Penantian Allura

Penantian Allura
Bab36. Perhatian Kecil.


__ADS_3

Bab36. Perhatian Kecil.


***


"Tapi ...,"


"Kenapa? Kamu ragu sama Mas Elang?" tanya Dinda. Nina mengangguk, sebab ekspresi dan bahasa tubuhnya begitu kentara.


"Mungkin perasaanmu saja, sekarang kita tunggu jawaban dari Mas Elang, apa yang akan dia lakukan agar segera bercerai dengan wanita itu,"


Allura merasa mendapatkan vitamin saat mendengar lontaran Dinda. Sepertinya dia masih mempunyai harapan supaya bisa mempertahankan pernikahannya.


Septian masuk kedalam, tetapi tatapannya begitu intens pada Nina. Dinda yang melihatnya heran bukankah mereka tidak begitu dekat lantas mengapa tatapan Septian seperti itu?


"Ada apa dengan Mas Tian?" tanya Dinda bertanya di dalam batinnya. Dia tidak berani bertanya sebab dia tahu jika keduanya tidak pernah bertegur sapa.


"Ah mungkin aku salah lihat saja," batin Dinda. Dia mengotak-atik kembali ponselnya saat Septian keluar ruangan lagi setelah membawa dokumen.


Hari sudah mulai gelap, jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam. Dinda sudah kegerahan dan juga lelah menunggu Erlangga.


"Kita pulang saja dulu Nin, kayaknya Mas Elang lembur soalnya jam segini belum kelar juga," ucap Dinda memberi saran.


"Tapi aku ingin mendengar jawabannya Nda, kamu pulang saja lebih dulu," titah Nina pada Dinda.


"Kamu meskipun tanya sekarang malah akan bertengkar. Dia kan baru selesai kerja, pasti dia gak bisa mikir jernih, yang ada kamu malah bertengkar nantinya," saran Dinda, Nina pun mengangguk dan pulang bersama Dinda.


Allura yang sedari tadi bersembunyi di dalam kamar mandi pun langsung keluar. Dia mengembuskan napas kasar berulang kali, sebab merasa tidak nyaman berada di sana di waktu yang cukup lama.


Dia memilih menunggu Erlangga, tetapi bukan meminta penjelasan padanya melainkan membantunya untuk membuat Erlangga berat meninggalkan dirinya.


Baru saja Allura mendudukkan bokongnya di kursi, Erlangga masuk keruangannya dengan memijit pelipisnya. Di susul Septian yang tersenyum samar ketika melihat Allura yang berada di dalam ruangan Erlangga.

__ADS_1


Allura pun menghidangkan teh hangat untuk suaminya. Tanpa berterima kasih dan memprotes, dengan cepat Erlangga meminumnya hingga tandas, dan membantingkan punggungnya ke kursi. Allura berjalan kebelekang Erlangga, berdiri di sana dan memijit kepala Erlangga dengan telaten.


"Jangan menolak, nikmati saja," ucap Allura saat Erlangga berusaha menggapai tangan Allura. Erlangga seketika membiarkan istrinya memijitnya.


Tian yang masih berada di sana bagai nyamuk di hadapan pasutri yang selama ini belum akur itu. Dia pun memberanikan diri untuk menawarkan diri agar dirinya menyetir untuk mengantarkan keduanya.


"Aku antarkan saja kamu pulang Lang, kayaknya kamu lelah dan tidak baik jika dipaksakan pulang menyetir,"


"Lalu bagaimanaa denganmu? Bukankah kamu juga merasa lelah Tian, sudahlah tidak usah pikirkan aku. Kamu pulanglah istirahat," titah Erlangga secara tidak langsung menolaknya dengan halus.


"Tidak apa-apa, ayok aku antarkan. Kasihan juga istrimu dari siang belum pulang, pasti dia belum makan," ucap Septian memberitahukan.


Erlangga seketika menengadah menatap Allura, "kamu belum makan?" tanya Erlangga, Allura hanya mengangguk saja sembari tangannya terus memijit kepala suaminya.


"Sudah-sudah, sekarang kita pulang saja Tian, ok aku mau kamu mengantarkan kami, tapi diperjalanan kamu cari restorant lebih dulu kasihan dia." Tanpa sadar Erlangga memberi perhatian kecil pada Allura membuat wanita itu semakin yakin untuk mempertahankan pernikahannya meski kekasihnya sedang berusaha untuk merebut Erlangga.


Mereka berjalan beriringan menuju kebawah untuk pulang. Sampai di parkiran Allura dan Erlangga duduk di kursi belakang. Septian seperti menjadi supir pribadi keduanya.


"Aku senang kamu tidak membahas perceraian," batin Allura saat mereka sudah masuk kedalam dan duduk berdampingan. Septian yang melihat keduanya dari kaca spion dalam hanya mengulas senyum.


"Lebih nyaman kemana-mana sendiri, supaya tidak banyak di tanya sama orang rumah," jawab Erlangga jujur baginya akan sulit nantinya bepergian dengan Nina ketika supir akan menjadi mata-mata untuk Mamanya.


Tanpa menjawab Septian hanya menganggukan kepalanya. Mungkin Erlangga masih ingin bebas keluar bersama pacarnya. Septian menepikan mobilnya dan mereka semua turun dari mobil untuk mengisi perut.


Di dalam sana Allura dan Erlangga sama sekali tidak bertegur sapa. Meski Septian melihat berulang kali kalau Allura ingin bertanya namun selalu diurungkannya.


Setelah selesai menyantap makanan mereka bertiga kembali masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Di sepanjang perjalanan Erlangga terus menerus memijit pelipisnya. Dia tengah pusing memikirkan cara agar membuat Nina mengerti.


Bahwa tidak mudah untuk mereka saat ini secepatnya menikah, jalan satu-satunya mungkin Nina harus rela beberapa bulan menjadi istri kedua. Tetapi, apakah kekasihnya itu akan mengerti dan mau?


Allura yang melihat tingkah suaminya gelisah pun tahu apa yang mengganggu pikirannya. Allura memberanikan dirinya untuk memegang bahu Erlangga. Suaminya pun menoleh, dan seolah Erlangga merasa tenang dengan sentuhan Allura.

__ADS_1


"Hanya sentuhan tangannya saja membuat tenang, berbeda dengan Nina," batin Erlangga.


"Tuan lelah?" tanya Allura dengan senyuman manisnya.


"Menurutmu?" Erlangga balik bertanya, meski dia merasa terhiptonis dia berusaha mengacuhkannya.


"Mau aku pijitin lagi tidak?" tawar Allura memberikannya dengan cuma-cuma. Erlangga tidak menjawab atau menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia ingin tetapi dia gengsi. Dengan paksa Allura menarik tangan Erlangga agar tidur dipangkuannya.


Erlangga berusaha untuk bangun, namun Allura pun berusaha keras agar suaminya tetap berada dipangkuannya.


"Resapi saja, rilekskan agar Tuan nanti sampai rumah tidak merasa lelah. Ya, meskipun tengah banyak pikiran," celetuk Allura sembari tangannya telaten memijit kepala suaminya.


"Andai bisa seperti ini setiap hari, dan kamu bisa menerima aku menjadi istrimu. Mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia," batin Allura mengharapkan situasi ini setiap hari.


"Bagaimana pijitan aku? Enak tidak? Pintar kan aku jadi istri," ucap Allura memancing Erlangga. Apa yang akan lelaki itu jawab. Apakah dia akan menceritakan padanya jika dirinya dalam waktu dekat akan menjadi janda?


"Hmm." Ternyata hanya deheman yang Allura dengar. Di luar ekspektasinya ternyata. Tetapi Allura bernapas lega setidaknya dia masih bisa melayani suaminya.


Ketika Allura melihat kedepan dia melihat Septian tengah melihati mereka dengan serius. Hingga beberpa detik tatapan mereka bertemu di spion depan dan Septian langsung mengalihkan pandangan karena dia tengah menyetir.


"Kamu ngapain noleh-noleh terus kebelakang?" tanya Allura.


"Hanya kebetulan saja," jawab Septian.


"Kayak perempuan kamu kepo banget." Septian tidak menjawab lagi. Mobil pun berhenti di pelataran rumah, Allura yang tidak menyadari telah sampai pun menoleh kearah Septian dengan tatapan meminta penjelasan.


"Sudah sampai Nona," ucap Septian memberitahu. Allura menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal karena malu.


Allura pun membangunkan Erlangga, karena suaminya berjalan terseok-seok akhirnya Allura memapah Erlangga keatas untuk kekamarnya.


Sedangkan Septian yang diminta membantunya memilih berpamitan tanpa membantu Allura.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2