Penakluk hati

Penakluk hati
Hadiah kecil tapi Terlalu besar


__ADS_3

Fani sudah sampai di rumah mertuanya,


Dia keluar dari mobil itu lalu memberikan kunci mobil tersebut pada pelayan yang berdiri sejak  tadi menunggunya.


Di rumah ini ada begitu banyak pelayan, Fani bahkan tidak mampu menghitung mereka, semua pekerjaan di rumah besar ini dikerjakan para pelayan.


Tidak ada satupun pekerjaan rumah yang bisa Fani lakukan, sebenarnya di rumah orang tuanya dia juga tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga, tapi setidaknya dia sesekali membantu bibi di rumah nya saat memasak.


Selesai mengganti pakaiannya, sekarang Fani sedang menonton TV di sofa ruang tamu, dia menggunakan kaos polos yang agak besar dan celana panjang, bunda Lia menghampiri menantunya yang sedang fokus menonton itu.


"Sayang kamu udah pulang ternyata?"


bunda Lia datang dengan sebuah kotak kecil ditangannya


"Iyya Bun Fani tadi langsung ke kamar ganti baju"


"Terus Rian mana sayang?"


"Rian hari ini latihan basket, tadi Fani di kasih kunci mobil terus disuruh pulang duluan Bun"


"Owh kalau gitu hadiahnya nanti bunda kasih kalau riannya udah ada"


"Iyya Bun"


Lapangan basket


Jam 04:45 sore


Terlihat para anak basket yang kecapean dan berkeringat.


Mereka sudah berlatih beberapa jam, latihan hari ini lebih lama dari biasanya


Bukan tanpa sebab, mereka melakukan itu karna 1 Minggu lagi akan ada lomba basket antar sekolah.


Ini adalah hari terakhir mereka latihan karna mereka biasanya istirahat 1 Minggu sebelum perlombaan agar tubuh mereka tidak kecapean.


"Latihan hari ini cukup sampai disini" ucap pak Erwin sang pelatih basket


"Pak kita bisa pulang sekarang gak?


Salah satu dari mereka bertanya


"Oke, kalian boleh pulang sekarang, tapi kalian jangan lupa tetap jaga kesehatan dan makan makanan yang sehat"


"Siap pak" serentak semua anggota anak basket menjawab.


Skip


Rian sudah berada di rumah orang tuanya saat ini, dia baru saja selesai membersihkan dirinya yang bermandikan keringat sore tadi.


Dia menuruni tangga dan melihat istri dan bundanya sedang makan Snack di ruang tamu bersama.


"hem kayaknya kak Fani lebih akrab sama bunda yaa daripada sama Rian"


suara Rian dan sindiran nya membuat bunda Lia memicingkan matanya


"Makanya kalau punya istri di jaga, masa baru 1 hari nikah udah disuruh pulang sendiri sih"


Ucapan bundanya membuat Rian merasa bersalah


"Tadi Rian gak tahu Bun kalau hari ini jadwalnya latihan basket, lagian ini latihan terakhirnya Rian kok, sekarang tinggal istirahat selama 1 Minggu, buat lomba"


Rian mencoba membela diri


"Syukur kalau ini hari terakhir, Bunda sih gak apa-apa, tapi kalau Fani pulang sendiri tiap hari, bunda gak yakin Mami sama papinya Fani gak apa-apa, bisa-bisa kamu dipecat sebagai menantunya "


bunda Lia lagi lagi mencoba mengancam putra kesayangannya itu.


Degh


Rian mencoba mencerna ucapan bundanya, setelah beberapa saat, Rian mulai menatap fani dengan rasa gelisah.


Fani yang melihat Rian seperti itu angkat bicara.


"Gak apa-apa kok, Fani juga udah biasa pulang sendiri"


Fani menatap Rian, dia mencoba membuat adik kelasnya itu menghilangkan kegelisahannya.


"Kayaknya Rian udah kapok yaa? Makanya jangan banyak tingkah yaa sayang"


Ucap Bunda Lia sambil terkekeh


"Rian gak banyak tingkah Bun, Rian cuman latihan basket kok"


Rian masih tetap membela dirinya


"Iyyah bunda percaya kok, karna kalian udah disini sekarang bunda Lia mau ngasih hadiah kecil buat kalian"


wanita paruh baya itu mengeluarkan kotak yang tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil


"Itu bukan kunci mobil lagi kan Bun? Tahun lalu pas Rian ulang tahun juga dikasih kado kayak gitu"


Rian tahu hadiah yang katanya kecil itu pasti tidaklah kecil seperti kotak hadiahnya.


"Belum juga dibuka udah nuduh² bunda, kamu  jangan gitu sayang, ini bukan kunci mobil kok"


bunda Lia tersenyum ke arah mereka berdua Sambil menyerahkan kotak hadiah itu.


Itu bukan kunci mobil sayang, tapi kunci rumah


-bunda Lia


"Kak Fani aja yang buka"


Rian ingin melihat ekspresi kaget Fani saat membuka kotak kecil itu. Kalau kotaknya kecil hadiahnya pasti bikin aku sama kakak kaget.


"Kalau gitu aku buka ya?"


Fani menatap Rian meminta persetujuan, setelah Rian mengangguk fani meraih kotak kecil itu lalu membukanya perlahan.


ini bukannya kunci rumah yaa? Masa sih bunda ngasih kunci rumah?.

__ADS_1


Fani mengernyitkan alisnya seolah tidak mengerti dengan apa yang ia lihat di kotak kecil itu, lalu menutup kembali kotaknya


Rian memperhatikan ekspresi wajah Fani, tapi karna fani tidak kaget dan malah kebingungan, Rian bertanya pada fani


"Kak isinya apa?"


"Hum itu coba kamu buka sendiri deh"


Rian membuka kotak hadiah itu sepenuhnya, terlihat kunci rumah berwarna gold yang terkesan mewah.


Kunci rumah? Bunda mau ngusir kami ?


"Bun kok isinya kunci rumah? Bunda mau ngusir kami yaa?" Rian bertanya menyelidik


"Bunda gak usir kalian kok, ini tuh hadiah dari ayah sama bunda buat kalian"


"Emang posisi rumahnya dimana Bun?"


"Di samping kampus Universitas Gunadarma, ini biar kalian mudah kuliah kedepannya"


"Owh gitu...makasih ya Bun"


"Fani sayang, kamu suka kan hadiah bunda?"


"Iyya Bun, suka kok tapi pindahan nya kapan bun?"


"Kalau itu gak usah dipikirin sayang, besok biar para pelayan yang mindahin barang² kamu kesana"


"Iyya Bun"


Skip pagi hari


Hari ini adalah hari Minggu, tapi Rian sudah lengkap dengan pakaian santainya dan bersiap untuk jalan-jalan, sementara wanita yang ingin di ajak jalan-jalan masih berada di kasur dengan selimut yang menutupi hampir seluruh badannya.


"Bangun kak, udah siang ini"


Rian mengusap lembut rambut Fani agar wanita itu bangun. Rian menatap jam di pergelangan tangannya, pukul 08:47 menit


"Kak Fani" Rian kembali mengusap rambut wanita yang dicintainya itu.


Fani mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menatap Rian yang sudah terlihat rapi dengan pakaian santainya.


"Kamu mau kemana?"


Fani bertanya sambil menguap karna masih sangat mengantuk


"Mau ngajak kak Fani jalan-jalan dong, inikan hari Minggu, Rian mau ngajak kak Fani pacaran di tempat umum"


ucapnya dengan semangat


"Tapi aku belum mandi Rian"


Degh


Ini pertama kalinya Fani memanggil namanya, jika hanya dengan memanggil namanya saja membuat jantungnya berdebar apalagi dengan hal hal lain.


"Kamu bisa siap-siap sekarang kak, aku tunggu di bawah ya?"


Skip


Fani sudah selesai dengan berdandan, rok selutut, baju kaos lengan panjang yang pas pada tubuhnya, rambut dibiarkan terurai, sepatu sneaker yang terlihat mewah dan tidak lupa ia pasang cincin berlian bukti bahwa ia sekarang sudah berstatus istri.


Setelah melihat Fani menuruni tangga Rian memberikan senyum manisnya pada wanita itu.


"Kak Kita berangkat sekarang yuk"


"Emang kita mau kemana?"


"Nanti kak Fani liat sendiri aja"


Sepanjang perjalanan , Rian sesekali tersenyum pada fani, dia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.


Setelah menempuh jarak beberapa jam, kini Rian memarkirkan mobilnya.


"Kakak suka gak tempat ini?"


Rian menatap fani sambil tersenyum


"Iyya suka kok, kita keluar yuk udaranya pasti sejuk"


Fani lebih memilih menatap keluar jendela mobil yang menampilkan pantai dengan pasir putih yang sangat indah.


"Iyya kak tapi kita makan siang dulu ya? Ini hampir jam 2 siang, tadi pagi kakak gak sarapan"


"Iyya kita cari makan dulu"


Fani menyetujui permintaan Rian, sebenarnya sejak tadi dia memang kelaparan, tapi Fani tidak ingin merepotkan Rian saat masih diperjalanan.


Rian mengajak fani ke dalam restauran, mereka sedang duduk di sebuah restauran yang menghadap ke arah laut, tempat yang bagus untuk menikmati makanan sambil menikmati pemandangan pantai dan ombak laut.


"Kak kata bunda kita nanti pulangnya langsung ke rumah baru aja"


"Kita gak pamitan dulu ke ayah sama bunda?"


"Katanya gak usah kak, barang-barang juga udah dipindahin ke rumah baru kita kak"


"Iyya kita langsung pulang ke sana"


Setelah selesai makan, Mereka memutuskan berjalan-jalan di pinggir pantai.


Cuaca hari ini cukup bagus karna matahari tidak terlalu panas dan awan juga tidak terlalu mendung.


Sambil menyusuri pinggir pantai, Rian mencoba mengungkapkan perasaan tulusnya pada wanita di sampingnya.


"Kak"


Panggilan Rian membuat orang yang dipanggil menoleh


"Iyya?"


Fani menoleh ke arah Rian,

__ADS_1


Rian kemudian tersenyum pada wanita itu lalu meraih kedua tangannya.


"Aku sangat mencintaimu kak"


hati dan pikiranku hanya dipenuhi tentangmu kak, aku benar-benar menyayangimu kak.


"Aku tahu Rian, kamu tidak akan bersikap baik seperti ini jika kamu tidak mencintaiku, aku bersyukur karna pria yang menikah denganku sangat mencintaiku"


aku tahu Rian, perasaanmu padaku bukan main, tapi saat ini hatiku benar-benar belum bisa menerima kehadiranmu.


Rian menggenggam kedua tangan Fani, dia menatap wanita itu dengan penuh arti, mencoba mencari celah apakah Fani punya sedikit saja perasaan untuknya, tapi beberapa saat kemudian dia mulai menundukkan kepalanya.


Kedua bola mata indah Fani tidak menunjukkan Sedikitpun perasaan padanya. Yang dia lihat hanyalah Tatapan seolah dia bukan apa-apa.


"Aku akan mengisi hari-hari mu dengan kasih sayangku kak, aku gak akan biarin air mata kamu menetes, aku akan selalu di sisimu sampai kapanpun"


aku akan menunggumu kak, cepat ataupun lambat tak masalah bagiku, karna kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku.


Rian kembali menatap fani sambil tersenyum.


"Maaf rian, maafkan aku..aku terlalu egois, hatiku masih terlalu takut, takut akan kehilangan, takut tersakiti, terlalu besar luka yang kumiliki, aku mencoba menutupinya secara perlahan selama ini dan aku takut luka ini akan berimbas padamu"


Fani membalas ucapan Rian dalam hati, dia takut ucapannya akan menyakiti pria yang mencintainya itu.


Skip


Pukul 05:34 sore


Fani masih tertidur pulas di dalam mobil, Rian sesekali melirik Fani sambil menyetir. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar, Rian berhenti tepat di depan rumah itu. Sebelum turun dari mobil, dia membangunkan Fani terlebih dahulu.


"Kak, bangun kak"


Rian mengelus rambut Fani beberapa kali


"Hm?, Udah sampai yaa?"


Pertanyaannya di angguki oleh Rian


"Kita bisa turun sekarang kak"


Rian keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Fani.


Saat mereka berdua turun dari mobil, Rian merogoh kantong jaketnya lalu mengeluarkan kunci rumah.


Hm katanya hadiah kecil, ini rumahnya terlalu besar kalau cuma dihuni 2 orang Bun


-fani


Bunda kalau ngasih hadiah emang gak main-main, udah rumahnya besar, 2 lantai, halamannya luas banget lagi.


-rian


Rian membuka pintu rumah dengan kunci Yang dia pegang, setelah menyusuri setiap sudut ruangan, Fani agak heran karna ruangan dan barang di rumah ini mirip dengan barang² di rumah mertuanya, hanya saja modelnya lebih kecil, seperti sofa, kasur dan tata letak fasilitas lainnya. 


Fani dan Rian sekarang duduk di sofa ruang tamu, mereka sudah mengecek semua ruangan, di lantai 1 ada ruang tamu, ruang makan, dapur, ruang olahraga dan kolam renang di bagian belakang rumah.


Sedangkan lantai 2 ada 1 kamar yang dilengkapi kamar mandi, hanya ada satu kamar, tapi cukup luas karna di dalam ada sofa, meja dan beberapa rak buku yang tersusun.


"Gimana kak? Kata bunda, model ruangan dan barang yang kita pakai di rumah ayah, dibeli lagi sama bunda, biar kita mudah terbiasa di rumah ini"


semoga kamu suka yaa kak, aku cuman pengen bikin kakak nyaman.


"Iyya aku cuman agak heran karna barangnya sama persis, cuman model yang ada disini lebih mini"


aku berharap semuanya akan baik-baik saja


"Tapi karna kamarnya ada satu, kita tetap satu kamar ya kak, aku bakal tidur di sofa kayak biasanya"


"Kamu gak perlu tidur di sofa terus, kita bisa tidur di kasur yang sama, tapi tetap jaga jarak"


"Kalau kak Fani bilang gitu, aku nurut aja kak"


"Aku mandi duluan ya? Soalnya kamar mandinya cuman satu"


"Iyya kakak duluan aja"


Fani menaiki tangga menuju lantai 2, dan masuk ke kamar untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, ia turun ke lantai bawah berniat memberi tahu Rian bahwa ia sudah selesai, tapi Fani tidak melihat Rian di sofa, beberapa saat kemudian ia mendengar suara barang pecah dari arah dapur.


"Rian kamu ngapain?? Tangan kamu berdarah!"


Fani kaget melihat tangan Rian yang tak berhenti mengeluarkan darah, hal itu membuat suaranya agak meninggi.


Dia celingukan mencari kain untuk menutupi pendarahan di tangan Rian, setelah melihat sehelai kain di sudut dapur ia menghampiri Rian.


"Ini gak sengaja kak, aku mau bikin teh hangat buat kakak, tapi karna tangan Rian licin gelasnya jatuh"


rian tersenyum melihat Fani yang sedang membalutkan kain pada lukanya.


"Kamu gak perlu bikin teh lagi, lagian aku bisa bikin sendiri kok, tangan kamu pasti sakit, kita ke rumah sakit aja ya?"


"Gak usah kak, ini bukan apa-apa kok cuman berdarah dikit aja, bentar lagi juga sembuh"


ini sama sekali gak sakit kak, dibandingkan perasaanku yang belum bisa kakak terima.


"Yaudah kamu duduk aja disini, jangan banyak gerak, biar darahnya berhenti keluar. Aku mau masak dulu"


Rian duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan, dia memilih duduk menghadap dapur dan memperhatikan istrinya yang sedang fokus memasak.


Beberapa menit kemudian Fani membawa 2 piring nasi goreng ke meja makan, ini pertama kalinya ia memasak untuk rian, karna ia tidak pernah memasuki dapur saat masih di rumah mertuanya.


"Kak Fani ternyata pintar masak"


"Gak pintar sih, cuman kalau masak yang resepnya mudah aku bisa kok"


Rian tidak tahu bahwa Fani bisa memasak, bukan tanpa alasan, latar belakang keluarganya membuat Rian selama ini berfikir seperti itu.


Fani adalah putri tunggal keluarga Saputra, dia memiliki kakak laki-laki yang bernama Arif Saputra.


Keluarganya salah satu keluarga terkaya di Indonesia, begitu pula dengan keluarga Rian, ayah dari Rian yaitu Aditya Wijaya adalah pengusaha sukses, cabang perusahaannya ada di beberapa kota besar di berbagai negara.

__ADS_1


__ADS_2