
Pagi hari suara tawa khas anak kecil memenuhi kamar kedua orang tuanya bagaimana tidak tertawa jika Allan mengangkat tubuh anak nya dan menaruh wajah nya di perut Aldrick membuat bayi berumur satu tahun itu tertawa riang.
Indira hanya tertawa melihat suaminya yang begitu suka memainkan wajahnya di perut putranya, hingga membuat Aldrick tertawa karena kegelian.
"Abang sudah, nanti dia lama-lama menangis." Ucap Indira memperingatkan, karena jika terlalu tertawa Aldrick akan menangis.
Dan benar saja, setelah lima menit Indira diam putranya yang awalnya tertawa riang kini menjadi menangis.
"Loh..loh kok nangis sih jagoan papa..cup..cup..cup." Allan menggoyangkan tubuhnya dengan mengendong Aldrick agar putranya itu diam.
"Abang gak percaya kalau aku bilangin." Indira berdiri dari duduknya di atas kasur, dan berjalan menghampiri suaminya yang mencoba menenangkan Aldrick.
"Abang gak tahu sayang kalau dia akan menangis." Allan masih menenangkan putranya.
"Sini sama Mama nak." Indira mengulurkan tangannya untuk menggendong Aldrick.
"Jangan sayang, nanti kamu kecapean lagian Aldrick sekarang bertambah berat." Ucap Allan mengingatkan istrinya yang sedang hamil.
Ya, bayi menggemaskan berumur satu tahun itu kini tubuhnya tambah berisi
Allan tidak mau ambil resiko jika Indira mau menggendongnya, maka dari itu Allan tidak memperbolehkan Indira menggendong Aldrick jika ada dirinya.
"Sebentar tidak apa Bang, lagian dia mau ikut juga." Indira masih merentangkan tangannya untuk meraih putranya.
Meskipun Allan tidak memperbolehkannya.
Aldrick semakin keras menangis ketika melihat Mamanya yang tidak boleh menggendongnya.
"Sini Bang, kasian dia nangis kaya gitu." Indira tetap memaksa.
"Tapi sayang_" Allan pun tidak ada pilihan lain, ketika istrinya langsung mengambil Aldrick dari gendongan nya.
__ADS_1
"Uluh..uluh.. anak Mama nangis ya, papa nakal ya nak..iya.." Indira mengendong Aldrick dan membawanya duduk di sofa kamar mereka.
Hari ini memang hari Weekand, hari dimana waktu Allan hanya untuk keluarga kecilnya.
Tangan Indira mengelus punggung Aldrick naik turun, hingga membuat Aldrick merasa nyaman di dekapan sang Mama.
"Lah, matanya malah merem melek gitu yank." Allan duduk di samping Indira dan melihat wajah putranya yang nyaman hingga membuat Aldrick lama-lama memejamkan matanya.
"Mungkin kelelahan habis main dan tertawa sama Abang." Ucap Indira mengelus kepala putranya.
"Dia adalah jagoan papa, sehat-sehat sayang, kelak kamu akan menjadi pelindung adik dan kedua orang tuamu." Allan mengecup kepala putranya. Dan mencium bibir istrinya sekilas.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidup Abang." Allan mengelus pipi Indira. "Kalian dan calon Beby kita adalah hidup dan kebahagian Abang." Ucapnya mencium kening sang istri.
.
.
Kediaman keluarga Adhitama nampak ramai. Dengan berkumpulnya keluarga besar Allan dan Indira. Karena hari ini mereka mengadakan syukuran tujuh bulan kandungan Indira.
Aldrick yang usianya hampir dua o itu sudah bisa berlari mengejar bola, dan bicara dengan suara cedal nya. Semua nampak gemas dan ingin membawa balita itu pulang.
"Sayang jangan lari terus nanti jatuh." Indira mencoba meraih tangan putranya, tapi balita aktif itu malah semakin berlari tidak mendengarkan ucapan Mama nya.
Bugh
Huwa..huwa.. Suara tangis menggema di ruangan itu, bersama dengan tawa para orang dewasa.
Bagaiman tidak tertawa jika Aldrick menangis gara-gara kakinya di cium oleh seekor kucing peliharaanya.
"Jagoan masa takut sama kucing." Allan menangkap tubuh putranya untuk di gendong.
__ADS_1
Dan semua kembali tertawa ketika balita itu menjulurkan lidah pada kucing dibawahnya yang menatapnya dalam gendongan sang papa.
Semua keluarga nampak bahagia, mereka semua membentuk formasi untuk mengambil foto bersama keluarga. Semua nampak hadir hanya kurang satu anggota keluarga mereka yaitu Bimo Bagaskara. Meskipun merasa sedih dan ada yang kurang mereka hanya berdoa semoga Bimo yang sekarang lebih menutup diri itu segera mendapat kebahagiaan.
"Sayang terima kasih, sudah mau menemani aku dan memberikan keluarga kecil yang bahagia." Ucap Indira pada suaminya yang berdiri disampingnya untuk mengambil foto keluarga.
Allan merangkul pinggang istrinya yang sedikit melebar itu karena kehamilan yang sudah menginjak tujuh bulan.
"Tidak ada kata terimakasih, karena kita keluarga..Abang hanya berdoa semoga kita semua selalu bahagia." Allan mencium pipi istrinya lalu pindah ke pipi sang putra.
Indira tersenyum lebar begitupun Allan ketika lampu Blitz kamera menyala ke arah mereka semua.
"I love you Mama." Suara Allan dan Aldrick secara bersamaan, membuat mereka semua menoleh ke arah suara dan Allan pun mencium pipi istrinya sedangkan Aldrick mencium kening Indira.
Satu jepretan kamera membidik kebahagian mereka dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
Sampai disini perjuangan kisah mereka, kisah cinta yang awalnya butuh perjuangan untuk menjadi satu keluarga. Indira gadis yatim piatu kini menemukan keluarga yang begitu menyayanginya, ditambah suami yang begitu sabar dengan tingkahnya dan memberikan banyak kasih sayang serta curahan rasa cinta yang begitu besar.
Di keluarga ini dirinya menemukan kebahagiaan yang membuatnya semakin bahagian ketika di karuniai seorang putra yang begitu pintar dan menggemaskan.
"I love you to my husband and Son." Indira membalas ucapan kedua pria belahan jiwanya.
END
.
.
Terimakasih sudah mengikuti cerita receh author yang baru nulis, kalian semua adalah semangat author..jika ada kata-kata atau kiasan yang kurang berkenan mohon dimengerti karena author masih belajar berkaryaπ₯° kisah Allan dan Indira sudah di penghujung...tiada ada kata selain ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian semua para reader yang mendukung karya author dengan mengirim Like..Komen..Hadiah..Serta Vote kalian..ππ
Sampai disini author mengucapkan banyak terima kasih..π₯°π₯°π₯°
__ADS_1
SAMPAI KETEMU DI CERITA SELANJUTNYA...TETAP SEMANGAT πͺπͺ DAN JAGA KESEHATAN π€
Sayang kalian semua para reader setia..ππππ