
Sudah hampir 10 menit Rian memeluk Fani, Fani mulai merasa gerah, tapi dia tidak tega menyuruh Rian melepaskan pelukannya.
Fani mencoba mengusap lembut punggung Rian. Tak lama kemudian Rian melepaskan pelukannya, lalu tersenyum pada Fani, Fani membalas senyuman Rian, dia hendak berdiri tapi Rian mencegahnya.
"Kak Fani mau kemana..?"
Ucap Rian yang melingkarkan tangannya di perut Fani.
"Aku mau masak, kita belum makan malam..kamu juga harus minum obat"
Ucap Fani
"Kakak gak usah masak...kita pesan aja yaa"
Aku mau makan, tapi aku gak mau minum obat
"Kalau gitu..aku pesan sekarang yaa"
Fani meraih ponselnya yang berada di Meja, lalu membuka aplikasi makanan pesan antar.
Karna Fani masih duduk di pangkuannya, Rian bisa melihat dengan jelas, makanan yang dipesan oleh Fani, yaitu 2 porsi Ayam goreng dan 1 porsi pizza.
"Kak Fani gak mesan makanan manis?"
Ucap Rian saat melihat Fani hanya memesan 2 jenis makanan.
"Kamu mau makanan manis yang seperti apa..? Cake atau donat?"
Ucap Fani setelah membuka kembali aplikasi pesan antar makanan. Fani terus menggeser layar ponselnya, dia sibuk mencari cake strawberry kesukaannya.
"Samain aja kayak punya kakak"
Rian memperhatikan Fani yang sejak tadi sibuk mencari makanan manis di layar ponselnya.
Setelah menemukan cake strawberry kesukaannya, Fani langsung memesannya.
Fani meletakkan kembali ponselnya setelah memesan makanan. Fani menatap wajah Rian.
"Kamu bilang..pak Ridwan ngasih pengecualian...tapi dia gak mungkin sama sekali gak ngasih hukuman kan?"
Meskipun ini pertama kalinya Rian punya masalah di sekolah, bukan berarti pak Ridwan menghiraukan masalah ini
"eum..soal itu...Pak Ridwan bilang..."
Kak...Aku kena skorsing 1 Minggu..
Fani yang menunggu Jawaban Rian namun ucapannya malah menggantung, membuatnya semakin penasaran.
"Pak Ridwan bilang..?? bilang apa...!!!?"
"Aku kena skors 1 Minggu.....Maaf yaa kak"
Tapi..ini cukup baik, setidaknya Kevin gak akan ketemu kak Fani selama 1 Minggu.
"haah..? skors? jadi kamu gak bisa ke sekolah selama 1 Minggu?"
Padahal Rian siswa teladan, siswa yang pintar dan berprestasi di sekolah.. hampir semua guru mengenalnya, tapi gara-gara aku...dia sampai berkelahi, bahkan kena skors
Fani menatap Rian dengan perasaan bersalah. Rian melihat raut wajah Fani terlihat tidak nyaman, saat tahu bahwa dia kena skors.
"Kak Fani tenang aja...aku bakal tetap nganter kakak ke sekolah tiap pagi..terus jemput kakak kalau pulang sekolah...!"
__ADS_1
Kalau aku biarin kak Fani pulang sendiri, gak ada yang bisa menjamin, kalau Kevin akan diam selama 1 Minggu dan tidak menggangu kak Fani di jalan.
"Bukan itu yang aku pikirkan... Tapi...kamu kena skors karna aku...dan aku bahkan gak dapat hukuman apapun"
Tanpa sengaja... Aku jadi pengaruh buruk bagi Rian di sekolah.
Mendengar ucapan Fani..Rian menyeringai kecil, dia sepertinya mendapat sesuatu yang menarik.
"menurut kak Fani, ini gak adil..? jadi..ceritanya..aku yang kena skors tapi yang bikin masalahnya kak Fani..gitu ya kak?"
ucap Rian dengan seringai muncul di wajah tampannya.
"ini emang gak adil kan..?"
aku yang harusnya kena skors.. bukannya kamu
"Kalau kak Fani mau keadilan...terus pengen dihukum, aku aja yang ngasih kakak hukuman..! gimana?!"
Fani mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti maksud dari ucapan Rian, lagipula..bagaimana Rian akan menghukumnya, begitu pikirnya.
Rian menatap Fani lalu tersenyum manis padanya, dia menarik pinggang Fani agar wajah mereka semakin dekat.
Kedua lengan kekar Rian melingkar di perut Fani.
"aku hukum sekarang..gimana kak?"
"memangnya kamu mau ngasih hukuman kayak gimana?"
Aku terkunci..Rian gak akan lepasin tangannya dengan mudah kalau udah gini
Wajah mereka hanya berjarak 5 sentimeter, Fani berusaha mendorong dada Rian agar wajah mereka tidak terlalu dekat, tentu saja Rian tidak membiarkan Fani lepas begitu saja.
ucap Rian yang masih terus tersenyum pada Fani.
"kamu kan belum bilang hukuman nya apa..!! dan aku belum setuju, kalau belum tau jenis hukumannya!"
gimana kalau kamu minta yang aneh-aneh..
sifat kamu kan sering kekanak-kanakannya..!
"Hukumannya itu...."
Ting Tong
Belum selesai bicara, suara bel yang cukup nyaring menghentikan kalimat terakhir Rian.
"Aku mau buka pintu...lepasin tangan kamu dulu ya.."
Fani mengelus lengan Rian yang masih melingkar di perutnya.
Rian menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan agak kasar. Lalu melepaskan Fani.
Fani membuka pintu, yang datang adalah kurir pengantar makanan yang mereka pesan. Fani memberikan 2 lembar uang seratus ribu rupiah, lalu meraih makanannya.
kurir tersebut hendak mencari kembalian untuk Fani.
"gak usah pak.. kembaliannya buat bapak saja, Makasih ya pak"
ucap Fani sambil tersenyum pada kurir tersebut.
"Iyya nak..saya yang harusnya berterimakasih, kalau begitu saya permisi dulu"
__ADS_1
Fani menutup kembali pintu rumahnya, lalu berjalan ke sofa menghampiri Rian.
"Siapa kak?"
ucap Rian sambil melihat kantong plastik yang ditenteng Fani
"Ini makanan yang tadi kita pesan, kita ke meja makan yuk..!"
Fani menarik tangan Rian menuju meja makan.
Setelah menyantap makanan, Fani dan Rian kembali ke sofa, mereka menikmati cake strawberry kesukaan Fani.
Rian memperhatikan Fani yang sangat menikmati cake nya, Fani sesekali tersenyum..saat memakan krim yang terasa manis di cake itu.
"Kak Fani suka banget yaa sama cake strawberry.."
"Iyya..aku lebih suka rasa strawberry dibanding rasa cokelat, cake di hari pernikahan kita juga rasa strawberry..makanya aku makan sisa cake hari itu"
cake nya banyak hari itu.. sayang kalau dibuang
Karna bicara sambil mengunyah, Fani akhirnya belepotan, Rian menyeka krim di sudut bibir Fani dengan lembut.
"Jangan makan sambil bicara kak..ini jadi belepotan"
Fani berhenti mengunyah, kini dia bertatapan dengan Rian.
Rian tiba-tiba mencium Fani, awalnya dia hanya ingin menciumnya sebentar, tapi..bibir Fani terasa manis karna cake yang dia makan, Rian malah ingin memperdalam ciuman itu.
Fani hanya terdiam, dia tidak membalas Rian. Tiba-tiba saja terlintas di benaknya kalau Rian belum memakan obat.
Mungkin...karna biasanya Rian minta dicium sebagai obat, Fani mencubit lengan Rian agar dia berhenti.
"Auw..kakak..ada apa..?"
Rian menatap Fani sambil mengelus lengan nya yang sakit karna dicubit oleh Fani.
"Kamu belum minum obat!"
Fani tersenyum pada Rian.
"hah? Obat?"
Kenapa kak Fani harus ingat sih..!! aku aja gak ingat soal obat itu..!!
"Iyya..bunda Lia sama dokter stevan bilang, kalau kamu harus minum obat! meskipun kamu gak suka..!"
Saat perjalanan pulang tadi siang..Rian juga gak mau kalau kita ke rumah sakit, dia pasti benar-benar gak suka minum obat.
"Kak..aku gak suka minum obat.. aku bisa sembuh tanpa obat kok..!! minum obatnya gak usah yaa.."
"Gak Rian..! kamu harus minum obat, aku ambil obatnya dulu"
Rian menatap punggung Fani yang pergi mengambil obat.
hm..gimana yaa..biar aku gak perlu makan obat pahit itu..?!
Setelah memutar otaknya mencari jawaban, sebagai siswa terpintar di sekolah...Rian tentu saja punya cara, agar dirinya diuntungkan jika harus minum obat.
Kak Fani...Kita lihat saja, apa kakak masih mau nyuruh aku minum obat setelah ini.
Rian tersenyum melihat Fani yang menghampirinya dengan obat dan segelas air putih di tangannya.
__ADS_1