Penantian Allura

Penantian Allura
Bab16. Goresan Luka Di Hati.


__ADS_3

Bab16. Goresan Luka Di Hati.


***


Erlangga sudah bersiap untuk bekerja, dia masih melihat Allura masih bergelung di dalam selimutnya. Tetapi tidak sedikitpun membuatnya heran atau membangunkannya untuk menyiapkan segala keperluannya. Bagi Erlangga begini sudah cukup membahagiakan baginya dia tidak ikut campur lagi dalam kebutuhannya.


Apalagi saat semalam dia membuatkan kopi dan membawakan cemilan untuknya. Membuatnya muak saja, apalagi saat dia mengingat Allura telah membuat Nina sampai di rawat di rumah sakit. Hancur hatinya orang yang telah dijaganya di sakiti oleh orang baru seperti Allura.


Kini Erlangga telah menyelesaikan memakai dasi di lehernya, dia langsung keluar kamar tanpa berpamitan. Untuk apa? Bukan salahnya karena tidak bisa menghargai istrinya, sebab dia telah mengetahui dirinya telah mempunyai kekasih tetapi dia malah bo*oh menerima perjodohan ini.


Erlangga berjalan menuruni tangga sampai akhir, dan Ella sedang berada tidak jauh dari anak tangga. Dia menunggu Allura yang belum juga turun. Dia khawatir jika Erlangga akan main tangan padanya.


Alisnya memicing karena Erlangga datang sendirian, "mana istrimu?" tanya Ella.


"Dia masih tidur," jawab Erlangga, berhenti sebentar lalu meninggalkan Ella yang masih menatap ke arah atas, kamar Erlangga.


"Kamu tidak membuatnya menangis bukan, sampai dia telat bangun," tuduh Ella yang sudah tahu dengan sikap anaknya.


"Mama selalu menuduhku yang negatif, yang sebenarnya anakmu aku atau dia," jawab Erlangga dengan santai. Dia memilih meninggalkan Mamanya dan berjalan menuju meja makan. Untuk mengisi perutnya sebelum masuk kekantor.


Ella mengembuskan napas kasar mendengar jawaban dari anaknya. Dia malu pada Allura jika perilaku dia buruk pada menantu kesayangannya itu. Akhirnya Ella memilih untuk ke atas melihat keadaan Allura.


Dia tidak ingin jika sampai Allura di dalam sana sedang menangis karena Erlangga. Lihat saja jika itu terjadi dia akan membuat lelaki itu frustrasi.


Saat sampai di depan pintu kamar Erlangga, Ella mengetuknya dengan lembut dia memanggil menantunya. Namun, tidak ada sahutan dari dalam membuatnya khawatir, perlahan pun Ella membuka pintu kamar dan masuk. Melihat-lihat penjuru kamar takut Allura sedang duduk dipojokan dengan deraian air mata. Membayangkannya saja membuat dirinya sungguh ngeri.

__ADS_1


Namun, ketika matanya menatap ranjang di sana ada seseorang yang masih bergumal di dalam selimut. Hati Ella sedikit lega dan tenang. Ternyata Erlangga masih mempunyai pikiran dan hati untuk tidak menyakiti hati istrinya. Ella berjalan menghampiri Allura yang masih tertidur.


Perlahan dia mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, dan mengusap lembut puncak kepala menantunya kesayangannya.


"Seharusnya Mama tidak memaksamu untuk menikah dengan Erlangga, Nak. Tetapi, Mama tidak rela jika dia tidak bisa lepas dari wanita itu. Semoga kamu kuat menghadapi sikapnya yang kadang-kadang arogan," gumam Ella menyesali keputusannya.


Di satu sisi dia ingin menyelamatkan anaknya, tetapidi satu sisi pula akan ada hati yang terluka dalam cerita ini. Tetapi dia yakin jika pilihannya itu sungguh pilihan yang tepat.


"Maafkan Mama ya, Nak." Ella mengecup pelan Allura. Saat sebuah kecupan terasa di kening Allura, dia pun terbangun dan mulai menyandarkan punggungnya di punggung ranjang. Dia mengucek matanya dan langsung memanggil Ella.


"Bu." Ella yang semula berjalan mengendap agar Allura tidak terbangun pun langsung menoleh kearah sumber suara.


"Mama membangunkan kamu ya, Nak?" tanya Ella kembali menghampiri Allura, memeluknya dengan lembut sebagai tanda pelukan sapaan.


"Tidak kok, Bu. Sudah siang ya, Al kesiangana Bu, maaf ya," ucap Allura merasa bersalah.


Allura berpamitan terlebih dulu pada Ella untuk mencuci muka dan gosok gigi. Sedangkan Ella berpamitan dan menunggunya di bawah.


Setelah selesai Allura pun turun menuju meja makan. Di sana sudah ada suaminya dan juga Ella. Sedangkan Dinda sepertinya dia msih di rumah sakit menunggu Nina.


Sarapanpun tanpa obrolan, karena mereka tidak membiasakan untuk mengobrol ketika makan. Setelah selesai sarapan Erlangga langsung menggeser kursinya dan hendak berdiri untuk pergi kekantornya.


"Loh, Elang kenapa tidak pamitan pada istrimu," tegur Ella yang heran melihat anaknya yang masih belum menyadari jika dia sudah beristri.


"Kalau mau mengantarkan ikuti saja sampai depan," ucap Erlangga tanpa menoleh kearah Allura dan juga Ella.

__ADS_1


Allura yang mendapat sinyal pun langsung mengikuti Erlangga untuk mengantarkannya pergi bekerja. Ketika Allura tengah mengikuti Erlangga, lelakiitu berkata.


"Sebenarnya saya tidak ingin menyakiti hati siapa pun apalagi wanita, tetapi kamu masuk di dalam hidup saya dalam kondisi yang salah. Sebab saya mati-matian meyakinkan kekasih saya agar bisa membawa hubungan kami kejenjang yang lebih serius. Tetapi kamu hadir membuat usaha saya sia-sia." Baru kali ini Erlangga berkata panjang lebar pada Allura.


Itu artinya Allura sama sekali tidak diharapkan, "lalu aku harus bagaimana? Semua sudah terlanjur tidak bisakah kamu ..., " ucapan Allura menggantung seolah dia tidak bisa mengatakan keinginannya.


"Tolong jangan terlalu berharap dengan pernikahan ini. Meski saya juga tidak ingin menjadikan pernikahan ini sebagai mainan, apalagi pernikahan itu sakral, dua insan yang mengikat janji cinta mereka. Tetapi kita? Kita hanya dua orang manusia yang terpaksa karena keadaan. Kita lihat saja bagaimana kedepannya," ungkap Erlangga lagi, dia berkata jujur karena tidak ingin membuat wanita yang menjadi korban keegoisan ibunya itu sengsara dan sakit hati.


"Saya berangkat kerja dulu." untuk kali pertama Erlangga mengucapkan kata pamitan padanya. Meski tadi telah terucap kata menyakitkan. Tetapi ada kata yang membuatnya kembali bersemangat.


Erlangga memberikan kartu ATM untuk Allura, "meski saya tidak bisa seperti suami-suami pada umumnya, tetapi saya tetap akan memberikan hakmu sebagai istri tentang nafkah," terang Erlangga. Allura menggeleng tidak bisa dia menerima. Dia ingin diberikan beserta hatinya bukan hanya secara materi saja.


Andai Allura bisa mengungkapkan, dan memprotes sesuatu yang ada dalam pikiran dan hatinya. Tetapi dia tidak mau di cap sebagai orang yang diberikan hati tetapi malah meminta jantung.


"Ambil saja, supaya kamu tidak bingung saat Mama mengajakmu berbelanja. Jangan membuat mamaku marah padaku," seloroh Erlangga agar wanita itu menerimanya.


Allura pun mengingat saat dirinya berbelanja dengan Ella. Dengan perlahan Allura pun membawa kartu itu dan diletakkan di dada.


"Terima kasih,"


Erlangga mengangguk lalu pergi meninggalkan Allura tanpa kata lagi. Allura melihat punggung gagah lelaki itu yang mulai hilang saat Erlangga masuk kedalam mobilnya.


"Andai aku bisa memiliki hatimu, diberikan kartu begini saja begitu berbunga-bunga. Apalagi Diberikan cinta oleh suamiku sendiri," gumam Allura sembari tersenyum menyaksikan Erlangga pergi meninggalkan rumah demi membalut luka yang tergores dan mungkin hanya Erlangga yang mampu mengobatinya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2