Penantian Allura

Penantian Allura
Bab7. Mempelai Yang Tidak Dikenal


__ADS_3

Bab7. Mempelai yang tidak dikenal


***


Sinta mengambil ponselnya untuk menghubungi Ella. Namun, sebelum meneleponnya dia menoleh kearah Allura dengan lemas. Akhirnya dia terjatuh seolah kakinya tidak mampu lagi menopang tubuhnya.


"Mama," pekik Allura dengan cepat dia langsung memboyong Mama nya untuk duduk di sofa. Allura memijit kaki Sinta dengan telaten.


"Sudah Mama jangan memikirkan yang negatif terus pada Allura, doakan saja keputusan aku ini yang terbaik dan baik untuk kedepannya. Mama tidak percaya pada anak Ibu Ella? Tenang saja, Allura akan membuatnya jatuh cinta seperti Ibu Ella mencintai aku," ucap Allura panjang lebar. Sinta memandang bola mata anaknya dengan serius.


"Baiklah jika ini yang kamu mau, jika ini keputusan yang akan membuat kamu bahagia nantinya Mama ikhlas, Nak." Sinta merangkul Allura dengan erat. Meski setengah hati dia menerimanya.


***


Fitting baju telah dilakukan, semua sudah siap tinggal menunggu waktu untuk acara dimulai. Allura masih di dalam ruangan untuk di rias. Banyak yang takjub akan kecantikan yang terpancar di wajah Allura. Biasanya gadis itu jarang di berdandan hingga membuat orang-orang terkesima.


Apalagi Sinta yang melihat anak semata wayangnya akan menikah membuatnya menangis karena terharu. Mulai hari ini dan seterusnya dia tidak bisa mengatur Allura lagi, karena semua tanggung jawab telah beralih pada suaminya. Namun, yang ditakutkan Sinta apakah suaminya akan menerima Allura?


Tanpa perkenalan bahkan seperti perjodohan, tetapi jika melihat Ella yang baik ke semua orang Sinta yakin jika anaknya akan bahagia di tangan keluarga Ella.


"Cantik sekali dia, Sin," ucap Ella begitu terpana melihat kecantikan Allura. Sinta hanya menganggukkan kepalanya.


"Deg-degan tidak sayang?" tanya Ella pada Allura, wanita itu memegangi tangan Ella dengan bergetar. Sudah dipastikan jika Allura begitu nervous.


Ella pun mengedipkan matanya memberi isyarat pada Sinta agar dia pun datang menghampiri Allura dan duduk disampingnya untuk menenangkan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, itu hal biasa Mama juga dulu begini kok," lontar Sinta menenangkan Allura. Mereka berdua pun menjadi bernostalgia saat mengingat-ingat masa muda mereka yang akan menikah.


***


"Dinda! Dinda!" teriak Nina saat dia tiba di gedung yang telah diberitahu Dinda. Wanita itu sangat khawatir ketika dia mengetahui kebenaran bahwa ucapan Ella tidaklah main-main. Jika dia akan menikahkan Erlangga dan yang pasti bukan dirinya yang menjadi mempelai wanita.


Setelah sampai di depan pintu, Nina langsung membukanya dan berlari kearah Dinda. Dinda memutar badan dan dia tampak terkejut melihat Nina yang sudah banjir air mata seperti itu. Bukankah harusnya dia bahagia lantas mengapa malah menangis?


"Kenapa nangis, sih? Ini lagi pengantin bukannya di rias, malah lari-larian kesini," ucap Dinda dengan santainya. Dia kembali mendudukan bokongnya untuk duduk tanpa memghiraukan Nina.


"Kamu bisa santai seperti ini, sedangkan aku kebingungan dan sakit hati karena kakakmu Dinda!" teriak Nina tidak terima karena dia tak diacuhkan. Lalu Dinda pun memutar badan menghadap Nina. Alisnya mengernyit heran dengan ucapan sahabatnya itu.


"Harusnya kamu tuh senang mau jadi pengantin, bukan malah drama begini sih, Nina!" seru Dinda yang mulai jengah menghadapi Nina.


"Jangan bercanda Nina! Lalu siapa yang menikah dengan Mas Erlangga?" tanya Dinda tidak percaya.


Dia mencari ke kamar sebelah di mana kamar Erlangga untuk bersiap. Tanpa basa-basi Dinda membukanya tanpa mengetuk dan meminta izin terlebih dulu. Untung saja Erlangga sudah berpakaian dan mengancingkan kemejanya. Septian tidak bisa datang lebih awal sebab dia harus membereskan terlebih dulu pekerjaan Erlangga yang tertunda.


Erlangga masih santai mengancingkan kemejanya tanpa menghiraukan Dinda yang sudah emosi. Dinda lalu berjalan dan diam di hadapan Erlangga dengan wajah marahnya.


"Apa-apaan sih, Mas. Kamu katanya sayang, cinta sama Nina, lalu apa ini kamu mau menikah dengan wanita lain? Jelaskan maksudnya apa Mas?!" Dinda sudah tidak bisa meredam emosinya.


"Apa maksudmu? Bukankah Mama akan menikahkan aku dengan Nina, meski dia tidak mau?" tanya Erlangga berbalik pada Dinda. Namun, Dinda tidak menjawab. Dia langsung menarik tubuh Erlangga untuk kekamarnya dan melihat di sana telah ada Nina yang tengah sesenggukkan karena menangis.


Bahkan wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti mempelai pengantin wanita. Dia masih berdandan layaknya akan menghadiri pesta. Namun, yang dia datangi pesta pernikahan pacarnya sendiri.

__ADS_1


"Lihat Mas, Nina masih polos tanpa dibalut gaun pengantin. Bagaimana bisa kamu leha-leha dan santainya berpikir jika mempelai wanita itu adalah Nina. Sudah aku bilang kan dari kemarin kalau kamu harus bertanya pada Mama, gadis mana yang Mama pilihkan untukmu." Dinda menasihati kakaknya sendiri dan mulai merasa jengkel dan kesal akan kebenarannya yang seperti ini.


Erlangga dan Dinda yang awalnya percaya dan mengira jika Ella akan menjadikan Nina sebagai mempelai pengantim wanita. Namun, dugaan mereka salah, ternyata Nina bukanlah orangnya. Dinda dan Erlangga pun akhirnya mengingat gadis yang satu minggu lalu dibawa oleh Ella.


"Aku yakin pasti gadis itu, ahh! Si*l kenapa sih, kita bisa jengah seperti ini," rutuk Dinda ketika dia menyadari mengapa Allura diberikan kamar tamu atas. Meski dia baru satu kali menginap di rumahnya.


Belum juga Erlangga menyahuti, dari area pelaminan ada yang memanggilnya untuk segera bersiap dan keluar dari tempatnya. Mau tidak mau pembahasan mereka pun berakhir secara paksa. Erlangga dengan langkah berat menuju aula meninggalkan Nina yang masih terisak dipelukan Dinda.


Nina masih menenangkan dirinya di dalam kamar. Sedangkan Dinda dia penasaran siapa mempelai wanitanya, apakah benar tebakannya? hingga akhirnya dia pun langsung menuju aula. Meski dia tidak menyadari jika dia melamun cukup lama memikirkan pemikiran Mama nya yang sungguh gegabah ini untuk melukai sahabatnya.


Terlambatnya Dinda datang membuat pemberkatan itu telah dilakukan. Bahkan kini telah prosesi tamu memberikan selamat kepada kedua mempelai. Ella dan Sinta tampak tersenyum sumringah tanpa memikirkan bagaimana perasaan Nina saat ini.


"Mama kok tega begitu," gumam Dinda melihat raut wajah Mamanya yang terlihat bahagia akan pernikahan paksa itu.


"Apa-apaan sih, Mama hari gini masih jodoh-jodohan," gerutu Dinda lagi dengan menghentakkan kakinya kelantai.


Erlangga melihat kearah Nina saat dia melihat adiknya, dengan wajah herannya. Sedangkan Dinda yang dipandang menggedikkan bahu karena dia pun tidak tahu menahu tentang keputusan Mamanya.


"Lalu Nina bagaimana? Mama ini seperti orang yang tidak pernah mencintai saja. Bagaimana rasanya dipisahkan tapi masih saling mencintai?" gumam Dinda, dia pun berjalan menuju area prasmanan.


Nina makan dengan kesal karena sikap orang tuanya. Dan kakaknya yang tidak berusaha menolak.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2