Penakluk hati

Penakluk hati
Bermain catur


__ADS_3

Setelah selesai makan, Fani dan Rian sekarang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton TV.


Tangan Rian sudah berhenti mengeluarkan darah, kain yang digunakan fani untuk membalut luka itu sekarang dipenuhi darah yang sudah kering.


"Tangan kamu udah gak sakit lagi?"


Fani menatap Rian sedikit khawatir


"Udah dibilangin gak apa-apa, ini darahnya udah kering kok, untung kakak langsung nutupin pake kain"


makasih ya kak, meskipun perhatian kakak cuman sebatas rasa khawatir seorang kakak kelas ke adik kelasnya.


"Meskipun yang sakit tangan kiri kamu, kamu tetap akan kesusahan kalau main basket, kamu yakin gak mau ke rumah sakit?"


"Lomba basket masih satu Minggu lagi kak, tangan aku pasti udah sembuh Minggu depan jadi gak perlu khawatir, gak perlu ke rumah sakit"


"Kalau beneran gak apa-apa yaudah,


tapi besok yang nyetir mobil ke sekolah aku aja ya"


"Hum Iyya kak"


Jam sudah menunjukkan pukul 10:30 malam, tapi Fani dan Rian masih belum bisa menutup matanya, tidak seperti malam-malam sebelumnya malam ini mereka berbagi tempat tidur, siang tadi mereka sepakat berbagi tempat tidur tapi tetap menjaga jarak, mereka berbaring saling membelakangi.


"Kak Fani udah tidur?"


Rian mencoba bicara pada fani karna tidak merasa mengantuk sama sekali.


"Belum, aku belum mengantuk"


Rasa ngantuk ku hilang begitu saja malam ini


"Aku juga belum ngantuk kak"


Rian bangun dari tempat tidur lalu duduk di pinggiran kasur,


Dia sedang sibuk memikirkan sesuatu.


"Gimana kalau kita main catur, mau gak kak?"


Mendengar ajakan Rian, Fani bangun dari tempat tidur lalu duduk di sofa yang ada di kamar itu.


Rian hanya menatap fani yang pindah ke sofa tanpa membalas ucapannya, dia pikir Fani marah karna telah mengajaknya bermain catur. Rian tidak berani mengucapkan apapun saat ini.


Melihat Rian yang hanya berdiam diri di pinggir kasur, Fani mengerutkan keningnya.


"Bukannya tadi ngajak main catur ya? Ngapain masih disitu?"


mendengar ucapan fani, Rian tersenyum lebar seolah menang undian berhadiah, dia langsung menghampiri Fani yang duduk di sofa, lalu mengambil kotak catur di bawah meja.


"Maaf kak, aku pikir kakak gak mau"


"Aku mau kok, lagian aku suka main catur"


Setelah beberapa saat, mereka selesai memasang semua pion di tempatnya masing-masing.


"Aku mulai ya kak"


"Iyya"


Rian mengangkat salah satu pionnya, lalu kemudian Fani. Babak pertama di menangkan oleh Fani, Rian benar-benar kalah telak, Fani dengan mudah mengalahkannya. Dia kehilangan rajanya hanya dalam beberapa menit.


"kak Fani mainnya jangan terlalu serius dong kak, kalau kayak gini aku gak bakalan bisa menang"


kalau tahu bakalan kayak gini, mending ngajak kak Fani main game online aja tadi, kak Fani jago banget sih main catur.


"Aku main kayak biasanya kok, ini baru satu babak kamu masih punya kesempatan, kita bisa main lagi"


"Iyya kak"masih punya kesempatan? Kesempatan darimana kak, mustahil aku bisa ngalahin kamu kak , kakak mainnya kayak lagi lomba aja.


Sudah 1 jam lebih mereka bermain catur, entah sudah berapa babak yang mereka mainkan dan Rian masih belum memenangkan satupun babak. Dia sudah putus asa, dan mulai agak mengantuk.


Fani juga mulai bosan karna dari tadi dia tidak pernah kalah, fani sama sekali tidak tertantang dengan permainan Rian yang sangat mudah dikalahkan.


Tanpa sadar dia menguap di depan rian, Rian yang melihat Fani menguap tentu saja merasa senang, karna tidak perlu lanjut bermain catur lagi.


"Kak Fani udah ngantuk ya? Udah mau tidur sekarang?"


Jawab Iyya aja kak, please aku juga udah ngantuk


"Iyya, aku udah ngantuk, kita tidur sekarang aja"


lagian besok hari Senin, kalau gak tidur sekarang besok bisa bangun kesiangan


Setelah membereskan pion pion catur, Rian dan Fani menuju kasur, posisi fani membelakangi Rian seperti tadi tapi kali ini Rian mengubah posisi tidurnya, dia menghadap ke arah fani.


Fani mungkin tidak akan menyadari hingga matahari terbit bahwa pria yang dianggapnya hanya adik kelas itu, ia peluk sepanjang malam.


Skip pagi


Rian bangun tidur lebih dulu, dia menyadari lengan kanannya terasa berat. Semalam Fani memeluk Rian tanpa sengaja, mungkin karna kebiasaannya memeluk guling yang membuatnya melakukan itu.


Rian hanya tersenyum melihat Fani yang masih terlelap, beberapa menit kemudian Rian mencoba mengangkat kepala Fani dengan pelan dan memindahkannya pada bantal, agar wanita itu tidak terbangun dia benar-benar melakukannya dengan sangat lembut.


Jam sudah menunjukkan pukul 06:52, Rian sudah lengkap dengan seragam sekolahnya, begitu pula dengan fani.


"Kita sarapan dulu ya kak"


Ucap Rian sambil memasukkan beberapa buku kedalam tas ranselnya


"tapi aku belum masak apa-apa, tadi bangun agak telat"


"Kita sarapan roti tawar pake selai juga gak apa-apa kok, asalkan sarapannya sama kak fani, Rian makan apapun juga enak"


"Ya udah hari ini kita sarapan roti, aku masaknya besok aja ya"


Rian dan Fani duduk berhadapan di meja makan, Fani selesai mengoles selai strawberry pada rotinya sedangkan Rian sedang kesusahan membuka penutup selai nanas di tangannya.

__ADS_1


"Sini aku bantu bukain selainya, biar sekalian aku yang oles ke rotinya"


Fani meraih selai nanas di tangan kanan Rian lalu mengambil dua lapis roti


"Makasih ya kak"


makin lama sifat peduli kakak makin keliatan, lagian percuma nutupin sifat kakak yang sebenarnya di depan aku.


Selesai sarapan, Mereka langsung berangkat ke sekolah. Karna tangan Rian masih sakit, Fani yang menyetir mobil hari ini.


Mobil mereka memasuki gerbang sekolah, Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah.


"Aku turun duluan ya"


"Iyya kak, tapi gak usah lari-lari kayak kemarin nanti kakak bisa jatuh"


"Iya"


Fani dan Rian tidak ingin hubungan mereka diketahui satupun siswa di sekolah ini, itulah mengapa mereka menjaga jarak dan tidak ingin orang lain tahu bahwa mereka berangkat ke sekolah bersama.


Sebenarnya menikah saat masih berstatus pelajar bukanlah hal yang diizinkan pihak sekolah.


Meskipun kepala sekolah SMA Nusa Bangsa ini menghadiri pernikahan siswanya dan merestui hubungan mereka, peraturan sekolah tetaplah peraturan, jika hubungan mereka terekspos akan ada sanksinya, kemungkinan untuk dikeluarkan dari sekolah tetap akan ada.


Kelas XII IPA


Fani sedang duduk sambil  menopang dagu menggunakan tangan kanannya, serta tangan kirinya memegang sebuah buku, sedangkan Lina sedang sibuk menjelajahi berita terbaru di sosial media, lalu tiba-tiba Lina berhenti menggeser layar HPnya ia melihat sebuah promosi film zombie terbaru yang akan ditayangkan hari ini di bioskop.


Lina berfikir sejenak lalu menatap Fani yang masih fokus dengan buku ditangannya.


"Fani jalan yuk!!"


Fani menoleh pada Lina, dia tidak mengerti kenapa Lina mengajaknya jalan padahal jam pelajaran pertama bahkan belum masuk.


"Ini masih pagi Lina! kamu mau jalan kemana?, Kita bahkan belum masuk jam pertama"


"Yaa maksud aku bukan sekarang juga Fani, ya kali kita bolos sekolah gara-gara jalan, aku mau nonton film zombie terbaru di bioskop"


"Yaudah nonton aja"


"Masa aku nonton sendiri sih? Gak asik dong"


"Terus kamu mau minta aku temenin gitu?"


Lina tersenyum lalu mengangguk pasti pada fani.


"Ayo dong fan, kita udah lama gak jalan-jalan, kita nonton bioskop terus abis itu shopping di mall"


"Gak ah, aku malas Lin"


"Kalau gitu apa kita nonton di Netflix aja ya flimnya? nontonnya di rumah kamu aja, mau gak fan?"


Mendengar ucapan Lina, Fani tiba-tiba ingat kalau sekarang dia tidak tinggal di rumah orang tuanya lagi, kalau Lina ke rumah barunya dia pasti akan tahu bahwa dia sudah menikah.


Meskipun Lina adalah satu-satunya sahabat Fani, dia tetap tidak bisa memberi tahu Lina bahwa dia sudah menikah, setidaknya tidak untuk saat ini.


"kamu mau? kamu beneran mau kan?, Keputusan kamu gak boleh diubah lagi! Fix, kita jalan-jalan hari ini"


Setelah jam pelajaran terakhir selesai, Fani meminta Lina untuk pulang duluan, Fani dan lina sepakat untuk pulang mengganti seragam sekolah mereka terlebih dahulu.


Lina akan menjemput Fani jam 1 siang di tempat yang Fani tentukan.


Perjalanan pulang


"Hari ini Lina ngajak aku jalan, kamu gak apa-apa kan aku tinggal sendiri?"


Fani bertanya pada Rian tanpa menoleh, karna  ia fokus menyetir


"Kak Fani mau jalan kemana emangnya?"


"Lina ngajak aku ke bioskop, katanya ada film zombie terbaru, dia gak mau nonton sendiri, aku juga udah lama gak jalan-jalan di mall bareng lina"


"Jalannya cuman sama kak Lina kan? Aku gak apa-apa kok, asalkan kakak gak jalan sama laki-laki lain"


"Aku nontonnya cuman sama lina doang, lagian aku gak punya teman laki-laki kok"


Rian tersenyum saat Fani mengatakan bahwa dia tidak punya teman laki-laki.


"Ya udah, kalau sampai rumah kakak langsung siap-siap, gak usah masak nanti aku pesan go-food aja"


"Iyya, tapi kamu beneran gak apa-apa kan aku tinggal?, Aku mungkin pulangnya jam 5 sore, soalnya Lina mau belanja-belanja dulu"


"Iyya kak, aku gak apa-apa kok"


Lagian aku bisa ke rumah Aldi main PS, terus pulang sebelum kakak ada di rumah


Jam sudah menunjukkan pukul 13:05 siang. Fani sudah siap, dia mengurai rambutnya seperti biasa, menggunakan make up tipis yang berkesan natural, Fani memakai baju kaos lengan pendek yang dipakaikan jaket berwarna biru muda, dengan rok warna putih yang panjangnya sedikit di atas lutut, tak lupa sepatu sneaker yang menambah kesan modis pada dirinya.


Lina menelfon Fani saat ingin menjemputnya, ia tidak tahu harus menjemputnya dimana karna Fani berkata bahwa dia tidak perlu dijemput di rumah orang tuanya.


Calling Fani


"Fani kamu mau aku jemput dimana?"


"Jemput aku di depan kampus Universitas Gunadarma lin"


"Ok, bentar lagi aku sampai"


Rumah baru Fani dan Rian dekat dengan kampus itu jadi dia tidak butuh waktu lama untuk sampai di depan kampus, beberapa menit kemudian Lina menghentikan mobil berwarna putih miliknya di depan Fani.


"Udah lama ya nunggunya?"


Ucap Lina setelah membuka kaca jendela mobilnya


"Gak kok"


Fani masuk ke mobil Lina

__ADS_1


Hanya butuh waktu 30 menit mereka sudah sampai di mall, mall yang mereka tempati adalah mall yang dilengkapi bioskop, kafe dan restoran, jadi setelah selesai menonton mereka bisa langsung belanja dan makan dengan mudah.


Lina memarkirkan mobilnya, setelah itu mereka keluar dari mobil bersama.


"Kita langsung pesan tiket yuk, nanti tiketnya kehabisan"


Lina menarik lengan Fani sambil berlari-lari kecil


"Iyya Lin, sabar dong baru juga sampai"


"Kalau kita gak buru-buru tiket nontonnya bisa abis Fani!!"


"Iyya, Lina!!"


Lina sudah selesai memesan tiket dan popcorn, mereka duduk di barisan paling depan tapi tempat duduk mereka ada di pinggir.


"Wah flimnya udah mulai nih fan, pasti seru banget"


"Iyya, udah bicaranya nonton aja"


2 jam kemudian flim selesai, para penonton di kursi belakang keluar sedikit demi sedikit. Begitu pula dengan Fani dan lina, mereka sekarang sudah keluar dari bioskop.


"Flimnya bagus banget yaa fan, gak nyesel aku datang kesini"


"Iyya, tapi aku gak nonton semuanya soalnya tadi aku ketiduran"


"Laper nih, cari makan dulu yuk"


Fani menatap layar ponselnya, ia melihat jam yang menunjukkan pukul 15:30, itu artinya dia masih punya waktu 1 jam 30 menit sebelum pulang.


"kita makan di restoran yang di lantai 2 yuk, aku suka makanan penutup mereka"


"Ya udah kita langsung naik aja yuk"


Setelah memesan, 15 menit kemudian makanan mereka sudah tersaji di meja mereka, Mereka langsung menyantap hidangan tersebut.


"Lin kamu pesan makanan penutup apa tadi?"


"aku pesan cake rasa coklat sama strawberry, kamu pengen rasa apa emang? Mau aku minta ganti?"


"Gak kok, aku suka banget cake strawberry mereka, aku pikir kamu gak pesan yang rasa strawberry"


Di sudut kanan restoran itu, ada seorang laki-laki yang sejak tadi memperhatikan Fani, dia sepertinya menunggu kedua wanita itu selesai makan hingga hanya makanan penutup yang dihidangkan di meja itu. orang itu menghampiri meja Fani dan Lina.


"Hai boleh gak aku duduk disini?"


Ucap seorang laki-laki pada Fani dan Lina,


Fani tidak peduli dengan orang yang menyapanya itu, sedangkan Lina menatap intens laki-laki tampan yang ingin bergabung dengan mereka.


Setiap Meja yang ada di restoran itu memiliki 4 kursi, karna mejanya berbentuk bundar mereka semua terlihat berhadapan.


"Iyya, duduk aja"


Ucap Lina pada laki-laki yang tidak dikenalnya itu.


"Kenalin nama aku kevin Dharmawangsa, biasa di panggil Kevin"


Dia mengulurkan tangannya pada Lina terlebih dahulu, karna Fani sama sekali tidak peduli padanya.


"Namaku Delina Anggraini, panggil aja Lina"


Lina membalas uluran tangan kevin


Setelah berkenalan dengan Lina, kevin mengulurkan tangannya pada Fani yang masih sibuk memakan cake nya.


"Kalau nama kamu siapa?"


Tanyanya pada Fani karna uluran tangannya masih tidak di anggap oleh Fani.


Lina yang melihat Fani bersikap seperti itu, tentu saja tahu bahwa Fani tidak berminat berkenalan.


"Namanya Stefani Olivia Saputra, biasa aku panggil Fani"


Ucap Lina lalu tersenyum agak tidak enak.


Ini pertama kalinya kevin diabaikan oleh seorang wanita saat berkenalan, biasanya dia akan langsung mendapatkan senyuman manis dari wanita yang diajaknya berkenalan, tapi kali ini, jangankan disenyumin diangggap aja nggak.


Mereka sekarang duduk bertiga, Fani masih bersikap seolah tidak ada kevin yang duduk bersama mereka.


"Kalian sekolah dimana?"


Tanya kevin basa-basi


Pertanyaannya ditujukan untuk mereka berdua, tapi Fian hanya menatap fani sejak tadi.


Fani sama sekali tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan tersebut, karna tidak mendapat jawaban dari Fani, kevin kemudian menatap Lina lalu tersenyum padanya.


"Kami dari SMA Nusa Bangsa, kalau kamu?"


Lina membalas ucapan Kevin, meskipun dia tahu  kevin mungkin ingin berbicara dengan Fani saat ini. Ini bukan pertama kalinya bagi lina, ia harus membalas ucapan laki-laki yang ingin dekat dengan Fani.


Lina berteman dengan Fani hampir 3 tahun, dia sangat mengenal sifat Fani yang tidak mudah didekati para laki-laki.


"Aku dari SMA Cakrawala"



Rian (ganteng banget yaa🤣)



Fani💜 (cantik pake banget 💜)



ini Kevin yaa 💜

__ADS_1


__ADS_2