
🌹
🌹
🌹
"Nanti pulang Abang jemput, jangan keluyuran." Allan mengelus kepala Indira lembut.
"Keluyuran kemana? Dira selesai kuliah akan pergi ke butik." Indira melepas sealtbeat nya.
Allan mengantar Indira berangkat ke kampus, karena hari ini gadis itu ada kelas. Sebenarnya Allan merasa keberatan, dirinya masih merindukan Indira berada didekatnya namun tidak mungkin juga menyuruh gadis itu membolos hanya karena dirinya.
"Tidak bisakah kamu libur sebentar untuk menemani Abang." Allan menatap wajah Indira berharap.
"Abang kenapa? inikan memang kegiatan aku sehari-hari." Indira menatap wajah Allan bingung.
Allan menghela napas dalam. "Abang lusa akan pulang ke Jakarta, Abang hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, sebelum Abang kembali menahan rindu." Allan menatap wajah Indira sendu, entah lah dirinya hanya ingin selalu berdekatan dengan gadis itu.
"Sore, malam sampai pagi kan aku sama Abang, bahkan waktuku lebih banyak sama Abang ketimbang kuliah dan kerja." Indira mengelus pipi Allan yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus itu.
Allan meraih telapak tangan Indira yang masih berada di pipinya dan ia mengecupnya. "Yaa..mungkin Abang hanya merindukan mu saja jadi Abang ingin selalu ditemani kamu."
Indira tersenyum manis. "Nanti aku buatkan makanan kesukaan Abang, walaupun mencari bahan nya susah tapi akan aku usahakan." Ucap gadis itu dengan senyum lebar.
Senyum gadis itu menular padanya. "Abang akan temani kamu belanja nanti." Allan mengecup kening Indira.
"Abang hati-hati di jalan, salam buat Om Nico." Indira yang akan membuka pintu tapi ditahan Allan. "Kenapa?"
Cup
Allan mencium lembur bibir tipis yang sudah menjadi candunya.
"Jangan lagi titip salam dengan seorang pria, Abang cemburu." Ucap Allan dengan wajah kesal.
Bukanya merasa bersalah Indira malah tertawa. "Abang cemburu tidak pada tempatnya, Om Nico sudah menikah, lagian diakan anak buah Abang." Indira tidak habis pikir dengan sifat pecemburu Allan.
"Tapi dia tetap seorang pria."
"Tap_"
"Tidak ada tapi-tapian lagi, buruan gih jam bentar lagi masuk."
Allan kembali mencium bibir Indira sekilas.
__ADS_1
"iss Abang modus terus." Indira mendengus kesal, bibirnya cemberut karena kelakuan Allan.
Allan hanya tertawa melihat tingkah lucu dan menggemaskan Indira.
"Ingat jangan deket-deket cowok." Allan berteriak ketika gadis itu sudah berjalan sedikit jauh.
Indira hanya melihat kebelakang, dan menjulurkan lidahnya mengejek Allan.
.............................
"Sayang kamu dimana?" Allan berteriak mencari Indira ketika ia pulang dari kantor dirinya tidak menikam Indira, padahal gadis itu bilang sudah berada di apartemen ketika dirinya menelfon.
"Sayang..." Allan mencari kesudut ruangan namun tak menemukan batang hidung nya.
"Indira..?" Allan menuju kamar gadis itu namun juga tak ada.
"Kemana sih kamu." Allan mulai panik ketika tidak menemukan gadis itu didalam apartemen nya.
Jantungnya kian berdetak cepat, ketika pikiran negatif mulai menari-nari dipikirannya.
Allan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Indira, namun ia mendengar suara ponsel berdering.
"Akh..si*al..!" Allan mengambil ponsel Indira yang tergeletak di bawah bantal. ternyata ponselnya ditinggal.
Allan dengan cepat keluar apartemen dengan pakaian masih sama ketika lagi berangkat kerja, dirinya berjalan tergesa. didalam lift terasa lama dengan perasaan gusar, pikirannya gadis itu berbelanja pasti di temani Riko mengingat jika tidak ada Nico maka Indira akan pergi sendiri dan pria itu seperti biasa mengikuti gadis itu kemana pun.
Sampainya diloby mata Allan membulat sempurna, betapa tidak Indira keluar dari dalam mobil dan pria itu membukakan pintu untuk gadisnya. Rasa panas seketika menjalar didadanya, api kecemburuan membakar hatinya.
Allan melangkah dengan cepat menghampiri gadis yang membuatnya uring-uringan sedang berbincang tawa dengan pria bernama Riko.
"Kamu tidak mau aku antar sampai atas?" Riko menawarkan diri dan membantu mengeluarkan barang belanjaan Indira yang lumayan banyak.
"Tidak usah, lagian kamu sudah bersedia memberikan aku tumpangan." Indira tertawa mengingat kejadian di parkiran Mall dekat dengan apartemen nya. Ia kesusahan mencari taksi karena kebetulan taksi yang melintas berisi penumpang semua, sehingga dirinya harus berdiri dengan membawa kantong belanjaan den beberapa kantong plastik.
"Hanya kebetulan aku sedang di lokasi itu." Riko ikut tertawa.
"Tapi itu kebiasaan kamu menguntit ku, jadi aku tidak percaya jika kebetulan." Mereka berdua tertawa bersama, tidak tahu bahwa di belakang sana seorang pria menatap tajam dengan dada bergemuruh.
Riko mengusap kepala Indira gemas, Indira mengingatkan adiknya yang berada di Jakarta. "Yasudah sana masuk, nanti keburu Harimau galak mencari_" Belum selesai Riko berucap, suara deheman keras menyapa pendengaran mereka berdua.
"Siapa yang kau sebut Harimau galak!" Ucap Allan dingin mata nya menatap tajam Riko.
Riko hanya diam, dirinya tidak takut dengan tatapan tajam pria yang baru saja datang itu.
__ADS_1
Mata Indira membulat sempurna yang ternyata ucapan Riko yang menyebut 'Harimau galak' didengar oleh Allan.
Ketika dijalan dirinya bercerita dengan Riko. bahwa Abang yang seperti harimau galak itu sedang mengunjunginya.
"A_abang?" Indira menciut melihat tatapan tajam Allan kepadanya.
"Maaf anda siapa?" Meskipun Riko bisa menebak namun dirinya hanya ingin memastikan ada hubungan apa Indira dengan pria itu, karena jika dilihat Allan tidak seperti Abang Indira.
"Saya pa_"
"Abang ngapain disini?" Indira memotong ucapan Allan, kalau tidak maka sudah dipastikan kedua pria itu akan bertengkar.
"Kamu kenapa gak tunggu Abang pulang, dan malah pergi dengan pria breng*ek ini..!" Allan menunjuk Riko dengan tatapan tajam nya.
"Abang ti_"
"Apa maksud anda mengatai saya pria breng*ek." Riko membalas tatapan tajam Allan, meskipun usianya lebih muda dari Allan tapi dirinya tidak takut.
"Sebutan apa yang pantas untuk pria yang sering mengikuti seorang gadis kemanapun dan masih tidak tau diri jika sudah ditolak cintanya tapi masih saja menempel." sarkas Allan tanpa perduli jika mereka masih diloby dan banyak orang yang melihat perdebatan mereka.
Mendengar ucapan Allan membuat darah Riko mendidih, Matanya berkobar mengisaratkan kemarahan.
"Abang bukan begitu?"
"Kau masih mau membela pria ini." Allan menatap Indira sengit dengan suara keras. dirinya tidak percaya jika gadis itu membela Riko.
"Bukan begitu tap_" Indira bertambah takut ketika tatapan Allan semakin dingin dan tajam
Riko yang melihat itu langsung mendorong dada Allan hingga Allan mundur beberapa langkah.
"Jangan kasar sama wanita." Riko balik menatap tajam Allan.
"Siapa kau, jangan ikut campur."
bugh
Riko berhasil memukul wajah Allan.
"Abang..!!!" Indira berteriak karena terkejut,
Perkelahian tak terelakan, seseorang telah memanggil Security namun juga belum datang. Indira menatap keduanya kesal karena saling baku hantam.
"Kalian ini memalukan sekali."
__ADS_1
Tanpa perduli dua pria yang sedang adu jotos, dirinya melenggang pergi menuju apartemennya.