Penakluk hati

Penakluk hati
Pernikahan


__ADS_3

Kediaman keluarga Aditya Wijaya


Saat ini Rumah besar dan megah yang didominasi cat berwarna putih itu masih dipenuhi oleh para tamu undangan pernikahan.


Pernikahan dari dua keluarga besar yang menjodohkan putra putrinya, putra dari Aditya Wijaya yang bernama Rian Aditya Wijaya dan putri dari Saputra yang bernama Stefani Olivia Saputra.


Seorang wanita cantik dengan gaun pengantin yang masih melekat pada tubuhnya berdiri di tengah-tengah tamu undangan pernikahannya, ia terus menerus mengukir senyum di wajahnya sepanjang acara.


Jam sudah menunjukkan pukul 09:00 malam para tamu undangan sudah pulang, hanya tersisa para pelayan yang sedang membereskan sisa acara.


Wanita yang sedari tadi lelah dengan senyum palsunya kini sedang berdiri di pintu taman belakang rumah megah itu, tentu saja masih dengan gaun indah yang membuatnya terlihat seperti seorang putri.


Dia kesusahan berjalan dengan gaun yang ia gunakan, apalagi dengan sepatu hak yang tingginya lebih dari 3 cm itu terasa sangat tidak nyaman berada di kakinya.


Setelah melepas sepatu hak tinggi itu, ia mengangkat gaun dan menjinjing sepatunya menuju kursi panjang yang bertengger di ujung taman itu. Setelah duduk ia menatap langit seolah-olah pasrah dengan semua yang terjadi padanya.


"Aku tidak pernah menyangka akan menikah di umur 18 tahun, dan yang paling membuatku kaget adalah dia adik kelasku, umurnya bahkan lebih muda dariku!!"


Tanpa fani sadari, pria yang sedang membuatnya frustasi itu sedang berdiri di balkon lantai dua sambil tersenyum manis.


Sepanjang acara tadi, Rian sibuk bercengkrama dengan keluarga besarnya yang datang jauh dari luar negeri, ia juga meladeni para rekan bisnis orang tuanya.


Meskipun umurnya masih terbilang muda ia sudah sering bekerja di perusahaan ayahnya saat hari libur dan rapat penting di perusahaan, ia bahkan punya ruangan khusus di perusahaan tersebut.


fani masih duduk di kursi panjang itu, ia menatap cincin berlian yang berada di jari manisnya lalu mencoba berkomunikasi dengan cincin itu.


"Apa laki-laki yang memasangkanmu pada jariku akan baik-baik saja?"


Tatapannya agak gusar pada cincin indah itu


"Bagiku tak masalah menerima cinta dari orang lain, tapi hatiku tak cukup kuat untuk mencoba mencintai seseorang saat ini"


Rian mendengar ucapan fani,


"Aku tahu kak, mungkin saat ini kakak belum bisa menerima kehadiran Rian di hidup kakak, tapi Rian pasti akan mengisi hari² kakak dengan kenangan indah sampai kakak mau ngasih kesempatan buat Rian masuk ke hati kakak"


Kalimat yang diucapkan Rian dalam hatinya seperti memberi kekuatan untuk memperjuangkan hati wanita yang dicintainya itu.


ia berdiri beberapa meter dari fani, namun saat ia mendekati kakak kelas yang beberapa jam lalu sudah menjadi istrinya itu, ia berpura pura tidak mendengar apapun.


"Kak aku bolehkan duduk disini?"


Tanya Rian yang kemudian membuat fani menatapnya dan menyadari kehadirannya.


"Hm Iyya duduk aja"


fani tidak pernah menganggap pria yang duduk di sampingnya saat ini adalah pria yang bisa ia cintai, baginya dia hanyalah adik kelas dan tidak lebih dari itu.


"Kak maafin Rian ya...karna perjodohan ini, kak Fani harus nikah di usia yang masih muda"


Rian menatap fani dengan sangat lembut, ia juga meminta maaf dengan sangat lembut. Suara itu berhasil membuat fani membalas tatapan Rian.


"Kamu gak perlu minta maaf, aku yang seharusnya minta maaf karna sifat ku yang tidak mudah menerima orang baru di hidupku, aku juga tidak tahu apakah aku akan membuat hidupmu baik baik saja"


kalimat yang terdengar sederhana namun sangat berarti bagi Rian.


"Kakak gak perlu maksain perasaan kakak, biar Rian yang berusaha buat menangin hati kakak"


ucap Rian dengan senyum tulusnya pada fani, dan hanya di balas senyuman oleh fani.


fani sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, ia sekarang duduk di sofa yang ada kamar, sambil memakan sisa cake pernikahan ia membaca buku dan sesekali membolak balikkan buku itu.


pasalnya besok dia akan menghadapi ulangan fisika tapi belum mengerti dengan rumus-rumus fisika yang ada di buku itu.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi terbuka


Rian keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, baju kaos lengan pendek dan celana santai selutut membuatnya terlihat sangat tampan apalagi dengan rambut yang masih basah.


Jika wanita lain yang melihatnya seperti itu mungkin mereka sudah jatuh hati padanya, tapi fani yang sudah jelas istri sahnya menganggap hal yang dia lihat bukan apa-apa, ia masih duduk di sofa dan berusaha memahami rumus fisika yang ada di dalam buku itu.


Rian menatap fani yang terlihat kebingungan dengan buku di tangannya.


"Kak fani lagi baca apa?"


Ucapnya sambil menghampiri  fani lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan fani


"Aku lagi belajar fisika, soalnya besok ada ulangan" oh iya, Rian bukannya anak terpintar di sekolah yaa, kalau aku minta diajarin mau gak yah


"Mau aku bantuin gak kak? Aku gak pintar² amat sih tapi nilai ulangan fisikaku gak pernah di bawah 90 loh kak"


Meskipun aku siswa yang sering dapat penghargaan di sekolah dan termasuk siswa terpintar, aku tetap sulit memecahkan rumus yang tepat untuk mendapatkan hatimu kak


"Hum yaudah sini bantuin"


baru juga mau minta bantuan, tapi malah nawarin duluan, gak mungkin aku nolak.


"Coba aku lihat bukunya kak"


fani memberikan buku fisika itu pada Rian, dan benar saja hanya dalam beberapa menit Rian mulai mengerti rumus² yang sejak tadi tidak diketahui fani.


Sudah 2 jam Rian menjelaskan rumus-rumus itu, fani juga sudah mulai mengerti dengan semua yang dijelaskan Rian.


Rian menatap Jam dinding yang menunjukkan pukul 01:00 dini hari

__ADS_1


"Kak fani"


suara lembut Rian membuat fani berhenti membaca buku lalu menatapnya


"Udah belajarnya, besok bisa kesiangan kalau gak tidur sekarang" imbuhnya lagi


"Iyya kita tidur sekarang, tapi aku tidur di sofa aja ya"


"Gak usah kak, biar Rian aja yang tidur di sofa"


"Kamu yakin?"


"Iyya kak, sekarang kakak tidur di kasur, biar aku yang matiin lampu"


Pagi hari


Jam sudah menunjukkan pukul 06:45, Rian sudah lengkap dengan baju seragam sekolahnya, begitu pula dengan fani yang sedang duduk di meja riasnya.


"Udah selesai kak?"Kak fani tambah cantik kalau lagi make seragam


"Udah kok, kita bisa turun sekarang"


"Iyya, ayah sama bunda udah nungguin di bawah"


"Mantu bunda cantik banget sih, sini sarapan dulu sayang" ucap bunda Lia


"Kalian izinnya cuman 1 hari? Baru nikah langsung sekolah yaa" ucap ayah Aditya


"Iyya yah Rian sama kak fani udah bicarain ini sebelum  minta izin sama sekolah, gak perlu izin lebih dari satu hari"


"Bunda sama ayah nerima semua keputusan kalian kok, jadi gak perlu khawatir sama keputusan kalian"


"Iyya Bun" ucap Rian dan Fani bersamaan sambil memakan sarapannya


Setelah selesai sarapan, Rian dan Fani berangkat ke sekolah bersama, karna mulai hari ini Fani gak mungkin bawa mobil sendiri lagi ke sekolah.


biasanya Fani menyetir mobilnya sendiri tapi dia akan mulai membiasakan diri dengan hal hal baru di kehidupan barunya.


sekolah


Mobil Rian sudah sampai di parkiran


"Aku turun duluan ya, kamu masuk 5 menit setelah aku" ucap Fani pada Rian sebelum turun dari mobil.


"Iyya kak, jalannya gak perlu buru-buru aku masuk setelah kakak"


Setelah mendengar ucapan Rian, Fani membuka pintu mobil lalu berlari kecil masuk sekolah


Udah dibilangin gak perlu buru-buru,


Rian tersenyum menatap punggung wanita yang dicintainya itu hilang dari pandangannya


Rian menyandarkan kepalanya,


Ia mengingat kembali kejadian 2 tahun lalu, Hari itu Fani menangis dan hampir pinsan di Rumah sakit saat mengetahui bahwa Fikri kecelakaan dan meninggal di tempat, siapa Fikri? Fikri adalah kakak sepupu Rian, yang merupakan satu satunya pria yang dicintai Fani.


Hubungan Fani dan Fikri cukup singkat yaitu 1 tahun, tapi fani sangat bahagia saat bersama fikri, dan kebahagiaan dalam hidupnya seketika sirna saat pria yang dicintainya itu meninggalkannya seumur hidup.


Dulu Fani adalah wanita yang ceria, murah senyum dan mudah bergaul dengan orang-orang, tapi dalam 2 tahun ini sifat itu seolah-olah hilang dan tidak pernah lagi ia tunjukkan pada siapapun.


Rian turun dari mobilnya setelah menatap jam di pergelangan tangannya, jam itu menunjukkan pukul 07:25, ia berjalan menyusuri koridor sekolah yang di penuhi siswa dan siswi.


"Selamat pagi" Rian masuk ke kelasnya sambil menunjukkan senyum manisnya pada seisi ruang kelas itu.


"Mungkin gara-gara kemarin izin, murid teladan kita jadi gak cepat bangun ya?"


Aldi mengejek sahabat dekatnya itu sambil terkekeh, ini pertama kalinya dia melihat Rian hampir terlambat ke sekolah.


"Emang kemarin kamu izin karna apa sih bro?"


Irwan bertanya pada Rian, tentu saja dia penasaran, Rian bukan siswa yang rela mundur dari seleksi lomba matematika, dan meminta cuti dengan mudah.


Sebenarnya kemarin adalah hari terakhir seleksi lomba matematika tingkat nasional, para guru sepakat mengirim Rian sebagai perwakilan, tapi karna kemarin hari pernikahan nya, gak mungkin dia batal nikah cuman karna ikut seleksi.


"Ada acara keluarga, penting banget dan acara itu jauh lebih penting dari apapun"


Rian kembali tersenyum pada kedua sahabatnya itu.


Karna mereka mendapatkan jawaban seperti itu, keduanya tidak ambil pusing mereka hanya menerka acara apa yang lebih penting dari apapun.


Paling acara ulang tahun salah satu anggota keluarganya Batin Aldi


Paling acara makan makan doang Batin Irwan


TingTing


Bel berbunyi nyaring yang membuat para siswa siswi berhamburan keluar kelas.


Kelas XII IPA 1


"Kantin yuk fani"


"Gak ah Lin malas"


Fani menolak ajakan Lina, dia gak suka ke kantin jam segini, karna kantin pasti rame. Waktu istirahat 30 menit, dia biasanya ke kantin saat sisa jam istirahat 10 menit.

__ADS_1


"Yaudah kita tunggu 20 menit lagi deh"


Lina tahu kalau ajakannya pasti ditolak, kebiasaan Fani gak mungkin dia tidak tahu karna dia satu satunya sahabat Fani di sekolah, bukan karna gak ada yang mau menjadi sahabatnya tapi karna fani merasa risih saat orang baru mendekatinya.


Kelas XI IPA 1


"Main game yuk" ajak Aldi yang mulai bermain game online


"Aku lapar, mending ke kantin aja" Irwan mengajak Rian karna Aldi terlihat sibuk dengan ponselnya


"Kita tunggu 20 menit baru ke kantin"


"Ya elah bro aku bisa mati kelaparan kalau nungguin kamu. udah ah aku duluan yaa!"Irwan beranjak pergi dari kedua sahabatnya itu.


"Ngapain harus nunggu 20 menit bro?"


"Kalau aku ke kantin sekarang, kak Fani gak ada disana, jadi aku tunggu sampai 20 menit biar bisa liat kak Fani makan"


"Wah kamu emang cinta mati yaa sama kakak kelas kita itu, sampai jam makan dia aja kamu tahu"


"Ya iyyalah gak ada wanita yang bisa gantiin kak Fani di hati aku"ucap Rian penuh semangat


20 menit kemudian


"Fani sekarang kantin yuk"


"Iyya"


"Bicaranya pelit banget yaa neng"


"Udah Lin aku gak mau berdebat"


"Iyya Iyya,kamu mau makan apa fan?"


"Hm nasi goreng aja"


Setelah sampai di kantin Lina langsung memesan 2 porsi nasi goreng, lalu kembali duduk berhadapan dengan Fani.


Rian dan Aldi juga sudah sejak tadi sampai di kantin, mereka sedang menikmati makanan nya, tempat duduk mereka bersebelahan dengan meja milik Fani dan lina, hanya beberapa meter jaraknya.


"Eh Fani, adik kelas kita ganteng-ganteng banget yaa apalagi Rian, udah ganteng, pinter, kapten anak basket lagi, aduh keren banget"


"Hm, mungkin" itu suamiku Lin, andai aja Lo tau Lo pasti lebih histeris dari ini


"kamu mah kalau diajakin bicara pelit banget ngomongnya"


"Iyya Lin mereka ganteng kok"


"Gak ikhlas ya ngomongnya, kok muka kamu datar banget sih pas bilang mereka ganteng?"


"Gak semua cewek harus histeris kayak kamu Lin, udah deh bicaranya, makan tuh nasi dari tadi gak kurang kurang"


Meja Rian dan Aldi


"Bro itu makanan nya dimakan, liatin kak Fani gak bisa bikin kamu kenyang bro"


"Liat kak Fani makan udah bisa bikin aku kenyang bro"


"Halah sok-sok an, bentar kalau latihan


basket terus pinsan baru tau rasa kau"


"Emang hari ini jadwalnya latihan yaa?" kalau hari ini latihan, terus kak Fani pulangnya gimana dong? Apa kunci mobil gue kasih aja ya?


"Iyya masa kapten basket gak tahu jadwal sih, kamu gak pernah buka grup wa ya?"


"Kemarin aku sibuk, seharian gak pernah megang hp sampai malam"


"Kemarin jadwal diubah sama kakak kelas, pak Erwin juga udah setuju sama jadwal baru, mereka ambil suara terbanyak di grup wa"


"Yaudah selesai jam terakhir kita langsung latihan"kunci mobil nanti gue kasih kak Fani aja kalau udah jam terakhir.


Kelas XII IPA 1


Jam terakhir adalah jam ibu indah, guru fisika yang ditakuti para siswa karna sifatnya yang tegas pada siswa.


Karna hari ini mereka ulangan harian, kursi setiap siswa dibuat berjauhan, begitu pula dengan fani, sekarang dia duduk tepat berhadapan dengan meja guru, mustahil untuk mencontek di mata pelajaran ini, tidak ada satupun siswa yang bersuara saat ulangan dimulai.


1 jam kemudian


semua yang diajarkan Rian semalam padanya sangat berguna, Fani menyelesaikan ulangan tanpa masalah, dia tahu jawaban hampir semua soal yang diberikan ibu indah.


"Waktunya habis, sekarang kumpulkan kertas ulangan kalian"


satu kalimat dari Bu indah yang membuat para siswa bernafas lega. semua siswa mengumpulkan kertas ulangan mereka di meja guru


"Sekarang kalian boleh pulang" titah Bu indah


Fani sedang membereskan buku dan alat tulisnya, hanya tersisa beberapa orang di kelasnya sekarang, Lina juga sudah berpamitan padanya sejak tadi, tiba tiba Rian yang sudah menggunakan baju basket masuk dan berhenti di depan meja Fani.


"Maaf kak, hari ini kakak bawa mobil sendiri yaa"ucap Rian pada fani


"Terus kamu pulang pake apa?"


"Aku bisa naik taksi kak, nanti pulang sekitar jam 5 sore, aku latihan dulu ya kak"

__ADS_1


"Iyya"


Fani pulang menggunakan mobil rian, dan Rian sibuk latihan basket.


__ADS_2