Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part119


__ADS_3

Allan membantu Indira membersihkan sisa-sisa percintaan mereka tadi, Allan membantu dengan sangat telaten.


Indira yang diperlakukan begitu oleh Allan bersyukur dalam hati memiliki suami yang selalu mendahulukan dirinya ketimbang Allan sendiri.


"Sudah malam, tidur sayang." Allan menarik selimut dan mendekap tubuh istrinya dalam pelukannya.


"Selamat malam." Indira mencium bibir Allan sekilas.


"Hm...sudah jangan mancing-mancing lagi."


Indira hanya tersenyum mendapat usapan lembut di sekitaran punggungnya.


Setiap malam Allan akan selalu mengelus punggung istrinya, karena biasanya Indira sering merasakan pegal-pegal.


Indira merasakan nyaman, rasa mulas yang kadang datang Ia nikmati, sebenarnya dirinya sudah merasakan mulas yang masih sering hilang dan datang lagi, namun belum melihat ada tanda bercak darah ataupun air lendir ketuban nya merembes dirinya masih santai, tidak ingin bilang pada Allan karena pasti suaminya itu akan panik.


Perlengkapan si kecil sudah Ia siapkan di pojok ruangan, tinggal membawa saja jika memang dirinya akan segera melahirkan.

__ADS_1


Meskipun baru pertama kali untuknya, namun Indira tetap harus santai dan rileks, mengikuti kelas kehamilan membuatnya banyak belajar untuk menjalani paska akan melahirkan.


Indira terkadang hanya mengelus perut buncitnya ketika tiba-tiba rasa mulas datang.


Jam masih menunjukan jam tiga pagi, Indira yang merasakan sakit semakin dekat jarak waktunya mencoba bangun dengan pelan, agar tidak mengganggu tidur suaminya.


Berjalan dengan pelan di area kamar, berhenti dan menarik napas dalam ketika rasa sakit semakin sering datang.


Sudah satu jam Indira bangun, jalan dan duduk di sofa. "Kamu sudah gak sabar ingin keluar sayang." Indira berbicara dan mengelus perutnya, melihat suaminya yang masih nyenyak tak tega dirinya untuk membangunkannya.


Sampai sekarang Allan dan Indira belum mengetahui jenis kelamin bayinya, karena mereka memang ingin tahu jika bayinya sudah lahir.


"Kenapa seperti ada yang keluar sih." Indira masuk kedalam kamar mandi dan mengecek apakah dirinya akan segera melahirkan.


Dan benar saja yang dia tunggu-tunggu. "Tenang ya sayang, kamu sudah tak sabar ingin keluar." Indira keluar dan melihat jam sudah setengah lima hampir mau subuh.


Membangunkan suaminya agar melakukan kewajibannya bersama.

__ADS_1


Meskipun sudah merasakan sakit yang durasi waktunya semakin lama semakin sebentar, Indira masih bisa melakukan kewajibannya bersama sang suami.


"Sayang, apa kamu merasakan sakit." Tanya Allan, ketika melihat istrinya yang mendesis dan mengelus perutnya.


"Sepertinya dia sudah ingin keluar Abang." Indira mengelus perutnya dan tersenyum.


"Keluar.. kamu mau melahirkan..!" Pekik Allan panik.


Benar saja, baru mendengar mau melahirkan suaminya sudah panik.


"Mana..apa..apa yang sakit sayang, kita kerumah sakit sekarang." Ucap Allan segera berdiri mondar-mandir entah apa yang akan dirinya perbuat, membuat otak blank.


Indira hanya geleng kepala, melihat kepanikan suaminya, padahal dirinya biasa saja tidak heboh jika sakit datang mendera. "Ayo Abang...kok malah masih mondar-mandir disitu." Panggilnya yang sudah berdiri di dekat pintu dan membawa sebuah tas berisikan perlengkapan si bayi.


Allan pun menoleh dan menepuk jidatnya ketika sadar dirinya sudah sangat terlihat bodoh jika sedang panik.


"Sini Abang bawa." Allan meraih tas yang Indira bawa dan menuntun istrinya berjalan pelan.

__ADS_1


"Sayang, jangan ditahan kalau sakit, wajah kamu pucat." Allan bertambah panik.


Keringat mulai muncul di kening istrinya, dan wajah Indira mulai pucat. "Tidak apa Abang, Aku pasti kuat."


__ADS_2