
Hari ini Indira pulang kerumah utama, meskipun harus banyak drama yang membuat dirinya kesal dengan suaminya tak urung dirinya menang dari suaminya dan Allan mengijinkannya untuk pulang.
Karena sudah merasa keadaan nya lebih baik Indira meminta Allan untuk membawanya pulang.
"Sayang, jangan sembarangan kalau duduk." Ucap Aan ketika melihat Indira yang asal duduk.
Indira hanya memutar kedua matanya malas, padahal dirinya hanya duduk biasa saja, dan menurutnya adalah paling nyaman, namun suaminya itu terlalu belebihan.
"Kenapa wajah kamu kaya gak suka gitu." Tanya Allan yang mendekati istrinya.
"Abang jangan terlalu berlebihan, kadang sikap berlebihan itu tidak baik." Ucap Indira.
Allan menautkan alisnya. "Berlebihan bagaimana?"
"Ya itu tadi, Abang terlalu berlebihan khawatir sama aku."
"Itu tandanya Abang sayang dan perduli sama kamu sayang." Allan menarik hidung Indira.
"Tapi terkadang buat aku gak nyaman, dengan khawatir nya Abang yang berlebihan." Ucap Indira yang kerap mendapat perlakuan berlebihan dari suaminya.
Bukanya tidak suka, namun Indira merasa pergerakannya terlalu dibatasi, padahal dirinya sudah tidak apa-apa, tapi Allan masih memperlakukan dirinya sama seperti ketika masih hamil tua.
__ADS_1
"Kamu tidak suka Abang khawatir atau perhatian sama kamu?" tanya Allan menatap wajah sang istri.
"Bukan tidak suka, tapi jangan berlebihan aku tau batasan yang boleh atau tidak aku lakukan." Indira mengelus wajah suaminya. "Aku yakin Abang paham dengan maksud ku." Indira mengecup bibir Allan sekilas.
Allan menghembuskan napas dalam, menatap wajah istrinya yang selalu membuatnya harus merasa terlindungi dan nyaman, namun ternyata perlakuannya tidak membuat sang istri nyaman. "Baiklah Abang akan kurangi rasa khawatir Abang." Allan tersenyum dan mengecup kening Indira. "Abang lakukan itu karena Abang mencintaimu dan Beby Al." Ucapnya dengan melihat box bayi di pojok ruangan.
Indira tersenyum. "Kami juga mencintai papa." Ucapnya lalu memeluk suaminya yang duduk didepanya.
Allan membalas pelukan istrinya dengan sayang.
"Kalian adalah harta papa yang berharga."
.
.
"Hey..Beby nanti kamu jatuh." Indira mengangkat tubuh putranya ketika berguling ke pinggiran tempat tidur.
"Kenapa sayang?" Tanya Allan yang baru masuk melihat Indira yang menggendong Beby Al.
Kini usia Beby Al sudah memasuki bulan keempat tak terasa waktu begitu cepat, Bayi mungil itu kini menjelma menjadi Bayi yang menggemaskan.
__ADS_1
"Dia gak diam, mau nya berguling-guling, takut jatuh dari ranjang." Ucap Indira.
"Sini sama papa sayang." Allan meraih putranya dari gendongan Indira.
"Uluh..Ulun..Anak papa udah mulai pintar ya..iya." Allan menimang putranya mengajaknya bicara.
"Abang tidak bekerja." Tanya Indira yang melihat suaminya masih berpakaian santai, padahal sudah hampir jam delapan.
"Abang berangkat nanti siang sayang, ada rapat." Ucapnya sambil menciumi perut putranya yang ia letakkan di ranjang, membuat bayi kecil itu tertawa senang.
"Ohh.." Indira hanya membulatkan bibirnya.
"Kamu mau kemana." Tanya Allan yang melihat istrinya keluar dari kamar.
"Mau ke bawah sebentar lihat stok asi." Ucapnya yang langsung keluar.
Indira memang sering menyetok asi di lemari pendingin khusus, karena terkadang Beby Al, tidur bersama Beby siter nya.
"Sayang, cepet besar yaa, biar Mama mau buatin adik buat kamu." Ucap Allan pada bayi kecil yang asik menghisap jarinya itu.
"Iss kenapa kamu menggemaskan si sayang." Allan menciumi pipi putranya gemas.
__ADS_1