
Bab17. Bekal Makan Siang.
***
Meeting telah selesai, namun wajah Erlangga nampak kelelahan seolah sudah melakukan pertemuan beberapa kali. Erlangga melenggang begitu saja mengabaikan semua dokumen yang dijelaskan Septian.
Dia masih mempunyai perasaan dongkol pada Septian yang telah memeluk kekasihnya dengan semena-mena. Menurut Erlangga hal itu seharusnya tidak terjadi, jika ingin menenangkan cukuplah menjadi sandaran tidak perlu berpelukan.
Septian mengembuskan napas kasar, dia tahu Erlangga bersikap seperti itu karena kejadian tempo hari yang membuatnya mendapat bogeman mentah. Perihal Nina lelaki itu akan sangat sensitif sekali.
"Kenapa tidak profesional saat urusan pribadi dan juga pekerjaan di bawa-bawa ke masalah pekerjaan. Kalau begini bagaimana kerjaku nanti tidak akan kelar-kelar," ucap Septian dengan lesu.
Dia berjalan menuju keruangan kerjanya. Namun, saat dia mencoba masuk ke ruangannya dia melihat Nina yang akan masuk kedalam ruangan Erlangga. Tetapi sebelum gadis itu masuk Septian menarik lengan Nina dan dipaksa masuk keruangannya.
"Apaan sih!" seru Nina yang tidak suka saat tangannya di tarik paksa oleh Septian. Tatapan lelaki itu begitu menyiratkan permohonan.
"Aku tidak bisa ya, jangan memaksaku," lontar Nina dengan bengis. Dia melipat tangan di dada dengan angkuhnya.
"Mau apa kemari?" tanya Septian dengan lemah-lembut. Namun, Nina berulang kali menghentakkan kakinya kelantai begitu kasar.
"Tidak usah sok perhatian padaku, kalau Erlangga tahu akan rumit urusannya. Lebih baik kamu jangan ikut campur lagi urusanku." Nina mulai berbalik dan akan pergi meninggalkan Septian.
"Tenang saja, masalah kemarin aku akan konfirmasi pada pacarku, agar dia tidak salah paham. Aku tahu pasti dia mengabaikanmu bukan?! Jika aku yang tidak membantumu kamu itu sudah lama dipecat oleh Erlangga karena telah menggangguku," ucap Nina panjang lebar mengingatkan.
"Tapi .... " Belum juga Septian mengatakannya Nina sudah keluar ruangannya. Dia hanya bisa menatap nanar kepergian wanita itu dari hadapannya.
__ADS_1
Tidak berselang lama setelah Nina keluar dari ruangan kerjanya. Erlangga Menghubungi Septian dan memintanya untuk keruangannya. Ruangan mereka tidak begitu jauh, ruangan Erlangga tepat di sebelah Septian.
***
Sebelum Erlangga menghubungi Septian ...
"Sayang aku masuk ya? Ini aku Nina," panggil Nina dari luar sembari mengetuk pintu. Erlangga yang mendengar suara kekasihnya tidak menjawab. Dia masih betah dengan menutup matanya sembari memijit pelan pelipisnya.
"Kamu kenapa sayang? Pusing karena kerjaan ya? Sini aku pijitin, supaya kamu lebih mendingan." Nina berjalan memutari meja kebesaran Erlangga, dia kini berada dibelakang Erlangga dengan tangan yang mulai terangkat akan memijit kekasihnya. Belum juga tangan Nina menyentuh kepala Erlangga, lelaki itu berkata.
"Tidak perlu kamu duduk saja," titah Erlangga, dengan bibir yang cemberut dan kaki yang dihentakkan kelantai Nina berbalik badan dan duduk di hadapan Erlangga.
"Kenapa sih? Masih marah?" tanya Nina dengan wajah yang dibuat-buat menggemaskan, pipi yang ia kembungkan seperti anak kecil, bermaksud merayu Erlangga agar lelakinya itu tidak marah lagi padanya.
Namun, sayang Erlangga sama sekali tidak membuka matanya dia masih betah menutup mata.
Seseorang yang mengetuk pun membukanya perlahan sembari membawa kotak makan. Nina yakin jika itu makan siang untuk Erlangga. Namun, sebelum Allura menghampiri Nina menghadangnya dengan tatatapan tajam.
"Masih berani kamu kemari?" tanya Nina. Allura yang di hadang memilih menggeser tubuhnya dan melewati jalan lain. Dia akan menghampiri Erlangga dan memberikannya makan siang.
"Apa ini? Ini makanan yang dicampur lagi bukan? Atau bisa jadi ini dicampur racun agar kekasihku meninggal dan kamu bisa mengusai hartanya begitu," kelakar Nina dengan tinggi membuat Erlngga pun perlahan membuka matanya.
Masalah kemarin saja tentang Nina yang dikerjai Allura belum selesai, lagi-lagi dia datang hanya membawa masalah dalam hubungannya. Erlangga memilih menghubungi Septian agar keruangannya sekarang.
Erlangga menatap keduanya secara bergantian. Di sana Allura sama sekali tidak berkutik, dia tidak berani menjawab tuduhan Nina. Bahkan dia menunduk seolah tidak berani melawan Nina.
__ADS_1
Membuat Erlangga berpikir, "apa mungkin itu semua perbuatan wanita itu, tapi lihatlah saat dia memakinya dia sama sekali tidak berani menatapnya," batin Erlangga menerka tentang apa yang dilihatnya. Lelaki itu kini berpikir apakah Nina telah berbohong waktu itu saat meminum buatan Allura. Akan sangat memalukan jika kebenarannya begitu, dia sudah memaki Allura berlebihan.
Ketika Nina masih mengoceh, Septian datang. Namun, tidak membuat Nina berhenti dengan ocehannya. Namun, wanita itu berhenti mengoceh ketika Erlangga memberikan kotak bekal itu pada Septian, dan Erlangga menarik tangan Nina agar pergi dari ruangan kerjanya bermaksud membawa Nina untuk makan siang di luar.
Allura hanya bisa mentatap kedua punggung mereka dengan nanar. Dia tidak bisa menghentikannya. Allura hanya mampu tersenyum kecut saat dia istrinya tetapi tidak berarti apa-apa. Saat Septian berdehem Allura pun menoleh kearahnya.
"Kamu kalau mau makan di luar juga tidak apa-apa," ucap Allura dengan pasrah. Namun, Septian membawa kotak bekal itu. Dia duduk di sofa yang tersedia di sana. Membuka kotak bekal itu dan mulai mencium aroma masakannya.
"Kalau yang gratis ada di depan mata, kenapa harus membeli," sahut Septian sembari memasukkan makanan yang telah tersedia di kotak bekal itu.
"Ya benar, bisa irit pengeluaran kamu." Allura tertawa menutup mulutnya, menutupi kesedihannya ketika dia mengingat jika ini yang kedua kalinya Erlangga menolaknya dengan terang-terangan.
"Kamu pegawai suamiku?" tanya Allura berbasa-basi. Septian hanya mengangguk karena dia tengah mengunyah makanan. Dia juga menunjukkan jempol tangan keduanya, seolah memuji masakan Allura yang baginya sungguh luar biasa nikmat. Allura hanya tersenyum menanggapi sembari membatin.
"Andai suamiku yang sifatnya seperti dia,"
Tatapan Allura yang terlihat sedih membuat Septian merasa kasihan. Namun, sebelum dia mengucapkan kata-kata indahnya dia menghabiskan semua makanannya sampai tandas.
"Kamu lapar atau doyan?" tanya Allura dengan tertawa ringan. Septian lebih memilih menengguk air minumnya daripada menjawab pertanyaan Allura.
"Kenapa harus repot-repot membawakan makan kalau dia tidak bisa memakannya?" Septian memberikan pertanyaan yang menohok untuk Allura, bibir yang semula melengkengkungkan senyuman perlahan pudar berganti dengan wajahnya yang serius.
"Apa menurutmu salah? Aku hanya ingin menjadi istri yang baik. Selebihnya dimakan atau tidak itu hak dia, yang terpenting saya sudah memenuhi kebutuhannya sebagai istri untuk mengurusnya sebab dia pun tidak menerima aku tetapi masih bisa memberikan nafkah padaku," jawab Allura panjang lebar. Septian hanya tersenyum menanggapi dan merasa bersalah atas pertanyaannya.
"Kamu memang pilihan Tante yang terbaik, tidak salah dia memilihmu. Semoga kamu tetap sabar menghadapinya ya. Maafkan pertanyaanku yang mungkin sedikit menyinggung perasaanmu,"
__ADS_1
***
Bersambung ...