Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part91


__ADS_3

Hari ini butik Indira cukup ramai pengunjung yang datang, ada yang memesan gaun, ada pula yang mengambil pesanan. Semua sibuk melayani dan menerima pesanan, bahkan Rere sampai di buat kuwalahan melayani customer yang mayoritas memesan gaun pesta.


Karena memang yang mendisaine hanya Indira saja, dan Rere adalah bagian konsultan mengenai keinginan customer.


Para karyawan lain juga disibukkan dengan melayani pengunjung, bahkan mereka sampai melupakan makan siang karena hari ini cukup banyak customer yang datang, butik Indira menyediakan berbagai jenis gaun dan dress untuk kalangan menengah ke atas, jadi banyak pengunjung yang datang untuk membeli pakaian yang mereka inginkan, tidak hanya kalangan menengah ke atas yang Indira sediakan, gaun limited edition pun Indira siapkan, tidak hanya kalangan konglomerat dan orang berduit yang biasa masuk IC Boutique namun semua orang bisa memakai pakaian yang bermerek namun juga ramah di kantong.


"Mel, beli makanan gih biar cepet, kalau pesan pasti lama." Rere menghampiri Mela yang sedang menata hanger baju agar rapih kembali.


"Iya mbak..Mela dan teman yang lain juga sudah lapar." Ucap Mela dengan menyengir.


"Ya udah gih buruan, aku juga udah lapar." Ucap Rere memberikan beberapa lembar uang kertas pada Mela.


"Siap mbak?" Mela pun berjalan keluar dengan mengajak teman nya yang laki-laki untuk menemaninya.


"Loh pak." Mela menunduk ketika bertemu Riko didepan pintu masuk butik, yang mereka sudah tahu saudara sepupu bosnya.


"Loh, kalian mau kemana? bukanya ini bukan jam istirahat?" tanya Riko yang melihat jam istirahat memang sudah habis.


"Mau beli makanan pak, karena kita semua belum sempat ada yang makan." Ucap Mela.


"Belum makan?" Riko membeo. Dia melirik bungkusan di tangannya yang sengaja ia bawa untuk nya dan Rere.


"Yasudah kalian beli saja, Rere tidak usah, sudah saya bawakan." ucap Riko kemudian.


"Baik pak, kami permisi dulu."


Riko pun masuk melihat kesekeliling toko lumayan sepi, namun banyak barang yang tidak tertata rapi mungkin tadi ramai.


"Re..?" Riko menyapa Rere yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Eh..kamu disini." Rere mendongak dan mendapati Riko dengan senyumnya.


"Hem, sengaja mampir tadi lewat sekalian aku bawain makan siang, aku juga belum makan jadi sekalian."


"Iss..kebetulan banget sih aku lagi Laper, hari ini kita semua terlambat makan siang, karena toko ramai." Rere segera membuka bungkusan yang Riko sodorkan , ia sangat bersemangat karena memang perutnya yang sudah keroncongan.


"Pas banget dong kalau begitu." Riko pun melakukan hal yang sama, mereka makan dimeja Rere dengan duduk saling berhadapan.


"Hem.." Rere hanya bergumam dengan mulut penuh makanan, dan Riko pun tak lepas menatap wajah turun kebibir Rere yang bergerak-gerak yang menurutnya seksi.

__ADS_1


Riko menggelengkan kepalanya dengan kembali menyuapkan makanannya.


"Kenyang." Rere meminum air putih yang selalu tersedia dimeja kerjanya, dan Riko pun sudah lebih dulu meyelesaikan makanannya.


"Terima kasih, kamu datang tepat waktu." Rere tertawa dan Riko pun ikut terkekeh.


"Sesibuk apapun kalau sudah jam nya makan harus makan, jangan di biasakan telat, nanti bisa jadi penyakit." Ucap Riko.


"Hem, karena banyak pengunjung jadi telat, biasanya juga ngak."


"Untuk lain kali jangan diulangi."


"Dih, perhatian bener kayak pacar." Rere terkekeh mendengar ucapan Riko.


"Tidak harus menjadi pacar kalau cuma perhatian, tapi kalau kamu mau jadi pacar aku juga boleh." Riko tersenyum mengatakan hal itu.


"Ck. modusnya pinter bener, buaya pasti." Rere menanggapi ucapan Riko hanya candaan, jangan sampai dirinya baper dan Riko hanya becanda.


"Bukan modus tapi usaha."


"Usaha modusnya." Rere mencebikkan bibirnya.


"Gak percaya banget sih kalau aku serius." Ucap Riko menatap wajah Rere lekat, dirinya serius mengatakan hal itu entah mengapa akhir-akhir ini pikiranya dipenuhi oleh gadis yang ia kasih julukan triplek itu.


"Mau bukti." Riko mencondongkan tubuhnya, sepersekian detik dirinya menikmati wajah manis Rere dan pandangan nya turun ke belahan daging kenyal Rere yang menggoda untuk di cicipi.


"M-mau apa?" Kepala Rere mundur karena Riko semakin memajukan wajahnya.


"Hem.."Riko semakin maju, tangan nya menyentuh ujung bibir Rere yang ada sisa nasi.


Rere hanya menarik napas dalam. "Ada sisa makanan." Ucap Riko memperlihatkan.


"Ng.."


.


.


.

__ADS_1


"Abang, aku pengen ketemu Bimo boleh ya?" Tanya Indira tiba-tiba.


Allan sudah cukup pusing melihat ulah istrinya hari ini, benar saja ketika baru 15menit sampai kantor Indira sudah bosan dan mengoceh membuat gemas sendiri.


Minta makan ini makan itu, dan semua sudah Allan turuti, Jimmy lun tak luput dari tingkah mengesalkan Indira.


Apalagi ini, ketemu Bimo? No Allan tidak akan mengijinkan istrinya bertemu dengan keponakan yang pernah menyukai nya dulu.


"Buat apa ketemu Bimo sayang, ada aku disini." Allan menatap istrinya yang merengek di atas pangkuannya, setengah hari Allan belum juga menyelesaikan pekerjaan nya, biasanya dirinya sudah mendapat separuh dokumen yang perlu ia periksa, namun tidak hari ini, dirinya hanya mengurusi kemauan istri manja nya hari ini.


"Aku mau Nye Bimo Abang, bukan Abang."Bibir Indira cemberut.


"Bimo juga pasti sibuk sayang, dia juga bekerja." Ucap Allan masih merayu istinya.


"Besok kan libur pasti tidak bekerja." Mata Indira sudah berkaca-kaca mendapat penolakan dari suaminya.


"Tapi kan belum tentu Bimo juga libur sayang."


"Abang jahat..!" Lolos sudah air mata nya ketika Allan masih saja tidak memberi ijin. Indira menangis terisak dengan memukuli dada Allan.


"Loh..loh kok jadi nangis sih.." Allan pun menjadi panik. "Cup..cup.. sayang, jangan nangis Ding, masak gak boleh ketemu Bimo langsung nangis gini."


"Huwaa..!!" Makin keras saja Indira menangis mendengar ucapan Allan.


"Pak, ada klien yang_" Ucapan Jimmy menggantung ketika nyonya bosnya menangis dengan memukuli dada Allan.


"Jim, kamu tahu hari ini dia aneh, bikin saya pusing." Allan berusaha menahan tangan Indira, tapi ucapanya barusan malah membuat Indira semakin murka.


"Abang jahat, gak aku kasih jatah satu Minggu."


"What.??" Allan malah di buat frustasi mendengar ucapan Indira. "Gak bisa gitu sayang."


Jimmy ingin tertawa melihat wajah frustasi bosnya yang mendengar tidak mendapat jatah. sejak tadi Jimmy juga heran melihat tingkah aneh istri bosnya itu, Jimmy mengingat tingkah istrinya yang aneh ketika sedang hamil dulu.


apa mungkin?


"Pak lebih baik bawa istri bapak ke rumah sakit." Ucap Jimmy


"Apa? emang kamu kira istriku sakit." Allan mendelik ke arah Jimmy, sedangkan Indira sudah menatap horor Jimmy.

__ADS_1


Jimmy menggaruk tengkuk nya menadapat tatapan maut kedua bos dan nyonya nya itu. "Maksud saya, mungkin istri bapak sedang hamil, jadi bawa saja ke dokter kandungan untuk periksa."


"Apa hamil..!!?"


__ADS_2