
dengan senyum puas nisa bejalan mendahului quin dan ibunya sambil menenteng beberapa barang di tangannya.
" bu besok pulang di antar ya " quin meletakan piring di atas meja makan.
" ibu di jemput ayah sayang, sore ini kata ayah mau ke sini jadi besok pagi kita pulang sama sama " jelas hera.
" jadi ayah ke sini hari ini " senyum bahagia quin telihat jelas.
" iya "
padahal baru beberapa hari Hendra pulang.
" kalau kenapa, " tanya hera heran.
" enggak kangen aja dengan ayah "
" heiii baru juga beberapa hari "
" iya bu perasaan quin udah lama, tapi apa yahh quin bingung "jelas quin tidak mengerti dengan apa yg di katakan ya ada rasa berbeda entah apa.
" kok gitu " hera menatap anak semata wayangnya dengan lekat.
" iya bu, lagian juga quin rasanya tidak ingin ibu dan ayah pulang, maunya Quin itu ibu dan ayah di sini aja "
hera menatap lagi anaknya.
" heiii ayah sama ibu harus pulang karena itu kamu jadi istri yg baik, jangan suka membantah suami, ingat kalau ada masalah cari dulu, tanyakan dan baru selesaikan, jangan asal tuduh ingat jadi wanita dewasa " hera memeluk erat quin matanya berkaca kaca.
" ibuk kenapa " tanya quin melihat tinggal ibunya yg sangat berbeda.
" enggak ibu cuma memberi wejangan " ucap hera melepas pelukan nya
pelukan erat enggan di lepas oleh kedua orang tuanya membuat quin terharu dan terisak .
" sudah sudah ayo " ajak Hendra.
" sebentar ibu belum puas " ucap hera semakin mengeratkan pelukan nya dan mencium beberapa kali pucuk kepala quin .
" ayo " ucap Hendra.
dengan enggan hera melepas quin.
" ingat jadi dewasa" ucap hera lagi.
quin hanay mengangguk.
hendra dan hera menyalami alex
entah kenapa hari itu sangat berbeda penuh drama padahal sebelum nya tidak seperti itu.
" aduh cepetan dong " teriak nisa di dalam mobil.
dengan senyum mereka berdua melambaikan tangan. masuk ke dalam mobil dan hera tidak henti hentinya melambaikan tangan dengan senyumnya yg terlihat manis.
" sudah ayo masuk " rey meraih pinggang quin .
" kapan kita ke tempat ibu" tanya quin
" ha baru aja ibu pulang "
__ADS_1
" ihhh "
" iya iya nanti kita atur ya " rey menatap quin yg marah meninggalkan rey lebih dulu.
" sayang " teriak rey
malam itu quin terjaga dalam tidurnya dia bermimpi sangat aneh jantungnya berdebar kencang keringatnya mengalir deras hawa panas membuatnya bangkit dari tempat tidur masuk ke kamar mandi.
arey yg tertidur sedikit terganggu karena sebelum masuk ke kamar mandi quin menyalakan lampu kamar .
setelah selesai membasuh wajahnya quin berjalan menuju tempat tidurnya duduk di sisi diam seribu bahasa.
" ada apa sayang " tanya rey yg melihat quin duduk membelakangi
tidak ada jawaban dari quin rey pun bangun melirik quin.
" sayang, kalau kenapa " tanya rey lagi.
quin hanya diam dan menoleh ke arah alex dengan tersenyum perlahan dia memutar dan merebahkan badanya di samping rey memeluknya dengan erat.
" sayang kenapa " tanya rey lagi sambil memperhatikan wajah quin.
" enggak apa apa ayo tidur " ucap quin pelan sambil memejamkan mata.
dengan kesal quin berjalan menuju kamar membuat rey bingung.
sudah satu bulan sikap quin berubah tidak ingin di sentuh oleh rey .
##
" sayang Ambilan handuk dong " terik rey di dalam. kamar.
" ambil sendiri " ucap quin tampa perduli.
dengan tergesa-gesa rey keluar dari kamar mandi dengan wajah sedikit marah menatap quin yg sibuk memainkan ponselnya.
setelah selesai berpakaian rapi berjalan mendekati quin.
" ada apa " dengan wajah datar quin menatap tajam rey .
" sayang kamu kenapa "
" haaa kenapa, enggak sana sudah kerja " quin memalingkan wajahnya tanpa bersalah.
" ya Allah kamu kenapa sayang, beberapa hari ini kamu tu berbeda banget, enggak mau di sentuh, omongan mu kasar kerjaan mu hanay duduk, ada apa sih " tanya rey sedikit kesal karena quin jauh berbeda sekarang
" berbeda, enggak ada yg berbeda " jelas quin
dengan mengerutkan dahinya.
" apa ada yg salah dengan aku " tanya rey.
" salah enggak " ucap quin. lagi.
" sini " rey mendekat ingin memegang tangan quin tapi dengan cepat di tepisnya.
" ihhhh sana kerja " ucap quin bangkit dari duduknya dan menjauh.
" ya sudah aku berangkat dulu " rey berlalu.
__ADS_1
quin menatap hilangnya rey di balik pintu dengan hembusan napas dalam quin duduk kembali dengan melipat tamang di atas dadanya pikirannya melayang mencoba mengingat kenangan manis nya bersama rey tapi nihil yg ada hanay sekelebat bayangan yg menggambarkan wajah rey yg sangat tidak dia suka quin merasa jijik untuk bersentuhan dengan rey hatinya tertutup rasa geli menyelimuti pikirannya.
entah apa hanya saja quin enggan mendekat atau pun bersentuhan .
" aku mau ke tempat ibu" ucap quin acuh.
" apa kok tiba tiba " jawab rey.
" kalau enggak mau antar aku ke sana sendiri " wajahnya memerah tidak Terima apa yg di katakan oleh rey dengan tatapan tajamnya.
" lo, sayang nanti kita bicarakan ya aku masih sibuk " jelas rey yg hanya menatap quin .
" isss dasar enggak perhatian " ucap quin.
" sayang bukanya enggak perhatian tapi aku masih sibuk "
" iya sibuk terus, alasan " entah apa yg membuat quin begitu marah.
rey menatap tajam. ke arah quin sambil menhan emosi rey berjalan mendekati quin.
" ya sudah besok aku antar "
" besok aku mau sekarang "
" ini sudah sore sayang, besok ya, aku kerjakan pekerjaan ku dulu malam ini besok kita ke tempat ibu " jelas rey yg tidak mengerti kenapa sikap quin berubah.
malam itu rey menyelesaikan pekerjaannya waktu menunjukan jam dua malam .
rey berjalan ke kamar mandi membasuh badanya setelah selesai dia keluar mengenakan celana pendek dan kaos bersiap untuk tidur.
tanpa sengaja selimut quin sedikit melorot rey dengan perlahan menaikan selimutnya .
dengan perlahan merebahkan badanya di samping quin yg tertidur pulas.
baru beberapa menit rey menutup matanya rey merasa ada pergerakan di sampingan ternyata quin bangun dari tempat tidurnya dan turun berjalan di sudut kamar entah apa yg di lakukannya.
" sayang ngapain " tanya rey dengan menyalakan lampu.
quin tidak menjawab dia hanya berdiri membelakangi rey.
" sayang ayo tidur udah malam " ucap rey.
" sayang " ucap rey mengulang ketika rey hendak turun quin berbalik dan berjalan menuju ke tempat tidur naik dan merebahkan dirinya dengan membelakangi rey.
" sayang kenapa "
" jangan sentuh " quin menepis tangan rey yg mencoba memeluknya.
" kenapa " tanya rey bingung mencoba meraih quin lagi tapi dengan cepat quin bangun dari tempat tidur menatap tajam ke arah rey dengan napas yg tertahan.
" pergi " ucap quin keras.
" sayang "
" pergi, " ucap quin berteriak sambil bergidik geli dan mencoba membersihkan lengan yang habis di sentuh oleh rey.
" pergi pergi pergi " teriak quin.
" iya iya aku pergi, sekarang kamu tenang ya " rey berjalan ke luar meninggalkan quin.
__ADS_1