Penakluk hati

Penakluk hati
Obatnya tenggelam


__ADS_3

Fani meletakkan air putih di meja, lalu duduk di samping Rian.


Dia membuka tablet obat untuk Rian.


Sejak tadi, Rian hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Fani.


"Ini obatnya, kamu minum sekarang"


Fani menyodorkan sebuah obat berbentuk oval pada Rian, lalu meraih air putih di atas meja.


Rian tersenyum pada Fani, tapi kali ini senyumannya terlihat memiliki motif tersembunyi.


"heum...bunda Lia gak ngasih tau kak Fani caranya ya?"


aku bakalan ngerjain kamu kak..! tunggu aja


"'caranya?'..cara apa?"


Fani masih memegang obat dan gelas di kedua tangannya.


"Kakak tau kan..kalau aku gak suka obat..? biasanya..bunda Lia ngasih 1 permintaan buat aku, sebelum minum obat..!"


ucapan Rian terdengar meyakinkan, Fani berfikir sejenak lalu membalas ucapannya.


"kalau gitu...biasanya kamu minta apa?"


"Permintaan aku selalu beda tiap kali minum obat kak...!"


Fani menghembuskan nafasnya agak kasar mendengar ucapan Rian.


"terus permintaan kamu kali ini apa?"


kamu gak akan minta yang aneh-aneh kan?


Rian berpura-pura sedang berfikir. Karna sejak tadi dia sudah merencanakan sesuatu untuk Fani.


"Kak Fani pernah ke belakang rumah?"


"Belakang rumah?...iyya..memangnya kenapa?"


memangnya ada apa di belakang rumah? disana kan cuma ada kolam renang... tunggu...! Rian gak bakalan minta aku berenang kan?


"Iyya...disana ada kolam renang"


Obat pahit itu aku pastikan..! jatuh ke kolam renang


"terus..?"


Fani mulai khawatir, jika Rian benar-benar memintanya untuk berenang di malam hari seperti ini, dia bisa-bisa tenggelam karna takut.


"Aku mau kita duduk di pinggir kolam, terus liat bintang sambil cerita tentang kak Fani"


Dan saat kita bercerita..aku bakal buang obat itu tanpa sengaja kak..!


Mendengar ucapan Rian, Fani bernafas lega lalu tersenyum pada Rian.


"kalau gitu...kita ke belakang rumah sekarang"


Setidaknya permintaannya bukan berenang, kali ini...dia gak bersikap ke kanak-kanakan


Fani meletakkan obat dan gelas air putih di atas meja.


"Kak Fani gak bawa obatnya?"


kalau gak dibawa...rencana ku bisa gagal..


"gak perlu...kita bisa cerita di pinggir kolam sampai kamu puas..abis itu kamu minum obat"


"Kakak bawa aja obatnya..aku yang bawa air putihnya yaa"


karna Rian bersikeras, akhirnya Fani mengiyakan.

__ADS_1


Rian meraih gelas yang berisi air putih itu, lalu menuju belakang rumah terlebih dahulu, Fani mengikutinya dari belakang.


Sekarang..Fani dan Rian duduk di pinggiran kolam, mereka merendam kaki mereka hingga lutut.


Rian duduk di samping kanan Fani, obat yang dibawa oleh Fani diletakkan diantara jarak mereka duduk.


"kamu mau cerita tentang apa?"


Fani menoleh pada Rian


"Cerita tentang kak Fani"


"Tentang aku? misalnya?"


"Misalnya apa yang kak Fani suka atau apa yang kakak gak suka"


"hum..gak banyak yang aku sukai, tapi ada banyak yang gak aku suka"


"kakak bisa mulai dari apa yang kak Fani sukai dulu.."


Tentu saja aku tidak termasuk hal yang kak Fani sukai


"yang aku suka cuman cake strawberry"


"cuman cake strawberry? kak Fani yakin..?"


"Iyya"


"kalau boneka gimana? kakak juga gak suka boneka teddy bear yang besar dan imut?"


aku tahu kak Fani gak suka banyak hal..tapi, kalau yang dia suka beneran cuma cake strawberry, aku harus belajar bikin cake dong..? biar kak Fani suka sama aku..


"Aku gak suka boneka..karna aku alergi debu, tapi ngomong-ngomong...rumah ini kok tetap bersih yaa? padahal kita gak pernah bersih-bersih...udah hampir 1 bulan kita disini, tapi aku cuman nyuci baju doang selama ini"


Rian mengerutkan keningnya


"Kak Fani gak tau?aku belum ngasih tau yaa?"


"Bunda Lia tiap hari ngirim asisten rumah tangga ke rumah ini, dia datang kalau kita di sekolah, terus pergi sebelum kita pulang"


"owh.. pantes aja, aku biasanya langsung bersin-bersin kalau gak bersihin kamar tiap hari"


"kak Fani bersihin kamar sendiri?"


"Iyya..aku sendiri yang nyuruh pelayan di rumah mami berhenti bersihin kamar aku"


"Kak Fani rajin yaa"


"Aku gak rajin...kalau aku rajinnya belajar kayak kamu, aku pasti bakalan pintar kayak kamu"


Owh iyya...mulai besok Rian gak bakalan ke sekolah..


"Soal skors itu...kamu gak apa-apa? gimana kalau Ayah sama bunda tau?"


tadi siang...Rian gak menjelaskan apapun, jadi.. mereka belum tau kalau Rian kena skors.


"Ayah udah tau kak... soalnya ayah nelfon pak kepsek, ayah senang pas tau hukumanku adalah di skors"


Mungkin karna tau aku bakal kena skors..ayah dari dulu pengen aku berkelahi di sekolah.


"Ayah senang kalau kamu di skors..? kamu yakin...? biasanya, kalau orang tua tau anaknya di skors bakalan di marahin..! kamu malah bilang kalau ayah senang?"


Pas ayah tau kalau Rian berkelahi, ayah wajar kalau gak marah.. karna dulu dia juga kayak gitu, tapi senang.. pas tau anaknya di skors bukannya agak aneh yaa..?


"pasti kak Fani mikir kalau ayah aneh yaa..?"


kalau belum tau alasan ayah senang...wajar mikir gitu sih..


"hem... ketauan yaa?"


emang aneh kan? kamu aja sadar kalau itu aneh

__ADS_1


"biar kakak gak mikir kalau ayah aneh, aku bakal jelasin kenapa ayah senang kalau aku di skors..!"


Fani menatap Rian, menunggu penjelasan yang dia maksud.


"kak Fani tau kan kalau aku kerja di perusahaan ayah? biasanya..aku kerja tiap hari Minggu, kalau hari² biasa..aku cuma ikut rapat penting, itupun kalau rapatnya setelah pulang sekolah. tapi...setelah kita nikah..aku gak pernah kerja lagi, bunda marah kalau ayah nyuruh aku kerja di kantor, terus ninggalin kamu di rumah"


"Jadi...besok kamu bakalan kerja?"


aku pikir..Rian bakalan bosan di rumah selama 1 Minggu, ternyata dia bakal sibuk kerja.


"Iyya..tadi ayah ngirim SMS, aku disuruh ikut rapat jam 8 pagi"


"padahal masih terlalu muda, tapi..kamu udah jadi karyawan di perusahaan besar"


"ini kan perusahaan ayah, kalau bukan, mana ada perusahaan yang nerima karyawan yang masih sekolah, lagian..aku mau sekolah sambil kerja karna gajinya besar"


cukup buat beli apapun yang aku mau, dan cukup untuk menafkahi kak Fani.


"emang gajinya berapa?"


"kak Fani mau tau?"


Fani hanya mengangguk, Rian melirik obat yang masih berada di antara mereka.


"coba kak Fani liat bintang di langit, gaji aku bisa beli lampu sebanyak bintang-bintang itu kak"


Fani langsung menatap langit dan tersenyum saat melihat bintang-bintang yang bercahaya dengan indahnya.


Disaat yang bersamaan, Rian meraih obatnya, lalu menyemplungkan ke dalam kolam renang dengan hati-hati.


"Langitnya indah..."


Fani menoleh pada Rian sambil tersenyum


"Langit yang dipenuhi bintang memang indah"


tapi Senyuman kakak jauh lebih indah di mataku.


Rian memegang tangan Fani, lalu mencium keningnya. Seketika itu juga, Fani ingat dengan janji rian untuk meminum obat setelah bercerita.


"Ceritanya udah selesai kan? kamu minum obatnya sekarang ya!"


"Iyya"


obatnya kan udah nyemplung di kolam


"Loh obatnya mana? kok gak ada disini?"


Fani mencari di sebelah kanan dan kirinya, tapi dia tidak menemukan obat yang sudah dia buka tadi.


"emangnya kak Fani naruhnya dimana?"


Rian masih bersikap seolah-olah dia tidak tahu, karna tidak tega melihat Fani yang masih sibuk mencari obat itu, dia akhirnya memberi tahu Fani.


"kak..kayaknya obatnya jatuh"


"jatuh dimana? kamu liat obatnya?"


"Mungkin jatuh ke dalam kolam"


emang jatuhnya ke kolam kok


"obatnya tenggelam?"


"Iyya kak"


obat dibilang tenggelam..? ini bukan orang kak...


"Kalau gitu aku bakal ambil obat yang lain, kamu tunggu disini yaa.."


Memangnya kak Stevan ngasih obatnya berapa tablet sih? kenapa masih ada obat yang lain..?!

__ADS_1


__ADS_2