Penakluk hati

Penakluk hati
Obat yang Ampuh


__ADS_3

Rian tertawa lepas mendengar ucapan Fani


"Ha..ha..ha..tadi kakak bilang apa? Aku Suka sama cewek itu? Kak Fani gak ingat aku nyuruh kakak yang ngobatin aku pas di UKS? Dia sama sekali gak sebanding dengan kakak!"


Akhirnya keceplosan juga kan kak?


Rian masih dengan tawa bahagianya menatap fani dengan penuh perhatian.


"Ngapain kamu ketawa? Aku gak sebanding sama dia gimana?"


Karna suasana hati Fani yang sedang buruk, dia tidak mencerna ucapan Rian dengan baik, alhasil dia hanya memperhatikan ucapan terakhir Rian.


"Kakak cantik banget loh kalau lagi marah!"


Kakak gemesin banget!!


"Gak usah pake gombal segala! Aku tadi nanya! Aku gak sebanding sama Lita gimana??!"


Fani menatap Rian benar-benar tajam, dia semakin geram saat Rian hanya membalas ucapannya dengan sebuah senyuman.


"Riaan!!"


Fani kini menyebut nama Rian dengan penuh penekanan, hal itu membuat Rian menarik nafas dalam lalu menghembuskan nafasnya pelan, lalu membawa mobilnya menepi di pinggir jalan.


Rian sudah siap untuk menenangkan wanita yang sedang marah di sampingnya itu.


"Ngapain kamu berhenti di sini?"


Ucap Fani dengan tatapan sinis nya pada Rian


Tiba-tiba saja Rian menarik Fani ke pangkuannya,


Fani tentu saja kaget dengan hal itu, dia kini duduk di pangkuan Rian. Dengan posisi seperti itu Fani tidak berani mengucapkan apapun lagi.


Rian menatap fani dengan dalam, lalu menggenggam kedua tangan wanita yang dicintainya itu, seolah dia akan mengatakan hal yang sangat penting.


"Fani.."


Kedua bola mata Fani membulat saat Rian menyebut namanya tanpa panggilan kakak di depannya.


Dia menatap wajah Rian dengan lekat yang terlihat sangat serius saat ini.


"Aku udah pernah bilang, bahkan udah berkali-kali. Aku cinta sama kamu dan itu sudah dari dulu! Aku sangat bahagia saat tahu bahwa orang yang dijodohkan denganku adalah kamu, di hari pernikahan kita terlihat jelas kalau kamu tidak punya perasaan padaku, sejak hari itu aku berharap suatu saat nanti kamu bisa menerima perasaanku dan membalasnya dengan tulus"


Setelah mendengar pengakuan dari Rian, Fani menundukkan kepalanya. Bagaimana bisa dia masih meragukan Rian disaat dialah yang selama ini belum menerima perasaan Rian dengan tulus.


Aku mencintaimu kak, tak ada tempat kosong di hatiku sejak kamu masuk dalam hidupku, aku tidak pernah memikirkan wanita lain selain dirimu kak


"Apa menurut kakak perasaanku begitu mudah dan aku akan tertarik pada wanita lain begitu saja?"


Fani mencerna ucapan Rian dengan baik, dia mengingat kembali kebodohannya yang menuduh Rian menyukai Lita, bahkan sampai marah-marah hanya karna Rian menyebut nama wanita itu.


Fani masih menundukkan kepalanya, dia benar-benar merutuki kebodohannya saat ini.


Rian yang masih menggenggam kedua tangan Fani melepaskan salah satu tangannya, dia mengangkat wajah Fani agar sejajar dengan wajahnya.


"Aku suka kalau kakak cemburu, tapi aku gak mau kak Fani sampai salah paham"


Rian menatap fani dengan penuh arti


"Maaf, aku gak seharusnya nuduh kamu kayak gitu, dan aku gak harusnya marah-marah kayak tadi"

__ADS_1


Apa aku benar-benar cemburu?


Mendengar ucapan Fani, kini sebuah senyuman terukir jelas di wajah Rian. Dia mengelus pipi Fani dengan lembut.


Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter, Fani melihat bekas luka di sudut bibir Rian dengan jelas.


Tangannya bergerak menyentuh luka itu.


"Apa ini sakit? Saat tanganmu kena pecahan gelas Kamu bilang tidak apa-apa, tapi di UKS tadi kamu malah ngeluh sakit!"


"Di rumah yang balut luka aku itu kakak, makanya gak sakit!"


"Terus tadi?"


"Aku udah mikir kak Fani gak peduli sama lukaku, tadi kak Fani nolak buat ngobatin aku!"


"Tapi kan Ujung-ujungnya aku juga yang ngobatin?"


"Tapi beda kak, tadi kakak kelihatan gak peduli sama aku! Sekarang obatin lagi dong kak"


"Disini gak ada obatnya Rian!"


Rian tersenyum pada Fani, dia menatap bibir mungil Fani lalu menatap kedua bola mata Fani. Fani membalas tatapan Rian tak mengerti.


"Ada apa?"


"Obatnya ada kak, kalau kak Fani mau"


"Kalau ada, gak usah pake nanya aku mau apa nggak!"


"Itu artinya kakak mau kan?"


"Iyya, mana obatnya?"


Setelah itu dia mengelus pipi Fani dengan lembut.


Fani terdiam sejenak, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Maksud kamu obat itu ini?"


"Obat ini jauh lebih ampuh kak, daripada obat-obat yang lain"


ucap Rian sambil tersenyum pada Fani.


"udah gombalnya! aku mau balik duduk di tempatku!"


"gak usah kak, kak Fani duduk di pangkuanku aja Sampai rumah"


"tapi aku berat Rian!"


"memangnya berapa kilo kak?"


Rian menaikkan kedua alisnya saat bertanya, Fani terlihat sedang berfikir.


"hm, mungkin 50 kilo?"


"kakak kurus kayak gini 50 kilo?"


"aku bilang mungkin!! aku tidak ingat berapa berat badanku sejak terakhir menimbang"


"Kakak gak usah pindah yaa"

__ADS_1


"terserah kamu, yang bakalan pegal juga bukan aku, tapi kamu!"


Rian akhirnya kembali melajukan mobilnya menuju rumah, dengan posisi Fani yang duduk di pangkuannya.


Skip


Setelah selesai berganti pakaian, kini Rian duduk di sofa ruang tamu menonton tv yang sedang menayangkan drama Korea.


"udah mulai yaa?"


ucap Fani menuruni tangga


"maksud kakak ini?"


Rian menunjuk layar TV menggunakan dagunya.


"Iyya, ini udah eps berapa ya?"


Fani menghampiri Rian dan duduk di sofa bersamanya.


"mana aku tau kak, aku barusan nonton ini"


Jadi kak Fani suka nonton drama Korea yaa?


"Kamu tau nggak? alur ceritanya bagus loh, si cewek ini udah hidup 1000 tahun, gara-gara dulu dia bunuh banyak orang, akhirnya dia dikutuk dan gak bisa mati. Dia punya hotel yang khusus menerima tamu orang yang sudah mati"


"orang yang sudah mati? hotelnya buat hantu dong kak?"


bukannya drama Korea biasanya romantis yaa? ini kok malah horor?


"Iyya bagus banget!"


"tapi kakak tau dari mana? dramanya kan baru mulai kak?!"


"Ini udah tayang tahun 2019, aku udah nonton semua episodenya"


kalau tayangnya di tv, gak bakalan ada adegan kiss nya, jadi nontonnya aman-aman aja


"kalau udah nonton semuanya, kenapa masih nonton ulang?"


aku mau ganti siarannya kak, aku gak suka drama Korea


"Aku suka nonton di TV, layarnya lebih besar daripada di laptop"


kalau bisa nonton berkali-kali kenapa harus satu kali?


"pemeran utama wanitanya cantik kan?"


ucap Fani yang menatap layar TV dengan wajah yang serius.


"Kak Fani lebih cantik"


Mendengar jawaban Rian, Fani menoleh padanya. Pantas saja Rian menyebut dirinya lebih cantik, karna sejak tadi Rian hanya menatap Fani bukan menonton TV.


Rian sama sekali tidak memalingkan wajahnya saat Fani menoleh padanya.


terlintas ide cemerlang untuk membuat Rian menonton TV


"Kenapa kak?"


"pemeran utama laki-lakinya ganteng kan?"

__ADS_1


mari kita lihat reaksi kamu!


Dan benar saja, Rian langsung menatap layar TV menunggu adegan pemeran utama laki-lakinya muncul.


__ADS_2