Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part79


__ADS_3

๐ŸŒน


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Pagi ini Indira sedang berada di meja makan membantu mbok Nah menyiapkan makanan pagi mereka.


"Neng mukanya pucet gitu?" Mbok Nah memperhatikan wajah Indira yang memang nampak pucat dan tubuhnya seperti lemas.


"Mungkin kurang istirahat mbok." Indira tersenyum.


"Sayang.." Allan dan Lili datang bersamaan dari arah yang berbeda.


Allan mendekati istrinya yang sedang menaruh nasi goreng kedalam piring masing-masing. Allan mencium pucuk kepala sang istri.


"Wajah kamu pucat Nak?" Lili yang menyadari lebih dulu.


Allan nampak menatap Lamat wajah istrinya yang memang sedikit pucat. "Sayang kamu sakit?" Wajah Allan sedikit panik, tangan nya memegang kening Indira. "Kita ke dokter." Ucap Allan membingkai wajah Indira.


"Gak pa-pa Bang, mungkin aku hanya kecapean." Indira mencoba tersenyum, meski kenyataan nya tubuhnya memang dirasa kurang sehat.


"Tapi nak, wajah kamu pucat sekali mama takut kamu sakit." Lili juga nampak khawatir kepada menantu kesayangannya.


"Iya Ra, kita kerumah sakit, aku gak mau kamu kenapa-kenapa." Wajah Allan nampak sendu, dan ia mengecup kedua tangan istrinya.


"Gak pa-pa Bang, beneran mungkin aku hanya kurang istirahat. "Jawab Indira yang sudah duduk dikursi makan. "Lagian hari ini aku juga sedang ada janji dengan pelanggan dan itu harus aku sendiri yang menanganinya."


Allan hanya mendesah pasrah, istrinya dari dulu memang sangat keras kepala. "Tapi nanti siang kita ke dokter ya." Final ucapan tegas Allan tidak bisa Indira bantah lagi, dirinya hanya mengangguk pasrah.


"Sayang, apa kamu sudah telat datang bulan?" Lili mencoba menerka dengan apa yang terjadi pada menantunya.


Allan hanya menatap mamanya bingung, kenapa malah bertanya istrinya sudah datang bulan atau belum.


"Emm..." Indira berfikir sejenak, mengingat jadwal masa periodenya. "Kayaknya telat satu Minggu yang lalu ma."


Pikiran Lili sudah berkelana dengan kemungkinan-kemungkinan dugaan nya benar. "Mungkin kamu sedang isi nak." Lili tersenyum sumringah mengatakan itu.


"Maksud mama, Isi apa?" Allan belum mengerti ucapan ambigu mamanya.

__ADS_1


"Mungkin ada Allan junior yang sedang tumbuh." Ucap Lili menjelaskan pada putranya.


Allan nampak menegang, masih belum percaya jika istrinya sedang hamil. "Sayang kamu hamil?" Allan nampak antusias bertanya pada Indira.


"Aku gak tahu Bang." Indira juga merasa syok dan tidak yakin jika dirinya sekarang sedang hamil. Ia mengelus perut ratanya dengan lembut. Mungkinkah kamu sudah tumbuh disini sayang'


"Nanti kita ke dokter untuk periksa." Allan semangat dan menciumi seluruh wajah istrinya karena bahagia.


"Iya, nanti siang tapi ya Bang, kalo sekarang kasian pelanggan aku sudah menunggu." Ucap Indira meminta ijin.


"Oke, yang jelas kamu jangan terlalu capek, dan banyak gerak. apalagi mengangkat barang." Ucap Allan posesif.


"Iya." Indira tersenyum.


Dan sarapan pagi ini diwarnai kebahagian yang kemungkinan akan menjadi kenyataan.


.


.


.


Indira yang sudah menyelesaikan pekerjaan nya dengan pelanggan yang sangat penting, karena beliau adalah istri pengusaha kaya raya begitulah yang Indira tahu, tidak tahu lebih kaya suaminya ataupun suami wanita itu.


Indira ingin ke kamar mandi, karena merasa perutnya tidak enak. Dari kemarin dirinya merasa tubuhnya lelah dan lemas, namun menolak ajakan suami bukan lah tipe nya, sebisa mungkin dirinya melayani suaminya dalam keadaan apapun itu, dan ketika suaminya meminta jatah dirinya tidak bisa menolak, meskipun tubuhnya sangat lelah. apalagi suaminya tidak cukup satu kali jika melakukannya.


"Shh.."Indira memegangi kepalanya yang sangat berat dan pening, pandanganya berputar-putar dan tiba-tiba menjadi gelap.


.


.


.


Allan berlari kencang ketika sampai diloby rumah sakit. Dirinya yang sedang metting tiba-tiba mendapat telpon dari asisten istrinya jika Indira pingsan. Tanpa menunggu selesai Allan segera bangkit dan pergi begitu saja dengan wajah panik, bahkan jantung nya sudah berdebar kencang tak karuan. Untung saja Jimmy sigap menggantikan bosnya itu.


"Bapak." Rere menunduk dengan mata berkaca-kaca ketika melihat suami bosnya datang dengan wajah panik dan napas memburu karena berlari.


"Bagaimana keadaan istri saya." Allan bertanya dengan nada bergetar, dirinya khawatir dan takut jika terjadi sesuatu kepada istrinya.

__ADS_1


"Ibu masih di tangani dokter, dan_" Suara Rere tercekat ketika ingin mengatakan sesuatu, ia mer*emas baju kemeja bagian bawahnya yang ada sedikit noda bercak darah bosnya ketika dirinya membantu mengangkat Indira pingsan.


"Dan apa?" Suara Allan terdengar dingin, dengan tatapan tajam.


"Ibu seperti mengalami pendarahan." Ucap Rere memejamkan matanya, dengan air mata yang mengalir begitu saja.


Duarr


Dada Allan bergemuruh, kepalanya terasa berat, dadanya terasa sesak seperti ada benda berat yang menghimpit nya. Apa, apa yang terjadi kepada istrinya. Kenapa jadi begini? padahal tadi pagi mereka nampak bahagia mendengar Indira yang sepertinya sedang hamil. tidak, istri dan calon anaknya pasti akan baik-baik saja.


Ceklek.


Tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruang UGD.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Allan dengan wajah panik dan mata memerah menahan sedih.


"Istri anda sudah melalui masa kritis." Ucap dokter itu membuat Allan sedikit lega. "Tapi maaf, janin yang baru tumbuh 3minggu di rahim istri anda tidak bisa kami selamatkan."


Deg


Ucapan dokter barusan membuat Allan kehilangan keseimbangan tubuhnya, hingga dirinya berpegangan pada dinding. "Istri anda mengalami pendarahan hebat, dan mengakibatkan kami harus bertindak untuk menguret, atau membersihkan rahim istri anda agar tidak menjadi penyakit yang berbahaya. mungkin karena kelelahan dan banyak aktifitas yang menguras tenaga jadi istri anda mengalami pendarahan, apalagi hamil muda rawan jika terlalu beraktifitas berat dan berhubungan secara sering dan berlebihan." Ucapan panjang dokter itu terus berputar dalam otak Allan. Kini dirinya duduk disamping istrinya yang sedang berbaring tak berdaya dengan wajah pucat.


"Maaf kan aku sayang..maaf.." Allan tak henti-hentinya meminta maaf dan menciumi tangan istrinya yang ia genggam didepan bibir nya. Air matanya jatuh tanpa ia suruh, didepan orang lain mungkin dirinya bisa kuat, namun ia akan lemah ketika dihadapkan dengan keadaan istrinya yang sekarang ini.


Ini adalah kesalahannya, dirinya yang selalu meminta istrinya selalu melayaninya, ia teringat percintaan panas mereka tadi malam, dirinya sangat semangat dan gai*rahnya semakin berkobar ketika bercinta dengan istrinya.


"Sayang, maaf aku yang tidak bisa menjaga mu dan calon anak kita." Allan menangis terisak, adanya terasa nyeri, hingga bernapas pun sepertinya susah, apa yang harus ia katakan ketika istrinya bangun. Bahwa calon anak mereka yang tadi pagi sempat mereka bahas dengan wajah bahagia kini harus pergi sebelum berumur.


Allan menundukkan kepalanya dengan tangan selalu menggenggam tangan sang istri untuk dirinya kecup. Sungguh berat cobaan mu Tuhan. dirinya harus ikhlas merelakan janin yang belum mereka ketahui usianya. Tuhan lebih sayang calon bayi mereka, dan pasti Tuhan juga akan menggantinya dengan lebih.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan baper, nanti Laper๐Ÿ˜ญ Sabar Bang Allan, nanti kerja keras buat lagi yaa๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ..Like..komen kalian jangan lupa๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘


__ADS_2