
Malam beranjak larut, setelah sore tadi Mama Lili membawakan pesanan Indira, Mama Lili meminta ijin untuk pulang dan istirahat dirumah karena badannya merasa tidak enak. Indira hanya mengiyakan, dan menyuruh Mama mertuanya untuk istirahat dirumah saja. Terkadang juga Arum menemaninya jika dia sedang bekerja.
Indira menyandarkan punggung nya di sofa, duduk terlalu lama membuat pinggangnya seperti ingin patah.
Dari jarak yang begitu tidak jauh, Indira menatap suaminya yang masih setia memejamkan mata.
"Kandunganku sudah masuk bulan sembilan, apa Abang tidak mau bangun?" Indira menatap sendu suaminya yang terbaring, dirinya takut jika waktu melahirkan Allan tidak ada disampingnya.
Ini adalah hal pertama baginya, ingin merasakan di dampingi suami ketika melahirkan, Tapi melihat keadaan suaminya mungkin dirinya harus berjuang sendri tanpa ada Allan di sampingnya.
Indira mengelus perutnya yang semakin membesar, tubuhnya lebih berisi, bahkan timbangannya berat tubuhnya pun hampir naik lima belas kilo.
Namun gadis yang sekarang menjadi wanita kuat itu menikmati keadaan nya sekarang, demi buah cinta mereka.
"Shh..."Indira mendesis ketika merasakan gerakan frontal dalam perutnya, membuatnya terasa kaku dan ngilu. "Kenapa kamu gerak terus sayang..hm.." Indira mengelus perutnya dengan menggigit bibir bawahnya, merasakan gerakan bayinya yang bertambah aktif.
"Uhmm...Apa kamu ingin di sentuh papa..hm." Indira berdiri dan berjalan mendekat keranjang suaminya.
Jam sudah menunjukan pukul satu malam, namun karena kebiasaan Indira tidak bisa tidur di tengah malam membuatnya terus begadang.
"Nah, sekarang kamu diam ketika tangan papa menyentuhmu." Tangan nya memegang tangan Allan di atas perutnya, bahkan Indira menggerakkan tangan Allan seperti sedang mengelus. Gerakan itu bukanya terhenti namun malah semakin aktif.
__ADS_1
"Auwss...uhhh..Kamu senang papa menyentuhmu." Indira tertawa namun juga menahan rasa ngilu dan kaku di area perutnya.
Alam bawah sadarnya merespon, jari telunjuknya bergerak pelan.
"Ayo bangunkan papa mu, biar bisa bermain denganmu." Indira tersenyum dengan tangan terus mengusap perutnya bersama tangan besar Allan.
Cukup lama Indira melakukan hal itu hingga pergerakan bayinya tenang kembali.
"Sudah malam, pasti kamu sudah tidur." Indira menyentuh perutnya dan beranjak berdiri, ingin berbalik ke sofa.
Namun langkahnya terhenti, ketika tangannya di tahan. Indira memejam kan mata, mungkin ini hanya perasaanya saja. Belum sempat kakinya melangkah suara leguhan kecil terdengar.
Dengan pelan dia berbalik, dan mendapati tangan suaminya yang menyentuh tangannya.
"Abang..Abang bangun." Indira menciumi tangan Allan berkali-kali, tersadar lalu tangannya memencet tombol di dekat ranjang.
Dokter dan suster pun datang setelah beberapa menit. Indira sedikit menjauh ketika dokter memeriksa keadaan suaminya.
Sungguh dirinya tidak menyangka jika kejadian barusan mampu membuat Allan tersadar.
'Tuhan terimakasih sudah membuat suamiku kembali sadar'
__ADS_1
Air matanya kini berganti dengan senyum yang selalu terpancar di wajahnya.
"Kamu kenapa senyum terus." Suara lemah dan lirih, menambah lebar senyum Indira.
Tangannya tak melepaskan genggaman di tangan Allan.
"Sejak Abang tidur aku gak pernah senyum, jadi senyum aku hanya untuk Abang seorang." Ucapnya yang membuat Allan menarik sudut bibirnya.
"Abang tahu, Abang lama sekali bangun, aku takut jika aku melahirkan Abang tidak menemaniku." Indira berkata namun bibirnya tetap tersenyum.
"Tidak mungkin Abang membiarkan kalian berjuang sendiri." Suara Allan begitu lemah, namun Indira masih bisa mendengarnya.
"Hm..aku percaya." Memberi kecupan di bibir suaminya Indira merebahkan kepalanya di pundak suaminya.
"Aku percaya jika Abang ngak mungkin ninggalin aku sendirian." Tanpa terasa air matanya menetes kembali.
.
.
BANG RIKO DI SINI YA..👇👇👇 CUSS MERAPAT KLIK FAV KALIAN...😘😘😘😘
__ADS_1