Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Extra part2


__ADS_3

Allan yang bingung dengan perubahan sikap istrinya hanya bisa mengelus dada, karena memang mood ibu hamil itu suka berubah-ubah tidak kenal waktu dan tempat.


"Selamat pagi nyonya Indira." Ucap dokter Rita yang pernah menangani Indira ketika di hamil anak pertama yaitu Aldrick.


"Pagi Dok." Indira duduk di kursi depan dokter itu, Allan pun demikian.


"Sudah siap untuk melihat jenis kelamin bayi kalian." Dokter itu tersenyum.


"Sepertinya kehamilan sekarang lebih mendebarkan dok, karena tidak sabar untuk melihat jenis kelamin bayi kami." Indira tersenyum lebar dengan mengelus perutnya yang buncit.


"Baiklah, ayo silahkan berbaring biar kita lihat Beby nya berjenis kelamin apa." Dokter Rita menyuruh Indira untuk berbaring di ranjang yang sudah di sediakan dan di bantu oleh satu suster.


Allan membatu istrinya untuk berbaring, sejak tadi dadanya juga berdebar-debar tidak sabar ingin melihat calon anaknya berjenis kelamin apa.


Benar kata Indira, jika kehamilan kedua ini lebih mendebarkan dari pada waktu Indira mengandung Aldrick, karena dulu mereka sepakat untuk tidak ingin mengetahui jenis kelamin putra pertamanya itu.


Dokter mengarahkan alat Transducer yang Ia pegang, setelah suster mengoleskan gel di permukaan perut buncit Indira.


"Bayi nya sangat sehat, dan posisinya juga bagus."


Allan dan Indira tidak pernah melepaskan pandangannya dari layar komputer yang memperlihatkan jelas gambar anak mereka yang begitu mungil dan menggemaskan di dalam perut.

__ADS_1


"Sayang, dia tumbuh dengan baik." Allan nampak haru melihat pergerakan kecil bibitnya di dalam perut istrinya.


"Iya Bang." Indira tersenyum dengan mata berkaca-kaca apalagi bisa mendengar detak jantung bayi mereka yang begitu membuat hatinya terasa berdenyut haru.


"Sudah siap untuk melihat jenis kelaminnya?" Ucap dokter Rita.


Keduanya mengangguk semangat, dokter Rita pun tersenyum melihat antusias kedua pasangan suami istri itu.


Dokter pun mangarahkan alat Transducer itu memutar dan sedikit menekan ketika tepat di mana bisa dilihat jenis kelamin bayi itu.


"Nah, coba kalian lihat disana, apa kalian bisa menebak jenis kelamin bayi kalian." Ucap dokter itu menunjukan di mana letak sebuah lingkaran kecil.


Dokter itu pun terkekeh. "Selamat, anak kedua tuan dan nyonya perempuan." Dokter itu tersenyum lebar.


Seketika senyum merekah keduanya mengembang mendengar ucapan sang dokter.


Allan menciumi wajah istrinya dirinya tidak peduli jika ada dokter dan suster yang melihat interaksinya yang jelas dirinya sangat bahagia dan bersyukur.


"Karena tidak ada keluhan lain, saya hanya berikan anda vitamin."


"Terima kasih dokter."

__ADS_1


"Semoga semua nya lancar sampai hari persalinan nya nanti."


Mereka berdua keluar dari ruangan dokter setelah berpamitan.


Allan terus saya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, dirinya bahagia mengetahui anak keduanya adalah seorang putri.


Indira menepis tangan Allan ketika sudah sampai di lorong rumah sakit yang sepi, ternyata kekesalannya berlanjut.


"Sayang, kamu kenapa?" Allan bertanya kerena tiba-tiba istrinya tidak mau Ia gandeng.


"Masih tanya kenapa?" Indira menatap kesal suaminya yang masih dengan santainya tidak tahu kesalahan apa yang membuatnya kesal.


"Iya Abang tidak tahu." Ucap Allan jujur.


"Ternyata Abang bohong, Abang bilang aku wanita pertama untuk Abang, tapi Widya bilang Abang ternyata masih top cer di atas ranjang." Indira bicara dengan menggebu-gebu dan tatapan tajam pada Allan.


Allan mencerna ucapan Indira, ketika nama Widya di sebut.


"Ya Tuhan, jadi karena perkataan Widya somplak itu." Allan memijit keningnya, ketika Indira lebih dulu berjalan memasuki mobilnya, karena mereka sudah dekat dengan parkiran.


"Siallan si Widya."

__ADS_1


__ADS_2