
Hari ini adalah hari Minggu, Fani tengkurap bermalas-malasan di atas kasur dengan layar handphonenya yang terus dia geser Tanpa henti.
Rian memperhatikan Fani sejak tadi, dia melihat Fani yang sangat fokus pada ponselnya, hal itu membuatnya menghampiri Fani.
"Serius banget ya kak"
ucap Rian yang ikut tengkurap di samping Fani
"Aku lagi pengen belanja"
ucap Fani tanpa menoleh pada Rian
Merasa dirinya diabaikan, Rian ikut melirik layar ponsel milik Fani, dia melihat berbagai macam sepatu yang sudah berada di keranjang belanja milik Fani.
"Kak Fani mau beli itu semua?"
kak Fani ternyata suka belanja yaa..
Rian agak heran karna Fani memasukkan begitu banyak sepatu di keranjangnya
"iyya, ini mau dikumpulin dulu terus pesan semuanya sekaligus, biar kurirnya gak capek ngirim barangnya"
ucap Fani lalu menoleh ke arah Rian
Rian mengerutkan keningnya
"Biar kurirnya gak capek? maksud kak Fani apa?"
melihat wajah tidak suka Rian, Fani tahu dengan pasti bahwa Rian akan bertingkah kekanak-kanakan lagi.
"Maksud aku tuh, kurirnya kan manusia...jadi sebagai sesama manusia kita harus saling membantu"
ucap Fani sambil tersenyum pada Rian
"hm?"
Rian kini menatap wajah Fani dengan datar
"kamu belum ngerti ya? jadi gini, misalkan aku beli sepatu, baju, jaket, sendal secara bersamaan kurirnya bakal nganterin semua barang itu dalam 1 hari, tapi kalau aku belinya gak bersamaan kurirnya bakal bolak balik nganterin barang itu"
ucap Fani
"owh"
Rian fokus memperhatikan wajah Fani saat menjelaskan, hal itu membuatnya tidak jelas mendengar ucapan Fani
"Udah ngerti?"
"Kamu cantik kak"
ucap Rian sambil tersenyum menatap fani
Fani tidak peduli dengan gombalan Rian dia kembali fokus menatap layar ponselnya.
saat melihat sepasang hoodie berwarna abu-abu, Fani menoleh ke arah Rian lalu menyodorkan ponselnya.
"Liat deh, ini sepertinya bagus buat kita pakai jalan-jalan"
ucap Fani
Rian menatap layar ponsel Fani, lalu menatap Fani
__ADS_1
"kalau kak Fani suka, langsung beli aja kak"
"hm tapi yang ini sepertinya lebih bagus deh"
Fani kembali menyodorkan ponselnya pada Rian, kini Hoodie dengan motif yang sama tapi warna yang berbeda
"tapi inikan sama kayak yang tadi kak, cuma beda warna doang"
Rian menatap gambar Hoodie yang berwarna biru muda di layar ponsel itu.
"ini gak sama, warnanya beda... tapi dua-duanya bagus banget ya"
ucap Fani yang terlihat sedang berfikir
"Kak Fani gak usah mikir mau milih yang mana, kalau suka beli aja dua-duanya kak"
ucap Rian dengan lembut
"ide bagus"
Fani langsung memesan kedua Hoodie tersebut
"terus bayarnya kapan kak?"
ucap Rian
"Udah aku bayar kok, saldo di aplikasiku masih banyak"
ucap Fani lalu menoleh ke arah Rian
"Kak Fani beli semua barang-barang itu pake uang kak Fani?"
ucap Rian kaget karna merasa dirinya tidak menafkahi istrinya itu
"Tapi kak, kamu itu tanggung jawab aku!"
Rian menghela nafas dengan berat
"Iyya lain kali, aku pake uang kamu"
ucap Fani
"Berapa total uang yang kakak pakai buat beli semua barang-barang itu?"
Nada bicara Rian, kini tak bersahabat
"semuanya?"
ucap Fani
"Iyya"
Rian bangun dari kasur, lalu membuka laci yang ada di samping tempat tidur
Fani kini tidak lagi tengkurap, dia duduk memperhatikan gerak gerik Rian.
Rian membuka dompetnya lalu mengeluarkan sebuah blackcard, dia kembali ke kasur dan duduk di samping Fani.
"Ini"
ucap Rian lalu menyodorkan blackcard tersebut pada Fani
__ADS_1
"Hm? aku gak butuh uang lagi, kartu yang kemarin kamu kasih isinya masih ada 70 juta"
ucap Fani sambil menolak kartu tersebut
"Jangan pernah belanja pake uang kamu lagi, aku gak mau kalau sampai mertuaku tau anaknya belanja pake uang pribadinya, aku bisa-bisa dikira gak nafkahin kamu kak"
ucap Rian lalu mengecup kening Fani
"Tapi...Rian"
Sebelum Fani melanjutkan ucapannya, Rian mencium bibir Fani sekejap
"gak ada tapi-tapian kak..."
Rian mengelus bibir Fani dengan tangannya
jarak wajah Rian dan Fani sangat dekat, Fani menelan slavinanya dengan agak kasar.
Rian tersenyum melihat hal itu, Fani mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku lapar kak"
ucap Rian
mendengar ucapan Rian, Fani kembali menatap Rian
"Kalau gitu kita pesan makanan dulu ya"
Fani mencoba meraih ponselnya, tapi ditahan oleh Rian.
"Gak usah pesan makanan kak, aku mau makan sekarang..."
Rian menarik tangan Fani dan membuat Fani berada dibawahnya, Rian bertumpu menggunakan tangan dan kakinya agar tidak menindih Fani.
"Katanya lapar, kita pesan makanan dulu yaa..?"
ucap Fani berusaha bangun dengan mendorong dada Rian
"Gak usah buang-buang tenaga kak, simpan tenaga kak Fani buat aku"
ucap Rian sambil berbisik di telinga fani
Fani hanya menatap Rian yang sedang membuka kancing bajunya secara perlahan, setelah Rian membuka baju, tubuh Rian yang terlihat kekar membuat Fani menutup wajahnya tiba-tiba.
"Rian...pasang baju kamu lagi!"
ucap Fani setengah berteriak
"kak Fani ngapain nutup mata? aku ini suami kakak, udah halal kak"
ucap Rian dengan sedikit tertawa
Rian meraih tangan Fani yang sedang menutupi seluruh wajahnya itu, Rian terbahak-bahak saat melihat Fani yang sedang menutup matanya.
Mendengar tawa Rian, Fani mendorong Rian dengan sekuat tenaga lalu lari keluar dari kamar.
"Malu banget aku"
Fani mengunci pintu kamar, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kak, kak Fani ngunciin aku dari luar?"
__ADS_1
ucap Rian yang sedikit berteriak sambil mencoba membuka knok pintu.