
Bab10. Berhak?
***
Nina terlihat sudah membaik dari kesedihannya karena Erlangga begitu mendukungnya untuk tetap bertahan dengannya. Sedangkan Allura tidak mempunyai dukungan dari siapa pun, jika dia berbicara pada Sinta semua akan lebih rumit. Atau pada Ella, semua bahkan akan menjadi benang kusut.
Allura yang sudah tidak tahan melihat kemesraan mereka pun langsung berlalu pergi, berpura-pura tidak melihatnya adalah jalan satu-satunya bagi Allura.
Nina tersenyum puas melihat Allura yang melewati kamar Dinda tanpa menoleh. Baginya ini cukup untuk menjadi panawar rasa sakit dirinya, setidaknya Allura pun merasakan apa yang dirasakannya saat ini.
Allura berjalan dengan lambat menuruni tangga darurat. Meski ada lift namun dia nemilih berjalan kaki.
"Ini baru permulaan ya, sedikit sakit, bagaimana nanti," gumam Allura dengan lesu. Namun, setelah berucap tubuhnya di tabrak seseorang. Untung saja Allura sigap memegang pinggir tangga hingga dirinya tidak bergelinding jatuh.
Septian lelaki itu yang menabraknya, karena kekalutannya juga dia memilih menuruni tangga darurat. Lelaki itu terkejut dan langsung membantu Allura agar bisa berdiri.
"Maaf Nona, sungguh saya tidak sengaja," ucap Septian sembari mengatupkan kedua tangannya merasa bersalah.
"Iya, tidak apa-apa, Tuan," jawab Allura. Namun, saat Allura akan melanjutkan perjalanannya Septian berucap.
"Eh, tunggu! Bukannya kamu yang waktu itu sama Tante Ella? Apa kamu yang ...," ucapan Septian menggantung.
"Hmmm, iya, kamu siapa ya? Aku sama sekali tidak ingat," jawab Allura.
"Tidak apa-apa, tidak diingat juga tidak penting," seloroh Septian dengan kekehan kecil.
Sesaat mereka saling melempar kekehan kecil, hingga akhirnya Allura sadar kalau sudut bibir Septian mengeluarkam darah segar.
"Itu sudut bibirmu kenapa? Habis berkelahi ya? Pasti karena wanita." Tebak Allura dengan asal. Septian hanya tertawa lepas, karena memang benar kenyataannya.
"Yasudah turun saja dulu, aku bantu kamu untuk mengobatinya," ucap Allura, Septian menurut dia mengikuti langkah Allura yang akan pergi kemana.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan-jalan cukup jauh untuk mencari apotek. Setelah menemukan Allura meminta Septian duduk di depan apotek dan dia akan membeli obatnya. Setelah dari dalam membeli, Allura membersihkan luka Septian setelah selesai dia berkata.
"Kamu selingkuhannya, apa gimana?" ledek Allura menerka. Sepetian yang mendengar ucapan Allura hanya mengangkat sudut bibirnya sebelah.
"Masalah sepele sebenarnya," jawab Septian dengan entengnya.
"Tidak mungkin sepele sampai terjadi baku hantam." Tawa renyah terdengar dari bibir Allura yang manis. Septian masih menatap kedepan tanpa melihat lawan bicaranya.
"Aku hanya memeluk pacar sahabatku yang tengah terluka karena ditinggal menikah dengan wanita lain. Tetapi ... Sahabatku itu malah memukulku tanpa mendengarkan penjelasan dariku," ucap Septian menjelaskan. Tawa Allura semakin kencang membuat alis Septian memicing.
Gadis itu sungguh aneh, bisa-bisanya dia tertawa lepas seperti itu pada orang asing. Setelah puas tertawa Allura menoleh kearah Septian.
"Jadi maksud kamu wanita yang kamu peluk itu pacar sahabatmu, akan tetapi si lelakinya menikahi wanita lain, dan lelaki itu memukulmu karena cemburu. Dasar lelaki tidak punya hati ya dia," cerocos Allura seolah tidak menyukai sahabat Septian itu.
"Ya, begitu. Padahal aku juga berhak," lontar Septian yang membuat tawa Allura seketika terhenti dan merasa bingung dengan ucapan Septian.
"Berhak? Berhak apa maksudmu?" tanya Allura dengan penasaran.
"Hmmm, begitu?! aku kira kamu juga berhak atas perempuan itu karena kamu pacar keduanya." Lagi-lagi ledekan yang dia dengar dari gadis yang baru dia temui dua kali itu.
"Hmmm." Hanya gumaman yang Septian lontarkan. Dia tidak menyela ataupun membenarkan.
***
Setelah ledekan itu tercurahkan mereka mencari makanan untuk mengganjal perut mereka. Septian pun memberikan makan gratis pada Allura sebagai jasa karena telah mengobati lukanya dengan baik. Jika tidak ada Allura entah akan seperti apa lelaki itu yang sudah lelah dengan skenario yang dibuatnya sendiri.
Setelah makan malam selesai mereka berjalan-jalan terlebih dahulu tanpa saling berbicara cukup lama. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hidup bagi keduanya cukuplah rumit dan membuatnya sedikit bersedih, bahagia. Namun, semua mereka jalani tanpa mengeluh pada siapapun.
Setelah bergelut dengan pikiran masing-masing, keduanya pun saling menoleh bersamaan dan saling melempar tawa. Bisa-bisanya mereka tanpa berbicara meski jalan bersamaan.
"Lucu ya, bisa kuat cukup lama dalam pikiran masing-masing," ucap Allura, dia melipir saat di pinggir jalan ada kursi untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1
Septian mengikuti Allura dan duduk disampingnya dengan mata melihat keatas mencari ketenangan. Meski matanya tidak di suguhi dengan bintang yang kerlap-kerlip, akan tetapi baginya cukup pengisi hidupnya bahagia itu semua cukup membuat dirinya menjadi bersinar.
"Kenapa?" tanya Allura saat melihat tingkah Septian yang seperti penuh beban.
"Tidak ada apa-apa," jawab Septian singkat. Matanya tidak teralihkan menatap langit malam ini.
"Terima kasih ya, sudah membantu," ucapan terima kasih layak untuk Allura bagi Septian. Karena wanita itu sedikit mengobati rasa kesepiannya malam ini.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya yang selalu dia lewati dengan penantian dari seseorang untuk sekadar menjawab pesan singkatnya.
"Sama-sama." Allura melihat arloji yang tersemat di pergelangan Septian. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dengan helaan napas kasar dan mulai berdiri dia berpamitan pada Septian untuk pulang.
Septian mengizinkan, karena tidak ada hak baginya untuk menahan Allura. Namun, setelah mereka berjarak Septian mengingat bahwa dirinya belum berkenalan dengan gadis itu.
Kini Allura telah sampai di depan pintu kamarnya. Langkahnya terasa berat untuk menginjakkan kakinya kedalam sana. Perlahan Allura memegangi knop pintu dan menutup matanya rapat-rapat, dia masih terbayang bagaimana perlakuan Erlangga yang begitu romantis dengan wanita lain, sedangkan pada dirinya tidak sama sekali.
Krekk ... Suara pintu terbuka Allura menyembulkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat keadaan di dalam. Namun, hening tidak ada makhluk hidup di dalam sana. Allura bernapas lega dan masuk kedalam kamar dengan tenang.
Baru saja menutup pintu akan mengunci, seseorang dari luar dengan kasar membuka paksa pintu kamar Allura. Hingga Allura tekejut, terbukalah pintu dan di sana sudah ada Dinda yang berdiri dengan tatapan bengis. Dia masuk kedalam tanpa meminta izin.
"Kamu ini wanita seperti apa sih? Bisa-bisanya menikah dengan orang yang tidak dikenal. Perjodohan ini namanya, tidak laku kamu sampai tidak bisa menolak," kelakar Dinda yang muak pada Allura.
Allura hanya mendengarkan, dia sama sekali tidak memasukkan kata-kata pedas itu kedalam hatinya. Baginya pilihan yang diambil dia sudah tahu betul resikonya.
"Cepat bercerai dengan Masku aku tidak mau punya kakak ipar seperti kamu!" seru Dinda dengan nada tidak suka.
Dinda yang gemas pun mengguncangkan badan Allura karena dia sama sekali tidak berucap sepatah kata pun.
***
Bersambung ...
__ADS_1