." Indira kembali merapatkan tubuhnya pada Allan.
"Apa ini termasuk ngidam?" Tanya Allan sambil terkekeh.
"Hm..mungkin."
"Atau kamu yang memang merindukan ku." Allan menyentuh dagu istrinya agar bisa melihat wajahnya.
Tatapan Allan tak lepas dari wajah cantik istrinya. Turun ke bibir ranum yang sudah menjadi candunya.
__ADS_1
Ibu jarinya mengelus bibir atas Indira membuat gejolak mendorong untuk maju.
"Abang..emph." Indira belum sempat melanjutkan ucapanya, namun bibir suaminya sudah lebih dulu membekapnya.
Mendapat serangan dari Allan Indira menyambutnya dengan suka cita, dirinya juga merindukan kegiatan ini.
Ciuman yang awalnya lembut kini mulai menuntut, apalagi Allan menahan tengkuk Indira membuat ciuman mereka semakin dalam.
Indira mengeratkan cengkram nya di baju punggung Allan ketika lidah suaminya masuk menerobos mengabsen rongga mulutnya.
Decapan dan sesapan Allan lakukan dengan penuh semangat, bahkan lidah keduanya saling membelit.
Ciuman panas mereka cukup lama, hingga Indira memukul pelan dada Allan karena kehabisan napas.
"Hah..hah..." Indira menghirup udara sebanyak-banyaknya, dada nya naik turus dengan napas tersengal.
"Abang tenaganya gak seperti orang sakit." Keluh Indira.
Allan tergelak mendengar ucapan istrinya. "Beda sayang, jika menyentuh milik mu seperti tadi rasanya tenaga Abang kembali full."
Indira mencebikkan bibirnya.
"Abang merindukan semua yang kamu miliki, karena rasanya semua nikmat." Wajah Allan begitu menggoda iman Indira ketika berbicara seperti itu.
Bugh
"Abang mesum, gak tau tempat." Wajah Indira merona malu.
__ADS_1
Suaminya itu selalu berkata menjurus jika sedang bersamanya.
Meski begitu Indira sangat menyukai apapun yang suaminya lakukan.
"Kalau tau tempat, Abang sudah nerkam kamu dari tadi." Allan menarik tubuh istrinya untuk dirinya peluk.
Bahagia yang mereka rasakan adalah dengan hal-hal yang sederhana. Melihat orang yang kita cintai tersenyum sudah membuat hati mereka menghangat.
"Kamu sudah periksa Beby." Allan menyentuh perut istrinya dan merasakan gerakan lembut di dalam sana.
"Hm..kata dokter perkiraan tiga Minggu lagi, tapi bisa juga maju." Indira ikut mengelus di atas tangan suaminya.
"Kata dokter aku bisa lahiran normal, dan untuk memperlancar jalan nya lahiran dokter juga menyarankan untuk banyak gerak seperti berjongkok, dan Emm...itu." Ucap Indira dengan wajah menunduk.
Allan menautkan alisnya. "Itu..hm..apa?"
"Itu..tapi tidak mungkin kan Abang masih sakit, jadi hanya perlu banyak melakukan aktifitas yang bisa membuat lancarnya jalan lahir." Ucapnya buru-buru untuk menghindari pembicaraan yang berbau ranjang.
Meskipun suami istri namun terkadang Indira masih malu.
.
.
.
__ADS_1