Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part71


__ADS_3

🌹


🌹


🌹


Mereka semua sibuk mengurus persiapan acara pernikahan Allan dan Indira yang terkesan mendadak, disini yang paling direpotkan dan sibuk adalah Jimmy. Jimmy harus rela waktu istirahat dan waktu bersama istrinya harus tersita karena mempersiapkan semua persiapan tanpa ada yang cacat.


Indira sedang berada di sebuah butik yang sangat terkenal di kota itu, dirinya menatap gaun pengantin yang sangat membuatnya terharu, karena gaun yang terpajang di manekin itu adalah gaun yang sama persis dirinya gambar, bahkan tukedo yang dipakaikan di manekin pria juga sama dengan yang ia gambar.


Mata Indira berkaca-kaca dirinya tidak bisa menggambarkan rasa bahagia dan bersyukurnya, karena di kelilingi orang-orang baik dan mendapat calon suami yang mendekati sempurna seperti Allan, karena sejatinya kesempurnaan itu hanya milik_Nya.


"Kamu coba sayang gaunnya." Ucap Lili yang juga ikut mendatangi butik itu, karena keluarga dan kerabat dekat akan memakai warna yang senada.


"Ayo Indira dicoba dulu, siapa tahu masih ada yang kurang." Ucap wanita yang punya butik itu ramah, karena ia juga langganan keluarga Aditama.


"Sayang.." Tiba-tiba suara Allan terdengar dari arah belakang.


"Loh kamu bukannya ada metting penting." Tanya Lili yang melihat putranya datang, padahal tadi Allan sudah pesan jika hari ini dirinya ada metting penting dan banyak berkas yang harus ia selesaikan, sebelum cuti menjelang pernikahan.


Allan mengecup pipi Lili dan beralih pada Indira. "Abang iss.." Indira mendorong dada Allan pelan, karena dirinya merasa malu ketika Allan mencium pipinya didepan orang.


"Mana mungkin Al biarin calon istri mencoba baju pengantin sendirian." Allan merangkul bahu Indira.


"ya sudah sana dicoba dulu." Ucap Lili


Mereka berdua masuk kedalam ruang pas masing-masing.


"Ehh..kau mau apa Al?" Tanya wanita pemilik butik bernama Lisa.


"Tentu saja mencoba bajuku, memang apa lagi." ucap Allan kesal, karena ingin masuk tapi ditahan.


Lisa hanya menggeleng kepala, sedang Indira yang mendengar mendelik ke arah Allan. "Tempat mu di sebelah, tidak disini." Ucap Lisa kembali.


"Tapikan aku juga ingin melihat calon istriku Lis." Allan memekik.


"Awas ma,, sakit." Allan memegangi tangan Lili yang berada di telinganya.


"Kalian masuklah, jangan hiraukan anak nakal ini " Lili berucap dengan menarik kuping Allan menuju kamar sebelah.


Indira dan Lisa hanya bisa tersenyum, ingin tertawa takut kena semprot Allan.


"Sayanggg, tungguin aku." Allan berteriak ketika Indira masuk dan pintu itu tertutup.


"Sekarang cepat kau coba baju mu." Ucap Lili yang sudah melepaskan tangan nya.


"Ma, kenapa mama jadi galak sekali." Allan mengusap telinganya yang terasa panas.


"Salah mu sendiri. dasar anak nakal." Lili pun pergi meninggalkan Allan.


"Cuma mau lihat ganti baju saja tidak boleh, awas saja kalo udah sah." Allan menggerutu sendiri didalam kamar pas itu.


Indira dibantu Lisa memakai gaun indah itu yang nampak sangat pas di tubuhnya.


"Wow...kamu sangat cantik Indira, lantas saja Allan menggilaimu meskipun kamu masih muda." Lisa memuji kecantikan Indira yang begitu pas dan bertambah cantik ketika memakai gaun itu.

__ADS_1


Kini mereka berdiri berdampingan menatap cermin besar didepan.


Indira tersenyum malu, diri nya menatap pantulan dicermin dengan senyum manis. "Aku juga tidak menyangka bisa sebagus ini mbak gaunnya." Indira menatap haru dirinya dibalik pantulan cermin.


"Kamu memang berbakat Ra, Allan memberikan sketsa disaine mu, sebelum kamu kembali dari Paris, karena Allan akan segera menikahimu ketika kamu kembali." Ucap Lisa dengan senyum.


"Jadi Abang sudah menyiapkan ini sebelum aku kembali." tanya Indira tak percaya, pasalnya Allan yakin sekali jika dirinya akan menerima pernikahan ini.


"Ya..kata Al, ini adalah disaine kamu waktu masih kecil, dan kamu ingin menikah menggunakan gaun seperti ini." Ucap Lisa mengingat cerita Allan.


Indira semakin terenyuh, ternyata Allan sangat tahu apapun, mungkin karena Allan membaca buku diary nya.


"Kamu tahu Ra, banyak pengunjung yang ingin memakai gaun mu ini, ketika aku memajang nya, dan karena ini spesial dari Allan untuk kamu, aku tidak menerima tawaran mereka semua untuk membuatkan gaun ini." Ucap Lisa dengan wajah masam.


"Kenapa tidak mbak. mbak boleh kok bikin buat orang lain." Ucap Indira, dirinya senang jika rancangan nya banyak yang menyukai.


"Masalah nya, jika aku melakukan itu maka calon suamimu itu mengancam akan menutup toko ku Ra." Lisa tertawa mengatakan itu.


Indira malah heran, bukanya sedih tokonya ditutup tapi Lisa malah tertawa. Aneh


"Kamu beruntung Ra, mendapatkan Allan."


"Iya mabuk.."


Indira keluar di gandeng Lisa, nampak Allan yang sedang kesal menunggu lama pun ketika melihat spek bidadari nya menampakkan diri, Allan malah bengong dan terpana melihat penampilan cantik Indira.


Indira berjalan mendekati Allan dan Lili, dirinya menunduk sedikit malu. "Kamu sangat cantik sayang." Lili mendekat dan mencium kening Indira.


"Terimakasih Oma."


Allan masih belum sadar menatap kecantikan Indira bahkan matanya sama sekali tak berkedip.


Lisa menghampiri rekan sekaligus sahabat sekolahnya dulu. "Al, awas lalat masuk mulut." Lisa menggeplak pundak Allan, sehingga membuat pria itu kaget dan tersadar. "Kau itu mengganggu saja." Bukanya malau, Allan malah menggerutu. Allan mendekati dimana Indira berdiri dengan mamanya.


"Sayang kau sangat cantik." Allan memuji dengan senyum lebar nya.


"Abang juga tampan." Indira balas memuji, karena memang Allan sangat tampan menggunakan tukedo hitam itu.


"Kenapa masih 4hari lagi sih, tidak bisa sekarang sekalian saja." Allan menggerutu.


"Apanya yang sekarang?" Tanya Lili menyelidik.


"Ck. nikahnya lah ma, apa lagi."


Plak.


"Auws.. Mama kenapa kandung kenapa serasa ibu tiri sih." Allan memegang lengannya yang di pukul Lili keras.


Indira tertawa melihat calon suaminya teraniyaya oleh mertuanya.


"Kalo ngomong sembarangan." Lili kesal, melihat tingkah putranya.


"Sayangg, sakit." Allan mengadu pada Indira.


"Sukurin..salah Abang sendiri." Indira merangkul lengan Lili.

__ADS_1


"Kalian jahat." Allan pun pura-pura merajuk.


Mereka tertawa melihat tingkah Allan yang menjadi seperti nak kecil manja.


.


.


.


.


.


.


"Sayang, semua teman kamu sudah kamu undang?" Allan bertanya kepada Indira.


Kini mereka berdua berada di kantor Allan. Karena masih ada yang harus Allan selesaikan, Allan mengajak Indira kekantor nya, dan Lili pulang bersama supir.


"Sudah Abang." Indira nampak sedang melihat-lihat ruangan kerja Allan.


"Jangan lupa undangan khusus buat para reader penggemar Al_Ay sayang." Ucap Allan sambil memperhatikan Indira yang sedang berjalan mengitari rak bukunya.


Indira berjalan mendekati kursi Allan duduk, Allan mengulurkan tangan nya menyuruh Indira duduk dipangkuan nya.


"Abang tenang saja, mana mungkin aku lupa sama para reader yang sudah mensupport emak author agar semangat update Al_Ay..mereka udah aku siapkan undangan khusu online." Indira mengedipkan mata, seraya mengelus wajah Allan.


"Ya tanpa mereka apalah arti Al_Ay yang hanya karangan autor receh." Allan tersenyum dan mengecup tangan Indira yang berada di pipinya.


"Ya.. tanpa mereka emak author bukan siapa-siapa." Indira tersenyum.


Wajah Allan semakin mendekat ke wajah Indira hingga hembusan napas kedua terasa hangat di kulit wajah keduanya. Bibir Allan menyentuh bibir tipis yang menjadi candunya, kini mereka berdua menikmati ciuman lembut, menyalurkan rasa bahagia yang sangat indah.


.


.


.


.


.


.


Undangan spesial untuk para reader penggemar pasangan Al_Ay..🥰🥰



.


.


Jangan lupa besok datang dan kasih selamat dan hadiah sebanyak-banyak nya....emak author ikut bahagia. yang udah bikin kebaya, beli baju kondangan, jangan lupa datang khusus buat AlAy..😂😂🤣🤣😜🥰

__ADS_1


__ADS_2