Penakluk hati

Penakluk hati
Demam


__ADS_3

Fani pulang ke rumah Lina seperti yang Lina katakan, ini tidak termasuk rencana bahkan pulang bersama juga termasuk dadakan. Tapi karna Lina berkata bahwa mereka akan mampir ke rumah Lina, mereka memilih tidak berbohong.


Lina hanya tinggal sendiri, orang tuanya lebih sering menghabiskan waktu di luar negeri dan hanya mengunjungi Lina beberapa kali dalam satu bulan.


"Bentar sore kamu antar aku sampai depan kampus Gunadarma yaa"


Ucap Fani yang sedang duduk sambil memakan Snack yang disediakan oleh Lina.


"kamu gak lagi nyembunyiin sesuatu kan fan? Ngapain kamu ke kampus Gunadarma?"


"Nyembunyiin apaan sih Lin? aku gak nyembunyiin apapun kok, aku ada urusan disana"


Bohong lagi deh, lagian aku gak seharusnya nyebut kampus Gunadarma Mulu.


"Kalau ada masalah kasih tau aku ya, kamu jangan nutupin masalah apapun dari aku"


"aku gak punya masalah kok, sekarang aku mencoba hidup mandiri"


Menikah gak termasuk masalah kan? Jadi aku gak punya masalah. Mending aku berhenti nyebut kampus Gunadarma.


Skip


"Lin berhenti di depan minimarket itu"


"kamu gak jadi ke kampus Gunadarma?"


"Jadi kok, cuman aku mau beli sesuatu dulu"


"Mau aku tungguin gak?"


"Gak usah lin, kamu duluan aja, aku masuk dulu"


jarak antara minimarket itu dan rumah Fani sebenarnya agak jauh, tapi dia tidak mau Lina semakin curiga dengan tempat tinggalnya saat ini.


"Kalau gitu aku duluan yaa"


"Iyya"


Fani masuk kedalam minimarket itu lalu keluar dengan sebuah es krim di tangannya.


Dia membuka es krim rasa strawberry itu dan menikmatinya sambil berjalan pulang. Setelah beberapa menit es krim itu habis.


Fani berhenti berjalan sejenak lalu menatap awan yang mulai menghitam, menunjukkan bahwa sebentar lagi langit akan menangis.


Tak lama kemudian,


Fani mulai merasa tubuhnya kedinginan saat air hujan semakin deras mengguyur tubuhnya.


Jarak rumahnya hanya tinggal 200 meter lagi, tapi karna ia kedinginan jalannya semakin lambat.


Sepanjang perjalanan, Fani mengingat sekilas kejadian 2 tahun lalu saat ia kehilangan Fikri karna sikapnya yang egois.


Cuaca hari itu persis Sama dengan hari ini, air hujan yang dingin membasahi sekujur tubuhnya, dia berlutut di depan tubuh Fikri yang sudah tak bernyawa.


Flashback


Sore itu Fikri sedang duduk bersama salah satu temannya di pinggiran taman,


Fani datang dan marah padanya.


"Kamu ngapain disini?"


Ucap Fani dengan suara yang agak kesal.


"Aku bantuin Eva  ngerjain tugas, dia teman kuliah aku"


Ucap Fikri lalu berdiri dan meraih tangan Fani


"Kalau ngerjain tugas itu di kampus, atau di rumah!! Ngapain ngerjain di taman?, Udah deh ngeliat kalian berdua duduk di taman kayak gini udah kelihatan jelas!!"


Fani melepaskan tangannya yang digenggam oleh Fikri


"Gak fan, kami beneran cuma ngerjain tugas"


Eva berdiri dari duduknya


"Cukup!! aku mau pulang! Kalian lanjutin aja aktivitas kalian!!"


Fani meninggalkan Fikri tanpa menoleh lagi


"Maaf Eva, tapi gue gak bisa bantuin Lo hari ini"


"Iyya, mending Lo kejar pacar lo itu, bisa-bisa Lo diputusin gara-gara salah paham doang"


Tiba-tiba air hujan turun dengan sangat deras, tapi hal itu tidak membuat Fani berhenti berjalan.


Fikri mengejar fani hingga jalan raya, Fani menyebrang jalan dengan berlari, lalu disusul oleh Fikri, dia berlari saat menyeberang jalan tanpa memperhatikan mobil yang berlalu-lalang.


Tepat saat ia di tengah jalan, tiba-tiba ada mobil dengan kecepatan tinggi yang menabraknya, mobil itu terus menerus membunyikan klaksonnya tapi naas Fikri tidak sempat untuk terselamatkan.


Fani menoleh saat mendengar suara klakson mobil terus-terusan, tepat saat ia menoleh  ia melihat Fikri ditabrak mobil dan tubuhnya terbaring dipenuhi oleh darah segar.


Fani berlari ke arah Fikri, dia langsung terduduk dan memeluk tubuh pria yang sangat dicintainya itu.


"Fikri.....!!!bangun Fik!! Jangan ninggalin aku, aku janji bakal dengerin kamu, aku gak bakal bikin kamu marah lagi!!!! Please Fik... please"


Fani tak berhenti menangis di tengah derasnya air hujan.


Flashback off


Rian sejak tadi merasa khawatir pada fani, ini sudah hampir Maghrib, tapi Fani belum pulang juga.


Beberapa menit mondar-mandir di belakang pintu, akhirnya ada suara ketukan di pintu itu.


Rian langsung membuka pintu dan terkejut melihat Fani yang sudah pucat dengan tubuh yang menggigil karna kedinginan.


Saat ini Rian merasa marah pada dirinya sendiri, bagaimana bisa Fani pulang dengan berjalan kaki bahkan sampai kehujanan.


Dia merutuki dirinya saat melihat wajah pucat Fani karna kedinginan, rian langsung mengantar Fani masuk dan memberinya handuk.


"Kak Fani"


Ucap Rian lembut saat Fani meraih handuk di tangan Rian

__ADS_1


Fani langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, beberapa menit kemudian dia selesai.


Fani menuju kasur dan berniat untuk tidur, kepalanya terasa sangat berat, serta tangan dan kakinya terasa dingin.


"Kak Fani makan dulu ya?"


Rian masuk kamar dengan sebuah piring yang berisi nasi goreng, lalu duduk di pinggir kasur


"Makasih"


Fani meraih piring yang dibawa Rian lalu melahapnya, tapi di suapan ketiga dia sudah tidak berselera lagi.


"Ada apa kak? Makanannya gak enak yaa kak?"


Rian mulai merasa ada yang aneh, Fani semakin terlihat pucat sejak ia pulang tadi.


Rian mencoba memeriksa suhu tubuh Fani, dia menempelkan tangannya pada jidat Fani.


"Kak Fani demam, Kenapa gak bilang sih kak?!"


"Ini gak apa-apa kok kalau udah tidur sebentar, demamku bakalan turun"


"Bagian mana lagi yang sakit kak?"


Rasa khawatir rian semakin menjadi-jadi, dia langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


Calling dokter Stevan


"Halo kak stev, kakak sekarang ke rumah Rian! Alamatnya di...."


"Iyya tunggu 30 menit lagi aku sampai"


Stevan adalah dokter khusus keluarga Aditya Wijaya, dia menggantikan posisi ayahnya sebagai dokter keluarga Aditya Wijaya sejak 1 tahun lalu. Dia harus siap 24 jam untuk melayani keluarga Aditya Wijaya saat membutuhkan bantuannya.


"Aku gak apa-apa kok, kamu gak perlu nyari dokter"


Suara Fani terdengar sangat lemah, tapi dia tetap tersenyum pada rian.


"Kakak udah pucat kayak gini masih keras kepala, gimana kalau demamnya makin parah?? Aku gak mau sampai lihat kakak baring di rumah sakit!"


Fani melihat kekhawatiran di wajah Rian dengan sangat jelas, dia mulai menyadari betapa jahatnya dia pada pria itu.


Selama ini Rian memberikan perhatian dan cinta yang berlimpah padanya, tapi dia tidak pernah menganggap dan menerima Rian di sisinya.


Tanpa ia sadari, air matanya menetes di kedua pipinya. Selama ini Fani hanya memikirkan dirinya sendiri, rasa sakitnya saat kehilangan Fikri membuatnya merasa takut mencintai orang lain.


Dirinya begitu egois, kini Fani sadar. karna belum bisa mengikhlaskan Fikri, Ada hati yang tidak sengaja tersakiti.


Rian melihat Fani meneteskan air matanya, dia duduk di pinggir kasur, tangan kanannya menghapus air mata fani, lalu tangan kirinya menggenggam kedua tangan yang terasa sangat dingin itu.


"Sakit banget ya kak? Maafin Rian kak, Rian harusnya jagain kakak"


Rian menundukkan kepalanya, tak terasa buliran air mata menetes membasahi pipinya.


"Gak Rian, ini semua salah aku, Aku gak seharusnya nyakitin kamu, Maafin aku Rian! Aku terlalu egois, sejak awal aku gak pernah mikirin perasaan kamu, selama ini sikap aku terus-terusan nyakitin kamu, aku gak pantas buat kamu Rian"


Fani terus menerus meneteskan air mata di setiap kata yang dia ucapkan.


"Cukup kak, kakak gak nyakitin aku! Aku sayang sama kak Fani! Lebih dari siapapun!!!Jangan pernah bilang kalau kak Fani gak pantas buat aku!! Aku cuman mau kak Fani nerima aku di samping kakak! Dan nerima kenyataan kalau aku adalah milik kak fani"


Awalnya suara Rian terdengar keras, tapi suaranya mulai terdengar lembut di beberapa kalimat terakhir yang ia ucapkan.


Rian menggenggam kedua tangan Fani dengan erat lalu mencium kedua tangan itu cukup lama.


Fani merasakan air mata Rian menetes di atas tangannya. 


"Riaan"


Ucap Fani lembut pada Rian karna air matanya terus membasahi tangan Fani.


"Jangan pernah bilang kalau kakak gak pantas buat aku"


Rian mengangkat kepalanya dan menatap mata Fani dengan sangat dalam, tangannya masih menggenggam kedua tangan Fani.


Beberapa menit kemudian, suara ketukan terdengar dari arah pintu rumah. Rian berjalan keluar kamar dan membuka pintu rumahnya.


"Yang sakit siapa? Kamu gak terlihat sakit"


dokter stev masih berdiri di depan pintu, dia menatap Rian dari kaki hingga kepala.


"Ikutin aku kak stev"


Rian berjalan masuk menuju kamar


Dokter Stevan mengikutinya dari belakang, saat mereka memasuki kamar, Rian duduk di samping Fani yang terbaring di atas kasur.


Stevan melihat wajah Fani yang terlihat sangat pucat, dia langsung membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa alat untuk memeriksa Fani.


"Demamnya agak tinggi, kamu sudah ngasih dia makan?"


Selesai memeriksa, stevan bertanya pada Rian.


"Udah, tapi kak fani cuman makan beberapa sendok nasi"


"Apa ada bagian tubuh kamu yang terasa sakit?"


Kini Stevan bertanya pada fani.


"Kepalaku cuman agak berat dok"


Ucap Fani dengan suara lemahnya


Stevan mencari sesuatu di dalam tasnya, beberapa saat kemudian dia mengeluarkan beberapa tablet obat dari sana.


"Ini obat agar demamnya cepat turun, dan yang ini obat penghilang sakit kepalanya"


Stevan memberikan beberapa tablet obat Itu pada Rian.


"Terus yang lainnya buat apa?"


Rian menatap Stevan agak bingung,


Steven hanya menjelaskan 2 tablet obat, dan masih ada beberapa tablet yang ia pegang

__ADS_1


"Itu agar nafsu makannya kembali, dan beberapa tablet vitamin agar dia cepat sembuh"


"Jangan lupa ngasih dia makan sebelum minum obat, kalau dia rutin minum obat dia bakalan sembuh dalam 3 hari"


"Iyya kak stev"


Stevan berjalan keluar kamar dan diikuti oleh Rian. Stevan hendak pamit pulang.


"Aku pulang dulu, kalau ada sesuatu yang terjadi langsung hubungin aku"


"Iyya"


Rian mengantarkan Stevan hingga ke pintu, setelah menutup pintu rumah dia kembali ke kamar.


Di kamar, Rian duduk di samping fani dan memegang tangannya.


"Kak fani minum obat dulu yaa?"


Fani hanya mengangguk ke arah Rian, tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak.


Selesai meminum obat, rasa berat di kepalanya mulai agak kurang. Fani menatap Rian yang masih terlihat sangat khawatir padanya.


Mungkin seperti itulah yang fani rasakan saat Fikri terbaring di rumah sakit, dia khawatir bahwa orang yang dia cintai akan meninggalkannya, hingga hal yang ia khawatirkan benar-benar terjadi.


Setiap kali ia menatap Rian, ia semakin merasa bersalah padanya, Fani sangat tahu bagaimana perasaan Rian saat ini.


Ia menundukkan kepalanya agar tak perlu melihat wajah Rian, ia tak ingin rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi.


skip


Sudah 3 hari Fani sakit, Fani mengirim surat sakit pada sekolah sedangkan Rian meminta cuti.


Demam Fani sudah sembuh mereka sepakat untuk masuk sekolah besok hari.


"Kakak beneran udah sembuh kan?"


"Kamu yang rawat aku 3 hari, masa ragu sih? Aku beneran udah sembuh rian"


"Hm"


"Kamu mau ngomong sesuatu?"


Rian terlihat ingin mengucapkan sesuatu.


"Aku cuman pengen kak Fani ngubah pandangan kakak sama aku, selama ini kak Fani gak pernah natap aku sebagai laki laki"


Rian mencium kening Fani lalu mengelus pipinya.


Fani menatap Rian agak khawatir, dia tak ingin menyakiti Rian, dia memutuskan untuk bersikap terbuka pada laki-laki yang mencintainya itu, Meskipun dia belum punya perasaan untuknya tapi Rian berhak atas dirinya, Rian tak pernah menagih haknya sebagai seorang suami.


"Makasih Rian, sekarang aku siap untuk jadi istri kamu yang sesungguhnya"


"aku gak mau ngelakuin itu sebelum kakak jatuh cinta sama aku"


"Tapi kamu mencintaiku Rian"


"Kak"


Rian menggenggam kedua tangan Fani


"Aku gak apa-apa Rian"


Rian menatap fani sedikit ragu, dia memang ingin Fani menjadi miliknya seutuhnya, tapi Fani tak punya perasaan untuknya.


Fani tersenyum padanya, melihat senyuman itu Rian mencium kening Fani lalu mulai turun ke pipi, dia berhenti sejenak dan menatap Fani  seolah tak bisa melakukan itu.


Fani menyadari bahwa Rian ragu untuk menyentuhnya, Fani memegang pipi Rian lalu mengecup bibirnya sekejap.


Setelah itu rian mulai menciumi leher Fani,


Dan berakhir dengan beberapa titik merah di leher wanitanya itu.


Saat ini Fani duduk di sofa bersama Rian.


Menyadari Rian berhenti, Fani mulai menatap Rian.


"Ada apa?"


"Kita lagi di sofa kak"


Fani tersenyum malu, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Rian yang melihat Fani menutup wajahnya, menarik Fani dalam pelukannya.


"Kita ke kamar sekarang yaa kak"


Rian berbisik di telinga fani


Fani hanya mengangguk, lalu Rian menggendong Fani ala bridal style menuju kamar.


Setelah membaringkan fani, Rian kembali menciumi kening Fani, lalu turun ke pipi, dan ciuman di bibir yang agak lama.


Setelah itu mereka melakukan apa yang harusnya dilakukan oleh pasangan suami istri.


Skip pagi


Ini masih jam 5 pagi, tapi Rian sudah bangun sejak tadi. Fani mengerjapkan matanya beberapa kali melihat rian yang sedang tersenyum padanya.


"Good morning my first love"


Rian mengecup kening Fani


"Morning too"


Fani tersenyum pada Rian


"Makasih kak"


"Hm?"


Melihat Fani yang agak bingung Rian berbisik di telinga fani


"Makasih untuk yang semalam kak"

__ADS_1


__ADS_2