Penakluk hati

Penakluk hati
31


__ADS_3

di dalam mobil Rey sibuk dengan ponselnya dari siang menghubungi Quin dan mengirim pesan tidak ada satu pun yg di lihat .


" kenapa " tanay Alex .


Rey yg tidak menjawab hanya memandang ke arah jendela .


" susah ya kalau sudah punya istri harus laporan dulu " ucap Alex .


" itu gunanya menikah ," ucap Rey ketus .


" kenapa Quin tidak mengangak Tel mu " tanay Alex.


" sepertinya dia sibuk " ucap Rey .


" sibuk " ucap Alex padahal Quin tidak bekerja pikir Alex lagi .


" iya katanay Nisa lagi berkunjung , jadi rencananya mau di ajak jalan jalan " ucap Rey sambil melihat ponselnya .


" Nisa sepupunya Quin " tanay Alex.


" iya " ucap Rey lagi.


di dalam perjalan Rey dan Alex masih membahas pekerjaan .


sesampainya di rumah Rey turun ,


" besok siapkan laporannya " ucap Rey .


" beres " ucap Alex menutup pintu mobil.


Rey masuk ke dalam rumah di sambut oleh Hera .


" assalamualaikum Bu " ucap Rey mencium tangan Hera .


" waalaikumsalam " jawab Hera .


" Quin mana Bu " tanay Rey .


" itu " Hera menunjuk Quin lagi sibuk di dapur .


" oh" Rey berjalan perlahan mendekati Quin yg sibuk memotong sayur dan memeluknya dari belakang mencium leher Quin .


" sayang apa kabar " tanay Rey.


Quin terkejut merasa ada yg memeluk dan menciumnya .


" sayang " ucap Quin pelan sambil berbalaik memeluk Rey .


" kangen " ucap Rey mengeratkan pelukanaya.


" aku juga " ucap Quin tertunduk menutupi ke adaan matanya yg masih sembab .


" kenapa " tanay Rey heran .


" enggak , sana ganti baju dulu " ucap Quin mengalihkan pembicaraan .


" baik Akau mandi dulu " ucap Rey yg masih memperhatikan tingkah Quin yg tidak biasa .


sambil berjalan Rey mendekati Hera yg duduk di ruang tengah tidak bisa nya Quin maska sendiri biasnya di bantu oleh ibunya .


" Bu maaf Quin kenapa " tanay Rey .


" kamau mandi aja dulu , ibu enggak tau kamau tanay sendiri aja nanti " ucap Hera lembut .


" iya Bu " ucap Rey naik menuju kamarnya .


setelah makan malam mereka berkumpul seperti biasanya di ruang tengah sedangkan Quin menyibukkan diri di dapur .


" sayang sini " ucap Hera mendekati Quin .


" sebentar Bu belum selesai " ucap Quin mengelak .


Hera mendekati Quin ,


" sayang ada apa , bicara sama ibu " ucap Hera pelan .


" enggak Bu " ucap Quin tertunduk .


" sayang " Hera mengangkat wajah Quin nampak air mata mulai jatuh .


Quin memeluk ibunya dengan erat membuat Rey dan Hendra bingung .


Rey berjalan mendekati mereka .


" sayang kenapa " tanay Rey .


" sudah biar ibu anatr ke kamar ya " ucap Hera pelan .


melihat wajah menantunya Hendra mendekati Rey .


" ada Maslah apa " tanya Hendra .


" enggak ada apa apa kami baik baik saya yah " ucap Rey bingung melihat tinggkah quin.


" begini kalau ada masalah selesaikan sekarang janagn di tunda " ucap hendraberi wejangan .


" iya yah " Rey bertambah bingung kenapa dengan Quin .


Rey pun menyusul Quin dan Hera naik menuju kamarnya .


" sayang , kalau ada masalah cerita , jangan seperti ini " ucap Hera merebahkan Quin di tempat tidur .


Quin hanay diam entah apa yg di oikirkanya .


tidak lama Rey masuk ke kamarnya duduk di samping Quin .


" sayang kenapa " tanay Rey mengusap kepal Quin dengan lembut .


" ibu keluar dulu " ucap Hera meninggalkan Quin dan Rey .


" sayang kenapa cerita dong " ucap Rey mencium pipi Quin .


" aku kangen nie " ucap Rey lagi mencoba memeluk Quin .

__ADS_1


dengan cepat Quin bangkit dari tidurnya menatap Rey dengan tajam membuat Rey bertambah bingung .


" sayang kenapa " tanay Rey lagi .


" cukup tidak usah bertanaya , kenapa kamau berbohong kepada ku " ucap Quin marah dengan pandangan tajam penuh dengan kemarahan .


" siapa yg bohong " tanay Rey tidak mengerti .


" janagn menutupinya " teriak quik keras .


" siapa yg menutupi , apa yg Akau tutupi " tanay Rey tambah bingung .


" kamau pikir Aku tidak tau " ucap Quin.


" apa " tanay Rey lagi .


" kenapa kamu membuangnya , kenapa " tangis Quin pecah sambil menutup wajahnya .


" apa yg Aku buanag , sayang tolong jelaskan Akau tidak mengerti " ucap Rey meraih wajah Quin .


" jangan bohong lagi , kenapa apa kamu tidak suka , kalau kamau tidak suka , biar Akau yg merawatnya " ucap Quin terisak menagis tersedu .


Rey pun terkejut semua dikiranya tertuju dengan ke jadian itu yg membuatnya berfikir keras .


" sayang dengar dulu penjelasan ku " ucap Rey .


" kamu tau kan Aku menginginkannya , kenapa " ucap Quin mengis .


" sini biar Akau jelaskan dulu " Rey memeluk Quin dengan erat mencium pucuk kepalanya berkali kali mencoba menenangkannya .


" sayang kamau tau Akau juga menginginkannya , orang tua mana yg ingin anaknya di buang , dan suami mana yg tega melihat istrinya menderita " ucap Rey mengawali penjelasnya .


sambil terisak Quin mendengar penjelasan Rey panjang lebar .


" kenapa tidak membicarakan ya dulu " ucap Quin sedikit marah tampak di wajahnya masih kesal .


" pada saat itu juga aku harus membuat keputusan yg sangat cepat tidak ada pilihan karena penjelasan nya sudah jelas sempat menunda selama beberpa hari tapi aku tidak tega melihat kamu terus ke sakitan " ucap Rey .


" aku rela menahan sakit demi dia " ucap Quin menagis.


" baik , untuk saat itu kamau akan menahannya , tapi dia tidak bisa berkembang dengan baik , maka lebih baik dia di sayang sama penciptanya dari pada dia menderita lebih dari pada itu " ucap Ray bijak .


" aku akan menerima dia apa adanya " jelas Quin lagi .


" sayang kamu dan Aku akan menerimanya apa pun kondisinya tapi di luar sana apa mereka akan menerimanya ," tanya Rey mulai kehilangan ke sabaran .


" biarkan mereka tidak menerimanya , aku ibunya lebih sayang terhadap dia " ucap Quin tersedu menahan tangis hati.


" cukup itu sudah keputusan ku , tidak perlu ke kekanak kanakan kita akan mulai lagi dengan mengikuti program yg benar " ucap Rey .


mata Quin tambah memerah dengan sorot tajam memandang Rey .


" kamau kira aku tidak mampu melahirkan seorang anak " teriak Quin dengan berdiri tegang di hadap Rey menantang nya dengan napas memburu menahan marah .


" bukan maksud ku seperti itu " jelas Rey dengan coba menegakan Quin yg terlihat sangat marah .


" kamu tau Akau mempunyai kekurangan kan ,kamau pikir aku tidak sehat haa " tanay Quin dengan melebarkan matanya .


" sayang kenapa begini , tenang " Rey mencoba memeluk Quin .


" pergi " Quin berteriak lagi dengan berjalan mundur menghindari Rey .


" sayang " Rey mencoba menenangkan Quin yg sudah kehilangan kendali dia mengis berlutut sambil memegang perutnya .


" ada apa " tanay Hera berlari masuk ke kamar melihat quin dengan ke adaan yg sangat sedih . sambil berjalan melihat ke arah Rey mencari kebenaran tentang apa yg terjadi dengan mengangguk sedikit mengunakan isyarat di balas oleh Rey dengan mengangkat bahunya sedikit .


" sayang ada apa " tanya Hera berusaha menenangkan Quin .


" jangan bilang ibu tau semuanya " ucap Quin menatap tajam Hera dengan amarah.


" tau apa " tanya Hera khawatir .


" jangan berbohong Bu , aku bukan anak kecil " ucap Quin menekan nadanya sambil mengusap air mata yg terus mengalir .


" sayang tenang dulu " ucap Hera mencoba mendekat tapi quin menjauh tidak ingin di sentuh meskipun itu yg di butuhkan oleh Quin, hati Quin bersikukuh mencari kebenaran akan semuanay kebohongan Rey pasti ada dukungan dari kedua orang tuanya meskipun mereka tidak berniat memberi tahukan nya tapi Quin butuh kebenarang yg Ter ucap sendiri dari mulut mereka .


" sayang " Hera mencoba menenangkan Quin lagi dengan sendu menatap wajah anak tunggalnya yg terlihat begitu menyedihkan terlihat kesedihan yg mendalam di wajah Quin demgan mata sembab dan air mata yg terus mengalir dengan rambut yg acak acakan .


" sayang apa yg kau inginkan " tanay Hera pelan .


" ibu tanay apa yg Akau inginkan " Quin tersenyum sinis kepada Hera .


" kebaohongan , apa aku perlu mencari kebenaran " tanya Quin lagi .


" apa maksud mu ibu tidak mengerti " tanay Hera


" jangan pura pura Bu " jawab Quin berteriak .


" apa yg berpura pura " Hendar berdiri tegak di depan pintu melihat penolakan Quin terhadap ibunya .


" janagn hanya kamau mendengar dari orang lain menuduh semua jahat , ayah tidak pernah mengajarkan seperti itu , kalau kau mau mendengar kebenaran sebenarnya tanya kan , bukan seperti ini " ucap Hendra mendekati Quin .


Quin melihat ayahnya dengan wajah lembutnya selama ini Quin selalu takut dengan sosok Hendra dia seorang ayah yg tegas dan bijak sana .


" sayang sini " Hera memeluh Quin tanpa ada penolakan sama sekalai , Quin menumpahkan tangisnya memeluk erat ibunya tengelam dalam tangis yg begitu memilukan membuat Rey melihat sosok Quin yg begitu lemah saat ini .


" sudah sudah " ucap Hera menhelus lembut kepala anaknya dan bebrapa kalai mencium pipi Quin dengan lembut.


" sekarang apa yg akan kamu tanyakan tanyakan lah kamaindi sini siap menjawabnya , sekarang tidak ada kebohongan lagi " ucap hendar duudk di samping Hera mengelus belakang putrinya dengan lebut.


" ayah tau kamau terluka akan keputusan Rey , sekarang kita tidak perlu menyalahkan siapa siapa , semua keputusan ada alasanya dan Rey juga sudah menayakan kepada kamai kedua orang tua mu, ayah rasa keputusan Rey itu sudah pada tempatnya dan kamau harus menerima keputusan nya itu " jelas Hendra .


Rey hanay diam melihat Quin yg sudah terlihat agak tenang di pelukan Hera .


" sayang ibu tau kamu terpukul atas keputusan Rey , sama dengan ibu dulu tapai mari kita berdoa agar ke depannya nanti akan lebih baik " ucap Hera mengangkat wajah Quin mencium lembut pipinya dan mengusap air mata yg masih tersisa .


quin hanay diam masih menyisakan sesegukan .


" sekarang minta maaf sana " ucap Hera perlahan di telinga Quin .


Quin menunduk tidak berani melihat Rey ada rasa malu di hatinya kenapa emosinya tiba tiba meledak seperti ini padahal Rey sudah menjelaskan semuanya .


" sayang ayo " ucap Hera .

__ADS_1


Rey hanay diam menatap quin yg masih tertunduk sambil memainkan tanganya


" hei ayo " ucap memaksa Quin untuk bergerak .


" Rey kalau dia tidak meminta maaf , Quin akan saya bawa pulang " ucap Hendra yg tau anaknya malu .


" ayah " ucap Quin sontak mentap hendra .


" sudah sana " jawab Hera yg melihat wajah memerah Quin .


quin masih diam .


" ayo Bu kita keluar di sini panas , kita jalan jalan sebentar " ucap Hendra bangkit dari duduknya berjalan ke arah pintu sambil menepuk pundak Rey .


hera melepaskan pelukannya mencium kembali pipi Quin dan meninggalkanya dengan senyum.


di kamar hanay mereka berdua suasana kamar nampak sepi .


Rey bangkit dari duduknya menuju ke arah kamar mandi menutup perlahan pintu .


sedangkan quin masih diam di lantai dengan memutar otak berpikir.


kata apa yg akan di ucapkan ke pada rey .


Quin bangkit dari duduknya berjalan perlahan dan duduk di tempat tidur , meremas jari putihnya dengan kuat.


sambil berpikir Quin tengelam dalam lamunannya tidak menyadari Rey sudah berdiri sampingan .


" kenapa " tanya Rey mengagetkan Quin .


" emmm" Quin nampak bingung.


Rey berjalan hendak meninggalkan Quin.


" sayang maaf " Quin langsung memeluk Rey dari belakang menahan tangis menegelamkan wajahnya di punggung Rey .


Rey tersenyum simpul berbalaik memandang Quin yg masih memgis .


" aku berbohong demi kebaikan mu , tapai aku minta maaf seharusnya Akau membicarakannya dulu " ucap Rey menangkup wajah putih Quin dengan kedua tangannya .


melihat mata Quin yg sayu.


di balas tatapan mohon oleh Quin .


" seharusnya Akau yg meminta maaf marah tanpa sebab " jelas Quin mulai tersenyum.


" janagn dengar kata orang " ucap Rey mencolek hidung Quin yg mancung .


" enggak Akau cuma mau cari kebenaranya aja " jelas Quin.


" kan sudah di jelaskan " jawab Rey .


" iya tapai " ucap Quin terhenti .


" apa , lebih percaya omongan orang " tanay Rey .


" enggak , aku marah kenapa sayang mau membuang anak kita " jelas Quin.


" sayang siapa yg tega membuang anaknya sendiri " ucap rey mulai menaikan emosinya .


" itu kata " Quin menghentikan perkatanya lagi .


" sayang sudah Akau jelaskan , ingat kata ayah " ucap Rey .


" iya maaf " Quin memeluk Rey memohon agar Rey memafkanya .


" apa " tanay Rey yg tidak membalas pelukang Quin .


" maaaffff " ucap Quin mendongak menatap Rey .


" enggak dengar " ucap Rey menyombongkan diri dengan menegakan wajahnya .


" ih maaaf maaaaaf maaaaaf " ucap Quin menggoyangkan badan Rey .


" kalau Akau maafkan , di kasih apa " tanay Rey .


" terserah apa aja , maaf ya " ucap Quin memohon dengan wajah imutnya .


" benaer terserah " tanya Rey tersenyum menang.


" iya , apa aja " ucap Quin memohon lagi .


" sepakat " ucap Rey memeluk membalas pelukan Quin .


" apanya sepakat " tanay Quin .


" kita lihat aja nanati " ucap Rey tersenyum dengan kemenangan ya .


" ih Akau enggak mau yg macam macam " ucap quin mendorong badan Rey tapi Rey memeluknya erat .


" siap yg mau macam macam " tanya Rey menunduk mencium Quin.


" sayang jangan main main " ucap Quin melihat senyum nakal Rey .


" kita akan bermain " ucap Rey mencium bibir Quin .


" ih masih siang " ucap Quin memukul pundak Rey ,meskipun itu yg dia inginkan juga belain Rey yg selama satu Minggu meninggalkanya .


" pasti pikiranya mesum , " ucap Rey memgesekan badanya .


" ih apaan " ucap Quin malu .


" lagi rindu ya " ucap Rey meraba tubuh Quin .


" enggak " jawab Quin menyembunyikan malunya .


" beneran enggak mau " tanya Rey mengoda


" sayang ada ibu dan ayah " ucap Quin mencoba melepaskan pelukan Rey .


" mereka kan jalan jalan " ucap Rey mencium kembalai leher Quin .


" ih masih ada Nisa " ucap Quin lagi .

__ADS_1


" kamua tau sendiri Nisa kalau masuk tanpa mengetuk pintu main selonong aja " jelas Quin mbut Rey menghentikan aksinya dengan wajah tidak suka


.


__ADS_2