
Bab28. Menunggu.
***
Dinda semakin kesal dengan Allura. Rasanya dia ingin menjambak dan mencakar wajah Allura yang selalu percaya diri jika dirinya adalah orang paling beruntung. Padahal mereka tahu jika Allura sama sekali tidak diharapkan oleh Erlangga.
Tangan Dinda mengepal kuat dan gemas hingga ia angkat. Namun, dia berusaha menahan rasa ingin menjambaknya agar Mamanya tidak menasihatinya lagi. Dan yang menang dan dibela tentu saja Allura bukan dirinya.
"Awas ya, kamu. Aku akan memaksa Nina untuk segera menikah dengan Masku," ucap Dinda sembari meninggalkan Allura begitu saja.
Allura hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik iparnya itu. Sebenarnya dia ingin dekat dengan Dinda agar dia tidak merasa kesepian, tetapi melihat history nya tidak memungkin Allura bisa menjadi bestie bersama Dinda.
"Andai kamu tahu aku menyayangi kamu meskipun kamu selalu berbuat tidak baik padaku," gumam Allura sembari melihat nanar kearah depan.
Ella yang melihat tingkah Allura pun merasa curiga. Dia yakin jika Dinda pasti telah membuatnya tidak nyaman, atau membuat Allura tersinggung.
Ella semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai di dekat Allura. Setelah di dekat Allura Ella langsung merangkulnya.
"Kenapa, Bu?" tanya Allura yang heran melihat tingkah mertuanya.
"Kamu sedang sedihkan karena ucapan Dinda, Ibu lihat pas tadi Dinda pergi wajah kamu sedih begitu," ungkap Ella merasa khawatir. Allura tersenyum menanggapi.
"Enggak kok, Ma. Dia selalu punya batasan meski membenciku,"
"Ibu harap kamu bisa bertahan ya, sayang,"
***
Erlangga tiba di kantor dan disapa oleh karyawan yang berpapasan dengannya. Tiba di ruangannya dia merasa heran karena tidak biasanya Septian sudah meminta izin sebentar untuk mengantarkan keluarganya.
Pikiran Erlangga masih terbayang-bayang dengan rasa penasaran akan tambahan yang diinginkan oleh Allura. Tetapi dia menepis pikiran itu mengingat dirinya harus bekerja dan merasa itu tidak penting mengingat dia akan menceraikannya setelah Nina bersedia menikah dengannya.
Jam makan siang telah datang, Allura kembali datang membawa kotak bekal seperti biasanya.
__ADS_1
"Apa aku mengganggumu, Tuan?" tanya Allura sembari menyembulkan kepalanya di depan pintu ruangan Erlangga. Erlangga yang tengah sibuk memandang Allura yang datang dan akan masuk tanpa mengetuk pintu hanya menolehnya sekilas sembari tangannya masih sibuk dengan berkas-berkas dokumen.
Tidak mendapat jawaban Allura hanya berdiri saja di sana sembari pintu terbuka sedikit. Meski kakinya kesemutan dia tetap menunggu sampai Erlangga mengizinkannya untuk masuk.
Saat Erlangga tidak sengaja menatap kearah pintu dia memicingkan alisnya, "ngapain kamu disitu?" tanya Erlangga.
"Saya menunggu Tuan memberi izin pada saya agar masuk," jawab Allura polos.
"Masuk saja, tidak lihat orang sedang sibuk!" ketus Erlangga yang masih sibuk.
Allura pun masuk dan menyimpan kotak bekalnya di meja kerja Erlangga.
"Meski Tuan sibuk, anda harus tetap makan," ucap Allura mengibgatkan.
"Ya, simpan saja disitu,"
Setelah mengatakan itu, Allura meletakkan kotak bekalnya di hadapan Erlangga. Sedangkan dirinya memilih duduk di sofa yang berada di sana. Berniat menunggu suaminya sampai selesai bekerja, dan memakan bekalnya.
Baru saja Allura mendudukkan bokongnya di sofa, pintu ruangan diketuk dan Allura tahu siapa pemilik suara itu.
"Oh, jadi begini kelakuan kamu dibelakang aku. Di depanku kamu pura-pura gak peduli sama dia sedangkan sekarang kamu begitu mesra dengannya sampai-sampai dibawakan bekal seperti ini," cerca Nina ketika melihat kotak bekal berada di meja Erlangga.
Namun, tatapan Erlangga bukan tertuju pada Nina, tetapi Septian yang mengikutinya dari belakang.
"Kalian habis dari mana?" tanya Erlangga, entah kenapa dia lebih curiga karena kedatangan mereka bersamaan.
"Tidak usah mengalihkan topik, Mas. Kamu jawab, setelah aku sakit karena perkataan Mamamu sekarang balasanmu begini. Mulai mencintai dia kamu?" jawab Nina mengalihkan pembicaraan yang keluar dari topik pertanyaannya.
"Tidak, masalahnya kalian jalan bareng keruanganku seperti telah ...,"
"Kamu menuduhku karena ingin terlihat benar dan akhirnya aku yang merasa bersalah dan meminta maaf padamu begitu," potong Nina yang tidak terima dengan pernyataan Erlangga.
Erlangga mengabaikan lebih dulu pekerjaannya meski belum kelar. Dia memilih membawa Nina keluar ruangannya dan membawanya untuk makan siang di restorant seperti biasanya.
__ADS_1
Allura yang melihat pertengkaram mereka hanya mengembuskan napas kasar. Lagi-lagi masakannya tidak sama sekali dicicipi oleh suaminya.
"Kenapa kamu masih diam di sana?" tanya Allura ketika melihat Septian yang masih bergeming di tempatnya semula.
Dengan cepat Septian berbalik badan hendak keluar, namun Allura menahannya dan meminta Septian untuk memakan bekal yang harusnya untuk Erlangga.
"Ya, jika boleh aku memakannya aku akan membawanya," ucap Septian sembari kakinya melangkah untuk membawa kotak bekal.
"Terima kasih," lontar Septian lalu dia berjalan melewati sofa akan keluar dari ruangan Erlangga meninggalakannya sendirian. Ketika satu langkah lagi menuju pintu Allura berkata.
"Kamu kok, kayaknya tegang saat di tanya suamiku. Apa yang kamu sembunyikan? Tidak ada udang dibalik batu bukan?" tebak Allura saat dia melihat ekspresi Septian.
"Bahkan kamu masuk saja tidak membawa dokumen, lalu untuk apa kamu datang keruangan suamiku?" tanya Allura lagi, namun septian masih bergeming. Dia tidak menjawab apapun yang dilontarkan Allura.
"Kenapa tidak jawab?" tanya lagi Allura yang sedikit heran. Apa mungkin Septian mengikuti Nina? Lalu untuk apa? Alasannya apa? Baginya sungguh itu sangat mencurigakan.
"Tidak apa Nona, saya hanya mengingatkannya saja,"
"Mengingatkan tentang apa?" tetapi Septian tidak menjawabnya. Dia memilih keluar dari ruangan Erlangga tanpa menjawab pertanyaan dari Allura.
"Ada yang aneh dari mereka berdua? Sebenanrnya hubungan mereka apa?" batin Allura bertanya-tanya. Tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting sebab dia hanya mengenal keduanya sekilas. Dia memutuskan untuk duduk kembali.
Sudah hampir satu jam Allura menunggu kedatangan Erlangga. Namun, lelaki itu tidak kunjung datang bersama kekasihnya, Allura hanya ingin menemani Erlangga bekerja, sama seperti Nina yang selalu menemaninya.
Tanpa terasa Allura sampai ketiduran di dalam, Erlangga datang seorang diri saat dia telah mengantarkan Nina. Ketika dia masuk kedalam ruangannya dia melihat Allura yang masih ada di sana dengan tertidur.
"Kenapa dia malah di sini? Untung Nina tidak ikut lagi kekantor, jika iya akan menjadi panjang merajuknya itu. Dia pasti menuduhku sudah mulai mau membuka hati untuknya," batin Erlangga sembari berjalan melewati Allura. Dia duduk di kursi kebesarannya dan melnajutkan pekerjaannya.
Allura menggeliat saat dirinya mulai terbangun dari tidur. Namun, ketika dia membuka mata ada seseuatu yang menutupi t*buhnya. Ya, jas Erlangga menutupi bagian tubuhnya. Allura menoleh kearah meja kerja Erlangga tetapi dia tidak menemukan suaminya. Tetapi perlakuan itu membuatnya berbunga-bunga. Dibalik kecuekannya Erlangga masih bisa perhatian padanya.
***
Jangan likenya, ya, tinggalkan jejak jalian😍😘
__ADS_1
Bersambung ...