
Tidak disangka doanya terkabulkan, Indira menangis bahagia di dalam pelukan mama Lili. Kekhawatiran dan kecemasan yang Indira rasakan berubah menjadi kelegaan dan kebahagiaan. Meskipun Allan belum sadar namun dengan keadaanya yang sudah lebih membaik membuat dirinya bersyukur.
"Doa mu terkabul nak, suamimu sudah melewati masa kritis." Lili memeluk tubuh menantunya.
Lili juga sempat terkejut, ketika dirinya sampai di ruangan Allan tiba-tiba suster membawa Allan keluar.
Dan alangkah bahagianya Lili, sebagai seorang ibu yang menantikan keajaiban untuk anaknya, Allan di nyatakan sudah melewati masa kritisnya dan dipindahkan diruang rawat. Karena sangking bahagia dirinya sampai lupa memberi tahu Indira.
Ruangan rawat Allan cukup ramai namun tidak ada yang berisik, mereka berbincang alakadarnya, karena memang pasien harus butuh istirahat untuk masa penyembuhan.
Ada Leina dan juga Rendy mereka menjenguk Allan sejak satu jam yang lalu.
"Mah, bagaiman menurut mama jika Bimo dijodohkan." Ucap Leina yang duduk disebelahnya Lili. "Kami sudah mempunyai calon untuk Bimo." Tambahnya lagi.
Bimo sudah pulang sejak 30menit yang lalu, dirinya ada pertemuan penting dengan klien.
"Kamu kok masih kaya masih hidup di jaman Siti Nurbaya, main jodoh-jodohkan." Ucap Lili menatap putrinya itu.
"Abis tau sendiri Bimo seperti apa, dingin dan cuek sama wanita, aku pikir menjodohkannya adalah pilihan yang terbaik."
__ADS_1
Rendy hanya diam, sibuk dengan ponselnya, enggan untuk menanggapi ucapan istrinya yang selalu membahas perjodohan.
"Mungkin belum Nemu yang cocok, kamu seharusnya membiarkan Bimo menikmati masa mudanya dan memilih pendamping hidupnya sendiri, usia Bimo juga kan masih muda." Lili menasehati Leina agar tak menjerumuskan putra satu-satunya dalam pernikahan yang di landasi dengan perjodohan.
"Tapi kapan mah, sampai umurnya 25tahun saja dirinya belum sama sekali membawa atau memperkenalkan wanitanya."
Lili hanya menggeleng kepala, putrinya itu memang susah untuk di kasih tahu.
Indira tidak tahu ketiga orang yang duduk disofa sedang membicarakan apa, dirinya hanya fokus menemani Allan di sampingnya.
Jarinya mengelus lengan suaminya, Indira tersenyum meskipun Allan masih menutup mata, setidaknya kondisi suaminya sudah lebih baik.
"Padahal aku pengen makan ayam geprek di tempat favorit aku sama Abang, sebelum aku melahirkan." Indira mengelus pipi suaminya.
"Apa aku ajak bemo saja, jika Abang tidak mau menemaniku." Indira dengan wajah cemberut, melihat wajah suaminya yang tanpa ekspresi. Hanya dalam keadaan tidur yang nyaman.
"Ck. Abang kayaknya betah banget tidurnya, aku sampe pegel nungguin Abang bangun."
Biasanya jika dirinya bercerita dan mengoceh suaminya itu akan menggodanya dan membuat nya kesal. Alhasil mereka bertarung di atas ranjang.
__ADS_1
Indira sangat merindukan momen seperti itu, meskipun sering membaurnya kesal namun itu adalah bumbu rumah tangga mereka.
"Nak, Mama pulang dulu, nanti kesini lagi." Lili menyentuh bahu Indira.
"Iya mah, apa Indira boleh nitip sesuatu?" Tanyanya melihat wajah mama Lili.
"Apa sayang, katakan?"
"Dira pengen makan rujak buatan mbok Nah." Ucapnya seraya menampilkan jejeran gigi putihnya.
"Lah, kamu udah mau brojol masih saja ngidam Ra." Leina tertawa mendengar permintaan Indira.
"hehe..gak tau kak, tiba-tiba pengen, biasanya Abang yang suka makan begituan." Ucapnya mengingat memang suaminya yang suka makan seperti itu.
"Nanti mama suruh mbok Nah buatkan, kamu tunggu disini ya, mama pulang dulu."
"Iya mah."
"Pulang dulu Ra." Rendy dan Leina juga pamit.
__ADS_1
Ketiganya keluar meninggalkan Indira sendiri menjaga Allan.