
Bab9.. Aku Atau Dia Yang Pelakor?
***
Allura pun telah selesai membersihkan diri, sebelum membuka kopernya sendiri dia mencari sesuatu yang special yang telah diinstrusikan oleh Ella. Ranjang yang indah bertabur bunga mawar merah, bahkan berbentuk hati di sana.
Serta handuk yang dibuat menjadi berbentuk angsa yang indah menandakan bahwa kedua pasangan pengantin akan menikmati malam indah itu. Namun, sayang tidak berlaku untuk Allura yang hanya kesepian di malam ini.
Tetapi tidak sedikit pun dia berkecil hati, yang ada dia bahagai karena suaminya tidak ada di dalam kamar bersamamya. Meskipun sekamar yang ada pasti akan beradu argumen karena Allura menerima perjodohan ini.
Allura perlahan menggapai bingkisan yang dibalut dengan indah itu. Tulisan manis dan indah pun ada disecarik kertas di sana.
Allura menggelengkan kepalanya dengan geli lagi, "Mama aku sungguh tidak bisa memakainya jika iya b*ju di*as," lontar Allura sembari matanya ia pejamkan.
Setelah pakaian itu ia angkat, perlahan matanya ia buka dan betapa tercengangnya dia melihat baju k*rang bahan itu. Allura sudah menebaknya, namun dengan cepat dia mengembalikan bajunya itu kedalam bingkisan.
"Idih, benarkan dugaanku itu. Menyebalkan banget sih," gerutu Allura dengan wajah kesalnya.
***
Erlangga berjalan menuju kamar Dinda yang yang tidak jauh dari kamarnya. Di perjalanannya Erlangga sudah merangkai kata untuk meminta maaf pada Nina yang telah dia khianati. Namun, setelah di depan pintu dia melihat pintu itu tidak tertutup dan sedikit terbuka.
Erlangga langsung berjalan cepat dan mendapati Nina yang tengah dirangkul seseorang dengan terisak. Erlangga tahu siapa lelaki itu yang telah merangkul kekasihnya. Tetapi apakah dia harus marah-marah kepada Septian sahabatnya. Akan tetapi ini aneh, mengingat keduanya tidak begitu dekat lantas mengapa bisa sedekat itu?
__ADS_1
Erlangga hanya mematung di depan pintu, melihat interaksi keduanya. Wajahnya sudah memerah karena menahan emosi. Tangannya terkepal erat seolah dia ingin memberikan bogeman mentah untuk Septian. Di saat pikirannya berkecamuk Erlangga di tepuk bahunya oleh Dinda. Dia keheranan karena melihat tingkah dari kakaknya yang hanya berdiri di depan pintu tanpa masuk kedalam, meski pintu telah terbuka.
"Malah bengong bukannya masuk," ucap Dinda mengagetkan Erlangga. Namun tidak sedikitpun membuat Erlangga mengalihkan tatapannya dari depan.
"Apa sih yang kamu lihat, Mas. Serius amat deh," lontar Dinda dengan heran. Dia pun mulai mengikuti kemana sorotan mata Erlangga melihat.
Dinda tercengang melihat pemandangan itu. Nina dan Septian bermain api? Dinda sampai menganga dan menutup mulutnya dengan cepat. Akhirnya dia membuka pintu lebar-lebar dan memergoki keduanya.
"Nina, Mas Tian!" seru Dinda yang tidak percaya dengan adegan yang dilihatnya.
"Jangan berpikiran negatif dulu, Lang, Nda," ucap Septian yang mulai melepaskan rangkulannya dan mulai membela diri. Erlangga merasa jika dirinya tengah dikhiantai oleh orang yang dipercayainya.
"Lalu yang kalian lakukan?!" ucap Dinda, seolah pertanyaan itu menjadi pemicu Erlangga yang membuatnya naik vitam.
Sedangkan Nina dia tidak membela dirinya yang benar atau salah. Dia terlanjur sakit dan lelah menangis beberapa jam ini karena Erlangga menikahi wanita lain. Karena tidak ada pembelaan dari Nina Erlangga pun langsung memberikan bogeman mentah pada Septian.
Septian jatuh tersungkur di bawah kaki Nina. Membuat Nina yang semula enggan menatap Erlangga pun berbalik badan dan melihatnya dengan nyalang. Nina membantu Septian untuk berdiri. Lalu melihat Erlangga dengan tatapan membunuh.
"Kenapa kamu lakukan seperti ini? Kenapa?" tanya Nina dengan berteriak, sembari air mata yang terus menerus menetes. Sedangkan Dinda hanya menonton karena bingung harus membantu dan menenangkan Nina bagaimana.
"Kenapa malah kemari? Harusnya kamu bersenang-senang dengan istrimu itu wanita yang sudah kamu nikahi. Bisa-bisanya datang dan memukul orang yang sudah menenangkan aku yang tengah terluka," ucap Nina dengan memukul dadanya yang kian sesak. Haruskah takdir ini seperti ini. Baginya Tuhan sungguh tidak adil dalam hidupnya.
Erlangga menunduk merasa bersalah, karena ini dia lakukan atas dasar cemburu. Dia sungguh tidak bisa melihat wanitanya di peluk lelaki lain apalagi Septian, dari banyaknya lelaki lantas mengapa Septian? Hanya itu yang menjadi pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku cemburu!" balas Erlangga yang mulai berbicara.
"Cemburu, hah! Lalu kamu pikir aku tidak cemburu melihat kamu menikah dengan wanita lain?!" Kelakar Nina lagi dengan nada tinggi. Meski sudah berani berbuat seperti ini tetapi rasanya sungguh tidak puas baginya.
"Minggir, aku mau pergi." Nina mendorong Erlangga dengan kasar. Namun Erlangga tidak membiarkan wanitanya pergi dari sana. Dia mencekal tangan Nina lalu memeluknya dengan erat. Menenangkan Nina yang tengah terluka, dia juga datang akan meminta maaf. Tetapi Erlangga tidak menyangka jika Nina bisa semarah ini padanya. Biasanya gadis itu akan terdiam seribu bahasa ketika dirinya bersalah, bahkan saat Erlangga bersalah pun Nina hanya akan mendiamkannya.
"Aku akan berpisah dengannya, kamu tenang saja. Meski aku menikahinya tetapi aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai kamu," bisik Erlangga meyakinkan Nina. Dia ingin agar hubungan mereka tetap berjalan meski Erlangga telah menikah.
Nina semakin mengencangkan pelukannya dan terisak. Tidak bisa dia menahan rasa sakit ini, akan tetapi apa yang harus dilakukannya sekarang selain menunggu. Baginya dia bukan pelakor karena wanita itu yang telah merebut kekasihnya.
"Jangan marah-marah terus, ya? Kamu sayang kan padaku?" tanya Erlangga sembari melepaskan rangkulannya dan mengusap air mata Nina dengan ibu jarinya.
Saat Allura keluar kamarnya dan berjalan melewati kamar Dinda dia sekilas melihat pemandangan yang membuatnya tidak enak. Ya, dia melihat adegan romantis itu kembali. Allura rasanya ingin memaki gadis itu yang telah bermesraan dengan suaminya. Namun, apalah daya dia tidak berhak, sebab jauh sebelum dirinya hadir keduanya sudah menjalin hubungan.
"Lalu jika sudah begini, aku yang pelakor apakah dia?" batin Allura bertanya-tanya. Ekor mata Nina sekilas melihat keberadaan wanita yang kini menjadi istri kekasihnya itu.
Dengan sengaja dia memanas-manasinya, "apa kamu mencintainya?" tanya Nina dengan terisak sebab dia terus menangis. Erlangga menggeleng dan merangkup dagu Nina dengan sayang. Erlangga juga mengecup kening Nina dengan penuh penghayatan.
"Lalu kamu akan membawa kemana hubungan kita ini?" tanya Nina lagi dengan pertanyaan yang menjurumuskan Allura bahwa dia sama sekali tidak berharga di hadapan Erlangga.
"Tunggu sampai waktunya tiba, aku akan menceraikan wanita itu!" tegas Erlangga dengan mantap, tanpa ia tahu jika Allura mendengarkan pembicaraan mereka. Sedangkan Septian dan Dinda hanya menjadi nyamuk yang tanpa sengaja memdengarkan pembicaraan keduanya. Meski mereka tengah berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Nina pun tersipu dan senang dengan ungkapan Erlangga. Terlebih Erlangga mengatakannya di hadapan Allura. Mungkin ini bisa menjadi tameng baginya agar Allura menyerah pada Erlangga.
__ADS_1
***
Bersambung ...