
Bab30. Merasa Tidak Dihargai.
***
Mereka bertiga turun dari mobil setelah sampai di parkiran restorant. Nina langsung menarik secara kasar Allura agar cepat masuk kedalam dan membawanya untuk ke kamar mandi. Untuk memakinya habis-habisan karena telah merebut kursinya disamping Erlangga.
Dinda pun mengikuti mereka hingga ke kamar mandi. Tidak banyak bertanya karena Dinda tahu apa yang berada dalam pikiran Nina.
Saat sampai di kamar mandi Nina langsung dibanting ke dinding dengan keras. Emosi Nina sungguh tidak bisa di tahan lagi. Allura meringis saat sikutnya terbentur dinding begitu keras.
"Kamu semakin kesini semakin kurang ajar ya, berani-beraninya kamu datang lagi ke kantor dan bawa makan siang untuk kekasihku," geram Nina.
"Apa sih, wajar dong. Itu suamiku aku berhak mau ngapain aja dan sah bagiku ketika aku membawakan makan siang untuk suamiku," jawab Allura tanpa beban. Dan lagi membanggakan statusnya yang telah menjadi istri.
"Nah, kan dia ini memang tidak tahu malu. Di depan Mas Erlangga seperti wanita yang teraniaya, pura-pura polos padahal aslinya kurang ajar!" Seru Dinda ikut geram juga.
Seperti biasa Allura seolah tidak mendengarkan mereka memaki dirinya. Dia berussha keluar dari sana dengan berjalan menghadang Nina dan Dinda.
Namun, tenaganya cukup kuat membuat Allura tidak bisa keluar dari sana. Otak Allura berputar keras mencari ide agar dia bisa lari dari dua srigala itu.
Allura mencoba meminta tolong dengan lantang agar ada orang yang membantunya. Namun, Nina dengan cepat menutup mulutnya sedangkan Dinda berusaha mencekal kedua pergelangan Allura dengan kencang agar dia berhenti berteriak.
"Kenapa takut?" tanya Nina meledek Allura. Nina dan Dinda tertawa puas saat melihat Allura meronta meminta bantuan.
"Apa harus kita guyur tub*hnya dengan air Nda, supaya dia berhenti meronta," ucap Nina sembari tertawa jahat.
"Kamu berhenti berteriak atau aku tidak akan melepas tanganku dari mulutmu!" ancam Nina sembari bola matanya melotot kearah Allura. Namun, sedikitpun Allura tidak merasa ketakutan. Bahkan bagi dirinya ini tidak lah sebanding mengingat satu lawan dua.
Mau mengigit jemari Nina yang berada di mulutnya sulit, akhirnya dia menjilat jemari Nina hingga wanita itu melotot saat lidah Allura menyentuh jemarinya.
__ADS_1
Nina langsung mendorong tubuh Allura dengan kuat agar menjauh dari tubuhnya. Jijik yang di rasakan Nina saat lidah itu menyentuh jemarinya. Ingin mencium bau apa, tetapi Nina bergidik dan langsung mencuci tangannya.
Peluang Allura kecil untuk pergi akan tetapi dia berusaha pergi dari sana. Tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur. Dengan cepat dia menerobos tubuh Dinda dan menubruknya dengan kuat seolah tengah mendobrak pintu. Alhasil Allura berhasil keluar dan Dinda terjatuh.
Allura merasa lega ketika telah pergi dari keduanya. Dengan napas yang tersendat-sendat dia berusaha menetralisir napasnya agar normal kembali.
Di sela-sela istirahatnya dia melihat seseorang yang tidak familiar baginya. Akan tetapi seketika orang itu lenyap saat Allura menutup mata sekejap. Allura pun menghiraukannya dan memilih berjalan keluar untuk mencari Erlangga.
Setelah cukup lama berputar-putar akhirnya dia menemukan Erlangga dan mendudukkan bokongnya di kursi. Di sana sudah ada tiga piring makanan yang Allura yakin jika hanya dirinyalah yang tidak dipesankan oleh suaminya.
Bisa-bisanya Erlangga mengabaikan dirinya saat dirinya di tengah-tengah mereka seperti ini. Dia di anggap apa? Patung? Lalu jika tidak dianggap mengapa Erlangga tidak menyuruhnya untuk pulang.
Erlangga masih sibuk dengan ponselnya tidak mengindahkan pandangan pada Allura yang merasa tidak di hargai di sana. Perlahan Allura menggeser kursi dan akan pergi dari sana. Erlangga yang melihat pergerakan Allura pun seketika menoleh padanya.
"Mau kemana?" saat Allura akan pergi dari meja. Allura pun terus melanjutkan jalannya tanpa menjawab Erlangga.
"Masih bertanya juga, padahal secara tidak langsung dia tidak menginginkan aku di sini," gumam Allura dalam hatinnya.
Namun, ternyata Erlangga tidak tinggal diam, dia akan khawatir jika Allura pergi dan akan membuat Ella semakim membenci Nina. Dia mengejar Allura untuk membujuknya masuk lagi. Namun, Allura hanya menggelengkan kepalanya seolah dia tidak mau untuk ikut bersama mereka.
Dengan refleks Erlangga memegang tangan Allura dan menyeretnya untuk kembali ke meja makan.
"Kamu merasa tidak di hargai karena saya tidak pesankan makan untukmu? Kamu salah besar, saya tidak tahu apa yang kamu suka. Jadinya saya pesankan dulu tiga, nanti jika kamu datang kamu bisa pesan sendiri," ucap Erlangga memberitahukan kenapa di meja hanya terdapat tiga pesanan.
"Saya pulang saja Tuan, tidak apa-apa," jawab Allura sembari tangannya memberontak meminta dilepaskan. Erlangga pun melepaskan pegangan tangan Allura dan menatapnya dengan intens.
"Kamu akan mengadukan ini pada Mama saya? Mau saya dimarahi lagi karena kamu?" geram Erlangga yang merasa Allura sungguh keras kepala. Allura menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya.
"Tidak, tidak akan saya adukan. Saya tidak mau kalian bertengkar hanya gara-gara saya." Akhirnya Allura menjawab Erlangga tidak memakai isyarat lagi.
__ADS_1
Erlangga melipat tangan di dada dengan tatapan serius kearah Allura.
"Eh, dia ngapain natap aku begitu?" batin Allura yang merasa malu karena tatapan Erlangga apalagi ini di tempat umum.
"Ok, ya sudah kamu boleh pulang," titah Erlangga sembari tangannya merogeh saku celana dan memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu agar Allura bisa pulang.
Allura menerimanya tanpa menolak, dia pun berbalik badan untuk pulang.
Erlangga sudah sampai di mejanya. Di sana dia sudah disuguhkan dengan tatapan Nina yang tidak bersahabat. Dia tahu kenapa wanitanya tidak pernah bisa sehangat dulu, ya, mungkin Nina salah paham lagi padanya.
Mereka bertiga lebih memilih makan lebih dulu, setelah makan selesai, ketiganya langsung saling tatap menatap secara bergangian.
"Kamu semakin kesini semakin perhatian pada dia. Sudah ada perasaan?" tanya Nina.
"Kayaknya iya deh, Nin," timpal Dinda.
"Jangan jadi kompor Dinda!" seru Erlangga yang menegur adiknya untuk berhenti menimpali perdebatan mereka.
"Kamu terlalu berpikir jauh sayang, bukankah apapun yang kamu mau masih aku penuhi?! lantas sikap mana lagi yang kamu tidak percaya dariku," ucap Erlangga pada Nina, Nina mengembuskan napas kasar.
"Perlakuan kamu padanya yang selalu perhatian," protes Nina yang tidak menyukai sikap Erlangga pada Allura.
"Ya, aku harus bagaimana lagi, jika tidak seperti itu Mama akan semakin memisahkan jarak di antara kita, sayang. Aku harap kamu mengerti."
"Justru karena perlakuan kamu yang seperti itu, akan membuat wanita itu merasa diberi harapan dan mempunyai kekuatan di depan Nina," potong Dinda yang gemas dengan jalan pikiran Erlangga.
"Iya, kamu harusnya berpikir kesana. Jika dia merasa diberi harapan olehmu bagaimana? Atau dia menganggap sudah memiliki hatimu?"
***
__ADS_1
Bersambung ...