Penantian Allura

Penantian Allura
Bab18. Wanita Bermuka Dua.


__ADS_3

Bab18. Wanita Bermuka Dua.


***


Allura menganggukan kepalanya, dia tidak memprotes apapun yang di katakan Septian. Baginya diamnya saja cukup membuktikan dia tersinggung karena dia menyadari menjadi istri yang tidak dianggap begitu menyedihkan. Apalagi perselingkuhan yang nyata di depan mata kepalanya sendiri.


Allura membereskan kotak bekal yang telah dihabiskan oleh Septian. Setelah selesai dia membereskannya dia pun berdiri dan berpamitan pada Septian untuk pulang.


"Tidak menunggu mereka pulang dulu?" duar pertanyaan konyol macam itu yang membuat Allura sedikit sesak. Apa harus dia menunggu orang pacaran?


Septian merutuki sendiri mulutnya yang terucap selalu membuat Allura tersinggung. Kaki Allura yang hendak melangkah pun seketika terjeda karena pertanyaan gi*a dari Septian. Allura hanya mengangkat sudut bibirnya sebelah dengan perasaan kesal. Tetapi jawaban elegan selalu mampu dia lontarkan. Menjadi istri tetaplah menjadi pemenang meski tidak di harapkan.


"Kami satu rumah, meski dia bersama pacarnya sekarang dia pulang tetap ke rumah yang kami tinggali bersama," jawab Allura dia pun meninggalkan Septian yang masih duduk di sofa. Allura sama sekali tidak menoleh kearah belakang kembali.


Septian menepuk dahinya dengan kasar. Mengingat dia merasa bersalah lagi, lagi-lagi perkataan yang seharusnya tidak diucapkam dia lontarkan. Niat hati ingin menahan Allura tetap berada kantor tetapi malah membuatnya tidak bisa berkutik karena ucapannya yang salah bertanya.


***


Betapa bahagianya Nina saat dengan cepatnya Erlangga membawa dirinya keluar dari ruang kerjanya saat istrinya datang. Bukankah sudah jelas kalau dirinya adalah pemenang. Seharusnya wanita itu menyerah dan berhenti memerhatikan Erlangga. Karena Nina yakin jika dirinya tetaplah yang utama dan prioritas dalam hidup Erlangga meski lelaki itu telah menikah, ya menikahi wanita yang sama sekali tidak di inginkan oleh Erlangga.


"Kita kemana sayang?" tanya Nina dengan bergelayut manja di lengan Erlangga seperti biasanya.


Namun, Erlangga tidak menjawab mereka pun tiba di sebuah restorant favorit mereka. Dengan Senangnya Nina menggandeng Erlangga hingga mereka masuk dan duduk di kursi.


"Kenapa diam terus?" tanya Nina saat wajah Nina yang terus berseri sedangkan Erlangga dengan datarnya tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Makan dulu nanti kita bicarakan," sahut Erlangga menjelaskan. Mereka berdua pun memesan makanan dan menunggu pesanan.


Saat menunggu pesanan tidak ada perbincangan membuat Nina merasa kesal. Kesalahan apalagi yang tanpa sengaja dia perbuat membuat lelaki itu bersikap dingin padanya.


Erlangga sibuk dengan Ipadnya saat Nina berulang kali melihat kekasihnya dengan ekor matanya. Nina tidak akan cemburu karena dia tahu lelaki itu pasti tengah mengurus pekerjaannya.


"Apa harus bekerja juga saat sedang quality time begini," gerutu Nina yang mulai kesal.


Setelah beberapa lama menunggu akhirnya pesanan datang, keduanya menyantap makanan dengan khusu tanpa ada pembicaraan. Setelah tiga tahun berpacaran membuat Nina tahu segala kebiasaan baik, dan buruknya tentang Erlangga.


Kini mereka telah menghabiskan makan siangnya. Namun, belum juga ada perbincangan di antara keduanya. Nina juga yakin jika Erlangga masih cemburu padanya perihal Septian waktu itu.


Nina bahkan kini sedang bingung karena memikirkan kata-kata untuk meyakinkan kekasihnya agar cemburunya tidak berkepanjangan dan lama seperti ini sungguh hampa baginya jika Erlangga bersikap seperti itu padanya.


"Sebenarnya saat kamu dirawat itu benar karena minuman yang dibuatkan gadis itu, atau kamu salah makan sebelum meminum minumam itu," tanya Erlangga meminta penjelasan pada Nina.


Kedua mata Nina menyipit tidak percaya dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut kekasihnya itu. Apa Erlangga tidak mempercayainya sampai bertanya hal yang tidak penting begini?


"Kamu membawaku keluar langsung saat istrimu datang hanya untuk bertanya begini?!" geram Nina dengan berapi-api karena cemburu. Ternyata Erlangga tidak memercayainya.


"Oh, kamu mulai menyukainya? Lantas mengapa masih sok perhatian padaku. Ya sudah jika kamu ingin bersamanya aku tidak masalah tapi tidak dengan cara seperti ini juga," kelakar Nina dengan emosi.


"Bukan begitu maksudku, aku hanya berpikir kamu mungkin salah makan saat kemarim di rawat. Karena kulihat tadi gadis itu sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya saat kamu memarahinya," ungkap Erlangga menjelaskan.


"Bisa-bisanya wanita itu bersikap begitu jika di depan Erlangga, tapi di saat bersamaku dan Dinda, dia selalu bersikap seolah tidak mendengarkan kami. Pintar sekali dia," batin Nina yang mulai mengerti dengan sikap Allura.

__ADS_1


"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Nina.


"Aku selalu percaya padamu, tetapi apa yang kulihat dan kamu tuduhkan itu sungguh tidak masuk akal. Dia yang seperti ketakutan saat kamu marahi tidak mungkin dia berani berbuat seperti itu. Dan kamu tahu aku sampai malu karena telah memarahinya karena kamu masuk rumah sakit,"


Meski tidak dipercaya oleh Erlangga, setidaknya lelaki itu masih perhatian padanya. Sampai rela memarahi Allura. Rasa sedihnya terobati. Jadi dia lebih memilih diam daripada harus berdebat tentang gadis itu yang bermuka dua. Setidaknya perhatian kecil tidak lepas dari Erlangga.


"Ya, mungkin aku yang salah," ucap Nina menundukkan kepalanya. Erlangga pun mengusap jemari Nina saat wanita itu menundukkan kepalanya seolah dia tengah merasa bersalah.


"Sekarang kita pulang ya, aku masih ada kerjaan. Apalagi jam makan siang sudah mau habis," ajak Erlangga pada Nina. Tanpa menolak dan membantah Nina menurut saat jemarinya terus di gandeng dari membayar bill hingga mereka masuk kedalam mobil.


Beberapa menit berlalu mereka pun sudah datang kembali ke kantor. Kini kebalikannya dengan bangganya Nina terus menggandeng lengan Erlangga hingga menuju keruangannya. Berharap di sana masih ada Allura yang menunggunya. Namun, sayang wanita itu telah pergi.


"Sepertinya dia lebih sayang hatinya, makanya lebih memilih pergi daripada menunggu aku dan Mas Erlangga datang," batin Nina tertawa puas.


Nina pun memilih menunggu Erlangga hingga dia tertidur di sofa. Sudah menjadi kebiasaannya menunggu Erlangga yang entah kapan lelaki itu selesai bekerja. Septian pun masuk dan melihat sekilas dengan ekor matanya saat berjalan melewati Nina yang tengah tertidur pulas menunggu Erlangga.


"Ini dokumen terakhir yang harus bapak tanda tangani," ucap Septian, Erlangga pun membacanya terlebih dulu sebelum dia menandatanginya. Meski Septian dekat dengan Erlangga namun saat jam kerja panggilannya seperti bos dan karyawan. Septian tidak ingin panggilan itu berganti jika jam kerja belum selesai.


"Ok, sudah bagus. Aku pulang dulu Tian, sekalian mau mengantarkan Nina pulang," ucap Erlangga, dan Septian berharap kalau Erlangga bisa sampai kerumah Nina saat mengantarkannya.


Dengan perlahan Nina digendong oleh Erlangga. Begitu hati-hati agar wanitanya tidak terbangun dari tidurnya.


***


Bwrsambung ...

__ADS_1


__ADS_2