
🌹
🌹
🌹
Sudah satu Minggu Indira dirumah sejak kejadian dimana dirinya dilarikan kerumah sakit dan mengalami pendarahan.
Sekarang dirinya sudah merasa sangat sehat, bahkan ingin melakukan aktifitas seperti biasa agar tidak bosan karena selama seminggu ini dirinya hanya dikamar atas perintah suaminya.
"Sayang... aku pengen ke butik boleh ya.." Indira mengekori kemanapun suaminya melangkah dengan merengek. "Janji deh aku gak ngapa-ngapain."
Allan berdiri di depan meja rias, menyisir rambutnya agar rapi. pagi ini sedari dirinya bangun sudah mendengar rengekan sang istri yang meminta ijin pergi ke butik.
"Abang.." Indira menoel-noel lengan Allan dengan jari telunjuknya, dan menampilkan wajah memelasnya.
Allan membalikkan badannya, menatap sang istri yang menampilkan wajah cemberut dengan bibir di manyunkan.
"Nanti kamu kecapean sayang?" Allan mengelus pipi istrinya. Sebenarnya dirinya juga tidak tega melihat wajah sedih istrinya, namun semua itu ia lakukan untuk kebaikan Indira.
Indira menggelengkan kepala. "Gak akan aku janji, aku cuma gambar aja gak ngapa-ngapain." Indira mengangkat tangan nya dengan dua jari membentuk V.
Allan menghela napas kasar dirinya juga tidak bisa terlalu mengekang sang istri, dirinya malah takut Indira akan stres.
"Oke, Abang ijinin." Ucapan Allan membuat Indira senang bukan kepalang, bahkan gadis itu sudah memeluk dan mencium pipi suaminya. "Tapi ingat jangan melakukan apapun, kecuali menggambar." Allan menatap wajah istrinya dengan kedua tangan menangkup kepala Indira.
"Hu'um janji." Indira mengangguk dengan tersenyum. Allan pun ikut tersenyum dan mengecup wajah istrinya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Ya udah siap-siap Abang tunggu dibawah ya." Allan mengecup kening Indira sebelum keluar kamar.
.
.
.
"Kenapa Mama malah kerumah kak Lei sih Bang."
Mereka kini sedang berada didalam mobil menuju butik Indira.
"Mama kangen sama Anak perempuannya sayang." Allan fokus menyetir.
"Hah, aku kan jadi kesepian gak ada Mama."
"Kan ada Abang?"
"Kalo aku pulang kan Abang belum pulang, terus kadang Abang pulangnya malam."
__ADS_1
"Mulai sekarang akan usahakan Abang pulang cepat, dan menjemput kamu pulang bareng, gimana?" Allan tersenyum menatap wajah istrinya.
"Beneran?" tanya Indira dengan wajah berbinar. Allan hanya tersenyum dan mengangguk. "Tapi kerjaan Abang pasti banyak."
"Ada Jimmy yang selalu bantuin Abang, mulai sekarang Abang akan perhatiin kamu, bukan hanya Abang kamu perhatiin. maaf sayang selama ini Abang yang selalu minta kamu layani dan perhatikan, tapi Abang lupa memperhatikan kamu Abang gak akan ngulangi kesalahan Abang yang membuat kita sama-sama kecewa." Allan menggenggam tangan Indira dan menciumnya.
"Dira juga Bang, mulai sekarang kita sama-sama saling support, apapun itu." Indira mencium pipi Allan, dan memeluk lengan kiri Allan yang bebas tidak memegang kemudi.
"Terimakasih sayang." Allan mencium pucuk kepala sang istri yang berada di bahunya.
.
.
.
"Maaf Bu, ada yang ingin bertemu ibu?"
"Siapa Re." Rara menatap Rere yang sedang berdiri di depan meja kerjanya.
"Customer baru, katanya ingin bertemu dengan pemilik toko." Ucap Rere lagi.
"Oke." Indira pun menaruh pensil yang sedang ia pegang dan mengikuti langkah Rere dari belakang.
"Maaf anda ingin bertemu saya?" Indira menyapa seorang wanita yang berdiri membelakanginya.
Indira tersenyum dan membalas uluran tangan Cassandra. "Indira. Maaf ada yang bisa saya bantu?" Tanya Indira ramah.
"Saya ingin memesan gaun pesta yang sangat bagus, yang belum pernah ada." Ucap Cassandra dengan nada sedikit sombong.
"Boleh, anda tinggal mau seperti apa model desaine nya nanti saya buatkan." Indira menunjukkan beberapa koleksi limited gaun yang belum pernah ia buat. "Ini contoh gaun yang belum pernah saya buat, karena desaine ini khusus hanya dibuat satu."
Cassandra nampak senang melihat desaine yang Indira perlihatkan karena menurutnya ini sangat bagus. "Saya mau yang ini, tapi mungkin saya minta warna nya seperti ini dan disini sedikit di tambah aksesoris berlian." Ucap wanita itu dengan senyum mengembang.
Indira bisa melihat selera wanita didepannya ini, Cassandra menggunakan baju ketat dan seksi di tubuh langsing nya itu, semua barang yang melekat di tubuh wanita itu sudah nampak barang mahal branded semua. Wajah nya memang cantik karena perawatan mahal.
"Baik, kapan anda akan menggunakannya?" tanya Indira lagi.
"Tiga Minggu lagi, saya kesini buat ambil."
"Oke, saya akan usahakan siap pada waktunya."
"oh.. tentu saya akan bayar berapapun harganya yang terpenting tepat waktu dan hasil memuaskan."
"Akan kami usahakan."
Dari arah luar nampak seorang pria dengan menggunakan pakaian jas rapih yang sangat pas membungkus tubuhnya, ia berjalan masuk dengan menggunakan kaca mata hitam. Pemandangan seperti ini adalah anugrah bagi karyawan Indira yang sangat mengidolakan ketampanan suami dari bosnya itu.
__ADS_1
"Bapak..?" Rere yang pertama kali menyapa.
Karena yang lain hanya mampu bisik-bisik dan mengagumi saja.
"Ibu ada Re."
"Ada, kebetulan ibu sedang ada tamu."
"Oke, terimakasih."
Allan berjalan menuju ruang tunggu, dimana ruangan yang khusus untuk para customer.
"Sayang." Allan berjalan mendekati sang istri yang sepertinya sedang ingin mengantar tamunya pergi.
Bak adegan film, Cassandra yang melihat seorang pria tampan yang masih memakai kacamata hitam dengan gagahnya berjalan menuju kearahnya, dirinya dibuat terpesona oleh ketampanan pria itu, hingga tanpa sadar dirinya sampai tak berkedip.
"Abang." Indira yang mendengar suara suaminya pun menoleh.
Allan melepas kaca mata hitam nya, dan langsung merangkul pinggang Indira, lalu mengecup pipinya.
Cassandra hanya memephatikan dengan perasaan kagum dan iri, kagum melihat pria tampan dan mempesona, iri karena pria tampan seperti dia mau dengan wanita modelan Indira. padahal dirinya jika dibandingkan lebih baik dari pada Indira.
"Aku lapar, ayo kita masuk nanti ada yang antar makan siang kita." Allan menarik pergelangan istrinya bermaksud mengajaknya pergi, ia tidak menghiraukan wanita yang berdiri didepan istrinya yang sejak ia datang menatapnya tidak berkedip.
"Tapi, masih ada tamu bang." Indira mengingatkan.
"Ah..ya lupa, Maaf nona saya dan istri saya akan makan siang, jadi kami pergi dulu." Allan pun hanya tersenyum sekilas lalu pergi menarik pinggang istrinya, tanpa memperdulikan wajah kesal wanita yang ia tinggalkan begitu saja.
"Sialan, kenapa wanita itu beruntung sekali." Cassandra menggerutu dan langsung pergi keluar dari toko Indira.
"Abang tumben jam segini udah nonggol." Indira memberikannya segelas minuman dingin pada Allan.
"Kerjaan Abang sudah selesai, dan Abang merindukan mu." Allan meraih tangan istrinya untuk duduk dipangkuan nya.
Indira menurut dan melingkarkan kedua tangan nya dileher Allan.
"Palingan juga Jimmy yang menjadi tumbal Abang." Indira menatap wajah tampan suaminya dengan senyum.
Allan terkekeh. "Itu sudah jadi tugasnya, karena Abang sudah membayarnya mahal." Allan mengelus punggung istrinya tangan satunya mengelus pipi mulus Indira.
"Memang Abang gaji berapa si Jimmy?" Tanya Indira yang kepo, pasalnya Jimmy juga memakai barang yang bukan kaleng-kaleng.
"Sesuai dengan tanggung jawab, dan pekerjaan sayang."
Karena sudah tak tahan melihat bibir candunya sejak tadi bergerak, Allan pun segera menyambar bibir tipis yang sudah menjadi candunya itu dengan penuh perasaan.
Mereka mengawali acara makan siang dengan pembukaan yang sangat manis dan berhasrat cinta.
__ADS_1