Penakluk hati

Penakluk hati
Takut ditinggalkan


__ADS_3

Dokter Stevan duduk di sofa ruang tamu dengan Bunda Lia dan Mami Rina.


"Tante tiba-tiba nelfon nyuruh ke sini.. yang sakit siapa tan?"


ucap Stevan


Bunda Lia baru saja ingin menjawab pertanyaan tersebut, namun Rian yang sedang menuruni tangga bersama Fani, menjawabnya terlebih dahulu.


"Aku yang sakit kak stev"


ucap Rian


Stevan yang melihat wajah Rian dipenuhi luka, menatap heran seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.


gak salah nih..?!! itu luka yang sudah jelas didapat setelah berkelahi!! seingatku dia belum pernah dapat luka seperti itu, ini pertama kalinya Rian berkelahi..


Rian ikut duduk di sofa bersama Fani.


tiba-tiba telepon yang berdering terdengar di dalam tas Rina.


Rina langsung menjawab panggilan telepon tersebut, setelah selesai berbincang dengan orang yang menelponnya, dia langsung tersenyum pada semua orang.


"siapa sist?"


ucap Lia


"ini anak pertama aku sist, malam ini dia akan tiba di bandara..dia memutuskan untuk bekerja bersama ayahnya di sini"


ucap Rina


"yang kemarin baru lulus kuliah di Harvard yaa sist.. Arif"


ucap Lia


"iya..tapi dia minta jemput sist..aku jadi gak enak kalau ninggalin kalian disini"


ucap Rina


"gak apa-apa..lagian aku juga ada acara malam ini, bentar lagi harus pergi, kamu bisa jemput anak kamu sekarang"


Ucap Lia


"Kak Arif ternyata udah lulus kuliah yaa..aku kok gak tau Mi..?!"


ucap Fani pada Maminya


"Mami gak ngasih tau kamu..karna hari kelulusannya bertepatan dengan hari pernikahan kalian sayang..udah yaa mami mau jemput kakak kamu dulu"


ucap Rina


"Hati-hati yaa sist"


ucap Lia


Rina pamit pada mereka, lalu meninggalkan rumah tersebut, dengan memakai mobil yang dikirim Saputra untuk menjemputnya.


Stevan menyuruh Rian duduk di sampingnya untuk mengobati lukanya. Sedangkan Bunda Lia dan Fani hanya memperhatikan.

__ADS_1


"Muka tampan kamu..kalau penuh luka kayak gini! gak bisa dibilang tampan lagi rian..kamu habis berkelahi sama siapa?"


ucap Stevan sambil tersenyum mengejek.


"Kak stev apa apaan sih!! muka aku meskipun lecet dikit tetap tampan tau!!"


ucap Rian dengan nada yang agak kesal


"Tetap tampan sih..tapi tampannya berkurang! yaa kan Tante?"


ucap Stevan yang membuat Lia dan Fani ikut tersenyum mengejek pada Rian, sedangkan Rian semakin kesal pada stevan


Kini wajah Rian diberi perban di beberapa bagian, Stevan juga memberi obat untuk diminum agar wajahnya cepat pulih.


"Ini obatnya diminum ya! jangan dibuang"


dulu kalau sakit..dia gak pernah mau minum obat, jadi proses pemulihannya tidak cepat


"biar obatnya gak dibuang, mendingan Fani aja yang simpan obatnya, Fani sayang..simpan obatnya baik-baik yaa..dan pastikan Rian minum obatnya"


ucap bunda Lia.


Bunda Lia tahu kelakuan putranya yang tidak suka meminum obat, dia juga kewalahan menghadapi sikap Rian saat sakit, jika dipaksa minum obat, rian tidak mau bicara pada siapapun.


Karna Rian yang sudah selesai diobati, Bunda Lia hendak pamit untuk menghadiri suatu acara.


"Bunda Pamit dulu yaa..kalian baik-baik disini, Rian.. jangan berkelahi lagi yaa sayang, nanti Fani gak bakalan suka kalau muka kamu penuh luka kayak gitu"


ucap bunda Lia lalu meninggalkan mereka.


mendengar ucapan bunda Lia, Rian mengerutkan keningnya, lalu menatap Fani, dia menunggu tanggapan Fani tentang wajahnya.Tetapi Fani tidak mengatakan apa-apa.


ucap Rian


"gak kok, muka kamu gak jelek, tapi.. biasa aja"


apa Rian bakal marah yaa..? aku pengen liat muka kesalnya lagi..! dia terlihat seperti anak kecil saat marah..


Stevan yang mendengar ucapan Fani menertawakan Rian dengan puas, saat ini terlihat jelas kalau Fani ingin mengerjai Rian, Stevan ingin menikmati wajah kesal rian, tapi Rian menatapnya dengan tajam saat ini.


"yang bilang kamu biasa aja itu Fani..! bukan aku! kenapa yang kamu tatap tajam malah aku..?


sebaiknya aku pulang sekarang, Rian sepertinya benar-benar marah.


"udah puas ketawanya..?"


ucap Rian pada stevan, kini suaranya terdengar tidak bersahabat.


"Iyya..aku pamit pulang dulu yaa..! jangan lupa minum obatnya!"


Stevan berdiri dari duduknya lalu meninggalkan mereka berdua.


"Rian..kamu gak nganterin Dokter stevan sampai depan..?"


Sepertinya dokter stevan takut yaa..Rian kelihatannya benar-benar marah.


Rian bukannya membalas ucapan Fani, dia malah balik bertanya padanya.

__ADS_1


"Jadi.. menurut kak Fani, muka aku biasa aja?"


Rian menatap fani yang sedang duduk di sampingnya.


Fani yang merasa sudah berhasil membuat Rian kesal, dia kemudian tersenyum pada Rian..dia ingin membuat Rian menunjukkan amarahnya.


Fani penasaran, bagaimana sikap Rian padanya jika yang membuat Rian marah adalah dirinya.


"hm..muka kamu emang biasa aja kok"


Fani memperhatikan ekspresi Rian dengan lekat.


Bukannya marah..Rian malah menarik Fani ke pangkuannya.


"Riaan! kamu mau ngapain?"


"Meskipun muka aku biasa aja...aku gak apa-apa, asalkan kak Fani gak ninggalin aku"


Meskipun kakak belum punya perasaan sama aku, setidaknya kak Fani berusaha nerima aku, selama kakak gak ninggalin aku..aku akan baik-baik saja


Fani menatap wajah Rian yang tadinya kesal.. kini terlihat seperti anak kecil, yang merasa takut jika ditinggal sendirian.


Rian membayangkan jika suatu hari nanti, Fani tiba-tiba membenci dirinya lalu meninggalkannya.


Dia tiba-tiba memeluk Fani, lalu menyembunyikan wajahnya di leher Fani.


"Riaan..kamu mikirnya kejauhan..siapa juga yang mau ninggalin kamu..? lagian..aku cuman bercanda, muka kamu ganteng kok"


Kamu mikirin apa sih..?aku kan cuman bercanda..lagian kita lagi bahas wajah kamu! ngapain sampai mikir aku ninggalin kamu.


"Gimana kalau suatu hari nanti.. kakak bosan..? Terus kak Fani tiba-tiba ninggalin aku gitu aja..?"


Suara Rian terdengar sangat kecil, Jika seandainya Fani tidak duduk di pangkuannya, Fani tidak akan mendengar ucapannya.


Fani mendorong sedikit tubuh Rian dengan lembut, agar dia bisa menatap wajah Rian.


Rian menundukkan kepalanya, Fani mengelus pipi Rian dengan lembut, Rian kemudian menutup matanya...lalu mencium tangan Fani yang mengelus pipinya.


Fani mulai khawatir...Rian bahkan tak ingin menatapnya, itu artinya dia serius dengan perkataannya..dia benar-benar takut jika Fani tiba-tiba meninggalkannya.


"Tatap aku Riaan... jangan kayak gini!"


Fani mulai merasa bersalah, dia tidak tahu jika candaannya akan berakhir seperti ini.


Rian masih mencium tangan Fani, dia membuka matanya perlahan...tepat saat matanya terbuka sempurna, ada buliran bening yang menetes di pipinya.


Fani yang melihat hal itu benar-benar merasa bersalah..dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.. tiba-tiba saja terlintas sebuah cara... agar Rian berhenti memikirkan prasangka yang tidak-tidak tentangnya.


Fani menarik pelan tengkuk leher Rian, Dia mencium bibir Rian sedikit lama. Rian kemudian menatap Fani dengan dalam


"Jangan ninggalin aku kak..!"


"Jangan mikirin hal yang bikin kamu gak nyaman...! aku disini..dan aku gak akan kemana-mana.."


"Janji yaa kak..!"


"Iyya"

__ADS_1


Rian mencium kening Fani lalu memeluknya dengan erat.


__ADS_2