
...WARNING⚠️!!!...
...AREA 21+...
"Abang merindukanmu." Allan semakin erat mendekap tubuh Indira, dirinya menghirup aroma rambut gadis itu dengan dalam. Ia rindu sangat rindu dengan gadis belia dan labil ini.
Indira hanya diam dengan berurai air mata tangan nya mengusap punggung Allan.
Indira segera mengusap air matanya, ketika pelukan Allan merenggang. Ditatapnya wajah cantik yang selalu, membuat dadanya berdebar, melebihi rasa yang pernah ia punya dulu bersama Leona.
Indira mengusap pipi Allan yang basah oleh air mata, dirinya sekuat tenaga tidak mengeluarkan air mata.
"Abang kenapa menangis?" Mengusap lembut wajah tampan yang mampu membuat hatinya bergetar, Indira sangat pintar menyembunyikan perasa-annya.
"Tidak apa-apa, Abang senang bertemu kamu." Allan mengecup kening Indira dalam. Indira memejamkan matanya mendapat kecupan sangat dalam dikeningnya, ini adalah pertama mereka kembali dekat dan bersentuhan setelah satu bulan tidak saling menyapa atau melihat.
Allan menatap wajah gadis itu lamat-lamat. "Apa kamu mencintai keponakan Abang?" Allan mengelus pipi mulus Indira. "Katakan jika kamu mencintai keponakan Abang." Allan siap untuk mendengarkan jawaban gadis itu.
"A-aku.." Mulut nya terasa kelu kerongkongannya tercekat ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Katakan." Allan menatap Indira dengan penuh akan jawaban.
Indira menatap wajah Allan dan hanya mengangguk, tanpa berucap sepatah kata.
Allan menyambar tengkuk Indira dengan cepat, bibirnya langsung Melu*mat dan menyesap penuh emosi, tidak ada kelembutan hanya kekecewaan yang ia luapkan, bibir kedua nya saling bertaut, Indira hanya memejamkan mata dengan air mata terus mengalir, dirinya merasakan sentuhan bibir Allan tidak hangat seperti yang sudah-sudah, hanya ada kemarahan dan kekecewaan yang pria itu luapkan.
"Egh.." Leguhan Indira membuat Allan kian terpancing dengan cepat dirinya menyelusupkan lidahnya masuk kedalam rongga mulutnya, mengapsen setiap deretan gigi, lidah mereka saling membelit. suara decapan dan Leguhan kecil keduanya menggema dalam ruangan itu.
Allan semakin memperdalam ciumannya, tangannya mencekram erat pinggang Indira, tangan satunya menahan tengkuk gadis itu.
Patah hati dan kekecewaan membaur menjadi satu, menjadikanya sebuah goresan luka dalam hati, dirinya sudah tidak bisa lagi membuat gadis yang sangat ia cintai bertahan untuk nya.
Allan Melu*at dan mencecap bibir tipis Indira dengan kuat, bersamaan rasa didadanya kian bertambah sesak. "I Love you." Allan bergumam disela-ciuman mereka, bahkan Indira hanya samar-samar mendengarnya.
Tubuhnya meremang ketika tangan Allan merambat kebawah dan mengusap kedua pahanya, dengan gerakan cepat Allan mencekram bok*ng Indira dan mengangkat gadis itu kegendongannya. Indira melingkarkan kedua kakinya dipinggang kokoh Allan, tangan nya ia kalungkan keleher Allan. Tanpa melepas tautan bibir mereka Allan membawa langkah kakinya menuju kamar gadis itu.
__ADS_1
Indira merasakan sesuatu yang selalu membuat nya penasaran dengan benda yang menonjol keras dibawah, Kesadarannya sudah sejak tadi berhamburan ketika tangan Allan merayap disekujur tubuhnya. akal sehat nya sudah tak bisa berpikir jernih, hanya rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya yang kian membuat dadanya berdebar. Napas nya sudah tak beraturan, dadanya naik turun seiring hawa panas kian menjalar.
Allan membaringkan tubuh gadis itu diranjang, mengungkung gadis itu dengan tangan kekarnya, melepas tautan bibirnya menatap wajah seksi dan mata sayu Indira dibawahnya membuat dadanya kian berkobar.
Mata mereka saling bertemu, mengunci tatapan yang penuh rasa cinta bercampur luka, Indira meneteskan air mata, dirinya terluka dan tersiksa membohongi perasaanya sendiri, ini pertama kali dirinya jatuh cinta kepada pria selain mendiang ayahnya. Tangan nya terulur menyentuh rahang tegas yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus, wajah yang selalu membuat pikiran nya tidak bisa berhenti untuk memikirkan nya. 'Dira mencintai Abang' hanya dalam hati ia bisa berucap betapa ia juga mencintai Allan.
"Kenapa menangis?" Allan mengusap mata Indira yang mengeluarkan air mata. "Apa kamu menyesal dengan kejadian yang pernah kita lakukan." Allan mengecup kedua mata Indira yang terpejam, sehingga membuat air mata gadis itu kian deras.
"Maaf jika Abang, sudah membuatmu terluka." Indira menggeleng dengan cepat, justru dirinya lah yang membuat luka dihati pria itu.
"Abang sangat mencintaimu, sangat." Allan kembali menempelkan bibirnya, kini dengan perasaan dan kelembutan, hanya menyalurkan rasa betapa dirinya sangat mencintai gadis ini.
Indira membalas dengan perasaan sesak kian menyeruak, merasakan lembut ciuman yang diberikan Allan sekarang, berbeda ketika tadi pria itu meluapkan kekecewaan nya.
Mereka saling menyalurkan perasaan yang mendalam lewat sentuhan lembut keduanya, tanpa mereka sadari jika mereka berdua lah yang menyakiti diri sendiri. Allan yang hanya ingin menjaga perasaan Bimo yang sangat ia sayangi, dan tidak mau membuat Bimo mengalami penderitaan ataupun kesedihan jika tahu gadis yang mereka cintai adalah gadis yang sama apalagi jika harus bersaing merebut gadis i. Tanpa Allan tahu jika gadis itu hanya memiliki perasaan kepadanya.
Sungguh ironi.
Sedangkan Indira Memikirkan perasaan kedua pria yang sama-sama mencintai dirinya, ia tidak bisa memilih salah satu dari mereka, persaudaraan antara Om dan keponakan terjalin begitu dekat dan bahagia, ia tidak mungkin masuk ditengah-tengah mereka dan membuat kekacauan. Dirinya sangat mencintai Allan, tetapi lagi-lagi menjaga hati dua orang adalah keputusannya, meskipun harus berkorban menyakiti perasaannya sendiri.
"Shhh..." Indira meleguh dengan tangan mencekram lengan Allan, ketika bibir nya menyesap kuat leher putih mulus yang kini sudah ditandai warna merah keunguan.
Kilatan napsu berkobar kedua bola mata Allan, sekuat tenaga dirinya tidak mau melakukan hal jauh. dirinya hanya ingin membuat memori yang menjadi candu baginya, karena setelah ini mungkin dirinya tidak bisa lagi menyentuh gadis ini. Tangtop yang Indira pakai sudah terlepas, entah bagai mana Allan melakukannya, bahkan kini Indira hanya tinggal memakai kain penutup daerah sensitif nya saja. Indira yang sudah dikuasai hawa panas dan juga terangsang dengan perlakuan Allan hanya bisa pasrah menerima. Jika ini memang kemauan Allan pria yang dicintainya maka akan ia berikan harta berharga yang ia miliki.
Allan menatap lapar pemandangan didepannya, dadanya bergemuruh jakun dilehernya naik turun membuat nya bertambah seksi Dimata Indira. Allan masih menggunakan pakaian lengkap hingga ia dengan cepat melepas kaus yang dikenakannya.
Dada Indira bergemuruh, ini kali pertama kulit mereka saling bersentuhan dan menempel tanpa penghalang apapun. Wajahnya merona melihat dada bidang dan perut sixpack Allan.
Dengan cepat Allan menyambar kedua buah dada yang membuatnya candu, mencium, mencecap, Melu*mat dan menggigit kecil.
"Shhh..ahh.." Indira Mende*ah lirih sungguh kali ini merasakan kenikmatan yang membuat kepalanya terasa pening. Tangan kanan Allan merambat kebawah menyelusupkan diantara kain tipis yang masih menutupi daerah rawan bencana itu.
"Abang..engh.." Indira mengerang tertahan ketika ibu jari Allan mengusap daerah sensitif nya, ditambah permainan lidah dalam mulut Allan yang menghi*ap dengan kuat seperti bayi yang sedang kelaparan.
Allan memejamkan mata, sesekali melihat wajah seksi yang penuh gairah dan keringat m membasahi wajah gadis itu, melihat mata tertutup kadang terbuka, dan mulut yang setengah terbuka membuat libidonya kian menggebu-gebu. Sekuat tenaga ia mempertahankan kewarasannya.
__ADS_1
Allan mengecup dan memberi lumayan lembut dibibir Indira, wajahnya turun seiring kecupan basah ia berikan dari bibir hingga turun ke garis perut Indira. Tangan Indira mencekram erat sprei, menahan gejolak yang kian mendesak dan berdebar kencang.
Tangan Allan menurunkan kain tipis yang menutupi area rawan bencana, matanya menggelap seiring Geraman halus yang keluar dari mulutnya, melihat pemandangan yang sangat indah didepan matanya. Allan tidak kuasa menahan napsu yang kian terbakar oleh gairah.
Lidah hangat nya menyentuh lembut bibir rawan itu dengan perasaan yang membuncah, dirinya menyesap, Melu*at dan menghisap dengan kuat, hingga sang empu mengerang kuat. Lidah nya menusuk-nusuk dalam mencari sesuatu yang membuatnya semakin candu.
Indira merasakan darahnya berdesir hebat, sekujur tubuhnya terasa kebas dan tak bertulang, merasakan hal baru yang nikmat, hingga dirinya tak sadar mengeluarkan suara-suara eroktis.
"A-abang..Shhh.." Tubuhnya meremang dan kepala nya terasa ingin meledak ketika sesuatu dari dalam tubuhnya melesak ingin keluar.
"Abbangg.. egh.." Rintihan Indira tidak didengar oleh Allan, ia masih asik dengan kegiatannya yang ingin menunjukan rasa nikmat baru bagi gadis yang masih belia itu.
Tubuh Indira bergetar hebat, suara erangannya kian kuat, ketika pelepasan menghampirinya. Tubuhnya basah oleh keringat, ia masih merasakan bibir hangat Allan menyesap kuat sesuatu yang keluar dari intinya.
"Abangg.." Napas nya memburu dadanya naik turun, hingga membuat buah dadanya semakin menggoda Dimata Allan.
Allan merangkak naik mengecup kedua dada Indira dan terakhir ******* bibir ranum sebagai candu nya.
"Maaf." Ucap Allan dengan mengecup wajah Indira tanpa terlewat. "Abang tidak akan melakukan melebihi batas, Abang mencintaimu
" Lagi dan lagi kata cinta dari Allan yang selalu Indira dengar membuat dadanya kian merasa berdenyut sesak. "Sekarang istirahat, pasti kamu lelah." Allan menarik tubuh kecil Indira kepelukanya, lengannya sebagai bantalan kepala gadis itu. Tangan satunya menarik selimut hingga menutupi tubuh polos Indira.
"Abang rela tersiksa, dan menahan hasrat Abang demi kamu, wanita yang Abang sangat cintai." Allan mengecup kening Indira yang matanya sudah terpejam, meskipun mata terpejam telinganya masih mendengarkan semua ucapan Allan.
"Abang tidak akan tega menyakiti orang-orang yang Abang sayangi, kalian berdua adalah orang yang paling Abang sayangi, dan kamu paling Abang cintai, Abang akan melakukan apapun asal kalian bahagia, meskipun Abang yang tersakiti." Allan mengusap lengan Indira yang polos bibirnya berulang kali mencium kepala gadis itu, yang Allan yakini sudah terlelap. Tapi nyatanya gadis itu mendengarkan dengan menahan tangis.
'Maaf... maaf kan Dira Abang'.
Indira mengeratkan pelukannya, air mata menetes dalam diam menahan sesak didada.
Biarlah waktu yang akan menjawab, biarlah mereka merasakan perjuangan dan pengorbanan. jika mereka jodoh pasti tuhan akan mempersatukan mereka diwaktu yang tepat.
TAMAT...!!
TAPI BO'ONG 🤣🤣🙏
__ADS_1
Semangat buat jempol dan komentar kalian mengawal Alay sampe jodoh👉👈🙈