Penakluk hati

Penakluk hati
Wanitaku


__ADS_3

Pertandingan basket telah dimulai, semua berjalan lancar hingga babak kedua, belum ada tim yang kena pelanggaran.


Fani dan Lina merasa lega, Andika benar-benar tidak melakukan apapun. Hingga akhirnya pertandingan selesai dan kelas Rian juara pertama, selama pertandingan berlangsung Fani terus memperhatikan Andika, bahkan beberapa kali tatapan mereka bertemu.


"Ternyata aku udah suudzon sama Andika, ternyata dia gak curang ya Fan..."


ucap Lina


"Iyya Lin"


ucap Fani singkat sambil memperhatikan Rian yang menuju kursi penonton, tepatnya menuju tempat Fani berada.


Sejujurnya, selama pertandingan berlangsung...Rian sesekali melirik Fani, dia melihat Fani sibuk memperhatikan Andika, itu membuat moodnya buruk selama pertandingan.


Rian sampai di kursi penonton, kini dia duduk di samping kanan Fani, karna Lina duduk di samping kirinya.


"Kamu ngapain kesini? teman-teman kamu lagi ngerayain kemenangan, harusnya kamu ikut"


ucap Fani sambil menoleh ke arah Rian


"Aku capek kak...kita pulang aja yuk"


ucap Rian menoleh pada Fani sambil tersenyum


Rian mungkin menganggap kalimat yang dia ucapkan adalah hal yang biasa, tapi tidak dengan orang-orang yang mendengarnya.


Fani mencubit lengan Rian, lalu memelototi Rian. Fani kemudian menoleh ke arah Lina, berusaha membaca ekspresi wajah Lina.


"Kalau kalian mau pulang duluan, aku gak apa-apa kok...lagian aku gak mau jadi nyamuk kalian!"


ucap Lina pada Fani dan Rian


Untung Lina gak ngerti... Lina pasti mikir kalau Rian mau ngantar aku pulang doang, baguslah kalau gitu...


"kalau gitu, aku pulang duluan ya Lin!"


ucap Fani lalu berdiri dari duduknya


"Makasih kak Lina"


ucap Rian tersenyum pada Lina, lalu menggandeng tangan Fani.


Fani ingin melepaskan genggaman tangan Rian, karna orang-orang mulai berbisik tentang mereka berdua. Setelah sampai di parkiran, Rian kemudian melepaskan genggaman tangannya.


"Rian...kamu kenapa sih?"


ucap Fani


"Emangnya aku kenapa kak?"


Ucap Rian sambil memasangkan sabuk pengaman mobil untuk Fani


"Kamu ngapain genggam tangan aku segala?"


ucap Fani


Rian yang masih berada di hadapan Fani karna sedang memasang sabuk pengaman untuknya, seketika berhenti...saat mendengar ucapan Fani

__ADS_1


"Kakak gak suka aku genggam tangan kak Fani di hadapan orang banyak?"


ucap Rian menatap fani tanpa ekspresi


Fani mengalihkan pandangannya, hal itu membuat mood Rian semakin buruk, dia memenangkan pertandingan basket hari ini, tapi sejak tadi suasana hatinya benar-benar buruk.


Pertama...kakak gak liat aku pas main basket, tapi sibuk perhatiin Andika, kedua...kakak gak mau orang lain lihat kita pegangan tangan..?!


Kini Rian mengerutkan keningnya, lalu tiba-tiba saja dia mencium bibir Fani, Fani yang terkejut berusaha mendorong dada Rian agar dia berhenti.


Rian tidak peduli dengan penolakan Fani, dia malah semakin memperdalam ciumannya. hingga beberapa saat kemudian Rian melepaskannya, Fani mulai kesusahan bernafas karna tidak bisa mengimbangi Rian.


Rian tersenyum melihat Fani yang kesusahan bernafas, otaknya mulai liar mengingat kembali ekspresi Fani yang seperti itu saat berada di tempat tidur.


Melihat wajahnya diperhatikan dengan intens, Fani menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia tau Rian suka melihatnya disaat seperti itu. Seolah menikmati sesuatu yang menarik untuk dilihat.


"kita lagi di sekolah Rian..!"


ucap Fani yang masih menutup wajahnya


"Makanya aku ngajak kak Fani pulang, aku pengen nanya sesuatu sama kakak"


ucap Rian yang kini sibuk menyetir mobilnya keluar dari area sekolah.


"Nanya soal apa?"


Fani sudah tidak menutupi wajahnya lagi, dia menoleh ke arah Rian.


"Kakak bakalan tau kalau udah sampai rumah"


Rian sampai gak noleh pas aku bicara..apa dia lagi marah yaa? tapi kan, dia gak pernah marah sama aku..apa jangan-jangan... cemburu lagi? tapi aku kan gak pernah bicara sama cowok lain hari ini! dia cemburu sama siapa lagi sih?!


Setelah sampai di rumah, Rian langsung meraih handuk dan menuju kamar mandi.


"Aku mandi dulu ya kak, soalnya aku keringatan"


ucap Rian yang berlalu ke kamar mandi, tanpa menoleh ke arah Fani yang sedang mengganti seragam sekolahnya.


Rian kenapa sih..?!


Fani memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudian, Rian selesai mandi, tidak seperti biasanya...Rian keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya.


Fani menoleh ke arah pintu kamar mandi saat pintu itu terbuka. Fani memalingkan wajahnya saat melihat Rian yang hanya menggunakan handuk keluar dari sana.


Kenapa dia cuman pake handuk..? aduh, bukannya Rian biasanya pake baju di kamar mandi, kenapa harus gitu sekarang sih? dia kan lagi badmood, aku gak bisa sok-sok an marah karna dia gak pake baju gitu..


Rian menghampiri Fani yang sedang duduk di sofa, karna Fani masih memalingkan wajahnya, Rian langsung duduk di sampingnya. Fani yang kini menyadari bahwa Rian duduk di sampingnya, menoleh ke arah Rian.


"Kenapa kamu gak baju? sana pake baju dulu"


ucap Fani dengan sedikit canggung.


"Kenapa kakak jadi canggung gitu? tadi aku udah bilang kan, mau nanya sesuatu sama kakak.."


Aku harus nanya di atas tempat tidur, biar aku gak marah sama kakak..


"Kalau kamu mau nanya, nanya aja..tapi kamu pake baju dulu, emang kamu gak kedinginan kayak gitu?"

__ADS_1


ucap Fani berusaha bersikap normal


"Aku gak perlu pake baju, nanti juga bakal di buka lagi..."


ucap Rian yang tiba-tiba mengendong Fani menuju kasur.


apa? gak perlu baju...? Rian mau ngapain ini..?! aku salah apa sih...?!!


Setelah meletakkan Fani di atas kasur, Rian kini berada di atas Fani dengan bertumpu pada kedua tangannya.


"Rian? bukannya tadi mau nanya yaa?! kamu bisa nanya di sofa kok...kita balik ke sofa ya?!!"


ucap Fani dengan suara lembut hingga terdengar seperti memohon.


Fani mencoba untuk bangun dengan mendorong Rian, tapi rian tidak membalas ucapan Fani. Dia hanya menatapnya lalu mengecup kening Fani.


Fani mulai mengerti, Rian tidak hanya akan bertanya, dia berniat akan meredakan kekesalannya meskipun Fani tidak tahu hal apa yang membuat Rian kesal.


"Ini masih siang hari..Rian..kamu nanya aja yaa, aku gak bakalan bikin kamu kesal"


ucap Fani sambil mengelus pipi Rian


"Kenapa kakak gak pernah liat aku pas lagi main basket?! kakak sibuk liatin Andika! aku liat kakak terus makanya gak fokus main!"


ucap Rian sambil menahan kekesalannya, dia bahkan mengecilkan suaranya agar dia tidak terdengar sedang kesal


"Aku cuman lirik dia sesekali, buat pastiin dia gak curang! aku liatin kamu main kok! kamu gak percaya?!"


Matilah aku...kalau Rian makin kesal, aku Gak tau lagi mau ngomong apa...


"Terus kenapa kakak gak mau gandengan tangan sama aku?!"


"Aku cuman gak mau kalau orang-orang terlalu memperhatikan kita, gimana kalau salah satu siswa penasaran sama hubungan kita?! dia bisa ngikutin kita loh.."


Rian percaya gak yaa..? aku udah berusaha bohong semaksimal mungkin...kalau dia gak percaya, dia benar-benar akan memakanku di siang hari kayak gini...


"Owh..."


owh doang..? tapi, kayaknya Rian percaya deh..syukurlah..


Rian kini duduk di pinggir kasur, lalu Fani juga ikut bangun dan duduk di sampingnya.


"Tapi kak Fani harus ingat satu hal penting!"


"Apa?"


"Kakak itu Wanitaku"


...Sekarang kakak adalah Wanitaku...


...dan itu berlaku untuk selamanya,...


...Aku gak mau kakak lirik pria lain...


...Apalagi bikin kak Fani membagi ...


...Perhatian...

__ADS_1


__ADS_2