Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part94


__ADS_3

"Kondisi janinnya sehat, anggota tubuhnya juga sudah terbentuk sempurna." Ucap sang dokter.


Allan menemani Indira kerumah sakit untuk cek up rutin kandungannya, Usia kandungan Indira memasuki bulan ke empat, perut yang dulu rata kini terlihat sudah menonjol.


Allan dan Indira tersenyum haru, melihat malaikat kecil mereka yang bergerak-gerak.


"Sayang, lihat dia bergerak." Mata Allan berkaca-kaca melihat buah cintanya yang sangat menakjubkan.


"Iya Bang, dia anak kita."


Allan mencium tangan Indira berkali-kali. "Ya, dia anak kita."


Dokter dan perawat yang berada di ruangan itu hanya tersenyum, karena memang sebagian orang menampilkan rasa bahagia yang sama, terharu dan bahagia.


"Apa bapak dan ibu mau melihat jenis kelaminya." Tanya dokter wanita itu.


"Tidak usah dok, biarkan menjadi surprise." Ucap Allan dengan cepat.


"Iya dok, laki ataupun perempuan yang penting bayi kami sehat." Ucap Indira dengan senyum menatap Allan. "Iya kan Bang?"


"Iya sayang, apapun jenis kelaminnya yang terpenting anak kita sehat." Allan membalas senyum Indira dengan tatapan penuh cinta.


Allan tidak mempermasalahkan jenis kelamin anak dalam kandungan Indira, baginya sudah di beri kepercayaan untuk memiliki buah hati adalah sebuah anugrah.


"Baiklah jika begitu." Dokter itu hanya tersenyum.


Setelah menerima vitamin, Allan dan Indira keluar dari ruangan dokter dengan wajah bahagia. Keduanya sama-sama memperlihatkan kebahagian mereka karena sebentar lagi akan menjadi orang tua.


"Sayang, bagaimana kalau kita adakan syukuran untuk baby kita." Allan berucap dengan mengelus perut Indira menggunakan satu tangan kirinya.


Kini mereka berada di dalam mobil, Allan akan mengantar Indira pulang, sebelum ke kantor.


"Boleh, kalau Abang mau."


"Baiklah kita akan beri tahu Mama dan keluarga untuk acara ini, kamu cukup istirahat dirumah, biar Abang dan yang lain urus semua keperluan." Ucap Allan panjang lebar.


"Apa aku tidak boleh membantu?" Tanya Indira berharap. Pasalnya semenjak hamil dirinya tidak boleh melakukan aktifitas apapun, hanya senam hamil dan tidak di ijinkan membantu aktifitas yang lain.


"No sayang, Abang tidak mau terjadi sesuatu sama kamu." Allan mengusap kepala Indira.

__ADS_1


Indira hanya menghela nafas kasar, dirinya juga ingin membatu persiapan acara untuk baby nya, tetapi dirinya juga tidak bisa membantah perkataan suaminya.


"Kamu hanya boleh mengutarakan keinginan kamu, konsep apa yang kamu inginkan, selebihnya tidak boleh ikut turun tangan sendiri." Ucap Allan lagi.


"Tapi aku ingin membatu mempersiapkan syukuran untuk baby kita Abang, aku ingin ikut andil." Wajah Indira masam dengan bibir mengerucut.


"Tidak, Abang tidak mengijinkan kamu beraktifitas berat." Allan melirik kearah istrinya.


"Abang tenang saja, kami akan baik-baik saja, tidak akan kelelahan." Indira masih menyakinkan Allan.


"Tetap saja sayang, lebih baik aku berjaga sebelum kejadian."


Indira hanya membuang wajah ke samping, tanpa menjawab ucapan Allan lagi. Dirinya merasa kesal karena tidak boleh melakukan sesuatu apalagi untuk persiapan Beby mereka. Baginya ini adalah pengalaman pertama untuk nya yang akan menjadi calon ibu, dirinya ingin melakukan banyak hal.


"Jangan cemberut gitu sih yank.." Allan tahu jika istri cantiknya sedang merajuk.


Indira masih diam, tanpa menoleh. "Aku lakukan untuk kebaikan kalian, karena kalian adalah separuh nyawaku." Ucap Allan dengan mengelus perut yang sudah sedikit menonjol.


Belum ada sahutan, ternyata istri cantiknya benar-benar marah, kalau sudah begini akan susah bagi Allan untuk membujuk, jangan sampai dirinya tidur di luar untuk kesekian kali karena istri bunting nya marah.


"Baiklah, Abang akan turuti semua keinginan kamu hari ini, apapun itu." Allan pasrah jika sudah begini, hanya ini lah cara satu-satunya untuk membujuk Indira.


Dan benar saja perempuan hamil itu langsung merespon. "Yakin Abang mau turuti permintaan aku." Wajahnya seketika langsung bahagia mendengar ucapan suaminya.


Indira tersenyum menyeringai, ini adalah kesempatan dirinya untuk mendapatkan keinginannya, karena sebelum-sebelumnya nya Allan tidak mau menuruti keinginannya.


"Oke..Abang sudah janji, maka jangan ingkar kalau tidak jangan harap akan merasakan mantap-mantap selama satu bulan."


Glek


Allan menelan ludahnya kasar, matanya menatap Indira tidak percaya. "Kenapa kamu suka sekali mengancam, tidak akan ada lagi sejarah tidur di luar lagi." Allan menggelengkan kepala, dan bergeridik ngeri ketika bayangan dirinya tidur di luar seperti malam itu.


"Baiklah, karena Abang hari ini mau menuruti semua permintaan bumil.. maka aku akan minta apapun yang aku ingin." Indira dengan wajah bahagia, lain dengan Allan yang berwajah masam. Pasalnya keinginan Indira terkadang membuatnya pusing dan harus ekstra sabar menahan emosi.


"Katakan apa yang kalian ingin kan, calon papa akan mengabulkan." Allan tersenyum kearah Indira dengan tatapan penuh cinta.


"Baiklah papa, kita ingin bertemu uncle Bimo." Ucap Indira tersenyum dengan mengelus perutnya.


Mendengar ucapan dan tatapan mata istrinya membuat Allan tidak bisa menolak, meskipun keponakan tetapi dulu mereka berdua begitu dekat hingga membuatnya patah hati.

__ADS_1


"Baiklah untuk hari ini, calon papa akan kabulkan dua orang yang paling papa cintai."


Indira sangat bahagian mendengar ucapan Allan, karena keinginannya akan dikabulkan. padahal sebelum-sebelumnya Allan tidak mengijinkannya untuk bertemu dengan Bimo meskipun dirinya ngidam.


"Terimakasih calon papa sayang.." Indira memeluk lengan suaminya, kepalanya ia sandarkan di bahu Allan.


"Iya sayang, hari ini akan calon papa turuti." Allan mengecup kening Indira berkali-kali.


"Sekarang panggilnya calon papa?" Tanya Indira yang masih bersandar di bahu Allan.


"Ya, kalau nanti baby sudah launching maka akan dipanggil Papa." Allan terkekeh sendiri dengan ucapanya.


"Baiklah calon papa yang kami cintai." Indira tertawa, merasa lucu dengan panggilan yang Allan berikan.


"Hm.. calon Mama juga yang sangat calon papa cintai."


"Abang iih... bikin aku gak bisa berhenti tertawa." Indira masih saja tertawa, karena menurutnya lucu dan menggelikan mendengar panggilan yang Allan berikan untuk mereka sebagai calon ayah dan ibu.


"Lah, apanya yang lucu sayang..?"


"Entahlah, tapi mendengar panggilan Abang rasanya menggelikan."


"Tapi Abang senang melihat kamu tertawa dan tidak marah lagi " Allan mengelus kepala Indira.


"Ck. itu kalau Abang bikin aku kesal, makanya jangan coba-coba melawan ibu hamil." Indira menjauhkan tubuhnya untuk menatap wajah Allan.


"Tidak akan, Abang sudah kapok tidur di luar gak akan lagi." Ucap Allan dengan wajah memelas.


"Bagus, kalau bikin kesal lagi jangan harap dapat ranjang empuk guling hidup."


Allan hanya mengangguk pasrah dengan wajah masam. Itu berarti dirinya harus membuat istri cantiknya selalu bahagia, tidak membuat nya kesal. meskipun terkadang memang Indira yang memancing Allan untuk bertindak tegas, karena memang ibu hamil maunya menang sendiri, apalagi perasaanya sangat sensitif.


.


.


.


Hay..Hay..author receh menyapa kalian, maaf 🙏 jika beberapa hari ini author tidak update, karena kesibukan di dunia nyata yang memang tidak bisa di tinggalkan.. 🤗 dan Alhamdulillah hari ini bisa menyapa kalian kembali kesayangan author...🤗

__ADS_1


.......


Jangan lupa like..komen kalian.. I Miss you kalian semua..😘😘😘


__ADS_2