
Bab12. Ketahuan Mengambil Ponsel.
***
Di tengah malam Allura terbangun karena kahausan. Dia melihat Erlangga masih belum juga tertidur. Suaminya itu tengah berbincang penuh canda dengan kekasihnya membuat Allura merasa heran, apa tidak bosan setiap detik harus selalu komunikasi. Apa karena gadis itu tidak ingin jika Erlangga hilap pada Allura yang kini menjadi istrinya?
Meski dengan suara yang cukup bising tetapi tidak membuat Erlangga merasa mengganggu orang sama sekali. Mereka masih dengan dunianya. Untung saja Allura malam ini bisa tidur karena siang dia kelelahan. Akan tetapi setelah terbangun apakah dia bisa tertidur kembali?
Setelah mengambil minum Allura mencoba memejamkan matanya lagi, namun tidak berhasil juga. Yang semula hanya suara Erlangga kini panggilan video call itu Erlangga naikkan volumenya atas keinginan Nina.
"Sayang jangan tidur dan jangan tutup panggilannya. Aku tidak mau kamu hanya berduaan saja dengan dia," ucap Nina yang Allura dengar. Erlangga hanya berdehem, menggeleng dan mengangguk mungkin karena telah menahan ngantuk.
Nina merasa tersayat ketika mendengar kemesraan mereka. Meski mereka menikah tanpa cinta dan terkesan terburu-buru karena perjodohan tetapi apakah Erlangga pantas melakukan hal konyol itu di depan mukanya sendiri?
Allura tahu jika dirinya tidak harapkan, dia tidak berarti untuk Erlangga. Tetapi Allura juga ingin di hargai. Allura membuka selimut dan mulai menjuntaikan kakinya kelantai ketika Nina memanggil-manggil namanya tetapi tidak Erlangga jawab karena lelaki itu telah tertidur dengan ponsel mengenai perutnya.
Allura berjalan mengendap-endap untuk membawa ponsel Erlangga, sepertinya ini kesempatan dirinya untuk membuat gadis itu mengerti jika kekasihnya itu sudah menikah dan dia tidak berhak atas suaminya, hanya Allura yang berhak atas Erlangga karena dia adalah istrinya, mereka telah sah menikah.
Dengan dada yang berdetak kencang dan takut, dia perlahan membawa ponsel Erlangga dan membawanya ke kamar mandi. Dia juga mengecilkan volume ponsel Erlangga agar lelaki itu tidak terbangun.
"Hallo," sapa Allura dengan percaya dirinya melambaikan tangannya di depan kamera. Nina yang melihatnya pun geram dan sudah ingin mancakar-cakar wajah Allura.
"Ngapain kamu pegang-pegang ponsel pacarku? Kamu tidak berhak, simpan atau aku kesana sekarang supaya Mas Erlangga lebih membencimu," sentak Nina dengan penuh emosi.
"Tidak mau," jawab Allura berbisik menghadap kearah ponsel dengan kekehan kecil karena dia berhasil membuat Nina jengkel padanya.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu meledek saya!" Nina yang merasa diledek pun naik vitam. Dia langsung beringsut dari ranjang dan mulai berjalan untuk keluar kamar.
"Awas kamu ya, saya akan ke kamarmu supaya Mas Erlangga marah!" ancam Nina dengan mengarahkan ponselnya di depan pintu kamar mereka.
Allura yang tidak takut pun hanya tekekeh, "coba saja kalau berani," tantang Allura dengan meremahkan.
Kesabaran Nina sudah diujung tanduk. Akhirnya dia memencet bel berulang kali dan mengetuk pintunya agar Erlangga terbangun dari tidurnya. Erlangga perlahan membuka matanya dan mulai berdiri untuk membuka pintu. Setelah membuka pintu Erlangga mengucek matanya perlahan. Lalu menoleh kearah Nina dengan heran.
"Di mana ponselmu, Mas?" tanya Nina pada Erlangga. Lelaki itu hanya berjalan menuju ke sofa dan mencarinya. Tetapi di sana dia tidak mendapati ponselnya berada. Meski selimut pun sudah dia tentengkan.
"Kemana ya," ucap Erlangga kebingungan. Baru saja terbangun sudah di suruh hal yang konyol membuatnya linglung.
Tanpa berbicara Nina membawa Erlangga untuk kekamar mandi. Namun, kamar mandi di kunci dari dalam membuat Allura tidak bisa mengelak. Allura menepuk jidatnya dengan kencang karena telah berbuat hal yang ceroboh telah menantang Nina.
Mau tidak mau Allura membuka pintu dan menunduk karena takut Erlangga akan murka.
"Kembalikan ponsel saya!" bentak Erlangga, wajahnya menakutkan dan membuat bahu Allura naik saat lelaki itu membentaknya.
Perlahan-lahan Allura mengulurkan tangannya dan memberikan ponselnya pada Erlangga. Dengan kasar Erlangga membawanya.
"Tidak sopan kamu!" Tunjuk Erlangga ke wajah Allura yang membuat wanita itu merasa semakin ketakutan. Nina memeluk tangannya di dada dengan penuh kemenangan. Akhirnya istri sah yang tersakiti, pemandangan ini sungguh membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak.
"Sudah sayang, apa aku harus mendengarkan kamu marah pada istrimu ini, atau aku pergi saja untuk ke kamar melanjutkan tidur," ucap Nina menyela ucapan Erlangga.
"Kamu kembalilah ke kamar, lanjutkan istirahatmu dan tidur sudah pagi," titah Erlangga pada Nina yang pada saat itu sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya lagi, Nina langsung keluar kamar. Mulutnya tidak berhenti mengembangkan senyuman. Dia masih ingat saat Allura meledeknya dan juga menantangnya.
"Dan sekarang dia kena batunya, karma dibayar instan ya, selamat menikmati amukan Erlangga istri tidak dianggap," gumam Nina, saat dia membuka pintu kamar dia terkejut karena di sana sudah ada Dinda yang menatapnya dengan amarah.
Nina mengelus dada dan berjalan melewati Dinda, "kamu darimana sih, aku mencari kamu di semua sudut ruangan tidak ketemu juga ternyata keluar. Kalau lapar tuh bilang, biar aku temani kamu cari makanan," kelakar Dinda yang khawatir, baru datang Nina sudah disuguhi dengan ocehan. Namun, Nina menutup telinganya seolah memberi isyarat agar Dinda berhenti mengoceh.
"Menyebalkan!" gerutu Dinda sembari menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjang. Dinda pun menyusul Nina membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Kamu tidak mau dengar apa yang terjadi barusan, Nda," ucap Nina sembari tubuhnya mulai menaiki ranjang dan mencodongkan tubuhnya kearah Dinda. Dinda pun memicingkan alisnya karena tidak mengerti dengan maksud Nina.
"Kamu tahu kalau kakak ipar kamu sedang di marahi oleh Masmu?" tanya Nina sembari tertawa terbahak-bahak.
"Wah, kenapa tuh, cerita dong say, pengen tahu aku bagaimana reaksinya," ucap Dinda sudah tidak sabar.
Nina pun menceritakam semuanya, dari awal saat Allura membawa ponsel Erlangga hingga Nina mengetuk kamar mereka dan membangunkan Erlangga. Alhasil dia berhasil membuat Erlangga memarahi Allura di depan matanya.
"Berani sekali dia sama kamu? Kamu tidak bercanda kan? kurang ajar juga ya, dia. Tidak sadar kalau dia itu istri yang tidak diharapkan," protes Dinda yang mulai ikut geram dengan tingkah Allura yang mulai berani dan berkuasa.
"Entahlah, mungkin dia merasa unggul karena sudah di nikahi. Tetapi dia tidak sadar kalau dia tidak dicintai," kelakar Nina yang tertawa kembali mengingat tingkah Allura yang menciut bagai kerupuk yang dibasahi air.
"Aku mau lihat bagaimana wajahnya saat di marahi Mas Elang." Dinda mulai penasaran.
"Lucu dan cukup menghibur sekali Nda." Lagi-lagi Nina tertawa terbahak saat mengingat kejadian barusan.
"Andai aku juga melihatnya," ucap Dinda yang menyesali karena telatnya dia bangun tidur dan tidak bisa melihat ekspresi Allura yang minta dikasihani.
__ADS_1
***
Bersbung ....