
Bab15. Mengerjai.
***
Ella sedari tadi mengamati ruangan kerja Erlangga. Dia sengaja meminta Allura kebawah dan memancingnya, dan terbukti dia mau membawakan kopi kedalam ruangan itu. Bagi Ella pantang baginya untuk menegur.
Setelah melihat Allura yang dari belakang mulai masuk lagi kedalam ruangan kerja Erlangga membuatnya tersenyum lega. Setidaknya anaknya akan aman meski dari Nina yang tidak di sukainya.
Allura membuka lagi pintu dan masuk, kini dia membawa 3 gelas minuman untuk mereka. Namun Erlangga yang mulai terganggu karena kebisingan mereka memilih pergi dari ruangan kerjanya dan menuju ke kamarnya. Allura pun dengan refleks akan mengikuti Erlangga, tetapi Dinda menahannya.
Saat Erlangga sudah keluar dari ruangan kerja, "mau ngapain kamu ngikutin Masku?" tanya Dinda dengan nada tidak suka.
"Ya, apalagi kalau bukan cari perhatian. Tidak punya h*rga diri ya?" lontar Nina menimpali ucapan Dinda.
"Mmm, kalian bicara ditujukan padaku." Allura menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja, menurutmu siapa lagi? Aku adiknya, dia kekasihnya sudah jelas kami tidak perlu cari perhatian dia," seloroh Dinda lagi dengan geram.
"Ihh, ini orang benar-benar sangat lola," kelakar Nina ikut geram.
"Menurut kalian apa salah seorang istri mengikuti suaminya?" tanya Allura dengan santainya. Dia keluar lagi akan membawa kain pel untuk membersihkan ruangan Erlangga.
Meski saat berpapasan dengan Mbak Inah dia sudah memintanya tetapi Allura memilih untuk membersihkannya seorang diri. Dia juga ingin melihat reaksi seseorang yang tengah ia kerjai.
Selesai membersihkan ruangan Erlangga yang kotor Allura segera keluar dan menguping di depan pintu ruangan Erlangga. Dia ingin mendengar kehebohan yang berada di dalam. Selang beberapa menit Allura mendengar jeritan Nina yang merasa sakit perut dan tidak tahan ingin BAB.
Allura kegirangan seorang diri di sana. Setelah puas mendengarkan keresahan Nina dia pun mengembalikan kain pel ketempat semula. Berjalan kearah kamar dengan senangnya seperti seseorang yang mendapatkan j*ckpot.
Erlangga yang melihat Allura seperti itu merasa heran. Tidak Biasanya anak itu terlihat sebahagia itu. Erlangga keluar kamar, karena Dinda memintanya untuk mengantarkannya kerumah sakit.
***
__ADS_1
Setelah pulang dari rumah sakit Erlangga langsung menuju kamar dan menyimpan kemarahan pada Allura saat Dinda mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Apalagi membuat kekasih hatinya itu harus di rawat selama sehari karena sampai kekurangan cairan. Sebelum masuk ke dalaam kamar Erlangga menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah di dalam akan sulit baginya untuk menghirup oksigen.
Namun, saat dia masuk tidak ada penghuni di dalamnya. Dengan tenang lelaki itu menunggu Allura, saat Allura masuk Erlangga langsung menghujaminya dengan tatapan tajam.
"Apa yang kamu lakukan pada Nina?" tanya Erlangga dengan amarah, matanya begitu nyalang dan menusuk bagi Allura.
Namun, Allura terdiam seribu bahasa. Lagi dan lagi dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu meskipun terdengar simple dan mudah untuk dijawab. Akan tetapi bagi Allura cukuplah berat, mengingat dirinya telah usil pada Nina. Dia belum mengetahui kalau kejahilannya membuat orang dirawat.
"Jawab kamu!" bentak Erlangga membuat bahu Allura seketika terangkat dengan seiringnya bentakan Erlangga. Allura tidak percaya jika suaminya sebegitu membela selingkuhannya.
"Masih tidak mau jujur? Kamu mau kita pisah rumah dan pergi dari sini? Agar kamu bisa merasakan bagaimana perlakuan saya yang lebih tidak baik dari sekarang?! " seru Erlangga dengan ancaman.
Nyali Allura semakin menciut, dia sungguh tidak bisa berkutik. Alasan apa yang harus dilontarkannya.
"Jika mau melawannya, lawanlah dengan perkataan juga. Jangan sampai membuat orang rugi sampai masuk rumah sakit, jahat kamu jadi wanita," ungkap Erlangga yang tidak menyangka dengan tingkah konyol Allura.
"Bercanda kamu kelewatan!"
"Ta-tapi benarkah sampai di rawat?" tanya Allura yang penasaran, meski takut akhirnya mulutnya bisa berucap juga.
"Menurutmu dia pura-pura? Aku yang mengantarnya," sentak Erlangga lagi.
"Ma-maaf, aku ti---"
"Bukan padaku kamu meminta maaf tapi pada Nina yang telah kamu kerjai," potong Erlangga dengan cepat.
Erlangga langsung meninggalkan Allura yang masih menunduk. Dia semakin malas melihat Allura berada di sekitarannya. Jika dia meminta Allura agar pindah dari kamarnya akan membuat Mama nya memarahinya.
***
__ADS_1
Pukul sembilan malam Allura berinisiatif untuk membuatkan kopi dan membawa cemilan untuk Erlangga. Dia melihat begitu sibuknya Erlangga hingga tidak sempat makan. Dia Berjalan keluar dan menuju kedapur. Membuatkan kopi dan juga membawakan cemilan.
Setibanya di kamar Allura mulai menyimpan apa yang dibawanya untuk Erlangga. Akan tetapi ucapan terima kasih tidak terlontar dari mulut suaminya bahkan menoleh pun sama sekali tidak. Cukup lama Allura berdiri di samping suaminya berharap lelaki itu menoleh.
Lagi dan lagi harapan dan keinginannya tidak pernah menjadi kenyataan. Erlangga malah keluar kamar sambil memesan makanan dari aplikasi online. Sakit rasanya melihat kenyataan pahit ini. Tanpa sadar air mata itu kembali menetes.
Beberapa menit berlalu pun Erlangga kembali masuk kedalam kamar dan membawa bingkisan makanan berupa coffe dan makanan dan cemilannya. Sesak rasanya rongga dada Allura melihatnya. Hatinya bagai tersayat dan dicabik-cabik. Setidaknya jika tidak mau Erlangga bisa menolaknya dan meminta maaf. Bukan malah seperti itu.
"Ok, tenangkan pikiran Al, semua pasti ada masanya. Dan akan berubah seperti apa yang kamu harapkan," ucap Allura di dalam hatinya.
Dia pun memilih merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Namun, baru saja terpejam, suara Erlangga mengobrol dengan seseorang yang dikenalinya. Allura yakin jika suaminya tengah melakukan panggilan video bersama salingkuhannya itu.
"Kamu sudah mendingan?" tanya Erlangga pada Nina. Seperhatian itu suaminya pada orang lain. Telinganya sungguh sakit mendengar ucapan Erlangga.
"Kenapa mereka selalu melakukan itu padaku, kenapa harus terang-terangan berselingkuh," batin Allura menjerit-jerit.
"Kenapa meneleponku? Istrimu sudah tidurkah?" tanya Nina diseberang telepon sana. Dan bisa didengar begitu jelas oleh Allura.
"Aku tidak peduli," jawaban Erlangga semakin membuat Allura tidak bisa menahan rasa sakit yang menderanya lagi.
"Dia sudah membuat kamu seperti ini, padahal kamu adalah wanita yang selalu aku jaga tetapi orang lain tidak tahu malunya dan berani berbuat hal buruk padamu. Mana bisa aku menjaga hatinya," kelakar Erlangga yang ditujukkan pada Allura.
Allura yang terbaring di ranjang rasanya ingin turun dan melempar ponsel Erlangga agar dia berhenti berkomunikasi dengan wanita lain. Tetapi dia terlalu takut bagaimana bisa melakukan hal itu.
Dia hanya bisa menjadi pendengar dan menjadi nyamuk di sana. Padahal dia istrinya yang sah, akan tetapi dia yang harus mengalah. Bahkan dia merasa menjadi selingkuhannya sekarang.
"Ingin sekali aku membuat kamu menjadi wanita yang kalah, dan merasakan sakit yang aku rasakan," umpat Allura memaki Nina.
***
Bersambung ...
__ADS_1
🤗terima kasih ya yang masih setia, jangan lupa tinggalkan like nya😉