
rey berjalan keluar menuju ruang tengah sambil membawa bantal serta selimut merebahkan dirinya di sofa panjang menutup matanya dengan cepat dia terlelap ke alam mimpi karena terlalu capek.
pagi sekali rey bangun karena sudah janji akan mengantar quin ke rumah orang tuanya.
setelah mandi rey kembali ke kamarnya untungnya quin tidak mengunci nya dari dalam.
terlihat quin masih tertidur pulas.
dengan perlahan rey membangunkan quin.
" sayang bangun katanya mau ke tempat ibu "
quin menggeliat perlahan membuka matanya mencoba menetralkan pandangannya.
tiba tiba quin berjinggat kaget .
" ih ngapain sih " ucap quin mundur menjauh.
" ayo bangun katanya ke tempat ibu " ucap rey.
" siapa yg mau ke tempat ibu" ucap quin bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
dengan heran rey menatap quin.
" lo katanya kemaren " ucap rey dengan keras
tapi tidak ada jawaban.
setelah keluar dari kamar mandi nampak hanya wajahnya saja yg basah dan quin berganti baju.
" lo enggak mandi " tanya rey
quin hanya menggerakan bibir atasnya sambil berlalu ke luar kamar.
kebiasaan quin yg membuat rey heran adalah jarang mandi , bangun selalu siang .
kebiasaan itu semakin hari semakin terlihat kebencian quin dengan rey semakin menjadi tapi rey menganggapnya hanya biasa.
seperti pagi ini quin berteriak keras melempar piringnya ke lantai karena rey memeluknya dari belakang dia bergidik geli sambil mencoba menghapus bekas pegangan rey dengan tatapan tajam quin memandang sinis penuh kebencian.
rey hanya tertawa geli melihat quin .
" kenapa " rey terkekeh geli
" awas ya, sana pergi " quin lagi lagi bergidik geli menatap suaminya yg tertawa.
" hey kalau marah marah nanti cepat tua lo " ucap rey mencoba mendekat.
" awas jangan mendekat " ucap quin mundur.
" kenapa sih " tanya rey lebih mendekat.
" jauh jauh sana, geli " ucap quin.
" apa yg geli, emang di badan ku ada apa " tanya rey
__ADS_1
" enggak ada apa apa tapi hiiiii, sana " ucap quin semakin bergidik hebat sambil memegang tengkuknya dengan kedua tangannya sambil menjauh.
" sayang ada apa, apa ada sesuatu di badan ku " rey menyibak bajunya.
melihat rey yg lengah quin langsung berlari menuju kamar dan mengunci nya.
di dalam quin langsung naik di atas ranjang menarik selimut menutup dirinya dan bersembunyi.
rey mencoba menelpon seorang dokter ahli ke jiwa menanyakan ke adaan quin yg selalu menghindarinya.
sedangkan queen yg berada dalam selimut terus merasa geli bila membayangkan wajah rey suaminya .
sebelumya
setelah kejadian quin terbangun di malam hari paginya dia merasa sesuatu yg berbeda .
badanya terasa gatal tapi tidak menampakan bekas atau betolan quin bergegas ke kamar mandi mengguyur badanya dengan air dining agar gatal yg ada menghilang ternyata benar gatal yg di rasanya sedikit berkurang.
setelah selesai mandi quin merasa ada yg kurang entah apa tapi dia merasa matanya begitu berat membuatnya kembali menuju ke tempat tidurnya untuk merebahkan diri padahal waktu sudah menunjukan pukul enam pagi terdengar sayup rey membangunkannya dengan pelan, tapi rasa ngantuk yg begitu luar biasa membuat quin terlelap kembali dengan rambut yg masih basah .
dalam mimpi quin bertemu dengan seseorang pria dengan berpakaian putih bersih mendekatinya menyuruhnya duduk di sebuah kursi panjang yg terlihat di sebuah taman di mana samping kursi itu ada sebuah pohon besar tinggi menjulang dengan dahan yg rindang.
di mana di bagian batang banyak sekali bunga kecil yg tumbuh bermekaran dengan waran hitam.
di mana kelopaknya terdapat duri duri halus.
" duduklah " pria itu menyuruh quin duduk
" kita akan terus selalu bertemu, " ucapnya lagi dengan pandangan yang menatap ke depan tanpa
sejak itu apa bila quin melihat rey dia selalu merasa jijik karena sekujur tubuh yang terdapat anak ulat bulu yg berbagai bentuk berjalan di seluruh tubuh rey kadang di bagian tangan atau bagian badan lainya.
dan itu ada di waktu waktu tertentu saja.
pagi ini yg membuat quin berteriak karena kaget di peluk oleh rey bagian tangan rey ada beberapa ulat bulu yg menurut quin menempel di tangannya dengan takut dia melemparkan piring yg dia pegang sambil bergidik geli.
sambil menjauh quin menatap benci rey Yg wajahnya terlihat menyeringai mengejek padahal kenyataanya tidak.
" mau kemana kita " tanya quin
" mau ketemu dengan temanku " jelas rey yg melakukan kendaraan yang menuju sebuah klinik besar.
setibanya di sana quin terlihat biasa mengikuti rey yg menggandeng tangannya menyusuri lorong
" ko ke sini " tanya quin lagi karena melihat papan nama yg tertulis di sana.
" ini teman ku karena dia sibuk, jadi kita yg ke sini " ucap rey sambil menelpon seseorang. tidak lama perawat mempersilahkan mereka masuk.
dokter irwan mempersilahkan mereka duduk.
" apa kabar wan "
" baik, perkenalkan ini istri ku quin"
" quin "
__ADS_1
" irwan "
setelah berkenalan dan mengobrol sedikit lama dokter irwan menatap quin sambil tersenyum.
" maaf nyonya " irwan sedikit canggung
" quin cukup quin saja " balas quin
" baik, quin apa ada yg perlu di bicarakan " tanya dokter irwan.
quin yg sedikit bingung menatap ke arah rey.
" begini, maaf beberapa hari ini apa ada yg menganggu atau dulu quin pernah merasa trauma dengan sesuatu, contohnya seperti ulat, yg berbentuk lembek atau yg lain "
" maksud dokter " tanya quin tidak mengerti.
" ini saya punya gambar beberapa ulat dan cacing "dokter irwan menyodorkan nya ke arah quin.
quin melihat dengan seksama sambil menatap gambar.
" cantik setahu saya ulat ulat ini nantinya akan menjadi kupu kupi yg cantik " jelas quin dengan wajah tidak tampak ke takutan.
" oke baik, sekarang silahkan duduk di sini " ucap dokter irwan membawa quin untuk duduk di sebuah sofa empuk dengan sandaran di atasnya lengkap dengan beberapa bantal di sana.
" mau ngapain dok " tanya quin.
" begini beberapa hari ini rey menelpon saya, katanya ada yg aneh dengan kamu, jadi saya putuskan untuk memeriksanya, biar suami mu puas " ucap dokter irwan tertawa
" memang ada yg aneh dengan ku " tanya quin kepada rey.
" menurut ku begitu sayang habis setiap di dekati selalu jiji katanya geli "
" iya masak sih "
" iya sayang kemaren sampe lempar piring dan marah marah terus sembunyi "
" emmmm iya " ucap quin sedikit bingung
" sudah enggak usah di teruskan sekarang berbaring di sini ikuti aba aba saya " ucap dokter irwan.
setelah pemeriksaan selama satu jam mereka keluar membawa resep vitamin untuk quin.
quin dan rey pamit untuk pulang.
di dalam perjalanan quin dan rey hanya diam.
" sayang kenapa diam " tanya rey membuka suara.
" enggak, heran aja kok bisa sayang berinisiatif membawa aku ke psikiater , memang aku gila apa " tanya quin tidak percaya.
" bukan begitu sayang habis kamu aneh sih kayak gini kamu enggak apa apa biasa aja tapi kamu udah kumat menatap atau menyentuhku pun kalau jijik ada benci di matamu kamu menganggap ku musuh " jelas rey.
" masak sih segitunya aku " tanya quin bingung.
" sudah enggak usah di pikirkan " ucap rey menarik dan mencium kepalanya dengan lembut.
__ADS_1