Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part73


__ADS_3

🌹


🌹


🌹


Setengah harian penuh Harlan menghabiskan waktunya dirumah Indira, dirinya yang merindukan dan ingin lebih dekat dengan gadis itu, maka Harlan menunggu hingga sore hari menjelang, karena dirinya akan membawa Indira kerumah utama Kusuma.


"Paman, apa kita tidak makan dulu?" Kini Indira sudah berada dikursi penumpang samping Harlan mengemudi. Mobil Harlan baru saja keluar dari perkarangan rumah Indira.


"Kita makan malam dirumah nenek saja, karena kebetulan anak sulung paman baru pulang dari Paris." Ucap Harlan dengan pandangan fokus mengemudi di jalan yang cukup ramai sore ini.


"Paman punya berapa anak? Jadi aku juga memiliki kakak sepupu?" Indira berbinar mendengar dirinya juga mempunyai sodara sepupu.


"Tentu saja punya, paman punya dua anak, Laki-laki dan perempuan." Ucap Harlan terkekeh melihat antusias gadis itu.


"Bagus deh, jadi aku punya teman selain sahabat aku."


Mereka mengisi perjalanan dengan obrolan ringan, yang terkadang membuat keduanya tertawa. Tak terasa mobil Harlan sudah sampai di halaman rumah utama Kusuma. Rumah dengan dua tingkat yang cukup mewah.


Indira menatap bangunan dua lantai itu dengan mata berkaca-kaca. ternyata ayahnya dari keluarga yang cukup berada.


Harlan yang melihat wajah sendu keponakannya langsung memeluk bahu gadis itu. "Maafkan keluarga paman, jika selama ini tidak tahu keberadaan mu, dan keadaan mu yang jauh dari apa yang keluarga paman miliki." Harlan nampak Sedih melihat wajah muram Indira yang menatap rumah jauh lebih bagus dari pada rumah Indira.


"Dira senang paman, bisa di pertemukan dengan keluarga ayah." Indira tersenyum menatap Harlan.


Harlan juga ikut tersenyum, sungguh hati gadis itu sangat lapang dan baik, tidak membenci keluarga nya yang sudah mengusir ayah dan ibunya. "Terimakasih sayang, kamu memang berhati baik seperti ibumu."


Mereka pun masuk, setelah pelayan membuka pintu, dan pemandangan pertama yang Indira lihat adalah ruangan tamu yang luas dan banyak barang mahal terpajang sebagai furniture ruangan itu. meskipun masih nampak luas dan mewah rumah milik calon suaminya.


"Sayang kamu sudah pulang?" Harna istri Harlan muncul setelah mendengar dari pelayan bahwa suaminya pulang membawa tamu. Dan mencium tangan Harlan.


"Sudah sayang." Harlan mendekat dan mencium kening Harna begitulah kebiasaan suami istri itu.


"Kamu bawa siapa Mas?" Tanya Harna yang melihat seorang gadis cantik di bawa suaminya, nampak gadis itu mirip anaknya. 'jangan-jangan anak mas Harlan sama perempuan lain'. Dalam hati Harna nampak gelisah.


"Oh.. kenalkan namanya Indira sayang. keponakan kamu." Ucap Harlan mengulurkan tangan kepada Indira untuk mendekat.


Indira mendekat dan mengulurkan tangan untuk Salim kepada Harna, disambut dengan sedikit kikuk oleh Harna karena ucapan suaminya bilang keponakan.


"Indira Tante." Indira mencium punggung tangan Harna.


"Maksud kamu keponakan dari mana mas?" Meskipun Harna bisa menebak, namun dirinya ingin memastikan. Karena selama ini dirinya juga menjadi keluh kesah suaminya yang selalu menceritakan penyesalan dan kesedihan tentang Hardi adiknya.


"Dia anak Hardi dan Nilam sayang, yang baru tadi siang aku ketahui, ketika Sekertaris Allan mengirim undangan pernikahan." Ucap Harlan dengan senyum menatap keponakannya.


Harna langsung mendekati Indira dan memeluk gadis itu dengan hangat, bahkan Harna sampai meneteskan air mata. "Selamat datang di keluarga Kusuma sayang, Tante senang bisa bertemu dengan mu." Harna mencium kening Indira dan kembali memeluk keponakan baru nya itu.


Ingat ucapan suaminya menyebut nama Allan Harna pun bertanya. "Allan? apa hubungan nya mas?" Harna nampak berpikir ada hubungan apa Allan dengan gadis ini. Karena memang undangan itu baru dikirim ke kantor Harlan pagi tadi oleh Jimmy.


"Dia calon istri Allanaro Putra Aditama. yang dulu sering datang kemari." Ucap Harlan menjelaskan kebingungan istrinya.


Harna membulatkan kedua bola matanya, terkejut mendengar ucapan suaminya. "Calon istri Allan? Kok bisa mas.!" Harna memekik hingga terdengar sampai meja makan yang sudah ada kedua anak dan ibunya.


"Ceritanya panjang sayang, nanti aku ceritakan. sekarang dimana ibu?" Ucap Harlan yang melihat keterkejutan istrinya hanya terkekeh. karena dulu Harna sempat menggadang-gadang Allan ingin menjadi menantunya karena dekat dengan Rania.


"Kalian ini kenapa malah bicara disitu, tidak langsung masuk." Suara seorang wanita tua yang sudah banyak keriput, berjalan pun sudah dibantu oleh tongkat. Dibelakang nya diikuti kedua anak Harlan.

__ADS_1


"Kak Dira..!"


"Indira..!!" Kedua kakak adik itu memekik bersamaan. Rania lebih dulu maju memeluk Indira. "Rania senang bisa ketemu kakak lagi." Indira juga nampak terkejut mendapati Rania di rumah itu, dan parahnya yang membuatnya tambah terkejut adalah Riko.


"Kamu kenapa bisa bersama papa Ra." Riko ikut maju mendekati Indira dengan banyak pertanyaan dibenaknya.


Belum sempat Indira menjawab karena terkejut. Apalagi mendengar ucapan neneknya juga.


"Anak siapa yang kamu bawa Lan, jangan bilang anak selingkuhan mu?" Tanya ibu Harlan menatap tajam anak nya.


"Bukan Begitu ma tap_" Belum sempat Harlan menjawab, Indira sudah maju mendekati wanita tua yang sedang berdiri dibantu tongkatnya.


Indira mengambil tangan Nenek nya dan mencium punggung nya, dengan air mata menetes. "Kenalkan nek saya Indira. putri dari Ayah Hardi dan ibu Nilam." Indira berucap dengan lirih, meskipun dalam hatinya dirinya merasa takut akan di tolak, ataupun diusir seperti kedua orang tuanya.


"Apa..?!" Riko dan Rania kompak berteriak, terkejut mendapati Indira ternyata adalah saudara sepupu mereka.


Nenek hanya diam mematung mendengar ucapan gadis yang baru saja memperkenalkan diri sebagai anak dari putranya yang sudah ia usir 24tahun silam.


Tiba-tiba kepalanya terasa berat, dan kaki nya lemas. hingga nenek jatuh pingsan, untung Indira dengan sigap menahannya.


"Nenek..!!


"Ibu..!!


Mereka semua mendekati nenek yang jatuh pingsan dan membawa nya ke kamar.


Indira panik dan air mata nya tambah mengalir, ketika melihat neneknya yang pingsan setelah dirinya memperkenalkan diri.


Harna merangkul tubuh Indira, menenangkan gadis itu agar tidak menyalahkan dirinya. "Kamu tenang saja sayang, nenek tidak apa-apa dia hanya syok saja." Meskipun dalam hati Harna juga merasa khawatir, namun dirinya mencoba menenangkan Indira.


"Ini salah Dira Tante, kalau terjadi sesuatu sama nenek maka..." Indira tidak kuasa melanjutkan ucapan nya. dirinya menangis terisak, jika sesuatu terjadi pada nenek nya maka dirinyalah penyebabnya.


"Kamu tenang saja sayang, nenek pasti baik-baik saja." Harlan me dekati Indira yang hanya diam dengan air mata yang terus mengalir, dirinya memeluk tubuh gadis itu.


"Ini salah Dira paman, maaf sudah membuat nenek sakit." Indira membalas pelukan Harlan.


Dokter pun memeriksa keadaan ibu nya Harlan. "Beliau hanya syok dan terkejut, jadi tekanan darahnya tinggi, jika sudah siuman maka ini obat yang harus beliau minum."


Harlan pun menerima obat dari dokter itu, dan mengantar keluar setelah berucap terimakasih.


Indira hanya menatap sendu kerah ranjang, neneknya sedang terbaring lemah karena dirinya.


"Ra..?" Riko mendekat dan merangkul bahu gadis itu. Meskipun dirinya juga terkejut dengan kenyataan bahwa gadis yang dia incar dan kejar-kejar ketik di Paris adalah adik keponakan nya sendiri. membuat nya ingin tertawa tapi juga merasa sesak didada. meskipun sudah puluhan kali gadis itu menolak cintanya, namun Riko masih ada perasaan itu.


"Kak." Indira bersuara lirih dibalik tangis terisak nya.


Mendengar jawaban Indira kian membuat dada Riko sesak. "Jangan takut, nenek pasti baik-baik saja." hanya itu yang bisa Riko ucapkan. Indira pun mengangguk dirinya tidak salah sudah menganggap Riko sebagai kakaknya, karena kenyataan nya memang begitu akhirnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Nenek nampak sudah sadar dan sekarang beliau bersandar di kepala ranjang dengan dua bantal di balik punggung, untuk kenyamanan beliau.


Hanya ada Indira dan nenek nya dikamar itu, dan masih dalam keadaan hening. Nenek menyuruh semuanya keluar kecuali cucu batunya itu.


"Nek..?"


"Nak..?" Mereka bicara secara bersamaan, dan membuat nenek terkekeh dengan bibir nya yang sudah keriput.


"Sini, nenek ingin peluk kamu." Nenek merentangkan tangan kanan nya agar Indira me dekat.


Mata Indira sudah menitikan air mata, dirinya langsung mendekat dan memeluk tubuh rentan itu. "Nenek..." Indira sudah menangis terisak dipeluk kan neneknya.


"Maafin nenek yang sudah membenci kedua orang tua mu dulu, nenek minta maaf." Nenek juga menangis dengan memeluk tubuh cucunya.


"Mereka sudah bahagia disana nek, ayah dan Mama tidak merasakan sakit lagi." Indira masih dengan Isak tangisnya bahkan baju yang nenek kenakan sudah basah oleh air matanya.


"Ya,, dan nenek sangat menyesali perbuatan nenek di masa lalu." Kilasan-kilasan ingatan nya kembali mengingat betapa kejam dirinya dahulu ketiga tega mengusir Hardi karena putranya lebih memilih perempuan yatim piatu dari panti asuhan.


"Dira senang bisa bertemu nenek, Dira bersyukur masih bisa diberi kesempatan bertemu nenek. Dira bahagia nek."


Nenek hanya tersenyum dan menangis mendengar ucapan cucunya yang ternyata tidak membencinya atas perbuatannya di masa lalu.


"Terimakasih sayang, kamu tidak membenci nenek."


"Semua sudah takdir nek, Indira hanya ingin hidup bahagia tanpa dendam dan kebencian."


Nenek langsung menghujani Indira dengan ciuman diseluruh wajahnya, beliau juga bahagia dan terharu melihat tulus dan baiknya cucunya itu.


"Kamu memang anak baik, mereka berhasil mendidikmu dengan baik."


Indira menceritakan semua tentang kehidupan dimasa kecil hingga remaja, nenek pun tak kuasa menahan tangis mendengar betapa menderitanya hidup cucunya itu.


"Nenek tidak benci Indira?" Tanya Indira dengan mengelus punggung neneknya.


"Nenek justeru bersyukur bisa bertemu kamu, meskipun tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuamu." Nenek mengelus rambut Indira.


"Nenek sudah tahu kalau lusa aku akan menikah?" tanya Indira.


Kini keduanya nampak sudah akrab dan saling memaafkan, setelah mereka sudah menceritakan dan mencurahkan semua yang ada dalam benak keduanya.


"Menikah? jadi kamu sudah mau menikah?" nenek malah balik bertanya.


"He'em." Indira kembali mengangguk dengan menaruh kepalanya di pangkuan neneknya. "Indira lusa akan menikah dengan orang yang Indira cintai nek." Nenek mengelus kepala cucunya dengan sayang, tidak menyangka pertemuan pertama cucunya adalah hari dimana ia akan menyaksikan cucunya menikah.


"Nenek akan datang, dan mendoakan mu, nak."


"Terima kasih nek, sudah mau menerim Indira." Indira berbalik dan memeluk perut nenek nya."


Dibalik pintu Harlan dan Harna menitikan air mata, mereka melihat dan mendengar semua pembicaraan keduanya. "Aku bahagia sayang, melihat keluarga kita berkumpul." Harlan pun merangkul bahu istrinya dengan wajah sendu namun hatinya bahagia.


.


.


.


.

__ADS_1


Part ini khusu bernostalgia dulu, jadi tahan dulu kangen nya sama si Abang yakk😂...Like..komen kalian jangan dilewatkan, karena jejak kalian sangat membuat author bahagia, apalagi banyak dikirim hadiah author bakalan kegirangan🤣🤣🤣


__ADS_2