Penantian Allura

Penantian Allura
Bab11. Aku Istri Sah!


__ADS_3

Bab11. Aku Istri Sah!


***


Allura masih membisu dan malas untuk mengomentari. Meski tubuhnya di guncang kasar dia tidak melawan sama sekali. Biarlah Dinda merasa lelah sendiri. Membiarkan gadis itu sepuasnya memaki dirinya.


"Kamu butuh uang berapa biar aku bayar,"


"Jangan berharap kalau nanti Mas Erlangga bisa menerima kamu sebagai istrinya. Buktinya sekarang kamu ditinggalkan di malam pertamamu bukan?! Kamu itu tidak berarti sama sekali. Jangan berharap juga aku akan menerima kamu sebagai kakak ipar," ucap Dinda panjang lebar. Namun, Dinda hanya melihat Allura memijit pelipisnya yang seolah merasa pusing karena mendengar ocehannya.


"Kamu ini benar-benar ya, kalau tidak takut Mamaku, ingin sekali aku menampar kamu," geram Dinda dengan tangan yang dinaikan keatas seolah tengah meremas sesuatu.


Dengan santainya Allura mengangkat kedua tangannya dan melihat kuku-kukunya lalu ditiupnya. Secara tidak langsung Allura tengah meledek Dinda yang terus mengumpat pada dirinya.


"Kamu benar-benar meledek aku ya," cerocos Dinda lagi sudah terpancing dengan tingkah Allura.


"Mending kekamar kamu saja dek, gak capek kamu marah-marah terus begitu," jawab Allura yang mulai membuka suara. Dinda pun berjalan menghampiri Allura dan menunjuk wajahnya dengan telunjuk.


"Dasar orang menyebalkan kamu," gerutu Dinda dengan menghentakkan kakinya kelantai. Daripada dia menjadii orang gil* yang marah-marah namun tidak di gubris akhirnya Dinda pun keluar kamar Allura dengan perasaan dongkol.


Setelah Dinda keluar Allura menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan kasar. Sungguh melelahkan sekali hari ini yang membuatnya ingin menyerah. Lalu apakah dia harus menyerah? Tapi bukan Allura namanya jika dia tidak bisa menaklukkan tantangan ini. Dia hanya bisa berdoa sekarang, diberikan kekuatan hati dan kesadaran dari diri Erlangga yang kini telah menjadi suaminya.


Baru saja doanya terpanjat di dalam hati, pintu kamar sudah mulai terbuka dan Erlangga masuk kedalam kamar dengan bercanda ria bersama kekasihnya. Bisa-bisanya gadis itu tidak tahu malu datang dan mau dibawa kekamar pangantin.


Nina di suruh menunggu saat Erlangga akan keluar terlebih dulu untuk menemui adiknya.

__ADS_1


"Tunggi dulu, aku akan mencari Dinda dulu, supaya kamu menginap di sana," ucap Erlangga memberikan intruksi. Tetapi dengan manja Nina berucap.


"Tidak, aku tidak mau tidur di kamar Dinda. Aku mau sama kamu di sini tidurnya. Aku tidak mau kamu menyentuh dia!" seru Nina menekankan pada Allura yang tengah duduk di ranjang melihati interaksi keduanya. Allura bagai menonton layar tancap perselingkuhan suaminya.


Allura melihatnya sungguh muak dan ingin sekali dia menyumpal mulut Nina dengan sabun. Agar berbusa dan juga bisa bersih dari mulutnya yang kotor. Allura memutar bola mata jengah dan seperti orang yang akan muntah mendengarkan Nina.


"Tidak bisa, sayang. Kalau kamu di sini dan Mamaku kemari untuk melihat kami berdua bagaimana?" Erlangga memberikan pengertian pada Nina sembari tangannya menyelipkan anakan rambut ke daun telinga.


Erlangga seolah hanya berdua dengan Nina, tanpa menghiraukan Allura yang setia menonton mereka berdua. Dia bahkan sperti orang amnesia yang telah menikah dan mempunyai istri. Bukannya berpamitan pada Allura dia malah berpitan pada Nina.


Setelah Erlangga keluar kamar dan tidak terdengar langkahnya, Nina menghampiri Allura dengan tangan di lipat di dada. Angkuhnya gadis itu, karena merasa di sanjung oleh Erlangga.


"Kamu lihat setelah pernikahanmu saja dia masih merangkul dan berkata-kata manis padaku, lalu gunanya kamu sebagai istri apa? Kamu hanya istri pajangan." Nina mencoba menyadarkan Allura bahwa cinta suaminya itu tetaplah miliknya.


Dengan santainya Allura menyemprotkan minyak wanginya kesegala penjuru dan mengabaikan Nina yang memprotes saat semprotan minyak itu mengarah kearahnya.


"Bau sekali barusan, sepertinya ada sampah tetapi aku tidak bisa menemukannya di mana," ucap Allura menyindir Nina. Seketika wajah Nina memerah karena marah. Bisa-bisanya wanita itu mengatakannya sampah?


"Apa kamu bilang?!" sentak Nina sembari mencekal erat pergelangan tangan Allura.


"Aku atau kamu yang sampah?" kata itu Nina balikan pada Allura. "Sepertinya sampah itu kamu," ucap Nina sembari menunjuk Allura yang tengah meronta melepaskan cekalan tangan dari Nina.


"Aku lebih baik sepertinya, karena aku ini istri sah. Ingat itu," jawab Allura dengan lantang membanggakan dengan statusnya. Namun, Nina hanya tertawa mendengar perkataan Allura itu. Baginya sangat lucu. Padahal sudah jelas jika sikap Erlangga begitu tak acuh pada gadis itu bisa-bisanya dia membanggakan pernikahan tanpa cinta itu.


"Ok, aku izinkan kamu bermain-main dengan rasa sakit karena harapan dan khayalan kamu itu yang tinggi," cerca Nina dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Semoga mimpimu berakhir indah yah," ledek Nina dengan tawanya. Dia memilih keluar kamar dan menghiraukan Allura yang tengah memegangi tangannya karena cekalan kuat dari Nina.


"Huftt, masa bodo lah kalau dia tidak menerimanya juga. Yang jelas aku masih bisa membanggakan pernikahan ini meskipun tidak dibanggakan oleh suami sendiri," gumam Allura menyemangati dirinya sendiri


Pintu kembali terbuka kini hanya Erlangga yang datang, Allura yakin jika wanita percaya diri itu sudah di kamar adik iparnya. Tanpa melontarkan sepatah kata pun Erlangga membawa bantal dan selimut dari dalam lemari, dan menyimpannya di sofa.


Seketika membuat Allura bingung, haruskah seperti itu. Allura tidak masalah jika Erlangga tidur bersamanya di ranjang yang sama. Akhirnya penuh dengan pertimbangan Allura pun berkata.


"Kenapa tidur di sana? Di sini saja Tuan," ucap Allura sambil menepuk sisi ranjang yang masih kosong. Erlangga memicingkan alisnya sebelah dengan heran. Benar-benar wanita ini, dia pikir dia siapa berani memerintahkannya. Meskipun dia akan tidur seranjang tentu saja hanya akan bersama dengan Nina wanita yang dicintainya saat nanti mereka menikah dan berpisah dengan gadis pilihan Mamanya yang tidak pernah diharapkan Erlangga.


Hanya tatapan heram bercampur jijik yang terlihat dari sorot mata Erlangga membuat nyali Allura menciut.


"Sepertinya aku salah bicara, atau aku terlalu posesiif dipikirannya," batin Allura menerka-nerka. Namun, dia tidak patah semangat tetap mencoba mencari topik pembicaraan agar Erlangga mau berbincang dengannya seperti tadi siang saat lelaki itu menarik paksa dirinya kedalam kamar. Meski hanya sebuah protesan.


"Tuan ingin sesuatu? Aku akan mengambilkannya untukmu," tanya Allura lagi mencoba mengalihkan perhatian Erlangga dari ponselnya.


"Lebih baik kamu tidur saja yang nyenyak. Tidak perlu kamu susah payah mengurusku karena saya saya tidak mau kamu urus," ucap Erlangga memberitahu Allura.


Allura yang kesal dan sakit hati pun langsung merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya sampai menutupi kepalanya dan tersisa hanya wajahnya.


"Kenapa sih bisa bersikap manis pada dia, tapi padaku tidak, padahal pas dia menolongku waktu itu membuat aku terpana dan jatuh cinta pada pandangan pertama," batin Allura mengingat kembali masa indah itu sebelum mereka menikah.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2