
Sudah 3 jam Rian berada di luar pintu kamar, dia sedang meratapi kesalahannya saat menertawakan Fani.
"kak...Kak Fani..maafin aku kak"
ucap Rian yang sedikit berteriak
Fani tidak mempedulikan apapun yang dikatakan oleh Rian, dia sibuk makan cemilan dan es krim di kamar itu.
"Rasain..siapa suruh menertawakanku, lagian dia tidak akan sakit hanya karna menunggu di depan pintu seharian"
ucap Fani sembari memasukkan sesendok es krim ke mulutnya.
***
Setelah cukup puas menghukum Rian, Fani membukakan pintu untuk Rian.
Tapi dia menyuruh Rian untuk menjaga jarak dengannya. Rian hanya bisa duduk 1 meter di samping Fani.
"Bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan?"
ucap Fani pada Rian.
"Terserah kak Fani saja.."
ucap Rian dengan nada cueknya.
Fani tidak masalah dengan sikap Rian, dia tahu kalau sikap cuek dari Rian itu karna perintahnya untuk menjaga jarak.
"Kak Fani serius mau jaga jarak? pegangan tangan saja tidak boleh?"
ucap Rian sambil menggeser tubuhnya agar dekat dengan Fani.
"Malam ini kan malam minggu, jalanan akan ramai kalau sudah jauh malam, kita siap-siap yuk"
ucap Fani tanpa peduli pada pertanyaan Rian, ia langsung berdiri dan hendak meninggalkan Rian.
Rian dengan cepat menarik pergelangan tangan Fani, hingga Fani terjatuh di pangkuannya.
"Kak Fani boleh marah, tapi jangan mengabaikan aku kak! apalagi menjaga jarak..aku gak suka hukuman yang kayak gini"
Rian berbicara sangat lembut di telinga Fani, hingga terdengar seperti bisikan.
Fani menatap Rian sejenak, lalu mengecup pipi kanannya.
"cup..Maaf yaa, aku cuma mau ngasih sedikit hukuman"
Fani kemudian memeluk Rian.
"Kak..aku mau nanya sesuatu"
ucap Rian dengan nada serius
"hm?"
Fani melepaskan pelukannya
"Apa kak Fani sudah mencintaiku?"
__ADS_1
Rian agak takut dengan pertanyaan itu, perasaannya terlalu kuat hingga takut mendengar jawaban dari Fani, tapi pertanyaan itu sudah ia pikirkan berkali-kali, dia takut jawaban Fani tidak sesuai ekspektasinya, tapi dia lebih takut jika Fani ternyata akan meninggalkan dirinya.
"Apa aku perlu menjawabnya?"
ucap Fani tak kalah serius dengan Rian.
"perlu kak, dan aku butuh jawaban yang tulus"
Rian menatap Fani sejenak, lalu menundukkan kepalanya setelah kalimat itu terucap.
"Awalnya aku ragu dengan perasaanku, namun setelah melihatmu setiap hari memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus..aku mulai sadar..bahwa aku telah mencintai pria yang lebih muda dariku"
ucap Fani yang awalnya serius, namun di akhir kalimatnya dia tersenyum tipis pada Rian.
Rian tersenyum bahagia mendengar hal itu, mendengar wanita yang dicintainya mengungkapkan perasaan padanya adalah hal yang selama ini dia tunggu, dia memeluk tubuh Fani dengan sangat erat.
"Tapi... memangnya kenapa kalau kak Fani mencintai pria yang lebih muda! lagipula kita hanya berbeda satu tahun!"
ucap Rian sambil mengerutkan keningnya
"mungkin karna aku takut kamu belum cukup dewasa?"
ucap Fani dengan nada sedikit mengejek.
mendengar hal itu, Rian melepaskan pelukannya lalu menatap Fani.
"maksud kak Fani apa?"
Rian menaikkan sebelah alisnya
"menurut kamu?"
Rian terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengangkat tubuh Fani menuju kasur.
"Aku sudah cukup dewasa, tapi biar kak Fani percaya...aku akan membuktikannya"
ucap Rian yang mulai menyeringai.
"e..eeh maksud aku gak gini..Dewasa yang aku maksud itu dari segi pemikiran dan yang lainnya.."
ucap Fani yang sedang berusaha mendorong tubuh Rian yang hampir menindihnya.
"dan yang lainnya? beneran bukan yang kayak gini?"
ucap Rian yang bersikap sok polos
"Iyya...kamu bangun dulu yaa, kita bicaranya abis jalan-jalan..okey?"
ucap Fani berusaha meyakinkan Rian.
"hm..gimana yaa, aku maunya ngasih bukti ke kak Fani kalau aku udah dewasa.."
"haah?..gak usah Rian! aku percaya kok, kalau kamu..u..dah..de..wasa"
ucap Fani yang mulai terbata saat Rian mengecup seluruh bagian lehernya.
"Aku mencintaimu kak"
__ADS_1
Rian melepaskan pakaiannya dengan mudah, lalu kembali mengecup bagian leher Fani.
"hmm..Rii..aan..!"
ucap Fani yang tidak tahan dengan belaian lembut Rian.
kini keduanya tidak memiliki sehelai benangpun di tubuhnya, tapi Rian sejak tadi hanya membelai tubuh Fani, lalu mencium bibirnya sesekali.
"Ada apa hmm?"
ucap Rian sambil menelan ludahnya, sebenarnya dia juga tidak puas jika hanya dengan ciuman dan belaian yang dia lakukan, tapi dia sedang mencoba agar Fani berani menggodanya.
"Kamu sedang menahan diri? atau hanya aku yang menginginkanmu malam ini?"
ucap Fani sambil mengelap bibir Rian dengan tangannya.
Rian tidak sanggup dengan sentuhan tangan Fani di bibirnya, dia dengan cepat ******* bibir Fani hingga mereka tersengal.
"Kak bersiaplah.."
ucap Rian sambil memperbaiki posisinya.
tak lama kemudian, Fani mulai meremas sprei tempat tidurnya.
***
Keesokan paginya, Rian langsung memesan makanan pesan antar, dia tahu semalam mereka lupa makan, dia tidak ingin istrinya kelaparan di pagi hari.
Setelah menyiapkan makanan yang dia pesan, Rian membawanya menuju kamar. di atas kasur, Fani masih terlelap, Rian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum membangunkan istrinya itu.
Tak lama setelah Rian masuk ke kamar mandi, Fani mulai membuka matanya secara perlahan, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan berhenti di sebuah jam yang menunjukkan pukul 9 pagi.
"Aku lapar..Rian dimana yaa.."
ucap Fani lalu turun dari tempat tidur setelah memakai bajunya.
Fani melihat mangkuk yang berisi bubur ayam di kamarnya, tanpa berfikir panjang dia langsung menyantapnya lalu duduk di sofa sambil menyalakan TV.
10 menit kemudian, Rian keluar dari kamar mandi, dia menatap Fani yang sedang tertawa sambil menonton TV.
dia kemudian menghampirinya.
"Asik banget yaa kak..lagi nonton apa?"
ucap Rian lalu duduk di samping Fani
Fani tidak menjawab pertanyaan Rian, dia hanya melirik Rian sebentar lalu kembali menonton TV.
merasa dicuekin pagi-pagi, Rian langsung mematikan TV dan menyeringai di depan Fani.
Fani menatap Rian dengan kesal, lalu hendak untuk pergi dari sofa. kali ini Rian tidak mencegahnya, dia penasaran kemana Fani akan pergi. Ternyata Fani menuju kamar mandi.
Sebenarnya Rian agak bingung, dia tidak mengerti mengapa Fani mengabaikannya di pagi hari.
"RIAAAANNN!!!!"
Belum 3 menit Fani masuk ke dalam kamar mandi, dia sudah berteriak.
__ADS_1
Rian berlari menuju pintu kamar mandi.
"kaak?! kak Fani.. ada apa? buka pintunya kak!!"