Penakluk hati

Penakluk hati
Akhir dari Andika


__ADS_3

2 Minggu telah berlalu, semua siswa kelas XII di SMA Nusa bangsa telah selesai melaksanakan UAS dan siap untuk lulus dari sekolah tersebut, begitu pula dengan Rian yang akan naik ke kelas XII.


Siang itu, Fani berjalan di koridor sekolah dengan tergesa-gesa menuju parkiran, karna Rian sejak tadi sudah menunggunya. Karna tidak terlalu fokus, saat berlari Fani tiba-tiba menabrak seseorang hingga dia terjatuh bersamaan dengan orang itu.


"aduh...maaf yaa, aku lagi buru-buru"


ucap Fani sambil berdiri lalu menatap orang yang telah dia tabrak.


"gak apa-apa...kamu baik-baik aja kan?"


ucap pria itu.


Fani tidak menjawab pertanyaan dari pria itu, dia masih sibuk dengan pikirannya.


"aku sial banget hari ini, tadi ketiduran abis selesai ngerjain soal UAS, sekarang malah tabrakan..."


karna merasa Fani sedang memikirkan sesuatu, Andika mencoba menyadarkan nya.


"heyy..? ada apa? kok malah bengong...kamu baik-baik aja kan?"


ucap Andika sambil memiringkan sedikit kepalanya saat memperhatikan wajah Fani.


"i'm okay, aku duluan yaa..."


ucap Fani lalu bergegas meninggalkan Andika.


tapi tiba-tiba saja tangan kanannya ditarik oleh Andika dengan kuat, hingga membuatnya terpaksa mengikuti langkah kaki Andika. Andika membawa Fani ke ruangan yang sudah kosong.


"lepasin tangan aku! kamu ngapain hah?!!"


Fani berteriak sambil mencoba melepaskan cengkraman Andika yang memegang tangan kanannya.


"aku hanya ingin bicara"


Andika kemudian duduk di atas meja tanpa melepaskan tangannya dari Fani.


"kalau mau bicara, yaa tinggal bicara! gak usah narik aku kayak gini!"


Fani mulai semakin jengkel dengan sikap Andika.


melihat wajah Fani yang sedang marah, Andika bukannya merasa bersalah dia malah tersenyum manis ke arah Fani. melihat senyuman itu, Fani seketika mengingat surat cinta yang pernah di kirim oleh Andika.


"astaga...siaalll... bisa-bisanya aku lupa soal surat bodoh itu..!! Sekarang aku malah berduaan di ruangan ini dengan Andika, Rian sedang menungguku!"


Lagi-lagi Fani sibuk dengan pikirannya, Andika kembali menyadarkan dirinya.


"hey!! kamu emang suka bengong yaa?"

__ADS_1


ucap Andika sambil tersenyum.


"hah? gak kok..emang kamu mau bicara apa? bicara aja cepat!! aku mau pulang!"


Rian sedang menungguku di parkiran, dia pasti akan mencariku kalau terlalu lama berada disini..kalau dia liat Andika megang tanganku seperti ini, pasti akan terjadi masalah..


ucap Fani sambil menatap jam yang ada di ruangan itu.


"bisakah kamu fokus padaku sebentar saja?"


ucap Andika, dia tau Fani ingin segera pulang karna Rian sedang menunggunya di parkiran.


mendengar ucapan Andika, Fani yang sedang menatap jam langsung menoleh ke arah Andika.


"okay.."


saat Fani mulai menatap Andika, wajah Andika mulai serius.


"Aku masih mencintaimu fani, meskipun kamu mencintai Rian, kuharap aku masih punya peluang"


ucap Andika yang terdengar tulus


"Maaf...tapi kau tidak punya peluang saat ini, dan tidak akan pernah punya peluang...hingga kapanpun"


ucap Fani dengan serius


Andika mengangkat tangan Fani, lalu mencoba mencium punggung tangan Fani.


Fani dengan cepat menarik tangannya agar Andika tidak menciumnya.


"Maaf...tapi kami sudah menikah! dan itulah yang membuatmu tak punya peluang lagi !"


ucap Fani lalu mundur 2 langkah dari Andika.


mendengar hal itu, Andika dengan cepat turun dari meja, lalu mencoba mendekati Fani


"jangan bercanda fan..gak mungkin kalian sudah menikah, kamu berbohong kan?"


ucap Andika dengan suara yang sudah tidak bersahabat.


"aku gak bohong, kami merahasiakan hubungan ini agar tidak terjadi masalah, kami berniat menutupinya hingga aku dan Rian lulus...tapi karna ini mendesak, aku berani memberitahumu.. kuharap kamu bisa mengerti"


"cukup!! gak...ini gak mungkin..kamu lagi bohong kan? kamu gak mungkin udah nikah sama Rian!! aku gak akan Percaya!!"


ucap Andika yang kini menyudutkan Fani ke tembok.


Fani tidak berani berbicara lagi, dia tahu Andika bisa saja menyakitinya jika dia mengeluarkan suara lagi, dan dilihat dari situasinya, dia tidak akan bisa lari karna kedua lengan Andika telah mengunci dirinya di tembok.

__ADS_1


"katakan Fani!! itu bohong kan!?"


teriakan Andika sudah sangat keras, Fani semakin takut dengan Andika.


beberapa saat setelah Andika berteriak, Rian yang sejak tadi mencari Fani di sekitar ruangan itu, tiba-tiba masuk dan mengagetkan Andika.


Rian melihat Fani yang dipojokkan oleh Andika, dia berjalan menuju mereka lalu seketika melayangkan tinju ke wajah Andika, hingga membuat sudut bibir Andika terluka.


"Brengsek! menjauhlah dari wanitaku!!"


ucap Rian lalu menarik Fani ke belakang tubuhnya.


"Katakan padaku dengan jujur, apa kalian benar-benar sudah menikah?"


Andika sama sekali tidak peduli dengan luka yang dia dapatkan dari tinju Rian, dia bertanya pada Rian dengan suara besarnya


"Kami sudah menikah ataupun tidak itu bukan urusanmu!"


jawaban Rian tidak kalah besar dari suara Andika


"tentu saja itu menjadi urusanku! Fani adalah wanita yang kucintai!!! dan aku tidak akan menyerah atas perasaanku padanya, hingga Fani benar-benar telah menikah!"


ucap Andika pada Rian dengan serius.


Rian meraih tangan Fani, lalu menggenggamnya erat.


"Kami sudah menikah, sudah hampir 1 tahun! jika kau tidak percaya, perlu kutunjukkan buku nikah kami?"


ucap Rian yang sudah bicara dengan nada biasa, lalu keluar dari ruangan itu dengan menggenggam tangan Fani.


Mendengar hal itu, Andika tiba-tiba terduduk di lantai, beberapa saat yang lalu dia masih berfikir bahwa dia memiliki kesempatan... untuk berada di sisi wanita yang dia cintai. Namun, kenyataan bahwa Fani telah menikah benar-benar tidak dia duga, dia kini merasa dadanya sesak karna perasaannya yang terlalu dalam pada Fani.


"kenapa?.. kenapa harus aku yang patah hati...aku berusaha keras agar obsesi ku berhenti..kini aku mampu mengendalikan diriku... tapi.. kenapa?? kenapa dia meninggalkan ku?!!"


tanpa disadari, Andika mulai meneteskan air matanya, sambil mengingat...ketika dulu seberapa gilanya obsesi yang dia miliki terhadap Fani. dimulai saat dia mengirim SMS yang sama tiap hari, hingga merendamnya di bak yang dipenuhi mawar merah.


"seandainya saja.. seandainya saja aku mendekatinya lebih dahulu...dan mampu membuatnya tertawa...kurasa hatiku tidak akan sesakit ini.."


-Andika


...orang bilang waktu adalah uang,...


...tapi bagiku, waktu adalah pilihan,...


...baik itu.. pilihan untuk mengejarnya,...


...ataupun meninggalkannya....

__ADS_1


(Khairunnisa_21)


__ADS_2